Peringatan Kiamat

*DISCLAIMER/PENAFIAN*
Saya TF, semua artikel yang ada disini hanya upaya penerjemahan dari https://thetruthisfromgod.com/
Kecuali jika saya nyatakan lain.
Saya bukan pemilik situs tersebut diatas, dan pemilik situs tersebut (YS) samasekali bukanlah kenalan saya. Semua konten disana diluar tanggung jawab saya. Saya hanya orang biasa yang mengambil dari sana, menggunakan mesin penerjemah, kemudian mengoreksi hasil terjemahannya lebih lanjut. Demi Allah, Saya tidak dibayar sepeserpun atau mendapat imbalan apapun dari YS.
YS juga tidak pernah memaksa atau meminta saya untuk menerjemahkan.
Semua ini atas inisiatif saya sendiri.
Mohon maaf atas sebagian terjemahan yang masih kasar, atau keliru.
Untuk itu, Saya mohon dengan sangat kepada Anda untuk tetap meninjau sumber aslinya,
Semata-mata untuk menangkap pesan yang lebih lengkap dan lebih murni.
Jika Anda bisa mengerti apa yang tertulis disana (teks Bahasa inggris/Bahasa Prancis), tolong abaikan saja Blog saya dan baca langsung dari sana.
Pesan YS dalam bentuk video2, saya terjemahkan di channel youtube saya:

Bias Mayoritas & Sosok Nabi Muhammad menurut Qur’an

7 Dec, 2020lain-lain

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan gelap dan terang. Hanya berkatNya saya telah menerjemahkan artikel ini yang saya dapat dari https://topicsfromquran.com, terutama artikel https://topicsfromquran.com/2018/11/24/giving-witness-of-the-messenger/ , dan https://quranonly.wordpress.com/2012/07/07/majority-vs-quran/ (dengan beberapa penyesuaian) karena itu tidak mewakili pandangan YS. Namun tentu saja saya mengupayakan sebisa saya mencari yang “paling mendekati kebenaran” “se-objektif mungkin” dan sesuai Qu’ran dalam mengambil sumber/bahan tulisan ini.
Sama seperti YS, saya menulis ini tidak berniat untuk mencari pengikut ataupun meyakinkan/mencari pengakuan dari orang lain. Saya temukan bahwa tulisan-tulisan ini hanya memperkuat dan memberi konfirmasi atas Quran dan juga apa-apa yang YS sampaikan. Sayang sekali jika saya simpan untuk sendiri. Lebih baik saya share, semoga mendatangkan manfaat bagi orang lain. JANGAN ditelan mentah-mentah. Tiap orang harus selau berpegang dan mendasarkan diri HANYA kepada Kitab Allah, Use your own reason/discernment & Do Your Own Research, saya tidak bertanggungjawab atas implikasi tulisan dibawah ini bagi Anda. Ingatlah, tiap diri bertanggungjawab atas pilihan dan perbuatannya masing-masing. Kebenaran hanyalah dari Allah. Yang terpenting bagi kita adalah terus mendekatkan diri pada Tuhan, bersyukur, belajar Qur’an, dan menerapkannya di kehidupan kita. Karena, hanya itulah kunci keselamatan kita.
May God forgive us and guide us regarding any sign that would have been misinterpreted in this study and elsewhere. May He purify ourselves and increase our knowledge.
“Our Lord, indeed we have heard a caller calling to faith, [saying], ‘Believe in your Lord,’ and we have believed. Our Lord, so forgive us our sins and remove from us our misdeeds and make us die among the righteous.”[3:193]


Muslim tradisional terus bersaksi setiap harinya atas kerasulan Nabi Muhammad dalam syahadat. Namun apakah mereka memberi kesaksian pada “Utusan Allah sebagaimana Allah telah mendeskripsikannya di Qur’an”, ataukah bersaksi atas sosok/figur historis, “Muhammad dari sumber-sumber selain Qur’an?” Karena, jika kita benar-benar mempelajari Qur’an, keduanya BUKANLAH SOSOK YANG SAMA.

TIDAK ADA sumber yang lebih reliabel daripada Qur’an tentang Nabi Muhammad. Ingatlah juga peringatan Allah di Qur’an 23:69, “apakah mereka tidak mengenali Utusan mereka?” Jika mereka berpegang kepada sosok diri Nabi Muhammad yang berbeda dari apa yang dideskripsikan Qur’an, maka mereka tidak bersaksi dan mengikuti atas Nabi Muhammad Utusan Allah, tapi bersaksi dan mengikuti sosok “Nabi Muhammad lain” yang adalah sosok dari sejarah. Karena itu, penting untuk mengenali dan mengimani pada diri Nabi dan kepribadiannya yang dideskripsikan di Qur’an. Sebagian orang sangat terobsesi dengan sosok alternatif ini, sosok Utusan yang berdasarkan sejarah, sehingga ketika ayat-ayat Qur’an ditunjukkan pada mereka tentang sosok/ kepribadian Nabi Muhammad yang sebenarnya, mereka bahkan mengabaikan/ menolak mempercayai kepada ayat-ayat tersebut!

Adalah mungkin bahwa seseorang tidak bermaksud berbohong tapi dia berbohong karena apa yang dia katakan tidak benar/ suatu kebohongan. Ini bisa jadi karena kepercayaan yang salah atau kurangnya pengetahuannya atas subjek tersebut. Sebaliknya juga, karena kepercayaan yang salah atau kurang pengetahuan, mungkin saja seseorang telah berbohong, meski apa yang dia katakan sebenarnya adalah kebenaran. Sebagai contoh seorang Atheist berkeyakinan bahwa Tuhan tidak ada, menyatakan bahwa Bible/Alkitab bukanlah Kitab Tuhan. Apa yang dia katakan adalah benar, karena injil-lah (t/n: yg hilang/ disembunyikan gereja vatikan) yang merupakan Kitab Tuhan, sementara Bible bukanlah injil. Namun, dia tetap berbohong karena dalam persepsinya tidak ada Kitab yang diturunkan Tuhan, karena Tuhan sendiri menurutnya tidak ada. Seperti itu juga orang2 munafik di ayat diatas, walau yang mereka katakan adalah pernyataan atas fakta, persaksian mereka adalah kebohongan.

Ayat diatas menyatakan bahwa untuk dapat bersaksi atas Utusan Allah, seseorang harus memiliki pengetahuan tentang Kitab.

