Peringatan Kiamat

*DISCLAIMER/PENAFIAN*
Saya TF, semua artikel yang ada disini hanya upaya penerjemahan dari https://thetruthisfromgod.com/
Kecuali jika saya nyatakan lain.
Saya bukan pemilik situs tersebut diatas, dan pemilik situs tersebut (YS) samasekali bukanlah kenalan saya. Semua konten disana diluar tanggung jawab saya. Saya hanya orang biasa yang mengambil dari sana, menggunakan mesin penerjemah, kemudian mengoreksi hasil terjemahannya lebih lanjut. Demi Allah, Saya tidak dibayar sepeserpun atau mendapat imbalan apapun dari YS.
YS juga tidak pernah memaksa atau meminta saya untuk menerjemahkan.
Semua ini atas inisiatif saya sendiri.
Mohon maaf atas sebagian terjemahan yang masih kasar, atau keliru.
Untuk itu, Saya mohon dengan sangat kepada Anda untuk tetap meninjau sumber aslinya,
Semata-mata untuk menangkap pesan yang lebih lengkap dan lebih murni.
Jika Anda bisa mengerti apa yang tertulis disana (teks Bahasa inggris/Bahasa Prancis), tolong abaikan saja Blog saya dan baca langsung dari sana.
Pesan YS dalam bentuk video2, saya terjemahkan di channel youtube saya:

Dresscode/Cara Berpakaian Menurut Qur’an

16 Oct, 2020Agama Sejati

Diterjemahkan dari: https://thetruthisfromgod.com/2018/08/23/allure-du-croyant-selon-le-coran/ (Artikel sumber terjemahan terbit pada 23 Agustus 2018)


I- Pakaian Spiritual

Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang paling baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, akankah mereka mengingat? [S7:V26]

Sebelum berbicara tentang pakaian (dalam bentuk fisik), ayat ini mengingatkan kita bahwa ada pakaian yang menyertai kita dalam segala keadaan.

Pakaian ini adalah pakaian spiritual yang didapat dari ketakwaan/aspirasi & upaya aktif untuk conform (t/n: mengikuti /menyesuaikan) kepada aturan2 Tuhan.

Pakaian terbaik menurut Tuhan.

Seseorang yang secara aktif berusaha untuk menyesuaikan diri pada aturan2 Tuhan, untuk menjadi orang yang lebih baik dan berderajat tinggi di mataNya, tentunya akan condong kepada apa-apa yang menyenangkan Tuhan dan menghindar dari apa-apa yang tidak menyenangkan Tuhan. Kita tahu, godaan iblis hanya menguasai seseorang yang hatinya tertarik pada dosa. Jadi, orang seperti itu (t/n: yang aspirasinya pada Tuhan dan aturan-aturan Tuhan) secara alami akan bersikap kebal terhadap godaan dan penyesatan, dan bahkan tidak harus berjuang untuk menolaknya. Siapapun yang tidak tertarik/menginginkan dosa, tidak akan tergoda/terjerat oleh dosa.

Kenyataannya, hanya dengan memiliki dosa, sudah cukup untuk mengirimkan sinyal telepatis kepada orang-orang di sekitar kita, yang merasakannya seolah-olah dengan naluri. Jadi orang yang tidak memiliki dosa dalam pikirannya, tidak akan mengirimkan sinyal negatif ke sekelilingnya, dan tidak akan menangkap sinyal negatif dari orang lain.

Tuhan memberi kita metode terbaik untuk melindungi diri dari godaan iblis tanpa harus mengusahakan sedikit pun, dan metode ini terdiri dari menjalani hidup di mana kehidupan sehari-hari kita dimotivasi oleh pencarian keridhoan/approval Tuhan dan ketaatan kepadaNya.

Ketika kita melihat praktisi dari masing-masing agama, kita bertanya-tanya, atas dasar apa mereka membenarkan kode berpakaian mereka. Saya ambil contoh dari Salafi: janggut panjang dan tidak rapi, kumis pendek atau dicukur, rambut panjang atau dicukur gundul, sorban, gamis, celana gombrong… tipikal sekali!

Setan ingin menjadikan kita jelek dan menjadikan kita seperti kera… Inikah yang Tuhan, Yang Maha Indah anjurkan untuk kebaikan ciptaanNya, manusia?

Tuhan menciptakan semua manusia, jadi kita dapat mengekspektasi bahwa hukum Tuhan adalah untuk semua manusia, se-universal seperti Tuhan itu sendiri… Namun, tidak seperti itu yang kita dapati dengan dresscode yang baru saja saya kutip.

Hukum Tuhan ada untuk menjadikan hidup kita lebih mudah, dan untuk mengangkat kita, sementara hukum2 setan adalah sebaliknya: mereka menjadikan hidup orang lebih sulit, dan merendahkan dan menjelekkan orang. Menjadi tidak jujur jika saya harus mengatakan bahwa dresscode yang diadopsi oleh Yahudi Ortodox, atau Salafi, atau yang lainnya.. menjadikan mereka lebih indah atau membuat kehidupan sehari-hari mereka lebih mudah.

Kita merasa lebih dekat dan nyaman dengan orang yang terlihat seperti kita daripada dengan orang yang samasekali tidak seperti kita. Dresscode relijius menciptakan penghalang dan prasangka antara manusia, (yang diapresiasi/disukai setan), sementara hukum Tuhan sejati mempromosikan hubungan yang baik sesama manusia.

Tidaklah Kami menurunkan Qur’an ini kepadamu untuk menjadikan (hidupmu) sulit. [S20:V2]

Untuk mengerti preskripsi Tuhan dalam hal dresscode, seseorang pertama harus mengerti tujuan dibaliknya:

  • Mengangkat kita, menjadikan kita lebih mulia, lebih terhormat, lebih indah/cantik.
  • Menjadikan hidup kita lebih mudah
  • Melindungi diri kita dari godaan dan tidak menyebabkan godaan bagi orang lain

Dresscode dari bermacam-macam agama tidak benar-benar memenuhi tujuan2 ini, sementara jika Anda memperhatikan, Anda akan menemukan bahwa di Qur’an, hukum Tuhan yang sejati, memenuhi semua itu dengan sempurna.

Yang paling penting, sebelum membicarakan dresscode yang aktual/fisik, Tuhan memberitahu kita bahwa pakaian terbaik didapatkan dengan aspirasi kepada Tuhan dan ketaatan kepada hukum-hukumNya, pakaian spiritual ini adalah pakaian terbaik karena memang inilah yang akan melindungi kita dari semua jenis godaan dan dosa.

