Peringatan Kiamat

*DISCLAIMER/PENAFIAN*
Saya TF, semua artikel yang ada disini hanya upaya penerjemahan dari https://thetruthisfromgod.com/
Kecuali jika saya nyatakan lain.
Saya bukan pemilik situs tersebut diatas, dan pemilik situs tersebut (YS) samasekali bukanlah kenalan saya. Semua konten disana diluar tanggung jawab saya. Saya hanya orang biasa yang mengambil dari sana, menggunakan mesin penerjemah, kemudian mengoreksi hasil terjemahannya lebih lanjut. Demi Allah, Saya tidak dibayar sepeserpun atau mendapat imbalan apapun dari YS.
YS juga tidak pernah memaksa atau meminta saya untuk menerjemahkan.
Semua ini atas inisiatif saya sendiri.
Mohon maaf atas sebagian terjemahan yang masih kasar, atau keliru.
Untuk itu, Saya mohon dengan sangat kepada Anda untuk tetap meninjau sumber aslinya,
Semata-mata untuk menangkap pesan yang lebih lengkap dan lebih murni.
Jika Anda bisa mengerti apa yang tertulis disana (teks Bahasa inggris/Bahasa Prancis), tolong abaikan saja Blog saya dan baca langsung dari sana.
Pesan YS dalam bentuk video2, saya terjemahkan di channel youtube saya:

Artikel komprehensif: Permasalahan terkait hadits & mengapa muslim tidak mau membaca Qur’an untuk memahaminya sebagai petunjuk

29 Oct, 2020lain-lain

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. Hanya berkat Allah, saya telah menerjemahkan tulisan yang saya dapat dari:
https://www.free-minds.org/index.php/myth-hadith dan https://www.free-minds.org/does-hadith-have-solid-historical-basis
karena itu tidak mewakili pandangan YS. Namun tentu saja saya mengupayakan sebisa saya mencari tulisan yang “paling mendekati kebenaran” “se-objektif mungkin” dan sesuai Qu’ran dalam mengambil sumber/bahan tulisan ini.
Sama seperti YS, saya menulis ini tidak berniat untuk mencari pengikut ataupun meyakinkan/mencari pengakuan dari orang lain. Saya temukan bahwa tulisan-tulisan ini hanya memperkuat dan memberi konfirmasi atas Quran dan juga apa-apa yang YS sampaikan. Sayang sekali jika saya simpan untuk sendiri. Lebih baik saya share, semoga mendatangkan manfaat bagi orang lain. JANGAN ditelan mentah-mentah. Tiap orang harus selau berpegang dan mendasarkan diri HANYA kepada Kitab Allah, Use your own reason/discernment & Do Your Own Research, saya tidak bertanggungjawab atas implikasi tulisan dibawah ini bagi Anda. Ingatlah, tiap diri bertanggungjawab atas pilihan dan perbuatannya masing-masing. Kebenaran hanyalah dari Allah. Yang terpenting bagi kita adalah terus mendekatkan diri pada Tuhan, bersyukur, belajar Qur’an, dan menerapkannya di kehidupan kita. Karena, hanya itulah kunci keselamatan kita.
May God forgive us and guide us regarding any sign that would have been misinterpreted in this study and elsewhere. May He purify ourselves and increase our knowledge.
“Our Lord, indeed we have heard a caller calling to faith, [saying], ‘Believe in your Lord,’ and we have believed. Our Lord, so forgive us our sins and remove from us our misdeeds and make us die among the righteous.”[3:193]


Pengantar

(t/n: sebelum membaca artikel ini, ada baiknya Anda membaca TUNTAS (jika belum), tulisan-tulisan ini: https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-untuk-muslim/, https://www.sebelumterlambat.com/usia-aisyah-konspirasi-hadits/ dan https://www.sebelumterlambat.com/riset-penerjemah-ikutilah-quran-dan-bimbingan-allah-saja/)

“Do not accept anything that you have no knowledge of. Surely the hearing, the sight and the mind you are responsible for.” (Quran, 17:36)

Ayat diatas adalah aturan terpenting bagi kita semua sebagai murid2 dari agama Tuhan, yang mengingatkan tentang apa “kriteria” untuk menerima dan mentaati atas apa-apa yang dijajakan kepada kita sebagai “aturan agama”, atau “hukum Tuhan”

Kita, sebagai manusia, telah diperintahkan oleh Tuhan kita untuk menggunakan senses (penglihatan, pendengaran, dan pikiran) sehingga kita dapat membedakan kebenaran dari kepalsuan, lalu meyakini sendiri atas kebenaran itu… Mengikuti secara buta TIDAK diperbolehkan Qur’an, dan itu adalah tanda kekafiran:

Dan perumpamaan bagi mereka yang kafir adalah seperti seseorang yang hanya mengulangi apa yang dia dengar dari panggilan dan teriakan; tuli, bisu, buta, mereka tidak mengerti (Quran 2:171)

Faktanya, Al-qur’an memerintahkan yang KEBALIKAN dari blind following/ taklid buta dan menekankan pada “menggunakan akal/pemikiran” dan “kontemplasi” karena itu adalah satu-satunya jalan menuju apresiasi sejati dari pesan yang dibawa Al-qur’an:

“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka BERPIKIR” (Quran, 59:21)

Sejarah Hadits:

Kata “Hadits” tidak dapat dipisahkan dari Islam saat ini dan dipahami/dianggap sebagai narasi “Ucapan / perbuatan” Nabi atau sahabatnya.

Hadits dijadikan sebagai sumber kedua dari Islam (Al-qur’an menjadi yang pertama) dan telah dianggap menjadi sebuah “sains” di mana orang2 menghabiskan hidupnya hanya mempelajari “Hadits” dan kompilasinya.

Muslim diajari bahwa Nabi Muhammad membawa Quran bersamanya serta ucapan-ucapan Nabi “Hadits” dan tindakan-tindakan/ kebiasaan Nabi, “Sunnah”. Umat ​​Muslim percaya bahwa pilar-pilar ini tidak dapat dipisahkan dan bahwa Islam tidak dapat berdiri sama sekali jika salah satu dari pilar ini dicabut.

Apa yang mungkin mengejutkan kebanyakan, adalah bahwa “Hadits” sebenarnya tidak disusun dan ditinjau melainkan hanya setelah lebih dari dua ratus tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad, pertama oleh Imam Bukhari (w. 256/870), kemudian Muslim (w. 261/875) , Abu Daud (w. 275/888), Tirmidzi (w. 270/883), Ibn Maja (w. 273/886), dan al-Nasa’i (w. 303/915).