Memberi kesaksian atas Utusan Allah tanpa pengetahuan Kitab, artinya persaksian itu suatu kebohongan, karena telah bersaksi tanpa ilmu, atau bahkan memberi kesaksian atas sosok Utusan yang salah, bukan Utusan yang dideskripsikan Allah di KitabNya, namun sosok Utusan “menurut sejarah” dan “kata orang lain”! Karena kepribadian sebenarnya dari Utusan Allah tidak dapat dipahami dengan benar dari buku-buku sejarah/ kata orang!

Mentaati/ mengikuti Utusan berarti mengikuti Allah. Allah telah menjadikan Qur’an fardh/wajib untuk Utusan dan untuk kita semua (28:85 إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ  ). Utusan Allah bertindak mengikuti perintah dan larangan dari Qur’an. Mengikuti/ mentaati Utusan Allah adalah dengan mengikuti Qur’an, yang didalamnya SUDAH MEMUAT tindakan & perkataan2 Utusan yang harus kita ikuti, BUKAN mengikuti apa yang dikatakan oleh buku-buku lain tentang perkataan & perbuatan Utusan! (INGAT, Qur’an terjaga/ terlindungi oleh Allah dengan divine intervention/ intervensi ilahi, sementara sejarah, buku-buku/ tulisan2 manusia, tidak)

Utusan Allah dan kepribadiannya bukan untuk dikenali dari catatan sejarah yang mengklaim perkataan2 & kebiasaan-kebiasaannya. Sosok & kepribadiannya harusnya dikenali dari apa yang dikatakan di Kitab Allah. BUKAN dari sumber-sumber lain yang cenderung menyesatkan. Karena Setan tidak dapat mengubah Qur’an, maka tidak ada pilihan lain baginya selain “bermain” di sumber2 sekunder: dalam hal ini “hadits/ perkataan Nabi”, “sunnah Nabi”, & “sirah/ sejarah Nabi”. Jangan mengikuti kepada mereka yang berkutat menyebarkan inspirasi2 setan, “wacana, kata-kata indah/Zukhrufal Qaul” yang menipu, mereka yang sebenarnya dinyatakan sebagai musuh Nabi.

Bias mayoritas & konsep mayoritas menurut Qur’an

Perlu kita ingat bahwa Qur’an sebagai Kitab Allah, TERJAGA oleh Allah. Allah adalah hafiz/ penjaga/ pelindung Qur’an (15:9-10, 85:21-22). Allah telah menjamin bahwa kepalsuan tidak akan bisa mendekatinya (41:42). Kitab yang dituliskan (52:1-3).

Qur’an telah disampaikan via buku/kitab fisik, yang penned/dituliskan (t/n: author/pembuatnya tetap Allah) dan disusun oleh Nabi sendiri. (t/n: lebih lanjut, baca tuntas ini: https://www.sebelumterlambat.com/riset-penerjemah-ikutilah-quran-dan-bimbingan-allah-saja/). Karena itu, apa yang diteruskan simplenya hanya copy dari yang asli, tanpa amandemen/pengubahan apapun, penyusupan & pengurangan apapun, atau sabotase apapun. Oleh karena itu, memberi “credit” kepada orang2 lain (t/n: ditambah dengan dongeng2 “Nabi tidak bisa baca tulis”, “penulisan Qur’an tercecer di daun2 & tulang2 binatang” ,”kompilasi Qur’an hanya terjadi bertahun-tahun setelah Nabi”, dll) untuk meningkatkan level legitimasi orang2 lain adalah seperti merendahkan Tuhan dan UtusanNya. Kata hafiz/ penjaga, dalam hal ini: Yang Mahakuasa-lah sebagai “hafiz/ penjaga Qur’an”, kata hafiz ini telah diambil alih dan direduksi menjadi “upaya memorisasi” kitab saja. Seakan-akan kita/manusia2 biasa yang telah berjasa dalam menjaganya.

Karena Setan tidak dapat mengubah Qur’an, maka tidak ada pilihan lain baginya selain “bermain” di sumber2 sekunder (pelajari 6:112), that is to say: yang dianggap “pintu masuk” mengakses Qur’an: literatur hadits, “sunnah” Nabi & “ulama-ulama” & tafsir mereka! Qur’an dijamin terjaga oleh divine intervention. Namun kita tidak menemukan satu ayatpun yang mengatakan bahwa perkataan Nabi atau “sunnahnya”, apalagi “ulama2”, beserta kependidikan 1400 tahun mereka akan terlindungi juga. Buktinya Anda akan menemukan segudang kontradiksi diantara hadits-hadits itu sendiri, bahkan banyak yang berkontradiksi dengan Qur’an!

Saat kebohongan merajalela dan diterima publik, akan sulit untuk mengidentifikasi kebohongan-kebohongan itu, kecuali hanya dengan berpegang teguh pada kebenaran saja (Qur’an), dengan demikian kita dapat melihat hal-hal yang tidak sesuai Qur’an, melihat siapa saja yang mendorong/mempropagasi hal-hal itu, dan karena itu lebih mudah untuk “meninggalkan mereka & kebohongan yang mereka ada-adakan” (6:112).

Sayangnya, sedikit sekali saat ini: orang yang berpegang hanya pada Qur’an saja, mayoritas orang telah percaya pada “sosok palsu” Utusan Allah dari literatur & sumber2 diluar Qur’an. Bahkan banyak orang punya pikiran bahwa “tidak mungkin sekian banyak hadits2 “sahih” itu palsu, tidak mungkin banyak orang berkolaborasi dalam kebohongan” (t/n: hadits2 mempromosikan pola pikir “tampak benar” seperti ini, atau yang disebut “narasi muttawatir”). Padahal pikiran seperti itu adalah suatu logical fallacy. Sebenarnya tidak perlu banyak orang, karena telah banyak terjadi: satu orang saja, yang berada di tampuk kekuasaan, bisa membuat seluruh rakyatnya percaya & mengikuti kebohongan. Kenyataanya manusia, individu-individu maupun dalam kelompok-kelompok telah dan masih berkonspirasi dan berbohong atas apapun: sejarah, sains, politik, dll juga agama. Ambillah sebagai contoh tentang ajaran kristen hari ini, dengan konsep sesat trinitas dan Anak Tuhan, itu adalah bukti paling jelas bahwa memang mungkin dan bisa: banyak orang sekaligus berbohong tentang Tuhan dan UtusanNya, dan bahwa milyaran orang, sadar tidak sadar terus melanjutkan membawa dan menyebarkan kebohongan itu sambil meyakini itu adalah kebenaran.)

