Peringatan Kiamat

*DISCLAIMER/PENAFIAN*
Saya TF, semua artikel yang ada disini hanya upaya penerjemahan dari https://thetruthisfromgod.com/
Kecuali jika saya nyatakan lain.
Saya bukan pemilik situs tersebut diatas, dan pemilik situs tersebut (YS) samasekali bukanlah kenalan saya. Semua konten disana diluar tanggung jawab saya. Saya hanya orang biasa yang mengambil dari sana, menggunakan mesin penerjemah, kemudian mengoreksi hasil terjemahannya lebih lanjut. Demi Allah, Saya tidak dibayar sepeserpun atau mendapat imbalan apapun dari YS.
YS juga tidak pernah memaksa atau meminta saya untuk menerjemahkan.
Semua ini atas inisiatif saya sendiri.
Mohon maaf atas sebagian terjemahan yang masih kasar, atau keliru.
Untuk itu, Saya mohon dengan sangat kepada Anda untuk tetap meninjau sumber aslinya,
Semata-mata untuk menangkap pesan yang lebih lengkap dan lebih murni.
Jika Anda bisa mengerti apa yang tertulis disana (teks Bahasa inggris/Bahasa Prancis), tolong abaikan saja Blog saya dan baca langsung dari sana.
Pesan YS dalam bentuk video2, saya terjemahkan di channel youtube saya:

Ramadhan sejati menurut Qur’an, setelah 1400 tahun kebohongan!

7 Nov, 2020Bukti-bukti, Agama Sejati

Diterjemahkan dari: https://thetruthisfromgod.com/2020/11/01/le-ramadan-selon-le-coran-apres-1400-ans-de-mensonges/ (Artikel sumber terjemahan terbit pada 1 November 2020. Artikel versi inggrisnya: https://thetruthisfromgod.com/2020/11/22/after-1400-years-of-lies-the-true-ramadan-according-to-the-quran/


Bagi mereka yang kesulitan membaca di komputer, pesan yang sangat penting dari Tuhan ini sekarang tersedia di Kindle Amazon dan versi cetakan. (t/n: bhs prancis, ini versi inggrisnya: ebook & versi cetakan) Untuk versi “cetakan”, saya memasang harga minimum hanya untuk meng-cover biaya cetak dan membayar royalti kepada Amazon, dan saya samasekali tidak mendapatkan satu senpun untuk diri pribadi saya. Sedangkan untuk versi e-book Kindle, saya memasang “harga paling kecil yang di-otorisasi oleh Amazon”, dan setiap penjualan hanya menghasilkan beberapa sen saja, yang mana akan saya sumbangkan seluruhnya untuk menolong orang2 yang membutuhkan. Anda juga dapat membaca artikel ini dalam versi PDFnya secara gratis (t/n: bhs prancis, atau ini versi inggrisnya)

Saya mengundang semua orang beriman sejati yang percaya bahwa saya Utusan Tuhan untuk mendukung Tuhan, untuk membeli buku ini yang mengandung pesan Tuhan yang sejauh ini paling penting setelah pewahyuan Qur’an. Allah telah membuat saya menyampaikan instruksi ini dariNya untuk mempromosikan buku ini di Amazon, untuk memberinya visibilitas lebih besar di internet, sehingga mencapai audiens yang lebih luas diantara muslim maupun non-muslim. Saya menyarankan Anda untuk membelinya, bahkan jika Anda telah membacanya, untuk mendukung Allah, dan sebagai tanda itikad dan iman yang baik dari Anda. Saya bertanya kepada Anda, seperti Isa/Yesus bertanya kepada mereka yang mengakuinya sebagai Rasul: Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk Allah?

Then when Jesus found unbelief on their part, he said: “Who are my supporters for the cause of Allah?” The apostles said: “We are the supporters of Allah. We believe in Allah. And bear witness that we are completely surrendered to Him. Lord! We believe in what You have sent down, and we follow the Messenger. Then write us down among those who bear witness.” S3:V52-53

Ketahuilah bahkan jika Anda menolak melakukannya, Allah akan mempromosikan pesanNya dengan atau tanpa bantuan Anda. Kehendak Allah selalu menjadi nyata, jadi yakinlah bahwa jika Allah ingin pesanNya untuk mencapai seluruh dunia, itu pasti akan terjadi. Allah Maha Kuasa, Allah Maha Agung, Allah Maha Kaya, Allah tidak membutuhkan siapapun.