Dalam pernyataan pembukaannya, Bukhari (dianggap sebagai sumber # 1 Hadis otentik) menyatakan bahwa dari hampir 600.000 Hadis yang diketahuinya saat itu, ia hanya dapat mencatat 7.397 sebagai asli dari Nabi. Ini adalah pengakuan oleh para penegak Hadits sendiri bahwa setidaknya 98,76%, dari apa yang diyakini orang seolah wahyu kedua setelah Al-qur’an dan sumber sekunder hukum Islam itu, adalah kebohongan murni! (t/n: sekarang, siapakah sebenarnya yang layak disebut ingkar hadits? para penganut hadits sendiri! karena orang2 yang “Qur’an Only” sebenarnya “membantu” mengingkari sisanya, alias cuma 1,24%! 😀 )

Apa yang juga gagal disadari oleh orang-orang adalah bahwa sejarah Hadits itu sendiri telah diabaikan dan diperlakukan seolah-olah hadits itu wahyu yang dituliskan pada zaman Nabi untuk disimpan. Padahal, buku-buku catatan sejarah dan hadits sendiri menunjukkan bahwa ada larangan penulisan Hadits yang diperintahkan oleh Nabi sendiri dan (dari catatan2 itu) dikonfirmasi bahwa pelarangan hadits berlaku setidaknya hingga hampir 100 tahun setelah Nabi, dan hingga saat ini, tidak ada catatan tentang pencabutan larangan itu oleh Nabi maupun para sahabat!

Menurut buku sejarah Islam, larangan penulisan “Hadits” baru dicabut sekitar 80 tahun setelah Nabi wafat oleh Umar Bin Abdulaziz (cucu Umar Bin Al-Khatab). Faktanya, ironi dari masalah ini adalah bahwa Umar Bin al-Khatab sendiri sangat menentang penulisan tulisan agama apa pun KECUALI Al-qur’an!:

Umar Bin Al-Khatab tercatat mengatakan: ‘Aku hendak menulis hadits (Sun’an), lalu aku ingat orang-orang yang sebelum kalian, mereka menulis buku lain untuk diikuti dan meninggalkan Kitab Allah. Aku bersumpah, tidak akan pernah, mengganti Kitab Allah dengan apapun ‘(HR Jami’ Al-Bayan 1/67)

Khalifah Umar RA membakar dan melarang semua hadits, dan menyerupakannya dengan talmud yahudi.

Seperti yang kami sebutkan sebelumnya, dalam kurun waktu singkat 200 tahun setelah kematian Nabi (hanya 120 tahun sejak yang dianggap “pencabutan larangan”) ada lebih dari 600.000 Hadis beredar pada zaman Bukhari yang semuanya dikaitkan dengan Nabi. Bukhari sendiri mengaku menghabiskan hampir 40 tahun mempelajari Hadits dan hanya bisa memverifikasi rantai penularan dari 1,24% dari total yang Ada! bahkan jika diteliti lebih lanjut, proses inipun murni kebohongan!

Masalah dengan Hadits:

Bukhari dan orang-orang yang datang setelahnya menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam “penelitian dan penyaringan” Hadits hingga menjadi ilmu tersendiri. Bukhari dengan cepat diikuti oleh Muslim (w. 261/875), Abu Daud (w. 275/888), Tirmidzi (w. 270/883), Ibn Maja (w. 273/886), dan Al-Nasa’I ( d. 303/915) sebagai penyusun2 yang paling dikenal di bidang ini.

Meskipun mungkin akan menghibur umat Islam yang membaca ini untuk mengetahui bahwa proses perolehan hadits dilakukan oleh para sarjana yang disebutkan di atas, (seiring perintah Qur’an) kita tidak boleh menerimanya begitu saja, kita harus meneliti, untuk mengetahui seperti apa sebenarnya proses mendapatkan hadits ini:

Bukhari mengandalkan seni “Transmisi” yang ditemukan sendiri yang menyatakan bahwa “Hadits” dapat diterima sebagai asli atau ditolak berdasarkan dari SIAPA saja Hadits itu berasal.

Hadis seharusnya adalah ucapan Nabi Muhammad. Nabi Muhammad wafat pada tahun 632 M. Imam Bukhari lahir pada 810 M dan menyelesaikan penyusunan hadits sekitar 846 Masehi. Dengan kata lain, Bukhari menyusun hadits 214 tahun setelah Muhammad wafat. Itu lebih dari 2 abad atau mencakup sekitar 4 generasi (dengan asumsi umur rata-rata adalah 60 tahun seperti usia ketika Muhammad meninggal). Karena Bukhari belum ada ketika Muhammad meninggal, Bukhari mengandalkan untuk menanyakan orang-orang apakah mereka ingat mendengar sesuatu yang dikatakan Muhammad. Karena 214 tahun adalah waktu yang lama, semua hadits didasarkan pada rantai orang yang mengaku mendengar Muhammad mengatakan sesuatu. Dan karena 214 tahun lebih lama dari umur rata-rata (dari berbagai sumber, Muhammad wafat pada rentang usia 60-63 tahun), tidak ada penyampai hadits yang hidup selama masa hidup Nabi Muhammad dan Imam Bukhari sekaligus. Perlu dipertimbangkan juga bahwa 4 generasi tadi menggunakan asumsi usia maksimum (60), jelaslah tidak mungkin andal sebuah skenario penerusan informasi lisan melalui 4 orang yang semuanya berusia sekitar 60 tahun. Maka It’s safe to say: minimal ada 6-7 penutur diantara Nabi & Bukhari! yang memang demikian adanya, rentang jumlah penutur hadits adalah 6-10

Bukhari mempelajari para sahabat Nabi dan menetapkan bahwa mereka semua dapat dipercaya. Dia kemudian bertanya tentang orang-orang yang datang setelah mereka, dan jika “desas-desus” publik adalah bahwa orang ini atau orang itu punya reputasi baik, maka Bukhari tidak masalah menerima “Hadits” yang diturunkan dari sumber itu.

Untuk mengatasi hambatan “objektivitas” dan fakta bahwa Hadits didasarkan terutama pada “desas-desus”, Bukhari menemukan Hadits2 yang sangat nyaman (yang masih dikutip oleh para ulama Islam) yang memberikan kemampuan manusia super kepada para sahabat Nabi dan semua perawi Hadis, yang menisbatkan kepada mereka kemampuan menghafal secara akurat kata demi kata perkataan Nabi tanpa kehilangan atau distorsi.