Seringkali ketika orang menemui interpretasi atau pendapat yang berbeda dari mayoritas, mereka diberitahu bahwa itu tidak mungkin benar (karena semua orang lainnya tidak berpandangan/ melakukan seperti itu). Namun yang seringkali kita lupakan adalah bahwa kriteria kebenaran, sedari awal tidak pernah bergantung kepada mayoritas. Hal ini, (bias/ kecenderungan akan mayoritas) di kebanyakan waktu membuat orang-orang mengadopsi pandangan, praktik dan ritual yang ada di lingkungan sekitarnya, seiring perjalanan hidupnya. Dia menerima begitu saja kepercayaan yang diajarkan kepada mereka oleh orang tua, keluarga, secara turun-temurun atau diajarkan oleh pemuka-pemuka agama.

Saat orang-orang telah tenggelam dalam bias mayoritas (bagi muslim sudah terjadi sejak 1000+ tahunan yg lalu btw), agama mulai mengabaikan tentang riset/ penelitian & pencarian kebenaran, menjadi sekedar “serangkaian tradisi” (atau kebiasaaan) yang kita dapati sebagai warisan dari generasi sebelumnya, ketika itulah agama menjadi rawan terhadap korupsi/ penyimpangan. Kekeliruan dan kesalahpahaman yang dibuat oleh para pendahulu kita, lolos/ tidak disadari orang-orang, sedikit bahkan hampir tidak ada yang berani menanyakan atau menguji mereka terhadap kitab suci.

Seiring waktu, seiring kesalahan2 dan kesalahpahaman2 ini semakin menumpuk, agama berubah dari din/ sistem kepercayaan & way of life yang murni sebagaimana Tuhan telah wahyukan kepada UtusanNya menjadi “agama teokrasi” dengan beragam versi-versi korup dari itu yang memiliki sistem & hierarki masing2. Semua muslim, tak peduli sekte apa mereka termasuk, semuanya dengan suara bulat mengatakan bahwa mereka mempercayai Qur’an. Namun jika mereka benar-benar mempercayai dan memegang teguh Qur’an, tidak mungkin terjadi perpecahan menjadi berbagai sekte-sekte seperti realita atas islam sekarang ini. Perbedaan-perbedaan dan perselisihan antara sekte2 yang ada, pada dasarnya bergantung pada sumber2 sekunder mereka (t/n: hadits, tradisi, narasi, & sunnah yang “katanya” dikatakan/dilakukan Nabi & sahabat-sahabatnya). Tergantung rangkaian hadits & tradisi mana yang dipercayai, diakui & diikuti, itu kemudian mengarah kepada perbedaan pemahaman tentang islam, yang pada akhirnya mengarah kepada bermacam sekte-sekte berbeda saat ini.

This image has an empty alt attribute; its file name is image-13.png

Waspadalah terhadap orang-orang yang mengarahkan Anda untuk mengikuti kepada mayoritas. Karena mayoritas memang mengarahkan kita tergabung dalam suatu sekte, yang mana memaksakan pandangan & kepercayaan umum, menjadikan kita pengikut buta. Sementara Qur’an menekankan pentingnya pemikiran independen & berpikir kritis (6:116, 17: 36, 33:67, dll).

Bolehkah kita mengikuti mayoritas?

Inilah sebagian dari yang dikatakan Qur’an, Kitab KEBENARAN ABSOLUT dari Allah, tentang mayoritas:

6:116….And if you obey most of those on the earth they will lead you away from the path of God; that is because they follow conjecture, and that is because they only guess.
2:100…the majority do not believe (in The One God)
2:243…majority are ungrateful.
3:110…the majority are wicked.
4:114…the majority whispers lies.
5:32…..the majority are transgressors
5:49…..majority are wicked
5:59…..majority are wicked
5:62…..the majority hasten to sin and transgression and consuming money illicitly. Miserable indeed is what they were doing.
5:64…..the majority are rebels and rejectors
5:66…..the majority practice on indecency.
5:71…..the majority are blind and deaf;
5:81…..the majority are wicked
5:103…the majority do not use common sense.
6:37…..the majority do not understand
6:119…the majority wants to mislead you with their interests.
7:17…..the majority are ungrateful
7:102…the majority are fasikun
7:187…majority do not actually know
8:34…..the majority do not actually know.
9:8…….the majority is wicked.
10:36…the majority following conjecture.
10:60…the majority are ungrateful
10:92…the majority are heedless..
11:17…the majority do not believe the Quran.
12:21…the majority do not actually know
12:38…the majority are ungrateful
12:68 ..majority do not actually know.
12:103.the majority do not believe
12:106.the majority associating The One God.
13:1…..the majority do not believe
16:38…the majority do not actually know.
16:83…the majority are Kufr
16:101.majority do not actually know.
17:89…the majority are Kufr
21:24…the majority do not know what is right and wrong.
21:93…the majority disintegrated because of their made religion.
23:70…the majority do not like the truth.
25:44…majority are more astrayed than livestocks.
25:50…the majority do not want to hear the truth but continue to deny.
26:8…..the majority do not believe.
26:121.the majority do not believe
26:139.the majority do not believe
26:158.the majority do not believe.
26:174.the majority do not believe.
26:190.the majority do not believe.
27:73…the majority are ungrateful
28:13…the majority do not actually know
28:57…the majority do not actually know
29:63…the majority did not really understand
30:6…..the majority actually do not know …
30:42…the majority are actually polytheists
31:25…the majority do not actually know
33:72…the majority were wrong and like to do wrongs.
34:28…the majority do not actually know
34:41…the majority serving the Jinn.
36:7…..the majority do not believe
37:71…the majority of the past are misguided
40:57…the majority do not actually know
40:59…the majority do not believe
40:61…majority ungrateful
41:4…..the majority turned disobedient
43:78…the majority do not like the truth
44:39…the majority do not actually know
49:4…..the majority do not understand.
52:47…the majority do not actually know
57:26…the majority are wicked
71:24…the majority are astrayed by leaders who have increasingly in loss due to their property and children.
89:15…the majority of people when tried by his Lord to honor him and favoring his life, saith: “My Lord has honored me!”