Preskripsi Nomor 0: Aspirasi untuk menyesuaikan/mentaati kepada aturan-aturan Tuhan

II- Pandangan dan Kesopanan

Bukannya menjaga sikap/mengkritik diri, kaum puritan lebih senang menyalahkan orang lain ketika mereka mendapati diri mereka menjumpai/terjebak godaan, dan memaksa orang lain menyesuaikan dengan puritanisme mereka.

Puritan dari semua agama-agama, percaya bahwa mereka menyenangkan Tuhan dengan puritanisme mereka, tapi, apakah Tuhan sendiri puritan, atau meminta kita untuk seperti itu?

Jawabannya adalah tidak, karena Tuhan tidak menyukai ekstrimis, tapi jalan tengah. Seperti yang saya katakan, Tuhan itu universal, jadi hukumNya juga akan seperti itu… Sedangkan hukum kaum puritan hanya cocok untuk mereka saja…
Kiriteria ini saja sudah mencukupi untuk mendiskualifikasi dresscode yang diadopsi oleh berbagai agama-agama.

Siapakah yang lebih baik daripada Tuhan, Pencipta semua manusia, dalam membuat hukum yang memberikan kepuasan untuk semua?

Anda akan melihat bahwa hukum yang di-preskripsikan Qur’an di area ini memang sudah diterima semua manusia, relijius ataupun tidak, sebagai standar umum decency/ kepatutan/ kesopanan.

Preskripsi Nomor 1: Batasi Pandangan

S24: V30 “Katakanlah kepada pria yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandanganya dan menjaga kesopanannya … “

S24: V31 “Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandanganya dan menjaga kesopanannya … “

(t/n: penerjemah2 mainstream/kebanyakan mengartikan ayat2 ini dengan “menjaga pandangannya dan menjaga kemaluannya”/guard their private parts, atau dengan “guard their chastity”/menjaga kesuciannya, sementara sebagian kecil pernerjemah (termasuk YS) mengartikan noun fa-ra-jim sebagai modesty”/kesopanan. Memang benar, “menjaga kemaluan” hanyalah sebagian dari “menjaga kesopanan”. Karena kesopanan bukan sekedar urusan kemaluan.) Tuhan menggunakan kata “restrict”/batasi, yang artinya kita harus mengendalikan pandangan kita dari 2 arah:

  • Apa yang memasuki mata kita
  • Apa yang datang dari mata kita

Mengendalikan apa yang memasuki pandangan kita melayani kita untuk menghilangkan dari penghlihatan kita: sumber2 godaan. Tergantung konteksnya, ini dapat berarti mengalihkan kepala kita, menundukkan mata kita, dll.. Memang benar, mata kita adalah pintu gerbang godaan. Jika kita memfilternya begitu godaan itu muncul, godaan tidak akan mempengaruhi/mengakar pada kita.

Mengendalikan apa yang datang dari mata kita menolong kita untuk tidak membangkitkan godaan kepada orang lain. Banyak hal dapat terjadi hanya dengan tatapan mata. Kedipan-kedipan, tatapan nakal, curi-curi pandang, tatapan tajam, .. cukup sebagai godaan/membangkitkan perasaan bagi sebagian orang.

Preskripsi Nomor 2: Jaga Kesopanan

Memang benar, selain dari dresscode: prilaku yang sopan, baik itu pria maupun wanita, tanpa ragu lagi adalah apa yang meminimalisir semua kesalahpahaman.. Tapi kita tahu bahwa setan bersembunyi dibalik keraguan. Menjadi sopan bukan berarti menjadi puritan, tapi justru adalah menjadi sederhana, disaat yang sama tidak kaku atau tidak memiliki misplaced ideas, dan tidak membiarkannya muncul pada prilaku kita yang dapat disalahpahami orang.

Kesopanan terletak pada keseluruhan penampilan dan prilaku (t/n: yang terhormat namun tetap sederhana), dan bukan pada “selembar kain”/jenis pakaian tertentu

Bagi Pria, itulah semua yang Tuhan atur (tentang dresscode) di Qur’an, tidak ada preskripsi tentang janggut, penutup kepala, gamis, atau aturan isbal… semua itu adalah hukum yang dibuat-buat, yang adalah pekerjaan setan.

Tuhan secara garis besar memberitahu kita:

  • dimana Aku mengaturnya: ikuti hukumKu. Tidak lebih, tidak kurang
  • dimana Aku tidak mengaturnya: tidak ada hukum atas itu (t/n: silahkan gunakan akal & kebijaksanaan kita sendiri, tapi jangan memaksakan/ memalsukan hukum!)

Tidak ada hukum Tuhan yang mengarahkan pria untuk berjanggut, atau untuk memakai pakaian ini atau itu… Sesungguhnya, Tuhan tidak membuat hukum sewenang-wenang hanya agar kita tunduk pada itu, Tuhan hanya menetapkan aturan2 yang bermanfaat dan melindungi kita. Bagaimana bisa memiliki janggut bermanfaat atau melindungi kita, bagaimana bisa memiliki janggut menjadikan kita orang yang lebih baik ataupun buruk?

Muslim akan mengatakan pada Anda bahwa ini tidak ada di Qur’an, hukum Tuhan, tapi di Sunnah, hukum Nabi. Tapi disamping fakta bahwa Nabi tidak memiliki hukumnya sendiri, hukum sejati satu-satunya hanyalah hukum Tuhan! Qur’an memperingatkan kita bahwa Nabi tidak akan pernah melakukan seperti itu (t/n: menciptakan aturan agama sendiri di luar Qur’an), tetapi (t/n;aturan2/ “Sunnah Nabi” itu) adalah kebohongan yang mengatasnamakannya:

S7: V157 “Orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummiy yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka...”