Padahal, manusia sangat buruk dalam mengingat dan menyampaikan informasi secara lisan. Misalnya, jika seseorang memberi tahu Anda sesuatu minggu lalu, Anda kemungkinan besar tidak dapat mengulangi perkataan yang persis sama kepada saya hari ini. Itu terjadi sepanjang waktu. Dan itu hanya dalam jangka waktu satu minggu. (t/n: Ingat, Qur’an BERBEDA dengan hadits, Qur’an DIJAGA OLEH ALLAH, Qur’an SUDAH & SENANTIASA DITULISKAN & DIHAFALKAN oleh banyak orang2 sedari awal https://factszz.wordpress.com/2014/12/24/complete-quran-was-compiled-in-book-form-by-prophet-mohammad-pbuh-under-divine-guidance-and-all-other-compilation-stories-are-concocted-by-persian-pseudo-imams/, sementara kita tahu bahwa setidaknya hingga 80 tahunan, hadits tidak untuk dihafalkan/dilestarikan, bahkan BERLAKU PELARANGAN TRANSMISI HADITS & hadits BARU DITULISKAN 200 tahun+ sejak Nabi wafat!)

Berdasarkan logika ini, apakah masuk akal untuk menaruh banyak kepercayaan pada rantai panjang orang-orang yang mengaku mendengar Nabi Muhammad mengatakan sesuatu 214 tahun sebelumnya? Akal sehat akan mengatakan “tidak”. Tetapi, karena islam tradisional adalah tentang “keyakinan”, kebanyakan orang hanya ingin “percaya” bahwa apa yang mereka dengar adalah benar meskipun itu tidak benar, terutama jika mereka telah diajari untuk percaya pada hadits sejak mereka masih kecil.

Bisakah keandalan transmisi hadits-hadits dihitung, terutama probabilitas kebenarannya? Mari modelkan permasalahan ini menggunakan model matematis. Cabang matematika yang relevan untuk itu adalah aritmatika dan probabilitas. Berikut kutipan tulisan & hitungan yg saya dapat dari quora mas razia-sultana (t/n: quote)

https://qph.fs.quoracdn.net/main-qimg-ebf9828c212063651b343e362966d353

Mengingat peluang kebenarannya sangat menyedihkan seperti itu, saya heran kalau Anda masih berani mempertaruhkan keselamatan akhirat Anda pada fenomena chinese whispers ini.

Berikut ini adalah gambaran lain tentang bagaimana pernyataan lisan berjalan dari satu penutur kepada penutur lainnya dalam waktu penyampaian yang singkat saja (hanya satu-dua hari) di lingkungan para penutur yang berdekatan secara fisik (satu lokasi kantor), dikutip dari KapanLagi.com: Pesan Direktur.

Dari: Direktur
Kepada: General Manajer
“Besok akan ada gerhana matahari total pada jam sembilan pagi. Ini adalah kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari. Untuk menyambut dan melihat peristiwa langka ini, seluruh karyawan diminta untuk berkumpul di lapangan dengan berpakaian rapi. Saya akan menjelaskan fenomena alam ini kepada mereka. Bila hari hujan, dan kita tidak bisa melihatnya dengan jelas, kita berkumpul di kantin saja.”

Dari: General Manager
Kepada: Manager
“Sesuai dengan perintah Direktur, besok pada jam sembilan pagi akan ada gerhana matahari total. Bila hari hujan, kita tidak bisa berkumpul di lapangan untuk melihatnya dengan berpakaian rapi. Dengan demikian, peristiwa hilangnya matahari ini akan dijelaskan oleh Direktur di kantin. Ini adalah kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari.”

Dari: Manager
Kepada: Supervisor
“Sesuai dengan perintah Direktur, besok kita akan mengikuti peristiwa hilangnya matahari di kantin pada jam sembilan pagi dengan berpakaian rapi. Direktur akan menjelaskan apakah besok akan hujan atau tidak. Ini adalah kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari.”

Dari: Supervisor
Kepada: Koordinator
“Jika besok turun hujan di kantin, kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari, Direktur, dengan berpakaian rapi, akan menghilang jam sembilan pagi.”

Dari: Koordinator
Kepada: Semua Staff
“Besok pagi, pada jam sembilan, Direktur akan menghilang. Sayang sekali, kita tidak bisa melihatnya setiap hari.”

Sangat mungkin — Anda yang beriman pada kisah-kisah para Imam Persia — sebenarnya sedang tertipu oleh para “Koordinator” seperti “hadits Direktur” di atas.

Kembali ke probabilitas, mengingat ada rentang waktu sangat lama — ratusan tahun — dan rentang geografis sangat jauh — ribuan kilometer jarak Arab ke Bukhara di Persia — dari Nabi Muhammad kepada Bukhari, cukup wajar untuk mengasumsikan nilai retensi R di angka 70% saja. Kita lihat hasilnya:

https://qph.fs.quoracdn.net/main-qimg-6886c8a4e9ce5b177f2bdaaf339ea645

Praktis, hadits-hadits itu ternyata peluang kebenarannya mendekati nol, alias hanya sekumpulan omong kosong.

Inilah heat-map untuk peluang kebenaran P(n) dari sebuah hadits Persia berdasarkan tingkat retensi R dan jumlah penutur n dalam rantai kabar burung yang menjadi objek penyelidikan kita. Titik tengah warna kuning saya tetapkan di angka 50%. Ternyata hasilnya menunjukkan “raport yang kebakaran”

Tentang crosscheck, jika crosscheck yang dimaksud adalah kabar serupa dari berbagai sanad atau rantai kabar berbeda, dari imam2 persia penulis hadits lain seperti Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, atau Ibnu Majah, karena hukum probabilitas atas peluang dua atau lebih kejadian benar secara sekaligus, adalah hasil perkalian (bukan penjumlahan) dari probabilitas masing-masing kejadian, dan karena P(Bukhari)<100% dan P(Muslim)<100% dan P(AbuDawud)<100% dan P(Tirmidzi)<100% dan P(Nasai)<100% dan P(IbnuMajah)<100%, maka perkalian manapun dari kombinasi peluang kebenaran dari hadits 6 orang tsb. akan menghasilkan P(kombinasikolektif) lebih kecil daripada P(individu).

Kita tahu secara intuitif, sebuah kabar burung tidak mungkin memperkuat kabar burung lainnya; sebuah kabar burung hanya memperburuk kredibilitas kabar burung lainnya.

Dengan demikian, semakin banyak sanad buat sebuah kabar burung — meskipun kabar burung itu diberi judul “hadits Nabi” — akan semakin memperkecil peluang kebenaran kabar tsb., karena semakin banyak klaim yang harus dibuktikan validitasnya.

Sebuah kabar burung hanya bisa dipastikan kebenarannya ketika ada kesaksian dari penutur pertamanya, dalam hal ini, harus ada kesaksian dari Nabi sendiri untuk menyatakan sebuah hadits yang mengatasnamakan Beliau itu benar. Sayangnya, sejak awal hadits-hadits Persia itu dituliskan, Nabi sudah ratusan tahun wafat dan mustahil dimintai kesaksiannya untuk mengizinkan dan mengotorisasi penulisan kisah-kisah lisan word of mouth yang mengatasnamakan Beliau itu.