1. Qur’an menyatakan bahwa KEBANYAKAN ORANG tidak mempercayai Qur’an

13:1. Alif Lam Mim Ra. These are the verses of the Book; and that which is revealed to you from your Lord is the truth, but most people do not believe.

2. Qur’an berulangkali mengisahkan tentang para Utusan ditentang oleh blind majority/mayoritas yang buta

Di kebanyakan waktunya, Utusan Tuhan berada di PIHAK MINORITAS, dan antara (1) mayoritas komunitasnya mengikutinya & menjadi orang-orang beriman atau (2) mayoritas komunitasnya tersesat, oleh karena itu hanya sedikit yang diselamatkan Allah, sementara sisanya dihancurkan/ diazab hingga habis. (t/n: mengingat kita saat ini terpisah 1400 tahun dari Nabi, kita perlu waspada karena kita kemungkinan besar termasuk dari komunitas yang kedua!) Kita harus belajar dari Qur’an tentang kisah kaum Lut, Saleh, Hud, Syuaib, sebagai contoh. Kisah2 ini tersedia dengan jelas untuk dibaca dan dipelajari oleh siapapun. Bahkan umur panjang Nuh sekalipun tidak cukup untuk meyakinkan kecuali sangat sedikit dari kaumnya. Mayoritas hanya mengikuti persangkaan saja

6:116. “And if you obey most of those in the earth, they will mislead you from the way of God. They follow but assumption / conjecture (Zana) and they only guess / lie (Yakhrasun)

25.44.“Or do you think that most of them listen or use their intellect (yAQLuna)? They are only like cattle, nay, they are more astray from the way”

3. Mayoritas orang yang percaya kepada Allah adalah musyrik/ penyembah berhala pada saat yang sama.

Wama yu/minu aktharuhum biAllahi illa wahum mushrikoona

12:106.  “The majority of those who believe in GOD do not do so without committing idol worship”

4. Telah jelas di Qur’an bahwa setan akan menyesatkan MAYORITAS

36: 62.“And indeed, he did lead astray a great multitude of you. Did you not, then use your intellect / reason (tAQLun)?

5. Kita akan dihakimi masing-masing, mayoritas dan semua orang-orang lain tidak bertanggungjawab atas kita

Mengikuti saja kepada mayoritas bukanlah dasar yang logis, bukanlah dasar yang sah samasekali atas kepercayaan kita, Bahkan dilarang dan dikutuk oleh Qur’an:

(t/n: berikut saya sisipkan video dari Qur’an Study (bhs inggris) yang relevan. Bahkan untuk memiliki iman yang sebenarnya, kita HARUS menggunakan reason/akal kita. Allah melarang kita dari mengikuti buta, meski kepada ayat-ayatNya!:

Qur’an memerintahkan pembacanya untuk menggunakan akal & intelektualnya. Setiap jiwa, meskipun pasti berada/ menjadi bagian dari kelompok-kelompok sosial (t/n: keluarga, kelompok masyarakat, bangsa, negara, dll), pada akhirnya hanya bertanggungjawab atas diri (pilihan & perbuatannya) sendiri.

Lalu kita harus bagaimana?

Terimalah realita ini: mayoritas, bahkan mungkin termasuk dari keluarga & lingkungan terdekat Anda sendiri, tidak akan senang saat Anda mulai berbeda dari mayoritas. Mereka akan mencegah Anda dari mempelajari dan merefleksikan Qur’an sendiri. Sementara Qur’an, KITAB KEBENARAN ABSOLUT: MENYURUH kita masing-masing menggunakan reason/ akal kita dan intelektual kita untuk mencari dan memegang teguh kebenaran, meskipun kebenaran itu kita temukan berbeda atau bertentangan 180 derajat dari apa yang diajarkan orangtua & mayoritas kepada kita sejak kita kecil. Penggunaan akal (aql) yang didorong Qur’an, mengacu pada intelektual manusia, reason, dan pemahaman. Sementara orang-orang yang tidak menggunakan akalnya, DICELA oleh Allah!

Orang-orang seperti itu, adalah orang-orang yang mengikuti konsep mayoritas. Sebagai hasilnya, ketika Anda mengarahkan orang itu menuju konsep-konsep Qur’an saja, Anda akan dibantah bahwa mayoritas muslim tidak seperti itu, dan mayoritas muslim tidak mungkin salah. Namun kita telah belajar bahwa kita: absolutely tidak boleh ikut-ikutan mayoritas! Kita harus selalu menggunakan akal kita untuk memahami, merefleksikan, dan menerapkan ayat-ayat Qur’an untuk diri kita sendiri. Ingatkan diri kita sendiri bahwa kelak akan dihakimi oleh Allah sendirian, masing-masing!, karena itu kita harus memberanikan diri untuk teguh menggunakan akal kita dan berpegang pada Qur’an, untuk mencari, mengikuti, dan berdiri untuk kebenaran. Bahkan jika kita harus berdiri sendirian. Karena kita di dunia ini adalah untuk mengikuti dan mengabdi kepada Allah saja, bukan mengikuti orang-orang!

(t/n: saya harap Anda sudah “berdamai” dengan fakta ini, siap mempelajari sosok Nabi Muhammad menurut Qur’an, siap meninggalkan apapun pandangan mayoritas tentang Nabi jika itu memang Anda temukan bertentangan dengan kebenaran di kitab Allah. Namun siap maupun tidak siap, saya sarankan untuk melanjutkan membaca karena di bawah ini adalah beberapa dari Ayat2 yang menggambarkan aspek kepribadian Utusan yang merupakan kepribadian & sosok sebenarnya dari Nabi Muhammad sesuai Kitab.) Ketahuilah bahwa golongan setan yang ingin menyamarkan kepribadian Rasulullah dengan kepribadian lain (Sosok Utusan versi sejarah) biasanya tidak akan menyebarkan/ mendorong Ayat2 eksplisit ini (t/n: atau bahkan menyangkal, mengatakan bahwa Anda salah memaknainya, dll) karena mereka ingin menampilkan sosok palsu (pengganti) untuk menipu kita.