Saya merekomendasikan bahwa Anda membeli keduanya, versi ebook dan versi cetakan, sehingga buku ini terlihat di ranking puncak dari buku2 paling populer di Amazon, dan Anda dapat lebih mudah membagikannya dengan mereka2 di sekitar Anda yang tidak memiliki akses ke komputer atau lebih memilih untuk membaca di media lain. Anggaplah jumlah yang Anda belanjakan pada buku dan ebook ini (kurang dari 20 Euro untuk keduanya) sebagai tawaran murah hati dari Allah, untuk berterimakasih padaNya yang telah membimbing Anda dan mengutus UtusanNya diantara Anda, dengan utusanNya Dia mengajari Anda kebenaran dan hikmah, ketika kita semua sebelumnya dalam kesesatan nyata. Saya juga mengajak Anda untuk memberikan rating dan berkomentar di Amazon, karena itu akan semakin mempromosikannya di algoritma Amazon dan di Google search.

Allah memerintahkan Ibrahim untuk memanggil orang-orang ke tempat yang sepi dan tidak bersahabat, yang kemudian menjadi Mekah, dan orang-orang datang dari seluruh penjuru dunia, baik yang dekat maupun yang jauh. Dan, hari ini, tempat ini adalah yang paling populer di dunia, dan telah menjadi titik pertemuan bagi semua orang beriman.

Allah memerintahkan Musa, dia yang dikejar karena pembunuhan dan terlebih lagi dia berasal dari kaum budak, untuk menyampaikan peringatanNya kepada Firaun dan para bangsawannya. Meskipun menjadi kerajaan yang paling kuat di dunia, kerajaan yang kemudian akan menginspirasi semua kerajaan besar lainnya sampai akhir zaman, Tuhan mereduksi kerajaan Firaun menjadi abu, untuk memberikan kemenangan kepada mereka orang2 yang telah diperbudak, dan untuk membuat mereka memiliki tanah sendiri.

Allah memerintahkan Muhammad untuk menyebarkan Firman-Nya, Alquran. Dan, Kitab-Nya menyebabkan seluruh sistem kesukuan arab kuno, yang berakar kuat dan tak kenal lelah seperti sistem kasta: hancur berantakan hingga seolah-olah tidak pernah ada, untuk memberi jalan bagi bangsa orang2 beriman sejati. Bangsa yang akan menaklukkan, pada gilirannya, semua kerajaan besar, Persia, Bizantium, dan Barat, dan Kitab yang akan tersebar di mana-mana di bumi, untuk menguduskan seluruh Agama kepada Allah Sendiri.

Allah telah memerintahkan saya, Utusan terakhirNYa, YS, untuk menyampaikan kepada dunia pesan dan peringatanNya yang saya bagikan dengan Anda selama ini dan juga dalam buku ini. Secara pribadi, saya hanyalah seorang manusia, lemah dan tidak punya kuasa, seperti semua utusan lainnya. Saya tidak memiliki bantuan, saya tidak memiliki kekuatan, agama, politik, keuangan, atau media, dan sampai sekarang pesan saya hampir rahasia, kecuali bagi orang2 beriman sejati yang secara aktif mencari Kebenaran Tuhan. Tapi, yakinlah bahwa ketika Allah memutuskan, pesan-Nya akan menjungkirbalikkan seluruh dunia, seperti yang Allah lakukan dengan para utusan-Nya sebelumnya. Saat ini, saya dan orang-orang yang benar-benar beriman dianggap segelintir kecil, kelompok kecil yang terpinggirkan dan lemah, tetapi ketahuilah bahwa Allah bermaksud untuk memberikan kemenangan kepada hamba-hamba-Nya, dan menghukum semua yang telah menutup diri mereka dalam kesenangan mereka. Jadi, semuanya, bukalah mata Anda, dan lihat apa yang akan Allah lakukan sekarang! Lihatlah Kekuatan, Ke-Maha Kuasaan Allah, dan Anda semua akan datang kepada-Nya, sukarela ataupun terpaksa!