Tetapi memang banyak manusia tertipu dalam kebohongan yang diulang-ulang, yaitu ketika kebohongan semakin sering diulang, kebohongan itu semakin mudah diterima sebagai kebenaran.

“Fake it till you make it.”

Fenomena ilusif seperti itulah yang dimanfaatkan Iblis dalam proses menipu kebanyakan manusia yang hanya mengikuti perasaan dan malah mengabaikan akal kritis. (t/n: endquote dari tulisan mas razia-sultana)

Setelah kita teliti panjang lebar, meskipun metode transmisi hadits itu jelas2 tidak ilmiah & objektif samasekali bagi kebanyakan orang, faktanya itulah metode yang digunakan bukhari&co untuk mendapatkan sumber kedua dari hukum Islam itu!

Beberapa hadits isinya perkataan/firman Tuhan sendiri! dengan kata lain, alih-alih Nabi mengkomunikasikan sesuatu kepada orang A, sanad/ rantai transmisi hadits tersebut dianggap berawal dari Tuhan sendiri.

God ⟶ Prophet ⟶ Person A⟶ B ⟶ C ⟶ D ⟶ E ⟶ F ⟶ X ⟶ Hadith compiler

Dengan cara ini, hadits2 ini dianggap oleh Muslim sebagai “firman” diluar Qur’an! Apa yang tidak disadari oleh kebanyakan muslim adalah bahwa hadits2 qudsi ini memiliki masalah yang sama atas keotentikannya dengan hadits2 yang lain. Tidak ada hadits apapun yang dicatat di masa Nabi. Tidak ada yang dapat membuktikan bahwa Hadits Qudsi benar-benar datang dari Tuhan. Sama seperti hadits2 lain, orang2 yang percaya hadits Qudsi datang dari Tuhan hanya mempercayai karena insistensi bodoh saja daripada berdasarkan bukti. Sementara Qur’an adalah “Hadits” Tuhan yang sebenarnya. Karena itu, hanya Qur’an dan kitab-kitab Tuhan-lah yang harusnya disebut sebagai hadits Qudsi.

Sementara sangat sedikit orang luar yang dapat mempertanyakan keaslian Al-qur’an, (t/n: karena sifatnya yang tidak memiliki kontradiksi), Hadis tidak seberuntung itu !

Banyak kelompok penentang dan para penganut agama lain telah memanfaatkan untuk mempermalukan umat Islam dengan mengutip Hadits2 yang “meragukan” yang membandingkan Wanita dengan Keledai (Hadis tentang pembatal shalat) atau bahwa Mayoritas Wanita akan masuk Neraka! (Hadits tentang Isra & Mi’raj) dll.

Umat ​​Muslim biasanya bereaksi terhadap tuduhan seperti itu dengan menjadi marah dan mengelak, mengatakan bahwa orang-orang ini hanya ingin “memfitnah” Nabi, padahal orang2 ini hanya mengambil dari hadits2 itu sendiri. Apa yang gagal disadari oleh para Muslim yang sama ini adalah bahwa yang namanya “KEBENARAN” itu (t/n: seperti kitab kebenaran absolut: Qur’an) HARUSNYA terbuka untuk di-“challenge”/ diuji, dan BISA BERTAHAN dari segala “questioning” dan pengujian-silang. Namun mayoritas muslim memang MEMBABI BUTA membela hadits, betapapun kontradiktif, konyol, menghina Nabi & tidak logisnya hadits2 tersebut! (t/n: berikut saya sisipkan sedikit saja dari contoh2 hadits paling absurd. lebih banyak silahkan cek sumber: https://factszz.wordpress.com/2015/01/03/hadiths-conspiracy-page-02-from-factszz/ dan https://factszz.wordpress.com/2014/08/05/all-hadith-imams-hailed-from-persia-were-zoroastrian-hypocrites-and-worst-adversaries-of-quran-messenger-allah/)

MosesAndStoneF
ConfessionOfAbuHurairahAsHypocrite
CatAndWomanHadithF
WomanVScat
FemalePigeonsAreDevilF
BukahriAndSuicideLieF
BukhariAndSuicide2
HadithsAreLiesSTAR1

Lebih Banyak Masalah terkait Hadits:

Jika Hadits hanya membuat malu, kita tidak akan mendapat masalah. Akan tetapi, efek dari “desas-desus” subjektif ini jauh lebih besar.

Manusia dilahirkan dengan kecenderungan alami untuk selalu ingin tahu. Siapa pun yang memiliki anak akan tahu bahwa tidak peduli berapa kali Anda mengatakan “tidak”, mereka akan tetap mencoba menyentuh wajan panas atau bermain-main dengan tanah untuk memahami MENGAPA mereka tidak boleh melakukannya. Ini adalah mekanisme alamiah pemberian Tuhan yang Tuhan berikan kepada semua manusia untuk memungkinkan kita memperluas pengetahuan kita dan hanya menerima apa yang kita pahami dan ketahui.

Ketika umat Islam menjalani hidup dengan mengikuti Al-qur’an saja, tidak ada masalah dengan kecenderungan alami manusia untuk keingintahuan karena Al-qur’an memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan … (t/n: semakin ingin tahu semakin mempelajari/mendalami Qur’an, semakin mendalami Qur’an, semakin Qur’an menjiwai kehidupan mereka!) Muslim pada saat itu menyaksikan pertumbuhan intelektual yang tak tertandingi sepanjang sejarah Arab atau bahkan sejarah dunia di waktu itu…

Kecenderungan untuk bertanya dan bertanya dalam suasana di mana TIDAK ADA yang terlarang dan tidak ada yang tabu, membuat anak-anak Muslim tumbuh secara luar biasa (t/n: kecerdasan & akal mereka) Pertanyaan2 mereka hanya mengembangkan selera pengetahuan yang tidak terbatas, yang hanya diberi makan oleh penemuan2 dan kemajuan di hampir setiap bidang.

Kemudian, beberapa ratus tahun setelah Qur’an memicu revolusi “intelektual” dalam pikiran Muslim… Sesuatu mulai berubah…

Pengenalan “Hadits” yang meluas dan digencarkan di kalangan massa mulai perlahan menimbulkan masalah dengan pendidikan umat Islam. Hadits bahkan tidak bisa dibandingkan pada dataran yang sama seperti Al-Qur’an karena bahasanya yang jauh lebih rendah, (t/n: bersifat statis, tidak “universal”) dan didasarkan pada “desas-desus” dan “dugaan”.

Para penyebar Hadits hampir selalu terpojok oleh pelajar2 Muslim yang tulus yang menginginkan penjelasan untuk kontradiksi2 nyata hadits dan isi-isinya yang tidak logis.