Nabi menegakkan hukum Tuhan untuk mengangkat beban dan belenggu yang ada pada orang-orang, bukan meletakkan (beban & belenggu) yang baru pada mereka. Tentu saja bukan Nabi yang mengatur pria agar berjanggut atau detil2 kosmetis lain, karena Tuhan tidak me-legislasi aturan khusus apapun ke arah itu. Semua detail2 kosmetis itu adalah wilayah personal. Tuhan tidak me-legislasi di bidang selera dan warna…

Untuk pria, preskripsi Tuhan tentang dress code:
Batasi pandangan
Kesopanan (t/n: Prilaku dan penampilan)

Ketika Anda melihat aturan2 ekses yang dibebankan oleh muslim, kita dapat melihat dengan jelas bahwa itu bukanlah cara berpakaian yang modesty-minded/didorong oleh kesopanan tapi hanya ketaatan buta pada aturan palsu yang membawa ketidaknyamanan & kesulitan2 tambahan tanpa manfaat nyata:

Bagi wanita, Tuhan memberi preskripsi tambahan dikarenakan kecantikan alami mereka. Memang, fakta membuktikan, pria dan wanita tidaklah sama dalam area ini.

Tuhan memberitahu kita di Qur’an bahwa manusia diciptakan dengan kecintaan/ hasrat pada wanita/ lawan jenis, anak-anak dan kekayaan materi:

S3: V14 Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”

Tuhan memberi pria jalan untuk memuaskan hasrat alamiah ini kepada pasangan sah mereka, dan untuk menahan hasrat ini ketika itu tidak appropriate/pantas (dengan mengingat Tuhan, dengan menjaga kesopanan dan menahan pandangan) … tapi masalah mulai muncul dari pria-pria yang tidak mentaati preskripsi Tuhan tentang hal ini. Karena itulah Tuhan ingin melindungi wanita dengan menetapkan aturan tambahan dalam urusan dresscode, bukan untuk menyembunyikan wanita atau merendahkan mereka.

III- Dress Code

Inilah (translasi/ terjemahan muslim) atas apa yang Tuhan tetapkan sebagai preskripsi tambahan (selain batasi pandangan dan kesopanan) untuk wanita:

S24: V31 And say to the believing women to lower their eyes, to keep their chastity, and to show of their finery only what appears from it and that they draw down their veils on their breasts ; and that they show their finery only to their husbands, or to their fathers, or to the fathers of their husbands, or to their sons, or to the sons of their husbands, or to their brethren, or to the sons of their brethren, or to the sons of their sisters, or to Muslim women, or to the slaves they own, or to the helpless male servants, or to the pre-pubescent boys who ignore all the hidden parts of the women. And that they do not strike with their feet so that one knows what they hide from their adornments . And repent all of you before Allah, O believers, that you may reap success.

Adalah dengan basis ayat ini bahwa penafsir muslim menjustifikasi kewajiban mengenakan kerudung bagi wanita, tetapi jika Anda perhatikan, tidak tertulis dimanapun di ayat ini bahwa wanita harus mengenakan apapun di wajah/kepala mereka. Kita akan bahas ini secara bertahap

Jika invisibility cloak/jubah tembus pandang ada, para ahli tafsir Muslim mungkin akan mewajibkannya untuk wanita, tetapi tidak perlu, mereka sudah punya burqa dan niqab yang sudah memenuhi fungsi ini. Apakah Tuhan menciptakan wanita, dengan kecantikan mereka, untuk disembunyikan seluruh hidupnya? Bagaimana pria dan wanita bisa bertemu satu sama lain, mengenal satu sama lain, dan memulai sebuah keluarga, jika pria tidak bisa melihat wajah istrinya sampai dia menikah ????

Daftarnya panjang dalam hal-hal nonsense ketika itu tentang mencari logika atas praktik2 buatan setan….

Banyak sekali aturan2 yang dibuat-buat untuk menjustifikasi apa yang unjustifiable… setan seringkali bersembunyi dibalik niatan yang tampaknya baik

Preskripsi Nomor 3 : Jangan tampakkan kecuali yang sudah tampak dari kecantikan alami Anda

Perdebatan pada ayat ini pertama berkaitan bagian: “ to show of their finery only what appears to be”. Tepatnya pada bagian “ what appears (t/n: yang boleh ditampakkan) ” dimana interpretasi itu berbeda-beda, beberapa mengatakan “ what appears/apparent ” itu merujuk kepada wajah, yang lain membatasi hanya kepada mata dan telapak tangan… yang lainnya tidak meninggalkan apapun yang tampak dari wanita, seperti halnya dengan menggunakan burqa… dan yang lainnya yang lebih reformis mengatakan bahwa “what appears” itu adalah apa yang wanita itu putuskan sendiri untuk dibiarkan tampak, karena itu menjadi à la carte.

Tapi kalimat ini samasekali tidak mengatakan seperti itu, semua interpretasi2 itu hanya asumsi. kita perlu kembali kepada apa yang kata-kata di ayat ini tujukan/maksudkan untuk mendekati kebenaran.

Sedari awal, ahli tafsir muslim tidak sepenuhnya jujur saat mengartikan “ زِينَتَهُنَّ ” dengan “perhiasan”. Sesungguhnya, kata yang digunakan disini memiliki makna yang lebih luas dan berarti “kecantikan” secara umum.

وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَ ” secara literal berarti “and that it reveals of their beauty only what remains visible”.

Jika seorang wanita mencoba menunjukkan hanya apa yang tidak bisa dia sembunyikan dari kecantikannya, apa yang tersisa?

Kecantikan alaminya.

Sebagai contoh, wanita telah Tuhan anugrahi dengan bentuk tubuh yang indah, karena itu hendaknya memakai pakaian yang cukup longgar, ini tidak berarti sangat longgar, inilah yang Tuhan maksudkan “except what remains visible”.

Seorang wanita yang berwajah cantik akan tetap cantik meskipun dia tidak menggunakan make-up apapun. Ini juga adalah apa yang termasuk dalam ekspresi “except what remains visible”.

Apakah berkerudung ataupun tidak, kita tidak memandang dengan cara yang sama: wanita yang membatasi kecantikannya pada kecantikan alaminya dengan wanita yang excess/berlebihan dalam mencari-cari untuk meningkatkan kecantikannya, ini bukan tentang kecantikannya, tapi indikasi dari tujuan yang wanita ini cari. Kita kemudian dapat melihat dengan jelas, bahwa bukanlah kerudung yang mendefinisikan seseorang.