Nabi Muhammad menurut Qur’an

Utusan Allah mengekspos dari Kitab, hal2 yang biasanya orang coba sembunyikan. Kitab (Qur’an) adalah cahaya Allah, yang menjelaskan (dan mengekspos) fakta-fakta/ kebenaran sejati, sekalipun (kebenaran itu) telah disembunyikan dari orang-orang, termasuk mengekspos tentang diri dan kepribadian Utusan Allah yang sebenarnya.

Sebagai permulaan, resapi dan ingatlah ayat diatas (5:15). Lalu kemudian baca dan pahami kepribadian sejati Nabi Muhammad dari Kitab, yang sebagian akan kami jelaskan setelah ini. Jika Anda menolak sifat-sifat dan kepribadian ini, maka Anda harus mempertanyakan diri, benarkah Anda telah mengimani Utusan Allah, ataukah Anda selama ini mengimani “sosok palsu dari buku/kitab2 lain”?

7:187. “They ask you about the hour, when will be its taking place? Say: The knowledge of it is only with my Lord; none but He shall manifest it at its time; it will be momentous in the heavens and the earth; it will not come on you but of a sudden. They ask you as if you were solicitous about it. Say: Its knowledge is only with Allah, but most people (akthara alnnasi) do not know”.

Utusan Tuhan tidak memiliki kekuatan untuk membawa nasib baik atau buruk bagi dirinya sendiri. Dia tidak memiliki pengetahuan tentang yang ghaib. Dia adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar baik bagi orang-orang beriman. Ayat 7:187 diatas dengan jelas MENOLAK “sosok lain” Nabi Muhammad menurut mayoritas saat ini, karena mereka mempercayai hadits & sunnah yang menarasikan banyak “klaim2 Nabi tentang apa yang akan terjadi di masa depan secara mendetil bahkan nasib2 akhir orang2 tertentu (surga/neraka) & dialog2 di hari penghakiman!

Utusan Allah adalah mercy/rahmat untuk semua orang. Karena itu, dia tidak akan menyerang atau membunuh orang tanpa alasan yang dapat dibenarkan menurut Kitab Allah. Jika catatan sejarah atau buku lain apapun mengatakan seperti itu (dia membunuh tanpa hak), itu pasti salah/kepalsuan. (t/n: contoh: dia tidak mungkin mendorong untuk membunuh orang hanya karena orang itu mencelanya, itu melanggar hukum qisas. dia tidak mungkin membunuh orang yang murtad/ menjadi kafir, karena tidak ada paksaan dalam agama, dengan alasan yg sama juga: dia tidak mungkin menyuruh memukul anak-anak yang tidak shalat, tidak mungkin menyuruh membakar rumah orang yang tidak mau shalat, dll)

Sikap Utusan terhadap para pencela. Tentu saja kita harus mengikuti ini jika kita mengaku mengikuti kepada Utusan Allah!
Tolong abaikan yg dalam tanda kurung. Itu pembelokan yg kental dengan sektarianisme 😀
Pemaksaan oleh orang lain, mengotori din Allah, karena membuat orang tidak ikhlas, dan takut kepada selain Allah. Jika sebuah sistem atau komunitas melucuti atau meniadakan kebebasan berkeyakinan yang merupakan hal mendasar, itu akan menciptakan orang2 hipokrit/ munafik & oppresed/ tertindas yang imannya lemah, yang menghasilkan sistem/ komunitas yang lemah juga. Kebebasan berkeyakinan adalah udara sehat untuk nafas dari komunitas yang adil.
Qur’an jelas-jelas menyatakan bahwa ada orang-orang yang beriman, lalu kafir, lalu beriman lagi, lalu kafir lagi. Ini membuktikan bahwa hukuman mati karena murtad itu tidak pernah ada/ tidak pernah diperintahkan di Qur’an. Jika hukuman itu ada, tidak akan ada orang waras manapun yang berani melakukan pindah-pindah keyakinan seperti itu, mengetahui dia akan dibunuh bahkan saat pertama kali dia murtad.

Allah sudah memberi kebebasan memilih & berkeyakinan di Kitab Allah, membeberkan konsekuensi dari pilihan & perbuatan2 kita, memberi kita semua kesempatan waktu hingga ajal kita masing-masing, Nabi tentunya mengikuti ini. Sementara “sosok lain” berdasarkan sejarah: memaksa orang untuk “jangan murtad”, atau orang itu akan dibunuh!

Utusan Allah adalah orang dengan standar moral yang sangat tinggi. Satu cara untuk “pembunuhan karakter” atasnya adalah menyebutnya melakukan perkawinan dengan under-aged girl/ perempuan dibawah umur. (t/n: silahkan baca ini (jika belum) https://www.sebelumterlambat.com/usia-aisyah-konspirasi-hadits/). Bagaimana bisa anak perempuan 9 tahun yang tidak memiliki sound judgement, yang belum dapat mengambil keputusan untuk dirinya sendiri terikat dengan kontrak seperti itu (pernikahan) (melanggar 4:6! ). Di sepanjang zaman, dimanapun di dunia, tidak ada alasan reasonable apapun untuk menikah dengan perempuan dibawah umur. Pandangan rasional manapun akan mengatakan bahwa itu adalah praktek keji/ tercela. Mereka yang masih mempercayai kisah itu yang diatribusikan kepada Nabi, ketika jelas bertentangan dengan Kitab, sungguh-sungguh harus bercermin, akankah mereka mengikuti praktik ini di keluarga dan komunitas mereka?

Utusan Tuhan adalah bashar/manusia seperti manusia lainnya, dengan kekurangan & kecenderungan bashari/manusia (t/n: lupa, melakukan kesalahan, dll) Fakta ini mestinya tidak menyakitkan bagi orang-orang beriman: bahwa dia bukanlah manusia super. Orang-orang beriman mestinya fokus berbuat kebaikan & memperbaiki dirinya untuk keselamatan mereka sendiri daripada mengekspektasi pertolongan/syafaat dari Utusan.

Sebelum wahyu Qur’an, Utusan Allah adalah termasuk diantara orang-orang Ghafeleen/ orang-orang ignorance/ abai/ tidak tahu.

Allah menginspirasikan/mewahyukan Ruh/the Spirit. Sebelum pewahyuan ini, Utusan tidak mengetahui apakah Kitab itu dan apakah iman itu sesungguhnya.