Penetapan Hadits sebagai sumber hukum Islam hanya dicapai berabad-abad setelah pengumpulan awal oleh Bukhari dan lainnya dan diduga HANYA setelah memaksakannya pada massa/mayoritas Muslim dibarengi penolakan untuk diperiksa atau ditanyai.

Anak-anak sekolah Muslim saat ini diajari sejak usia dini untuk tidak mempertanyakan atau menganalisis sumber-sumber agama mereka karena mereka ditakut-takuti menimbulkan murka TUHAN dan berjalan menuju Neraka.

Pertanyaan siswa (t/n: yang men-challenge hadits) biasanya (t/n: bahkan hingga sekarang) dijawab dengan pernyataan2 seperti: ‘Apakah Anda LEBIH BAIK dari generasi sebelumnya yang berperang disisi Nabi?’, Atau ‘Apakah Anda membenci Nabi sehingga Anda MENANYAKAN Sunnahnya?’

Dengan rentetan tuduhan seperti itu, para pelajar muda Muslim sejak dini ditekan untuk menerima saja apa yang diberikan kepada mereka tanpa berpikir atau bertanya-tanya… Dan ketika mereka sudah dewasa, mereka hanya mengulangi kepada generasi muda selanjutnya, apa yang diberitahu kepada mereka tentang yang mempertanyakan hadits: ancaman Neraka dan tuduhan tidak menghormati Nabi… Siklus (t/n: kemunduran) ini terus berlanjut!

Kisah SESUNGGUHNYA (menurut Qur’an):

Meskipun rekonstruksi dari data2 historis itu sendiri tampaknya buruk … Kisah sebenarnya jauh lebih buruk dan berbahaya daripada yang diperkirakan.

Dalam Alquran, ada banyak ayat yang menggambarkan bagaimana orang Yahudi dan Kristen berselisih satu sama lain, dan bagaimana orang Yahudi dan Kristen berselisih dengan Muslim yang mengikuti Alquran. Seperti yang bisa kita lihat dalam masyarakat saat ini, bahkan Yahudi berselisih di antara mereka sendiri, Kristen berselisih di antara mereka sendiri dan Muslim berselisih di antara mereka sendiri. Rupanya, Tuhan telah memberi tahu kita tentang hal ini dalam ayat 18:54 yang menyatakan bahwa, meskipun banyak contoh yang diberikan dalam Alquran, orang masih akan memperdebatkan Alquran.

Sayangnya, seharusnya tidak mengherankan, bahwa meskipun banyak contoh yang diberikan dalam Al-Qur’an, banyak Muslim yang masih bersikeras bahwa hadits diperlukan untuk melengkapi dan menjelaskan Al-Qur’an dan akan terus memperdebatkan kelengkapan dan kecukupan Al-Qur’an.

Bahkan orang-orang tertentu & orang2 munafik, membujuk/ mempengaruhi Nabi untuk mengubah Qur’an!

“When our verses are recited for them, those who do not expect to meet us would say, ‘Bring a Quran other than this, or change it.‘ Say (O Muhammad), ‘I cannot change it on my own initiative. I simply follow what is revealed to me. I fear, if I disobey my Lord, the retribution of a terrible day.’ …Who is more wicked than one who invents lies about God, or rejects His revelations? The guilty never succeed. Yet, they idolize beside God those who possess no power to harm them or benefit them, and say, ‘These are our intercessors with God.’ …such is idol-worship.” (Quran, 10:15-18)

Ayat2 diatas dengan jelas mengisahkan tentang orang2 yang dalam hatinya tidak percaya pesan Tuhan (Qur’an) meminta kepada Nabi untuk mendatangkan Qur’an yang “berbeda”, atau bahkan “ubah” Qur’an itu.

Dan tanggapan Muhammad adalah: ‘AKU TIDAK DAPAT mengubahnya, Aku hanya MENGIKUTI apa yang diwahyukan kepadaku!

Nabi tidak bisa “mengarang” agamanya sendiri agar sesuai dengan keinginan semua orang di sekitarnya (t/n: dia bisa kena azab jika sedikit saja menciptakan ajarannya sendiri!)…. Dia DIPERINTAHKAN untuk mematuhi Al-Qur’an dan tidak kepada apapun selain Al-Qur’an.

Dan menurut 9:101, banyak munafik di sekitar Nabi yang mana Nabi sendiri tidak tahu mereka orang munafik.

Namun, tampaknya setelah wafatnya Muhammad, orang-orang yang hatinya tidak benar-benar menerima pesan yang dia bawa mulai pelan-pelan “mengubah” Qur’an dengan menambah-nambahkannya. (t/n: dengan ajaran “hadits & sunnah” Nabi yang berada DILUAR Qur’an namun diposisikan seolah wahyu Tuhan yang harus ditaati!) Mengingat ayat2 Qur’an sendiri menceritakan orang2 kafir berupaya agar Muhammad mengubah Qur’an dan menceritakan tentang keberadaan orang2 munafik di sekitarnya, maka adalah reasonable bahwa setelah wafatnya Nabi, orang2 ini semakin leluasa berbohong, menyebarkan kebohongan, dan memberi testimoni palsu tentang apa yang mereka dengar tentang perkataan/ perbuatan2 Nabi.

Tampaknya orang-orang yang menyebarkan ajaran2 palsu dan menghubungkannya dengan Tuhan tidak mengindahkan peringatan Nabi:

Shall I seek OTHER THAN GOD as a source of law, when He has revealed THIS BOOK FULLY DETAILED? ….The word of your Lord is COMPLETE, in truth and justice. Nothing shall abrogate His words; He is the hearer, the omniscient. Yet, if you obey the majority of people, they will take you away from the path of The God. That is because they follow CONJECTURE, and they fail to think.” (Quran, 6:114-116)

Nabi mengajari orang-orang untuk TIDAK mencari selain TUHAN sebagai sumber hukum mereka karena Dia telah menurunkan Kitab yang SEPENUHNYA TERPERINCI !.

Nabi juga memperingatkan orang untuk TIDAK MENGIKUTI apa-apa yang dikatakan MAYORITAS, karena dia tahu bahwa mereka hanya mengikuti PERSANGKAAN!

Namun, terlepas dari semua peringatan yang jelas ini, orang-orang setelah Muhammad tidak dapat menahan diri untuk membuat klaim palsu bahwa Qur’an TIDAK rinci, dan bahwa Qur’an membutuhkan campuran desas-desus (hadits dll) untuk menafsirkannya!

Mereka beralasan untuk hadits bahwa meskipun Qur’an sudah lengkap (sesuai pernyataan ALLAH), masih belum mencakup semua bidang yurisprudensi yang perlu diatur.