Ambil contoh banyak dari wanita berkerudung, di satu sisi mereka mengenakan kerudung, dan di sisi lain, mereka memakai make-up lebih banyak daripada wanita yang tidak berkerudung. Sebenarnya, mereka mencari cara untuk mengkompensasi dengan make-up atas kejelekan yang disebabkan pengenaan kerudung… ketidakseimbangan yang menciptakan ketidakseimbangan lainnya. Jika mereka berpegang teguh saja pada apa yang Tuhan preskripsikan di Qur’an, mereka tidak akan merasakan frustasi menjadi jelek karena (aturan palsu) pengwajiban mengenakan kerudung, dan mereka karena itu tidak perlu mengkompensasi atas frustasi ini.

Ini sungguh pertanda dari pekerjaan setan, setan mendorong kita untuk berbuat salah, dan kemudian membuat kita mengkompensasi dampak dari kesalahan awal kita tadi dengan kesalahan baru. Memang setanlah yang ingin menjadikan jelek apa yang Tuhan jadikan cantik/indah secara alami, yang ingin menghalangi kita dari “apa yang Tuhan otorisasi/bolehkan dan yang baik untuk kita” dan menganjurkan kita kepada “apa yang Tuhan larang dan yang menyakiti/merugikan kita”

Tuhan tidak melarang make-up, namun, kita semua bisa membedakan antara make-up flashy dan make-up sederhana. Yang satu provokatif, sementara yang lain hanya supaya tampak tidak “mengabaikan diri sendiri”. Tuhan tidak meminta wanita untuk mengabaikan diri sendiri atau melarang mereka dari perawatan/ mempercantik diri, hanya saja jangan ke tingkat “provokatif”. Seperti di semua hal, Tuhan tidak menyukai excess/ berlebih-lebihan.

Preskripsi Nomor 4 : Tutupi bentuk Anda

Resep Tuhan untuk wanita berlanjut dengan:

S24: V31 and that they draw down their veils on their breasts..

Pertama, perhatikan tentang “جُيُوبِہِنَّ‌ۖ” yang diterjemahkan oleh para ahli tafsir islam sebagai “dada”.

“جُيُوبِہِنَّ‌ۖ” berasal dari kata “جيب” yang secara harfiah berarti “pocket”/lekukan, oleh karena itu ayat ini mengatakan bahwa perempuan harus menutupi “lekukan” mereka, yang secara umum mengacu pada bagian2 yang membentuk perempuan: bokong, dada, paha … dikonfirmasi oleh akal sehat karena memang, kita semua tahu bahwa bentuk2 feminin inilah pada umumnya yang membangkitkan hasrat seksual pada pria.

Kita sampai pada kata “بِخُمُرِهِنَّ” / “khimar” di mana para penafsir Muslim mendasarkan kata ini untuk menjustifikasi aturan mereka sendiri atas pengwajiban mengenakan kerudung/jilbab di kepala wanita.

Mari kita lihat apa arti (objek) khimar di zaman Muhammad dan di zaman kita:

Khimar dalam pengertian yang biasa pada zaman Muhammad = nama pakaian dalam bentuk kain one-piece besar, seringkali berwarna hitam yang menutupi tubuh wanita dari kepala sampai kaki, termasuk wajah.
Khimar dalam pengertian sekarang = nama pakaian berupa kain persegi kecil yang warnanya bermacam-macam dan yang digunakan hanya untuk menutupi kepala, bukan badan atau muka

Salafi mendasarkan diri mereka pada Khimar seperti yang didefinisikan pada masa Muhammad, dan menyimpulkan bahwa ayat ini mengharuskan wanita dari segala zaman dan budaya untuk mengenakan burqa atau niqab.

Dihadapkan dengan protes dari masyarakat umum, para penafsir Muslim yang lebih moderat mempertahankan arti kata khimar saat ini dan menafsirkan ayat ini sebagai preskripsi mewajibkan wanita untuk mengenakan kerudung di kepala mereka, tanpa menutupi wajah mereka …

Apapun arti dari kata Khimar, perlu kita cermati bahwa sama sekali tidak ada di dalam Al Qur’an bahwa wanita harus menutupi kepala atau menyembunyikan wajah mereka. Namun Tuhan menetapkan dalam ayat ini bagian-bagian feminin yang seharusnya ditutupi oleh khimar, yaitu tentang “lekukan”2 tadi, lalu apakah artinya Tuhan akan lupa untuk menentukan preskripsi (t/n: yang dianggap) penting (t/n: menurut muslim) yang adalah menutupi kepala, atau wajah?

Untuk memahami sepenuhnya ayat ini, mari kita coba mempertimbangkan konteks masyarakat pra-Islam ketika Al-quran diturunkan.

Pada kenyataannya, praktik mengenakan cadar tidak ditetapkan oleh Al-qur’an dan Muhammad seperti yang dikatakan oleh para penafsir Muslim, tetapi sudah menjadi praktik yang mapan selama berabad-abad dalam masyarakat Arab pra-Islam.

Para wanita kelas atas dari masyarakat pra-Islam (jadi tidak termasuk budak atau pelacur) memang mengenakan khimar untuk acara mereka, kain yang kebanyakan berwarna hitam dalam satu potongan yang menutupi tubuh mereka dari kepala sampai kaki, termasuk wajah (setara dengan niqab dan burqa hari ini).

Roland Guérin de Vaux (1903-1971), bapa gereja dominika dan arkeolog yang memimpin tim Katolik yang mempelajari dead sea scrolls yang ditemukan di sebelas gua dekat reruntuhan Qumrân, menerbitkan di Revue Biblique, berdasarkan manuskrip ini (disalin di antara Abad ke-3 SM dan abad ke-1 M), sebuah artikel berjudul: “On the veil of women of the ancient East” di mana dia memberi kita bukti yang tak terbantahkan:

Tulisan2 sebelum Islam itu mengkonfirmasikan tanpa keraguan bahwa praktik ini yaitu mengenakan pakaian tertutup penuh untuk wanita, sudah ada/berlaku jauh sebelum pewahyuan Qur’an.

Jika kita mengikuti logika ahli tafsir muslim dan menyimpulkan bahwa Tuhan benar-benar memerintahkan wanita menutup seluruh tubuhnya, bukankah aneh saat kita melihat hukum Tuhan dan hukum pagan (karena itu hukum dari setan) satu suara. Sejak kapan Tuhan dan setan memiliki hukum/aturan2 yang sama?

Untuk memahami apa itu sebenarnya, mari menganalisa alasan2 mengapa wanita di masyarakat pra-Islam mengenakan pakaian tertutup penuh itu.