Utusan Allah tidak mengekspektasi/ menyangka bahwa dia akan menerima wahyu (Qur’an) dari Allah

Nabi bisa merasa ragu & Nabi-pun menanyakan/ mengklarifikasi kepada orang-orang yang telah membaca Kitab (pengikut Nabi sebelumnya, pengikut Kitab-Kitab Allah sebelum Qur’an), karena Kitab diberikan kepada semua Nabi.

Utusan Allah merasakan emosi2 manusia dan hatinya pernah merasa sempit dan hampir condong untuk meninggalkan sebagian dari Wahyu/ inspirasi Tuhan karena bermacam hal-hal yang dikatakan orang-orang kafir kepadanya. Namun, Allah menguatkan hatinya dengan Kalimat / firman-Nya untuk tetap teguh kepada wahyu.

Beberapa orang komplain bahwa orang tertentu lebih pantas dinilai/dijunjung lebih dari orang-orang lainnya. Ini mereka katakan sesuai dengan pandangan sektarian mereka. Namun, di sini Allah menyatakan bahwa mereka tidak menghargai Allah sebagaimana Dia seharusnya dihargai, ketika mereka tidak suka dengan penilaian/ keputusan Allah. Begitu Muhammad ditunjuk sebagai Nabi, kaum pagan tidak suka karena Nabi bukan dari kalangan mereka, dan mengatakan “Allah tidak menurunkan apapun”. Begitu juga, meski Qur’an mengatakan Rasulullah sebagai Bashar /manusia. Banyak orang tidak suka atas itu, dan karenanya mengikuti narasi2 lain yang mengatakan Rasulullah sebagai seorang “super Bashar”, tidak seperti manusia / Bashar lainnya dengan segala kelebihan dan kekurangan manusia yang dimiliki manusia. Beberapa bahkan menganggap Utusan Allah tidak melakukan kesalahan apapun. Jadi Ayat ini mengekspos keyakinan (yang salah) tersebut.

Orang-orang di pikiran mereka memberhalakan sosok Utusan yang seperti manusia super, dan ini, di sepanjang zaman, telah menjadi “kontributor utama” atas penolakan mereka terhadap Utusan2 Allah dan pesan-pesan di Kitab, mereka bertanya-tanya, bagaimana mungkin Allah mewahyukan apapun kepada manusia biasa seperti mereka.

Tuhan mendapati Rasul dalam keadaan tersesat dan Dia kemudian membimbingnya.

Utusan Allah tidak tahu masa depan, apalagi “mengumumkan siapa-siapa saja penghuni surga diantara sahabatnya”. Justru ia mengatakan bahwa “aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku atau kepadamu” dia hanya mengikuti apa yang diwahyukan padanya.

Utusan Allah tidak menambah-nambahi perkataan atau ajaran dari desire/keinginannya sendiri. dia hanya menyampaikan pesan Allah yang diwahyukan/ diinspirasikan kepadanya.

Utusan Allah hanya menyatakan apa yang diwahyukan padanya, yaitu Alqur’an (sebagaimana disebutkan dalam 12:3), jika dia mengatakan Aqwal / ucapan lain dan mengatribusikannya kepada Allah, Allah akan menangkapnya dan memotong pembuluh jantungnya.

(t/n:

Utusan Allah mengaku tidak bisa membimbing siapapun, bahkan orang-orang yang dia cintai. Hanya Allah-lah yang dapat melakukan itu. Sementara sosok “Utusan Palsu”: sombong & mengatakan bimbingannya itulah bimbingan terbaik!

“It is not for a human [prophet] that Allah should give him the Scripture and authority and prophethood and then he would say to the people, “Be servants to me rather than Allah,” but [instead, he would say], “BE PIOUS SCHOLARS OF THE LORD because of what you have taught of the Scripture and because of what you have studied. Nor could he order you to take the angels and prophets as lords. Would he order you to disbelief after you had become submitters?….” [3:79-80]

Tidak mungkin bahwa seseorang yang diberikan Kitab, dan kemampuan untuk menghakimi, dan nubuwat, akan mengatakan kepada orang-orang: ” Jadilah hamba-hamba-Ku bukan hamba Allah ; sebaliknya (dia akan mengatakan): “ Jadilah rabbaniyyin (t/n: murid langsung yang saleh dari Tuhan) sesuai dengan apa yang selalu kamu ajarkan dari Kitab dan sesuai dengan apa yang telah kamu pelajari dari itu hingga sekarang.” Dia juga tidak akan memerintahkan kamu untuk mengambil malaikat dan Nabi sebagai Tuan dan Pelindung . Apakah (patut) dia akan memintamu untuk kafir setelah kamu menjadi orang yang berserah diri? S3: V79-80

Utusan Allah tidak meminta bayaran/imbalan apapun dari manusia lainnya atas jasanya menyampaikan pesan dari Allah. That is to say: bukan hanya tidak meminta materi dari kita, dia juga tidak meminta glory/ kejayaan, penghormatan, kecintaan berlebih dari kita, dia tidak akan menyuruh kita menjadikan dirinya tuan/ sayyid. Lagipula, Utusan Allah akan mememerintahkan orang-orang beriman untuk tidak membeda-bedakan para Utusan (2:136, 2:285, 3:84, 4:152, 21:92, 23:51-53, 33:40). Sementara sosok “Utusan palsu” meminta kita menyebut-nyebut namanya sebanyak-banyaknya, mencintainya lebih dari mencintai diri kita sendiri!

Say, “I am not a novelty among the messengers, nor do I know what will happen to me or to you. I follow nothing other than what is revealed to me. I am no more than a clear warner.” 46:9

Sayangnya, dalam penghinaan total terhadap instruksi Tuhan, Muslim saat ini bersikeras untuk menjadikan Muhammad lebih besar dari semua utusan Tuhan lainnya dan memanggilnya dengan sejumlah gelar preferensial seperti:

– “Sayeduna Muhammad” (Tuan kami Muhammad)
– “Sayed Al Khalq” (Tuan dari semua ciptaan)
– “Ashraf Al- Mursaleen” (Yang paling terhormat dari semua Utusan)
– “habib Allah” (Kekasih Tuhan!), dan banyak gelar2 preferensial lainnya

Tidak heran, karena “sosok lain” dari luar Qur’an ini memang bisa dibilang “gila hormat”, :

“Diriwayatkan oleh Aanas: Nabi berkata” Tidak ada dari kalian yang akan memiliki iman sampai dia mencintaiku lebih dari ayahnya, anak-anaknya dan seluruh umat manusia. “(Bukhari, Volume 1, Buku 2, Nomor 14).