We want to favor those who have been weakened on earth and make them role models and make them heirs. S28: V5

PENGANTAR

Artikel baru tentang Ramadhan ini menggantikan dan membatalkan artikel pertama saya tentang subjek tersebut, yang membahas kebenaran, mengoreksi kesalahan, dan melengkapi apa yang hilang. Seharusnya samasekali tidak menimbulkan ketidakpercayaan dalam diri Anda melihat saya kembali pada hal-hal tertentu yang telah saya salah katakan sebelumnya, tetapi sebaliknya, itu seharusnya semakin memperkuat keyakinan Anda bahwa saya memang Utusan terakhir Tuhan, YS, dan saya memang mengarahkan kepada kebenaran Tuhan. Seperti yang saya katakan dalam Ultimate Warning of God (t/n: atau terjemahan saya), semua Utusan sebelum saya juga telah mengatakan hal-hal yang ternyata salah, tetapi itu dimaksudkan oleh Tuhan, dan Tuhan selalu pada akhirnya mengkoreksi kesalahan mereka. Adapun apa yang sudah benar, Allah mengkonsolidasikannya dengan menambahkan lebih banyak bukti dan detail padanya untuk menenangkan hati orang beriman. Dan tentang apa yang salah, Allah membatalkannya dan menunjukkan kepada orang-orang beriman di mana letak kesalahannya. Dengan cara ini, Allah menegaskan dan memperkuat keimanan orang-orang yang benar-benar beriman, dan pada saat yang sama, menambah keraguan dan ketidakpercayaan di hati para penyangkal.

Tidak pernah Kami mengutus seorang Utusan atau seorang Nabi, tanpa Setan mengganggu dalam perkataannya: tetapi Allah membatalkan apa yang Setan telah campur tangani, dan Allah menegaskan (dan menetapkan) Ayat-ayatnya : Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana: Agar Dia menjadikan saran-saran yang dilemparkan oleh Setan, tak lain sebagai cobaan bagi mereka yang di hatinya adalah penyakit dan yang keras hati : sesungguhnya orang-orang yang zalim berada dalam permusuhan yang jauh (t/n: dari Kebenaran): Dan agar mereka yang diberi pengetahuan dapat mengetahui bahwa ( Al-Qur’an) adalah Kebenaran dari Tuhanmu, dan agar mereka percaya di dalamnya, dan hati mereka dibuatnya tunduk untuk itu: karena sesungguhnya Allah adalah Pembimbing bagi mereka yang beriman kepada Jalan yang lurus. Dan orang-orang kafir itu senantiasa ragu mengenai hal itu, hingga “saat” (t/n: The Hour/Kiamat) datang kepada mereka dengan tiba-tiba, atau retribusi/pembalasan di hari yang menakutkan datang kepada mereka (S22: 52-54)

Selama lebih dari satu dekade hingga sekarang, Tuhan telah membawa saya keluar dari sekte yang hari ini menyebut diri mereka “agama”, membimbing saya menuju jalan yang secara eksklusif dikuduskan untuk-Nya, jalan teladan Ibrahim dan semua rasul lainnya, dan ini jelas tidak terjadi dalam semalam. Sama seperti Tuhan secara bertahap membawa siang menjadi malam dan malam menjadi siang, demikian juga Dia membawa kita keluar dari kegelapan, kesalahan, dan kepalsuan, untuk membawa kita selangkah demi selangkah, menuju terang, ke arah yang benar, membimbing kita menuju kebenaran. Hal yang sama berlaku untuk jalan mulia kebenaran yang Tuhan pulihkan melalui saya, Utusan terakhirnya, YS. Oleh karena itu, tidak sekaligus Tuhan akan mewujudkan jalan ini, tetapi dengan cara yang sama progresifnya.

Jika kita membahas tentang puasa Ramadhan sejati menurut Qur’an, Tuhan telah membawa kita lebih dekat kepada kebenaran tentang praktik sebenarnya Ramadhan melalui artikel pertama saya tentang subjek tersebut. Dan, Tuhan sekarang akan melengkapi berkat-Nya atas kita, memulihkan sepenuhnya kebenarannya, sampai membiarkan kita menyentuhnya. Apapun aturan2 yang Tuhan batalkan atau membuatnya dilupakan, Dia membawakan yang serupa atau lebih baik dari itu.

Whatever a Verse do We abrogate or cause to be forgotten, We bring a better one or similar to it. Know you not that Allah is able to do all things? S2:V106