Mungkin mereka tidak merenungkan ayat berikut:

“…Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu sebagai PENJELAS SEGALA SESUATU, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri” (Quran 16:89)

Dihadapkan bukti seperti itu, sangat sulit bagi orang beriman sejati, pengikut Tuhan yang tulus, untuk berpaling dari apa yang dikatakan Al-qur’an dan menyerahkan nasib mereka kepada orang-orang yang berpandangan dan berperilaku seakan Tuhan saja tidak cukup.

‘Hadits’ TERBAIK:

Bagi mereka yang masih memiliki keinginan untuk berpegang pada ‘Hadits’ setelah semua bukti yang disajikan … hanya ada SATU Hadits yang kami anggap otentik dan juga kami mendorong semua orang kepada hadits itu:

Allah telah menurunkan “Ahsanal Hadits/Hadits terbaik” (yaitu) Kitab (Al-Qur’an) yang konsisten (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka karena (pesan) pengingat Allah. Itulah bimbingan Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa dibiarkan tersesat oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat membimbing/memberinya petunjuk (39:23)

Berdasarkan Qur’an itu sendiri, HANYA dengan mentaati dengan benar “ahsanal hadits” (Qur’an) SAJALAH (t/n: tanpa tambahan sumber lain apapun) yang akan menjamin bimbingan dari Tuhan. Bimbingan yang mengarahkan pada kedamaian, keadilan, kemajuan, kesejahteraan hidup, keberkahan dari Tuhan, dan kesuksesan di dunia ini dan akhirat nanti.

Sementara hadits2 lain/ sumber lain buatan manusia: cenderung mengacaukan daripada membimbing. Hanya dari sumber diluar “ahsanal hadits”lah, asal muasal ide2 yang mendorong fatalisme dan menghalangi inisiatif individu, mendorong praktik2 & aturan2 agama yang korup, mencegah progress dan modernisasi, mendorong intoleransi, kekerasan dan terror, mendorong komunitarianisme, permusuhan dan agresi terhadap komunitas lain, melemahkan dan mengecilkan posisi wanita di masyarakat dll. Sayangnya, semua itulah yang terjadi saat ini, karena interpretasi konvensional dari agama Islam sekarang memang sangat bergantung pada hadits, dan sedikit atau samasekali tidak bergantung pada “ahsanal hadits”

http://uncorruptedislam.com/analysis-validity-prophet-muhammad-hadith.html#toc0

Apakah Muslims memperumit Islam dengan mengikuti Hadits?

Jika Anda membandingkan hukum Islam yang hanya diambil dari Alquran dengan hukum Islam populer yang diambil dari berbagai sumber, Anda akan dengan mudah melihat bahwa hukum Alquran jauh lebih sederhana dan lebih mudah diikuti. Ini seharusnya tidak mengejutkan mengingat ayat-ayat berikut.

2: 185 Berkaitan dengan puasa, Tuhan menginginkan kemudahan; Dia tidak menginginkan kesulitan atau membebani apa pun untuk Anda.

5:6 Berkaitan dengan penyucian/wudhu, Tuhan menginstruksikan langkah2 yang mudah, jelas & sederhana (t/n: hadits menambah-nambahi gerakan & menganjurkan pengulangan hingga 3x! )

73:2-3 Tuhan membolehkan Nabi untuk mengurangi ibadah “bangun malam”nya, Tuhan tidak ingin membebankan kesulitan untuknya maupun untuk orang2 beriman.

Pertanyaan-pertanyaan yang perlu Anda renungkan

  • Allah-lah yang menurunkan Qur’an. Satu kitab petunjuk untuk seluruh manusia hingga akhir zaman. Akankah Dia mengekspektasi orang-orang untuk mengikuti juga ratusan ribu perkataan2 (hadits) yang dikompilasi imam2 berbeda yang dianggap sebagai perkataan akurat dari Nabi Muhammad?
  • Ada ratusan ribu hadits2 itu. Akankah Allah benar-benar mengekspektasi semua orang untuk membacanya semua setelah Qur’an?
  • Sebagai Muslim, sudahkah Anda membaca semua hadits2 ataukah Anda hanya mengikuti yang populer2 saja yang Anda dengar?
  • Sebagai Muslim, tidakkah tanggungjawab Anda sendiri untuk memverifikasi dan mengerti praktik2 & ajaran yang Anda ikuti? Atau apakah Anda pikir cukup untuk mengikuti buta apa yang diikuti mayoritas/ apapun yang ditentukan oleh ulama2/pemuka Islam?
  • Sebagai Muslim, apakah Anda mengerti ayat-ayat Qur’an apalagi ratusan2 ribu hadits? ataukah Anda hanya membaca Qur’an dengan melafalkan bahasa arabnya tanpa pemahaman akan arti dari apa yang Anda baca?
  • Imam Bukhari mengkompilasi hadits Nabi Muhammad hanya pada 200 tahun setelah Nabi wafat. Bukhari melakukan ini dengan menanyai orang apakah mereka ingat apa perkataan Nabi dan mengkompilasi buku berdasarkan apa yang orang katakan padanya. Jika ada orang yang mengkompilasi buku catatan perkataan atas orang lain yang meninggal 200 tahun lalu dengan cara menanyai orang-orang, akankah Anda percaya bahwa buku itu akan akurat?
  • Tidak ada satu pengadilanpun di dunia yang akan give credit/ mempertimbangkan testimoni yang “diteruskan secara oral saja sepanjang 200 tahun sebelum dituliskan”.
  • Jika Nabi Muhammad tahu bahwa perkataan sehari-harinya (hadits) memang sangat penting dan harus dijadikan hukum islam, tidakkah Anda pikir beliau akan menuliskannya sendiri, atau menyuruh orang untuk benar-benar menuliskannya? Sulit untuk percaya bahwa beliau tidak pernah terpikir seperti itu jika memang perkataan/haditsnya memang bagian penting dari agama.

10 Alasan mengapa muslim harus mempertanyakan/ meninggalkan hadits

Berikut alasan2 kuat mengapa muslim harus mempertanyakan lalu meninggalkan hadits. Disarikan dari video berikut:

1. Quran itu sendiri menolak hadits2. ini tentu saja alasan terpenting, Qur’an dalam berbagai ayat mengecam baik dari konten/isi dari hadits2 yang ditulis manusia, dan orang2 yang menelan kesalahan/kepalsuan2 mereka

2. Hadits itu sendiri melarang hadits. Kebanyakan dari buku koleksi hadits mengikutsertakan pernyataan yang mengimplikasikan pelarangan dari penulisan hadits itu sendiri!

saya benci fakta bahwa saya mengutip hadits itu sendiri. Namun ini hanyalah bukti atas poin saya, agar para pendukung hadits tidak bisa mengelak. Namun Qur’an seharusnya sudah cukup untuk meyakinkan Anda tentang bahaya mengatribusikan kepalsuan/kebohongan kepada messenger/rasul dan message/pesannya. Qur’an sangat jelas tentang hal ini:

3. Hadits mengandung terlalu banyak kontradiksi. Qur’an itu dari Allah karena kita tahu Qur’an tidak memiliki kontradiksi apapun. sementara kontradiksi itulah yang sering saya temukan di hadits. Ada 3 hal secara khusus yang mana hadits berkontradiksi: hadits2 sendiri, Qur’an, logika & akal sehat

4. Hadits telah mengkorup/merusak arti dari kata “kebenaran”. Orang telah leluasa menyebut beberapa koleksi hadits sebagai “sahih” (otentik). Ke-otentikan dari asumsi perkataan Nabi ini didasarkan “kredibilitas” dari rantai transmisi dan naratornya daripada konten/ isi dari hadits tersebut. Rantai narasinya diduga mencapai hingga “para sahabat”. Ini merupakan kata yang dikorupsi/dirusak lagi. Ketika muslim mengatakan kata “sahabat” mereka merujuk pada sahabat Nabi. Kebanyakan mereka menolak untuk percaya bahwa “sahabat” ini bisa berarti apa saja, tidak selalu teman yang setia dan dipercaya oleh Nabi. Menurut definisi kata itu dari Bukhari sendiri, kita belajar bahwa “melihat” Nabi sudah cukup untuk dipertimbangkan dan digolongkan sebagai seorang “sahabi”. Fakta ini seharusnya membangkitkan skeptisisme Anda! Qur’an memberitahu kita bahwa rasul2 dikhianati oleh orang2 disekitarnya. Haruskah kita mengasumsikan bahwa orang2 di sekitar Muhammad lebih baik daripada orang2 di sekitar Isa? Kebenarannya, kita mestinya tidak. Faktanya, Qur’an memang menunjuk kepada arah yang berbeda…

This image has an empty alt attribute; its file name is image-47.png

5. Hadits bukanlah dokumen yang valid. Qur’an sendiri menyatakan bahwa sebuah dokumen harus memiliki minimal 2 saksi untuk diperhitungkan sebagai legal. Kebanyakan hadits menyandarkan pada testimoni saksi yang dibuat oleh hanya satu orang.. dan bahkan untuk event sepenting seperti khutbah terakhir Nabi Muhammad (disaksikan ribuan orang), hadits menyediakan kepada kita minimal 3 versi berbeda kontras atas apa yang dikatakan Nabi: 1. Aku tinggalkan untuk kalian ikuti Qur’an dan sunnahku 2. Aku tinggalkan untuk kalian ikuti Qur’an dan ahlul baitku 3. Aku tinggalkan untuk kalian ikuti Qur’an saja. Jadi versi manakah yang benar? tanyakan pertanyaan ini dibawah cahaya Qur’an maka jawabannya akan menjadi jelas untuk Anda, Insya Allah. Sejak Nabi Muhammad wafat, orang2 berseteru untuk kekuasaan dan kejayaan. Seperti itulah ketetapan Allah atas semua utusanNya

Kembalilah padaNya dalam pertaubatan; takutlah padaNya, dirikanlah Shalat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. (Mereka) orang-orang yang memecah belah agama mereka dan menjadi sekte-sekte. Setiap/masing-masing merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka S30: V31-32

6. Islam telah disempurnakan dengan Qur’an, jauh sebelum hadits2 menjadi ilmu untuk orang2. Orang gagal menyadari bahwa misi Nabi Muhammad satu-satunya adalah menyampaikan Qur’an. beliau tidak diperintahkan untuk mengajari kita bagaimana caranya makan, tidur, buang air, dan sebagainya. Kita diperintahkan Allah untuk mengikuti/ mentaati messenger/rasul karena apa yang ada padanya, the message = Qur’an, bukan karena siapa dirinya = Muhammad, seorang manusia. Mentaati rasul adalah perintah dari Allah kepada orang beriman untuk mengikuti cahaya (Qur’an) yang Dia turunkan melalui NabiNya. BUKAN perintah untuk mengikuti apa2 yang secara salah diatribusikan pada nama Nabi, dan menyebut itu “sunnah”nya, yang mana tidak pernah disebutkan di Qur’an, satu kalipun! Satu-satunya sunnah yang mana kita diperintahkan Allah untuk ikuti adalah Sunnatullah. Bagaimana bisa detail privat tentang kehidupan personal Nabi Muhammad (bohong ataupun tidak) diketahui dan diperbincangkan oleh kita jika bukan karena orang2 mengabaikan perintah Allah di surah 33:53?

7. Segala puji hanyalah untuk Allah SAJA. Hanya Allah saja yang infallible/ sempurna, tidak bersalah. Kebanyakan muslim sayangnya mengatakan bahwa Muhammad juga seperti itu. Dalam hal menyampaikan Qur’an, mereka 100% benar. Nabi melakukan tugasnya dan mengirimkan Qur’an, seluruh Qur’an, dan tidak ada yang lain selain Qur’an. Namun, Muhammad, sama seperti Nabi2 lainnya, hanyalah manusia biasa. Ketika itu tentang kata2 mereka dan tindakan/perbuatan mereka, mereka tidaklah tanpa cacat. Allah tidak selalu ridha dengan semua perbuatan Nabi-nabiNya, tapi karena Dia Maha Penyayang dan Maha Pengampun, dia mengampuni kesalahan2 mereka. Beberapa dari itu bahkan diceritakan/ dikisahkan di Qur’an, supaya kita mengambil pelajaran dan petunjuk. Sebagai contoh:

Hadits2 telah mengkorupsi/merusak arti dari ayat2 seperti ini, untuk menjadikan Muhammad tampak infallible/ maksum dan pantas dipuja-puji sebagaimana kepada Allah. Tapi ingatlah bahwa hanya karena Anda tidak menyimpan gambar/ patung Nabi, Anda tidak terbebas dari perbuatan idolatry/ penyembahan berhala/ musyrik..