Di sini kita harus menanyakan pertanyaan berikut: Apakah mungkin bagi kita untuk mencintai seseorang lebih dari diri kita sendiri dan lebih dari seluruh dunia kecuali kita sebenarnya menyembah orang itu?

Selain itu, Tuhan memberitahu kita dalam 3: 79-80 bahwa tidak ada utusan sejati yang akan meminta umatnya untuk mengidolakannya selain Tuhan. Oleh karena itu menjadi misteri bagaimana jutaan Muslim menerima hadits2 yang jelas-jelas merupakan kebohongan dan penghinaan terhadap integritas Nabi Muhammad, dan dengan melakukan itu, mereka menunjukkan penghinaan total terhadap firman Tuhan dalam 3: 79-80!

Semua orang beriman yang memiliki rasa hormat yang benar terhadap Nabi Muhammad dan pengabdiannya kepada Tuhan tidak akan pernah percaya bahwa dia pernah meminta umatnya untuk mengidolakannya, menyanjung-nyanjungnya atau mencintainya dengan cara seperti itu, tetapi sebaliknya, semua Utusan Tuhan adalah orang2 tanpa pamrih yang akan mengundang kepada yang lain untuk mengabdikan diri dengan sepenuh hati kepada Tuhan saja.)

Dalam kehidupan normalnya Utusan Allah itu seperti manusia biasa yang tidak semua/tidak setiap halnya dikendalikan oleh Wahi. Dia membuat beberapa kesalahan2 dalam pengambilan keputusan di kehidupannya sehingga Allah menegurnya & mengkoreksinya seperti misalnya dalam 9:43. Namun dalam urusan penyampaian wahyu Qur’an, Rasulullah tidak melakukan kesalahan.

Allah memerintahkan Nabi untuk memohon ampunan atas perbuatan dosanya. Tidak mungkin ada perintah seperti ini jika dia sosok yang maksum/tidak berbuat dosa.

Utusan Allah dapat berbuat kesalahan dan dosa, yang Allah akan ampuni setelah membukakan kemenangan yang nyata dan membimbingnya menuju jalan yang lurus.

Setan dapat mempengaruhi Utusan, membuatnya lupa atas hal-hal tertentu.

Bahkan setelah menerima wahyu dan menjadi Nabi, ia tetaplah manusia yang bisa berbuat salah. Untuk menyenangkan istrinya, ia pernah melarang/mengharamkan hal yang sebenarnya halal untuknya.

Nabi pernah salah dalam menilai orang, memberi perhatian kepada orang yang salah, daripada orang yang benar-benar mencari pengingat/ petunjuk.

Utusan Allah membawakan ayat-ayat Allah dengan jelas. Dan meskipun semua Utusan Allah membawakan pesan yang sama dari Allah (42:13, 46:9, 41:43) dan Kitab diberikan kepada semua Nabi-Nabi (6:83-90), orang-orang akan keheranan atas apa-apa yang dia katakan kepada mereka, karena mereka tidak berpegang kepada Kitab Allah, dan mereka tidak pernah mendengarnya dari ayah-ayah/ nenek moyang mereka yang telah tersesat.

Yang ditekankan para Utusan kepada anak-keturunannya (t/n: dan tentu begitu juga kepada orang2 lain) bukanlah untuk mencintainya, memuja-muji dan mengingatnya, mengikuti kepada diri/ orangnya, kebiasaannya atau perkataan pribadi-nya, tapi untuk ibadah/ mengabdi kepada Allah dan berserah kepada Allah saja.

Jika kita mempercayai sosok “Utusan dari buku-buku lain”, kita akan percaya (t/n: pada harapan palsu) bahwa dia akan mensyafaati/ menolong kita di hari penghakiman. Namun, jika kita percaya kepada sosok Utusan Allah dari Qur’an, maka kita akan aware/menyadari, bahwa hanya Allah-lah penolong kita. Dan bahwa Rasulullah akan komplain di hadapan Allah, atas ummatnya yang telah meninggalkan Qur’an!

(t/n: Setan gemar mendorong kebohongan yang mengatakan bahwa Utusan Tuhan punya kuasa untuk menyelamatkan orang lain. Akibatnya, orang-orang memberhalakan para Utusan ini dengan keyakinan bahwa keselamatan dapat diperoleh melalui mereka. Bagi orang-orang Kristen, Setan menemukan konsep “Keselamatan melalui Yesus”. Dengan Muslim, Setan menemukan konsep “Syafaat Muhammad”. Meskipun judul kedua konsep itu berbeda, tipuan di dalamnya adalah satu dan sama. Umat ​​Kristen telah dituntun untuk percaya bahwa mereka tidak dapat masuk ke Surga kecuali melalui Yesus. Demikian pula, Muslim yang jatuh karena kebohongan ini telah dituntun untuk percaya bahwa mereka tidak akan pernah keluar dari Neraka dan masuk Surga kecuali melalui perantaraan Muhammad!

“You have come to us all alone / singularly just as We created you at first, leaving behind you everything We bestowed on you. We do not see your intercessors accompanying you, those you claimed were your partners with Allah. The link between you is cut. Those you made such claims for have forsaken you.” (Qur’an 6:94)

Allah bertanya (lebih tepatnya mengajukan tantangan) kepada Nabi, bisakah ia menyelamatkan seseorang dari api neraka?