Wanita timur bangsawan dari masyarakat pra-islam mengenakan kain besar hitam ini mengacu pada Al-Lat, dewi kesuburan, salah satu sembahan utama kaum pagan di Mekkah, dianggap sebagai satu dari 3 “anak perempuan dari Tuhan” yang kaum pagan asimilasikan kepada Hubal

Simbolisasi dari kerudung besar hitam ini bahwa Al-Lat, seperti semua dewi-dewi kesuburan, kawin dengan dewa matahari, karena itu harus melindungi dirinya sendiri supaya tidak terbakar, kita temukan simbolisme serupa ini dengan the black virgins, yang mendapatkan warna ini karena bersatu dengan dewa matahari.

Wanita pagan masyarakat pra-islam (pendeta wanita Al-Lat dalam film Manchurian Candidate, 2004)

Simbolisme ini terkonfirmasi dengan fungsi Ka’bah di zaman pagan/polytheis yang didedikasikan untuk penyembahan Al-Lat, dengan kain hitam penutup Ka’bah, dan batu sakral hitam (t/n: hajar aswad) yang merepresentasikan kepala newborn/bayi, yang terlingkupi dalam apa yang tampak seperti vulva wanita, secara persis menyimbolkan Al-Lat, dewi kesuburan.

Wanita masyarakat atas/elit yang berbusana seperti ini diberikan titel priestess/pendeta wanita Al-Lat. Dengan mengklaim sebagai “dignitaries”/orang-orang dekat Al-Lat, mereka dapat menjustifikasi status/posisi tinggi mereka diantara masyarakat pra-Islam.

Dresscode ini juga memungkinkan wanita2 bangsawan ini untuk tetap memiliki kulit bersih dan halus yang membedakan mereka dari wanita-wanita kelas lebih rendah, yang bekerja tanpa penutup/pakaian dibawah panas terik matahari di dataran Arab.

Dresscode ini samasekali tidak dimaksudkan untuk alasan kesopanan atau membatasi godaan:

Sebenarnya, dresscode ini memungkinkan wanita melihat/melirik orang (tanpa ketahuan dirinya melihat), dan memungkinkan mereka mengintip pria-pria yang sesuai selera mereka. Dan bukanlah kebetulan bahwa di akhir ayat ini merujuk kepada praktik lain pada saat itu, yang adalah praktik/hukum pagan yang dibatalkan/dilarang ketika Qur’an diwahyukan:

S24: V31…. And that they do not strike with their feet so that one knows what they hide of their beauty . ..

(t/n: kebiasaan wanita pagan: dibalik pakaian fullbody-nya mengenakan gelang kaki yang berbunyi saat dihentakkan, tindakan “appeal” yang kurang lebih sama seperti pria yang menyembunyikan diri lalu bersiul untuk menggoda wanita) Bukti lebih lanjut bahwa kerudung full-face pra-Islam tidak dimotivasi oleh kesopanan, adalah fakta bahwa wanita2 kelas bawah, seperti budak dan pelacur tidak diberi pakaian yang layak, atau bahkan dibiarkan telanjang. Jika aturan2 masyarakat pra-Islam memang dimotivasi oleh kesopanan, maka kita tidak akan mendapati 2 sisi ekstrim2 ini.

Kita sekarang lebih mengerti konteks masyarakat pra-Islam ketika Qur’an turun. Wanita bangsawan mengenakan kain kerudung besar yang menutupi seluruh tubuh untuk menunjukkan peringkat tinggi mereka dalam kultus Al-Lat, untuk membedakan mereka dari wanita2 kelas bawah; dengan kulit mereka yang bersih dan halus; dan untuk menjadi predator seksual, bukan untuk melindungi diri dari menjadi korban, karena mereka bebas mengintip dibalik pakaian mereka tanpa ketahuan. Sementara wanita2 kelas bawah, mereka kebanyakan dipaksa hampir telanjang, seperti objek seksual yang diperdagangkan untuk para pejabat.

Jadi apakah Qur’an diturunkan oleh Tuhan untuk mendukung dan melanjutkan praktik2 setan ataukah untuk membebaskan kita dari mereka?

Jika kita mengikuti tafsiran Islam, wanita sebelum Qur’an adalah wanita yang berpakaian penuh hingga tertutup sepenuhnya, wanita setelah Qur’an, juga adalah wanita yang berpakaian penuh hingga tertutup sepenuhnya!

S7: V157 “Orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummiy yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka...”

Qur’an diturunkan untuk melepaskan kita dari beban dan belenggu, melepas beban dari pemakaian kerudung & pakaian yang menutup penuh, dan melepas belenggu dari wanita kelas bawah yang telah ditelanjangi, direndahkan, dihinakan.

Setanlah yang mengatakan ekstrimitas ini atau itu kepada wanita; “jadilah tertutupi sepenuhnya hingga seperti mumi dan orang sulit mengenali/membedakan Anda, ATAU jadilah telanjang hingga kehilangan martabat dan harga diri Anda” Tuhan kemudian me-revolusi masyarakat Arab pra-Islam dengan memerintahkan jalan yang benar: “Tutupilah hanya apa yang normal untuk ditutup, yaitu bentuk/bagian2 feminin yang merupakan bagian integral dari privasi dan harga diri Anda…. dan ini berlaku untuk semua wanita, bangsawan ataupun bukan” … inilah yang benar-benar membebaskan masyarakat pra-Islam dari belenggu, beban, dan kehinaan!

Jadi di masa Nabi, ayat ini memerintahkan wanita untuk menjulurkan veil/kain kerudungnya menutupi bentuk mereka dan bukan menutupi wajah dan kepala. Tapi apakah Tuhan memerintahkan wanita, apapun zaman mereka, apapun budaya mereka, untuk melakukan hal yang sama, untuk semuanya harus berpakaian dengan mengikuti kebiasaan di suatu daerah gurun lebih dari 1400 tahun yang lalu? Apakah Tuhan benar2 memerintahkan kita stuck seperti itu?

Tentu saja tidak! ayat ini, dipandang pada konteks saat pewahyuan Qur’an adalah sebuah revolusi dan pembebasan dari masyarakat pra-Islam, sebuah kemajuan besar, sambil tetap menghormati kebiasaan dan gaya berpakaian mereka sendiri.

Jadi apakah yang benar2 Tuhan preskripsikan atas ini, untuk wanita2 dari budaya2 berbeda dan hidup di zaman yang berbeda dan sesuai identitas lokal mereka sendiri?