8. Qur’an berbicara untuk dirinya sendiri. Qur’an tidak bergantung pada penjelasan siapapun, apalagi dari hadits2. Allah sendiri dapat memproduksi kitab yang ditulis dengan tinta yang sebanyak lautan, jika Dia menghendakinya. Pastinya bukan karena lupa, namun adalah rahmatNya bahwa beberapa hal tampaknya tidak tertulis di kitab. Ada ruang ijtihad dan interpretasi dan perkembangan dalam “keheningan” sebagai berkah Allah untuk kita. Qur’an adalah pesan universal yang melintasi waktu. (t/n: berdasarkan nilai2 & pesan universal itu) Kita harus menemukan cara2 baru untuk mengatasi permasalahan 2 baru yang kita temukan di masyarakat hari ini, dan jawabannya tidak selalu harus dicari dari aturan2 “islami” yang diwariskan dari leluhur arab. Cendekiawan/ulama2 hari ini mestinya mengevaluasi aturan2/ hukum2 kuno mereka dan menggantinya dengan pendekatan2 yang relevan untuk dilema2 yang kita hadapi sekarang2 ini. Qur’an tidak hanya berbicara kepada orang2 timur tengah di masa lalu. Tapi berbicara juga kepada manusia2 hari ini. Qur’an itu sendiri menyatakan bahwa dirinya mudah dimengerti bagi orang beriman sejati, namun mustahil bagi orang2 munafik dan musyrik. Mereka takut akan ayat yang mengekspos diri mereka. Lihatkah Anda, betapa praktisnya bagi mereka membawa hadits2 untuk twist/ membelokkan makna dari ayat2 ini? perhatikan ayat berikut:

daripada membiarkan ayat ini mengungkap perilaku mereka, mereka mengambil kata “lahwal hadits” di ayat ini dan mengklaim bahwa itu merujuk pada musik dan menyanyi! (t/n: ada artikel bagus tentang ini: Lahwal Hadith ). Selalu lebih mudah bagi orang2 “selfrighteous” ini untuk menunjuk kepada orang lain daripada mengkoreksi dan memperbaiki diri mereka sendiri.

Demikian juga Kami menjadikan bagi setiap Rasul, musuh: – setan di antara manusia dan Jin, saling menginspirasi satu sama lain dengan “flowery discourses” (t/n:kata-kata indah) sebagai jalan penipuan. Jika Tuhanmu menghendaki, mereka tidak akan melakukannya: maka tinggalkan mereka dan penemuan mereka sendiri. Yang demikian (tipu daya) membiarkan hati mereka yang condong, yang tidak memiliki iman kepada akhirat: biarkan mereka senang dengan itu dan biarkan mereka dapatkan dari itu apa yang mereka dapat. S6: V112-113

9. Mempertanyakan/ menolak hadits TIDAK menjadikan kita kafir. Itu justru menunjukkan bahwa Anda melakukan persis seperti yang Allah perintahkan kepada kita di Qur’an, bahwa kita bertanggungjawab atas penggunaan mata, telinga dan akal pikiran/ reasoning yang dianugrahkan kepada kita, dan untuk memverifikasi kebenaran oleh diri kita sendiri.

Qur’an mengatakan bahwa kelak Nabi Muhammad akan komplain kepada Allah di hari penghakiman bahwa “kaumku telah meninggalkan Qur’an ini”. Apakah Anda pernah bertanya pada diri sendiri siapa “kaumku” yang dimaksud disini? ataukah lebih mudah untuk seperti biasa, menunjuk jari pada kristen dan yahudi?

Dan perumpamaan bagi mereka yang kafir adalah seperti seseorang yang hanya mengulangi apa yang dia dengar dari panggilan dan teriakan; tuli, bisu, buta, mereka tidak mengerti (Quran 2:171)

Mayoritas hukum Syariah dalam “islam” bersumber diluar Qur’an, dari buku2 hadits dan fiqih. Kita perlu bertanya pada diri sendiri, Islam (penyerahan diri) macam apa ini, jika kita sebenarnya mengabaikan/ menolak firman2 Tuhan untuk mengikuti hadits2 & tradisi2 kita? Siapakah kuffar/pengingkar sesungguhnya? Lihatlah apa yang Qur’an katakan:

(t/n: koreksi, ayat 5:44. Pembuat video nampaknya keliru)

Kediktatoran, kejahatan2 terhadap kemanusiaan, misogini, korupsi, kurangnya kebebasan berbicara/ kebebasan menganut kepercayaan/ pandangan politik dapat dilihat ada di seluruh dunia, namun mengapa nampaknya masalah2 ini lebih terwakili/ hadir di apa yang disebut “negara2 muslim”?

10. Qur’an adalah kriteria kita untuk menilai mana kebenaran mana kepalsuan

(t/n: di akhirat nanti, Anda tidak akan ditanyai tentang perpustakaan buku2 hadits, pelajarilah firman Tuhan (seperti di 23:105) : “Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu?” BUKAN buku-buku tentang aqidah, dibacakan kepadamu; BUKAN buku-buku Ibnu Taimiyah, dibacakan kepadamu; BUKAN buku-buku hadits dibacakan kepadamu; TIDAK! pertanyaannya adalah: “Bukankah tanda-tanda/ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu?”)

Pastikan untuk mendasarkan iman dan klaim Anda dengan ayat2 dari Qur’an, karena Anda tidak akan bisa menyalahkan orang lain, orang2 yang dianggap punya ilmu/ otoritas atas kesalahan2/ kesesatan2 Anda saat hari penghakiman kelak. Keselamatan abadi Anda bergantung pada ANDA sendiri (t/n: iman & perbuatan2 Anda) dan rahmat Tuhan.

Allah telah menjadikan din ini mudah untuk kita. Jika Anda merasa Anda melakukan “hal2 berat” dengan berserah diri, Anda perlu bertanya pada diri sendiri, pada siapa persisnya Anda berserah diri. Berserah diri pada sunnah Allah adalah sesuatu yang akan dilakukan oleh orang2 lurus manapun dengan senang hati. Sistem/ din Allah sangat luarbiasa, hebat, manusiawi, dan menyehatkan. Sayang sekali, sistem2 dari manusia tidak seperti itu. Sangat krusial untuk semuanya, muslim dan non-muslim untuk menyadari perbedaan dari kedua sistem itu. Ignorance/ pengabaian dari 2 pihak tersebut menghasilkan fakta ini:

Mengapa Muslim tidak mengambil Qur’an untuk memahaminya & mengikutinya langsung

Berikut video yang mementahkan SEMUA jenis excuse/alasan2 kita dari mempelajari Qur’an secara langsung (memahami artinya) lalu mengikutinya. Video berikut telah saya tambahkan subtitle bahasa Indonesianya. Silahkan aktifkan caption/cc-nya:

Konklusi

Selama ada ‘Hadits TERBAIK’, yang LENGKAP, RINCI, & berasal LANGSUNG dari TUHAN, dan TUHAN SENDIRI menyatakan dengan itulah Dia membimbing/memberi petunjuk, apakah alasan Anda jika Anda masih mengakui dan mengikuti hadits-hadits lain dan sumber/buku-buku manmade lain sebagai petunjuk agama?

And certainly We have brought them a Book which We have made clear with knowledge, a guidance and a mercy for a people who believe. (7:52)



P.S.: Translator note (t/n:) adalah merupakan tambahan/penjelas dari saya pribadi (penerjemah) dan bukan bagian dari pesan asli. boleh diabaikan saja. Kritik/saran mengenai hasil penerjemahan, silahkan ajukan email ke: redemptionman@tutanota.com atau firefantasyhaiku@gmail.com

Share the Truth:

Post Navigation ;