Then, is one who has deserved the decree of punishment [to be guided]? Then, can you (Muhammad) save one who is in the Fire? [39:19]

Bagi orang2 yang tulus/jujur mempelajari Qur’an, mereka tahu betul bahwa konsep “syafaat Nabi” ini benar-benar disangkal oleh Allah & Nabi sendiri dalam Al-Qur’an. Mereka orang-orang yang menganggap Messenger/ Rasul mereka akan memberi syafaat untuk mereka di hari penghakiman, sungguh, pada akhirnya akan kecewa:

The messengers of our Lord have come with the truth. Do we have any intercessors to intercede for us? Or could we be sent back to do other than what we used to do?” They have indeed lost themselves and that which they used to fabricate has deserted them.(7:53)

You (Muhammad) have no say in the matter as to whether He redeems them or He punishes them, for they are transgressors.” 3:128

“It is the Day when no self possesses any power to help any other self, and all matters on that day will be decided by God alone.” 82:19

Say: “I (Muhammad) am no bringer of new-fangled doctrine among the messengers, nor do I (Muhammad) know what will be done with me (Muhammad) or with you. I (Muhammad) follow but that which is revealed to me (Muhammad) by inspiration; I (Muhammad) am but a Warner open and clear.” [46:9]

And warn (O Muhammad) with it (Quran) those who fear being summoned before their Lord, having no ally nor intercessor apart from Him, so hopefully they may be reverent. (6:51)

Jika Nabi Muhammad mengatakan (dalam hadits) bahwa dia akan memberi syafaat untuk ummatnya, maka ini menjadi pelanggaran yang jelas atas perintah Tuhan sesuai 6:51! Kita dihadapkan dengan 2 keadaan berkontradiksi:

  1. Di Qur’an, Tuhan memerintahkan Muhammad untuk memberitahu kepada ummatnya, bahwa mereka tidak akan mendapati pemberi syafaat di hari penghakiman, selain dari Tuhan.
  2. Di (banyak) hadits, Muhammad menyatakan bahwa ia akan memberi syafaat kepada ummatnya.
    Manakah yang Anda percayai?

Let’s say, Anda belum membaca ayat-ayat diatas, dan meyakini (berdasarkan hadits), bahwa Nabi akan “mensyafaati ummatnya”. Namun di hadits2 sendiri banyak sekali riwayat yang menunjukkan bahwa: sebelum kematiannya: Nabi memanggil puterinya, Fatimah dan bibinya Safiya, dan mengatakan bahwa: aku tidak bisa menjadi intercessor/pemberi syafaatmu di hari penghakiman. Kamu akan dibalas hanya sesuai amal perbuatanmu (Masnad Syafii dan buku-buku lain).

Sekarang, manakah sosok yang Anda percayai, sosok Nabi sesuai Qur’an, ataukah “sosok lain” yang Anda puja-puji dengan harapan dia akan menolong Anda kelak? (t/n: siapakah Anda, ketika putri Nabi saja tidak dapat dia syafaati!)

Allah akan mencintai Anda jika Anda mengikuti Utusan Allah, yang mana perkataan, perbuatan dan kepribadiannya telah dijelaskan Allah di KitabNya (BUKAN sosok yang salah, sosok “Utusan Allah” versi sejarah!)

Untuk mengubah kepercayaan menyesuaikan ayat-ayat Allah saja, memang adalah ujian yang besar untuk kebanyakan orang. Allah hanya mengizinkan keberadaan sistem kepercayaan2 lain sebagai ujian untuk manusia, siapakah yang akan, tak peduli apapun, mengikuti dan tetap teguh di jalan yang sesuai Kitab Allah, jalan yang ditetapkan oleh Allah & ditunjukkan Utusan Allah (Utusan Allah di Qur’an), dan bukan apa yang catatan sejarah & mayoritas klaim tentang Utusan Allah dan jalannya!

Sekarang giliran Anda

(t/n: sekarang, setelah kita belajar -gambaran singkat- sosok Nabi Muhammad sesuai Qur’an, giliran Anda untuk meneruskan belajar sendiri lebih dalam atas ini, dan membandingkan sendiri, antara sosok Rasulullah yang sejati ini yang dicantumkan di “Kitab Allah yang dijaga & terjamin oleh Yang Mahakuasa”, dengan “sosok lain” dari narasi2 yang ditransmisikan (secara oral & tradisi) oleh manusia-manusia sepanjang 1400 tahun; Sosok Rasulullah yang dicantumkan di “Kitab Allah yang adalah kebenaran absolut”, dengan “sosok lain” yang belum tentu benar & Anda tidak bisa benar-benar mengklarifikasinya sendiri (karena sumbernya dan narator2nya sudah tiada); Sosok Rasulullah yang dicantumkan di “Kitab Allah yang adalah bimbingan/petunjuk langsung dari Allah” (namun kita kemungkinan belum cukup dalam menggalinya, karena anehnya mayoritas selalu mencegah/ melarang kita dari studi individu atas Qur’an sedangkan Allah MEMERINTAHKAN kita untuk menggunakan akal, merenungkan/ merefleksikan sendiri ayat-ayatNya [2:269], [38:29], [47:24], [8:22], [54:17], [88:17-20] dll), dengan “sosok lain” yang selama ini Anda terima begitu saja dari sumber-sumber lain!

Jangan berlalu begitu saja & mengabaikan hal ini. Ini SANGAT SERIUS & KRUSIAL karena adalah salah satu indikator penentu iman Anda! Benarkah Anda mengikuti pada Utusan Allah? Ingatlah bahwa kesaksian tanpa ilmu itu tidak sah, bahkan suatu kebohongan! (ini TIDAK HANYA tentang ucapan kesaksian/ syahadat saja. Namun semua kepercayaan Anda tentang Utusan, dalam tingkatan tertentu adalah sebuah “kesaksian” (bahwa Anda meyakini Nabi Muhammad telah mengatakan ini, Nabi telah berbuat itu, dll.), karena itu Anda HARUS berhati-hati & memastikan diri Anda sendiri tahu/ memiliki ilmu atas itu, mencari dan mengikuti hanya kebenaran saja, jangan terpengaruh oleh siapapun. Karena tetap dalam kebohongan setelah menjumpai kebenaran itu adalah suatu kezaliman, dan dalam kasus ini, kezaliman terhadap Nabi!

Orang-orang kafir lebih memilih mengikuti kebohongan/kepalsuan, sementara mereka yang beriman, mengikuti kebenaran dari Tuhan!)

“Those who disbelieve and repel others from the path of God – He nullifies their works. While those who believe, and work good deeds, and believe in what was sent down to Muhammad – and it is the Truth from their Lord – He remits their sins, and relieves their concerns. That is because those who disbelieve follow falsehoods, while those who believe follow the truth from their Lord. God thus cites for the people their examples. (47:1-3)



P.S.: Translator note (t/n:) adalah merupakan tambahan/penjelas dari saya pribadi (penerjemah) dan bukan bagian dari pesan asli. boleh diabaikan saja. Kritik/saran mengenai hasil penerjemahan, silahkan ajukan email ke: redemptionman@tutanota.com atau firefantasyhaiku@gmail.com

Share the Truth:

Post Navigation ;