Sebelum artikel pertama saya tentang subjek ini, puasa di bulan Ramadhan bagi kebanyakan orang adalah diet sederhana yang terdiri dari tidak minum dan tidak makan dari matahari terbit sampai matahari terbenam, dan ini, selama sebulan penuh berturut-turut. Berdasarkan kalender lunar, yang dalam prosesnya bergerak maju mengelilingi kalender matahari dalam 33 tahun, sehingga melintasi semua musim. Tetapi, itu sebelum Tuhan mengungkapkan kepada saya bahwa bulan Ramadhan yang sesungguhnya, sebenarnya menempati posisi tetap dalam suatu tahun yang merupakan awal musim gugur, yang menjadikannya adil dan dapat diakses oleh semua orang di bumi. Selama fase pertama ini, Tuhan juga mengajari saya bahwa praktik sebenarnya termasuk, selain puasa, fase recollection, retreat dan doa/shalat, yang telah dikaburkan sepenuhnya oleh versi Islam. Perbedaan penting lainnya, puasa Ramadhan dapat memiliki banyak cara dan bentuk, dan tidak terbatas pada puasa penuh (abstain dari makan & minum). Terakhir, untuk durasinya, ini sebenarnya bebas terserah masing-masing individu dan tidak harus selama satu bulan penuh. Semua perbedaan ini membuat praktik Ramadhan jauh lebih menarik dan bermanfaat, dan menjadikannya dapat diakses oleh semua orang. Jadi ini adalah perubahan yang luar biasa, yang telah menguntungkan semua orang beriman sejati yang secara aktif mencari jalan Tuhan yang benar. Setelah saya mempraktikkannya dalam bentuk baru ini sekarang sebanyak 3 kali, sayalah yang pertama bersaksi tentang manfaatnya yang sangat besar dibandingkan dengan Ramadhan versi Islam, saya hanya melihat manfaat dan tidak ada kerugian.

Selama 3 tahun ini, saya mendapat banyak tanggapan dari orang-orang beriman yang telah merasakan cara baru dalam melakukan Ramadhan. Hal ini memungkinkan saya untuk mengangkat poin-poin yang mereka anggap negatif. Dalam kasus-kasus tertentu, poin2 negatif itu sepenuhnya dibenarkan, dan dalam kasus-kasus lain, hanya karena kesalahpahaman mereka. Saya akan sekarang mengklarifikasi semua miskonsepsi2 itu.

  1. Meskipun saya menjelaskan bahwa retret spiritual juga dapat dilakukan di rumah dan tidak harus di tempat yang dirancang khusus untuk tujuan ini, banyak orang melaporkan kepada saya bahwa mereka tidak dapat melakukannya karena keluarga atau situasi pekerjaan mereka. Yang lain juga mengeluh bahwa mereka tidak dapat melakukannya pada waktu yang sama dengan pasangan mereka.
  2. Banyak orang telah sepenuhnya mengesampingkan komponen puasa untuk fokus hanya pada meditasi dan retret spiritual, yang berarti menghilangkan salah satu dimensi penting dari ritus Ramadhan
  3. Karena sebagian orang sepenuhnya menyamakan Ramadhan dengan retret spiritual sederhana yang harus dia lakukan di luar rumah, Ramadhan mereka terbatasi beberapa hari saja, dan mereka tiba-tiba kecewa karena durasinya sangat singkat.
  4. Beberapa tidak mengerti bahwa Ramadhan dapat berlangsung pada tanggal yang berbeda tergantung pada apakah seseorang tinggal di belahan bumi utara atau selatan. Saya merasakan di dalamnya suatu bentuk kesedihan dan kekecewaan, terutama dari mereka yang tinggal di belahan bumi selatan, dan yang jumlah (t/n:orang) nya jauh lebih sedikit di bumi ini. Mereka memang berhak merasa terabaikan dan terkesan dikucilkan dari perayaan besar di sekitar Tuhan yaitu Ramadhan ini.
  5. Kesalahpahaman tertentu juga akan diluruskan terkait pada pilihan bulan purnama setelah titik balik musim gugur (atau musim semi untuk belahan bumi selatan) sebagai penanda dimulainya Ramadhan.

Semua poin ini terjelaskan, di satu sisi, karena pemahaman yang buruk tentang artikel pertama saya tentang subjek ini, di sisi lain, karena kesalahan2 kecil yang adalah campur tangan setan dalam perkataan saya, dan bahwa Tuhan mengoreksi saya sekarang. Jadi yakinlah sepenuhnya, apa yang Allah turunkan kepada saya setelah ini, menyingkirkan semua poin negatif ini dan menambahkan hanya yang positif2 saja. Ini, agar orang-orang beriman sejati dapat bersukacita dan dapat sepenuhnya menikmati berkah dari Tuhan dan berterima kasih kepadaNya… Semoga menambah ketakwaan mereka!