Mukjizat Qur’an adalah menggunakan bahasa Arab baik secara dialektikal dan pada saat yang sama literal.

Makna dialektikal berbicara kepada orang2 yang hidup di masa makna dialektikal ini masih berlaku, sementara makna literal berlaku ketika makna dialektikal dari suatu kata telah kehilangan kegunaannya, dan makna literal ini berkorespondensi dengan makna etimologis dari suatu kata, suatu makna yang lebih kaya daripada penggunaan dialektikal yang mana ia berasal.

Kata “ بِخُمُرِهِنَّ “ / Khimar berasal dari kata “ خمر “, yang secara etimologis berarti “sesuatu yang menutupi” dalam artian yang paling umum/luas. Sebagai contoh “ خمر ” adalah juga kata yang merujuk kepada “wine”, alkohol, minuman memabukkan. Khmr dalam contoh ini secara umum berarti: semua yang “covers/menutupi” pikiran. Jadi khimar di ayat ini (t/n: bukanlah nama dari suatu pakaian tertentu, tapi) sederhananya berarti pakaian yang menutupi, oleh karena itu tidak sama dengan tight-fitting-garment/ pakaian ketat.

Jadi translasi dari ayat ini dengan mengaplikasikan apa yang telah kita bahas/pelajari, dengan bahasa natural di masa kita, akan seperti ini:

S24: V31 And tell the believing women to restrict their gaze, to preserve their modesty, and not to reveal more than what their natural beauty already reveals, and to cover their feminine forms; (t/n: Dan katakan pada wanita2 beriman untuk menahan pandangannya, menjaga kesopanannya, dan untuk tidak mempertontonkan kecuali apa yang sudah tampak sesuai kecantikan alami mereka, dan untuk (memakai pakaian yang) menutupi bentuk2 (lekuk tubuh) feminin mereka) and that they show what makes their beauty only to their husbands, or to their fathers, or to the fathers of their husbands, or to their sons, or to the sons of their husbands, or to their brothers, or to the sons of their brothers, or the sons of their sisters, or the Muslim women, or the slaves they own, or the helpless male servants, or the unpubertal boys who ignore all the hidden parts of the women. And that they do not strike with their feet so that one knows what they hide from their ornaments. And repent all of you before Allah, O believers, that you may reap success.

Sekali lagi, kita lihat bahwa hukum sejati Tuhan dalam subjek ini berkorespondensi dengan standar decency/ kepatutan/ kesopanan yang diterima umum. Kita semua bisa membedakan antara wanita yang mengenakan pakaian yang “menempel/membungkus” tubuhnya dibandingkan dengan wanita yang mengenakan pakaian yang menutupi bentuk-bentuk tubuhnya. Berapa banyak wanita mengenakan kerudung, namun dari kepala hingga kaki mengenakan pakaian yang menonjolkan bentuk tubuh, sementara Tuhan telah mempreskripsikan kebalikannya?

S24: V31…  And that they do not strike with their feet so that we know what they are hiding in their adornments… 

Praktik ini tidak ada lagi, tapi kita semua tahu bahwa wanita dan pria telah menemukan banyak trik-trik lain supaya dianggap sebagai orang baik, sementara sebenarnya mencari-cari hal lain. Jadi, jika kita ingin menerapkan bagian ini dari ayat ini, kita harus mentaati spirit dibalik pelarangan ini, yaitu jangan diam-diam berlaku tidak patut, dibalik penampilan diri sebagai orang baik-baik.

Preskripsi Nomor 5 : Kenakan pakaian yang cukup panjang

 Inilah (t/n: terjemahan muslim atas) ayat terakhir di Qur’an yang mengatur tentang subjek ini:

S33: V59 O Prophet! Tell your wives, your daughters, and the wives of believers, to pull back their great veils / Jelbebs over them: they will be recognized more quickly and will avoid being offended. Allah is Forgiving and Merciful.

Sekali lagi, tidak ada apapun di ayat ini yang mengindikasikan bahwa istri2 orang-orang beriman mesti mengenakan kerudung besar di kepala mereka.

Jilbab adalah nama pakaian/kain yang umum digunakan di masa Nabi, yang wanita kenakan diluar pakaian sehari-hari mereka dalam hal mereka mesti bepergian, dan dapat menutupi tubuh dan juga kepala.

Ayat ini menginstruksikan wanita2 di zaman Muhammad untuk menjulurkan jilbab ke badan mereka, dan tidak pernah ada sedikitpun tentang keharusan menutupi kepala mereka…

Ayat ini cocok dengan wanita di zaman Muhammad yang sudah terbiasa mengenakan jilbab sesuai budaya dan tradisi, jadi ini bukanlah hal baru, tapi Tuhan memerintahkan mereka memakainya dengan cara yang benar (menutupi tubuh mereka); bukan jadi menyembunyikan seluruh tubuh dengan melilitkannya menutupi kepala mereka, atau bukan pula wanita yang membiarkan jilbab mereka terbuka sepenuhnya.

Sekarang, apakah Tuhan memerintahkan wanita di seluruh dunia, tak peduli zaman dimana mereka hidup dan apapun budaya mereka, untuk mengenakan jilbab atau khimar?

Tentu saja tidak! dan untuk mengaplikasikan ayat ini secara universal untuk semua wanita, apapun zaman mereka, apapun budaya mereka, perlu untuk menyandarkan pada makna literal-etimologis dari kata jilbab.

Jilbab berasal dari kata “جلب”, yang berarti “yang memungkinkan pergerakan dari satu tempat ke tempat lain”, jadi ini dapat ditranslasikan dalam konteks ayat ini sebagai pakaian yang memungkinkan seseorang dari satu tempat ke tempat lain/bepergian, karena itu adalah “an outer garment”/pakaian luar.

Sekarang mari kita lihat apa yang dikatakan dari sisa ayat ini:

S33: V59 O Prophet! Tell your wives, your daughters, and the wives of believers to pull back their great veils

”  يُدۡنِينَ “ / berasal dari kata “ أدنى ” dan ketika itu mengenai pakaian, kata ini berarti “memanjangkan”.

أدنى  الثَّوْبَ: أرخاه وأطاله

Jadi ayat ini sederhananya meminta wanita mengenakan outwear/pakaian luar yang cukup panjang, yang sekali lagi sesuai dengan standar umum decency/ kesopanan.

Dan ayat ini berakhir dengan alasan mengapa Tuhan meminta wanita mengenakan pakaian panjang ketika mereka bepergian/keluar rumah:

S33: V59… they will be recognized more quickly and will avoid being offended…

Memang benar, adalah fakta atas wanita yang mengenakan pakaian panjang, bahwa dia akan dikenali oleh orang-orang sebagai wanita yang tidak mencari-cari perhatian, dan otomatis wanita yang berpakaian seperti itu akan lebih kecil kemungkinannya diganggu oleh pria jahat, yang lebih banyak tertarik kepada wanita-wanita yang pakaiannya provokes/ mencolok.

Jadi translasi yang benar untuk ayat ini adalah seperti ini:

S33: V59 O Prophet! Tell your wives, daughters, and wives of believers to dress in clothing that is long enough when traveling, (wahai Nabi! Katakanlah pada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri2 orang beriman untuk mengenakan pakaian yang cukup panjang ketika bepergian) which will make them more likely to be identified as such (decent believing women), and will prevent them from being not bothered. Allah is Forgiving and Merciful

IV – Summary

Ringkasnya, inilah aturan-aturan yang Tuhan preskripsikan untuk wanita tentang dresscode yang sesuai Qur’an:

Batasi Pandangan
Jaga kesopanan (t/n: Prilaku & penampilan)
Batasi diri dengan menampakkan sebatas kecantikan alami
Tutupi bentuk/ lekuk-lekuk tubuh
Kenakan pakaian yang cukup panjang

Tentu saja, inilah yang harus wanita-wanita beriman kejar. Tuhan tahu, karena keadaan tertentu atau situasi tertentu, mereka tidak selalu bisa untuk mematuhi semua kode/ aturan ini. Semuanya tentang kemurnian iman dan ketulusan upaya kita. Tuhan hanya meminta dari kita apa yang berada dalam kemampuan kita.

Mengenakan kerudung, yang mana Tuhan tidak pernah preskripsikan. Tetapi ketika itu tentang “jangan mencari/menampakkan lebih dari kecantikan alami”, yang telah Tuhan preskripsikan, wanita ini berhias diri secara glamor sehingga belum benar-benar mengikuti preskripsi Qur’an.

Preskripsi Qur’an ini lebih berarti dan adil, daripada dresscode menurut ahli tafsir Islam atau agama-agama lain. Memang benar, kriteria decency/kepantasan menurut Tuhan berkorespondensi di setiap sisi dengan standar decency yang diterima oleh semua orang/umum, terlepas dari agama apapun. Ini berkesuaian dengan keadilan dan kebijaksanaan Tuhan, karena Tuhan tidak mungkin menciptakan wanita indah/cantik untuk kemudian memaksakan mereka menjadi jelek. Tuhan tidak mendorong untuk menyembunyikan wanita, tapi untuk mellindungi mereka dari pria jahat. Tuhan memberi kita aturan-aturan supaya godaan & dosa tidak tersebar/berkembang diantara kita, sambil disaat yang sama membuat aturan itu semudah mungkin untuk kita.

Hukum Tuhan dikenali dengan apa yang secara universal dan secara insting/alamiah diakui oleh manusia sebagai apa yang baik dan adil. Karena itu, ikutilah hukum Tuhan sejati dan bukan hukum setan.

Tuhan menurunkan Qur’an kepada semua manusia, tak peduli agama mereka, atau asal mereka, atau zaman dimana mereka hidup, karena itu dapat diekspektasi bahwa hukum Tuhan akan cocok untuk semuanya dan untuk semua waktu. Tuhan memang Maha Adil. Memang persisnya, jika kita menempel pada apa yang Qur’an katakan tanpa membiarkan diri kita terpengaruhi oleh kebohongan-kebohongan setan, kita menyadari bahwa hukum Tuhan itu sempurna dalam keadilan dan kebijaksanaan, dan bahwa hukum Tuhan tidak bertujuan menyulitkan kita, itu bukanlah beban atau kekangan, justru sebaliknya, hukum Tuhan me-legislasi seminimal mungkin untuk hasil/efisiensi maksimal. Hukum Tuhan bukanlah hukum yang akan memecah manusia, tapi hukum sebagai anugerah Tuhan yang akan menyatukan mereka semua dalam kebaikan dan mendekatkan mereka pada Tuhan. Saat kita melihat semua orang-orang dari semua agama, masing masing dengan pakaian2 restriktif mereka sendiri, kita menyadari bahwa ini tidak membantu mendamaikan/menyatukan manusia tapi justru memecah mereka, ini tidak membuat hidup mereka lebih mudah, tapi sebaliknya membuat hidup jadi lebih sulit bagi mereka.

Hukum Tuhan dibuat untuk manusia dan bukan untuk Tuhan, apapun yang Tuhan larang adalah apa yang merugikan manusia, dan apapun yang Tuhan anjurkan adalah apa yang bermanfaat bagi manusia. Inilah kriteria umum untuk menentukan/mengidentifikasi apakah suatu hukum itu benar-benar dari Tuhan atau tidak. Jadi apapun agama/kepercayaan Anda, Anda dapat bertanya pada diri sendiri pertanyaan2 ini untuk validasi praktek2 Anda, dan komparasikan dengan apa yang benar-benar dipreskripsikan di Qur’an, untuk menyadari bahwa hukum Tuhan adalah memang hukum terbaik, dan ikutilah itu untuk keuntungan & kebaikan Anda sendiri.

Bukti bahwa Tuhan bermaksud untuk menjadikan semuanya semudah mungkin untuk kita, ada di ayat ini:

S24: V60 And as for women reached by menopause and who no longer intend to marry, no one reproaches them for taking off their outer clothes, without wanting to display their beauty, even if it is better for her to preserve their modesty. Allah is Hearing and Knowing.

Mulai saat wanita tidak lagi muda dan tidak lagi mencari untuk menikah atau merayu pria, Tuhan meringankan preskripsi untuk mereka sesegera mungkin… padahal Tuhan bisa saja menerapkan aturan2 yang tetap di sepanjang hidup wanita. Ini mengkonfirmasi apa yang saya katakan tadi, bahwa Tuhan bermaksud membuat semuanya semudah mungkin untuk kita, dan aturan-aturan Tuhan tidaklah sewenang-wenang, tapi melayani tujuan2 spesifik.

Namun Tuhan menyarankan wanita, bahkan jika mereka sudah tidak muda lagi, untuk mempertahankan modesty/kesopanan mereka dengan menghindari sebisa mungkin berpakaian terbuka di publik (meski Tuhan membolehkan mereka untuk itu), semata-mata untuk tetap melindungi mereka dari pria-pria jahat melalui rekomendasi ini.

V- Konklusi

Kita sangat jauh dari dresscode yang diatur oleh berbagai agama-agama, hukum Tuhan dalam hal ini adalah universal. Wanita sopan yang tidak mencari tatapan dari pria, yang tidak mencari untuk mempertontonkan bentuk2 femininnya, yang mengenakan pakaian yang cukup panjang, yang tidak mencari untuk mempercantik diri melebihi batas kecantikan alamiah, yang inilah wanita-wanita pengikut dresscode sesuai hukum Tuhan yang tidak akan menjadi godaan untuk pria. Pria sopan yang tidak menggoda/mengganggu wanita dengan penampilan, matanya ataupun prilakunya, dan yang melindungi dirinya terhadap godaan, inilah apa yang Tuhan preskripsikan untuk pria pada area ini.

Sekarang tanyakan pada diri, Inikah yang Tuhan anjurkan untuk kita? untuk menjadi jelek seperti kera? untuk mengenakan jubah, topi panjang, sorban? Tidak! adalah tanda tangan setan diatas aturan-aturan yang menghinakan kita dan menjadikan hidup kita lebih sulit…. Kita sering menemukan tampilan serupa diantara ekstrimis agama2 ini dengan satanis… rambut panjang atau gundul, janggut panjang, pakaian serba hitam, style yang seragam… ini tidaklah mengherankan karena semua dresscode ini datang dari setan.

Ahli tafsir dari semua agama-agama percaya bahwa adalah lebih baik untuk menjadi restriktif daripada tidak cukup, sedangkan Tuhan telah cukup jelas menegaskan melalui berbagai ayat: “lakukan sesuai apa yang Aku perintahkan, TIDAK KURANG, TIDAK LEBIH …” karena Tuhanlah yang paling tahu dosis terbaik untuk semuanya, dan selain hukum dan dosis dari Tuhan, tidak ada lagi selain hukum setan, yang dibuat hanya untuk menyakiti/ merugikan kita. Karena setan adalah musuh sejati kita, sebagaimana sering Tuhan ingatkan kepada kita di Qur’an.

Artikel ini mengembalikan kebenaran mengenai hukum Tuhan tentang dress code, dan artikel2 lain akan datang untuk mengembalikan apa yang benar2 Tuhan firmankan di Qur’an mengenai praktik2 lainnya: shalat, haji, pernikahan, warisan, sedekah, perilaku/pandangan umum… dan Anda akan menyadari seperti yang telah saya tunjukkan di artikel ini, bahwa praktik2 itu telah sepenuhnya disimpangkan oleh setan dari arti/anjuran sesungguhnya, dan melayani kebalikannya dari tujuan sejatinya yang Tuhan tetapkan. Tidak heran bahwa praktik2 palsu memberi hasil2 yang lemah, seringkali tidak membuat seseorang lebih dekat dengan Tuhan, atau lebih terlindungi dari godaan-godaan setan… tapi hanya menjadi beban. Ini mengingatkan kita akan metafor yang Tuhan berikan mengenai mereka yang tidak mengikuti hukum Tuhan: Tuhan membandingkan mereka dengan keledai yang membawa setumpuk buku-buku. Tak hanya buku-buku itu tidak mendatangkan manfaat bagi mereka, tapi lebih buruk, buku-buku itu menjadi beban nyata.



Link artikel hasil terjemahan saya yang saya rekomendasikan untuk DIBACA TUNTAS:
“Ultimate Warning” atau peringatan “Pamungkas” dari Allah sebelum kehancuran dunia (7 bagian): https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-1/
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-2/
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-3/
Sosok Dajjal/Antikristus/Mesiasnya Yahudi, yang akan membawa perang dunia 3 dan New World Order:
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-4/
Akhir zaman sesuai surat Yasin: kedatangan Isa/Yesus palsu, sosok juruselamat sebagai penyesatan pamungkas dari setan, yang kelak akan disembah oleh seluruh manusia:
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-5/
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-6/
Tanda-tanda kuat akan mulainya periode kiamat di 2020:
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-7/
YS, utusan pemberi peringatan untuk akhir zaman:
https://www.sebelumterlambat.com/saya-utusan-tuhan-2018/
Peringatan dari Allah untuk muslim agar meninggalkan islam tradisional yang SESAT dan kembali kepada Allah & Quran saja:
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-untuk-muslim/
Usia Aisyah yang sebenarnya:48. Bagaimana hadits telah menipu Anda:
https://www.sebelumterlambat.com/usia-aisyah-konspirasi-hadits/
Praktik shalat yang sebenarnya menurut Quran:
https://www.sebelumterlambat.com/shalat-sesungguhnya-versi-panjang/
Tanya-jawab dengan YS, Utusan Akhir zaman (5 bagian):
https://www.sebelumterlambat.com/ys-qa-bagian-1/
https://www.sebelumterlambat.com/ys-qa-bagian-2/
https://www.sebelumterlambat.com/ys-qa-bagian-3/
https://www.sebelumterlambat.com/ys-qa-bagian-4/
https://www.sebelumterlambat.com/ys-qa-bagian-5/
Iblis/Setan, dan keberadaan setan berwujud manusia:
https://www.sebelumterlambat.com/setan-manusia-menyusup-diantara-kita/
“Syafaat Nabi” dan Neraka Abadi:
https://www.sebelumterlambat.com/riset-penerjemah-syafaat-nabi-di-hari-penghakiman-neraka-abadi/
Ikutilah Qur’an dan bimbingan Allah SAJA:
https://www.sebelumterlambat.com/riset-penerjemah-ikutilah-quran-dan-bimbingan-allah-saja/


P.S.: Mengenai isi pesan, silahkan tanya langsung secara baik-baik ke thetruthisfromgod.com, karena saya hanya menerjemahkan, dan tidak ambil bagian sedikitpun atas isi pesan. Translator note (t/n:) adalah merupakan tambahan/penjelas dari saya pribadi (penerjemah) dan bukan bagian dari pesan asli. boleh diabaikan saja. Kritik/saran mengenai hasil penerjemahan, silahkan ajukan email ke: peringatan@posteo.net