Ilham Tuhan kepada saya

Selama retret Ramadhan saya di tahun 2020, saya tidak memiliki rencana khusus, kecuali untuk membersihkan diri dari dosa-dosa saya dan berdoa kepada Tuhan. Saya hanya punya satu keinginan, bahwa Tuhan ada di sana dan menerima upaya-upaya saya. Dan, saya sama sekali belum menetapkan tujuan untuk mempertanyakan amalan Ramadhan yang telah Tuhan ajarkan kepada saya, merasa sangat puas dibandingkan versi lama. Tetapi, Tuhan memastikan bahwa selama retret spiritual saya, saya hanya fokus pada Sura Al-Baqara / Sapi betina, dan itu secara ajaib mencerahkan saya pada sejumlah poin penting, beberapa di antaranya akan menjadi subjek artikel mendatang. Di antara poin-poin ini, adalah puasa Ramadhan, yang ayat-ayat terkaitnya ditemukan dalam surah ini. Hal ini secara alami membuat saya menghadapkan mereka sekali lagi dengan apa yang telah Tuhan ajarkan kepada saya. Meskipun praktik yang Tuhan tunjukkan kepada saya tampak baik bagi saya, setelah mengalaminya sendiri berkali-kali, saya merasa ada yang salah saat saya membaca ayat itu lagi. Saat itulah Tuhan menarik perhatian saya pada sebuah ayat yang menurut saya tampaknya tidak berbicara tentang Ramadhan, meskipun ayat itu berada tepat di tengah-tengah ayat yang berhubungan dengan Ramadhan. Ini dia yang telah saya tebalkan untuk Anda, dalam terjemahan Yusuf Ali ini:

O ye who believe! fasting is prescribed to you as it was prescribed to those before you that ye may (learn) self-restraint.― (Fasting) for a fixed number of days; but if any of you is ill or on a journey, the prescribed number (should be made up) from days later. For those who can do it (with hardship) is a ransom, the feeding of one that is indigent. But he that will give more of his own free-will―it is better for him, and it is better for you that ye fast, if ye only knew. Ramadan is the (month) in which was sent down the Qur’an as a guide to mankind also clear (Signs) for guidance and judgment (between right and wrong). So every one of you who is present (at his home) during that month should spent it in fasting, but if anyone is ill, or on a journey, the prescribed period (should be made up) by days later. Allah intends every facility for you He does not want to put you to difficulties. (He wants you) to complete the prescribed period, and to glorify Him in that He has guided you; and perchance ye shall be grateful. When My servants ask thee concerning Me, I am indeed close (to them); I listen to the prayer of every suppliant when he calleth on Me; let them also with a will listen to My call and believe in Me; that they may walk in the right way. Permitted to you on the night of the fasts, is the approach to your wives. They are your garments. And ye are their garments. Allah knoweth what ye used to do secretly among yourselves; but He turned to you and forgave you; so now associate with them, and seek what Allah hath ordained for you and eat and drink, until the white thread of dawn appear to you distinct from its black thread; then complete your fast till the night appears; but do not associate with your wives while ye are in retreat in the mosques. Those are limits (set by) Allah; approach not nigh thereto. Thus doth Allah make clear His signs to men that they may learn self-restraint. S2:V183-187

Ketika saya bertanya-tanya apa maksud ayat ini berada tepat di tengah2 penjelasan Ramadhan, saat itulah saya tiba-tiba menyadari bahwa itu hanyalah solusi untuk masalah saya. Pemicu saya datang dari kenyataan bahwa saya menjalani persis seperti yang dikatakan ayat ini, yaitu saya di tengah Ramadhan, berpuasa, berdoa, dan mendekatkan diri saya kepada Tuhan, dan saya membaca: “Dan ketika hamba-Ku bertanya tentang Aku, Aku sangat dekat: Aku menjawab panggilan orang yang berdoa kepada-Ku ketika ia berdoa kepada-Ku. Semoga mereka menanggapi panggilan-Ku, dan bahwa mereka percaya kepada-Ku, sehingga mereka dibimbing dengan baik”. Dengan percaya kepada Tuhan, oleh karena itu saya secara alami berhenti mencari solusi sendiri, dan saya hanya menanyakan jawaban langsung kepada Tuhan karena ayat ini mengundang kita untuk melakukannya. Jika ada keadaan di mana ayat ini menjadi kenyataan bagi saya, itu adalah saat ini. Saat itulah saya keluar untuk mengingat kembali diri saya kepada Tuhan di tengah alam, berdoa dengan sepenuh hati untuk mencerahkan saya, dengan tujuan yang tulus untuk mengetahui anjuran sebenarnya tentang hal ini dan mengikutinya, apa pun itu. Saya memiliki keyakinan penuh bahwa Tuhan pasti telah mendengar doa saya, dan bahwa Dia akan menjawabnya pada waktunya, entah melalui saya atau orang lain. Dan atas itu, saya menaruh kepercayaan saya pada Tuhan dan kembali ke tempat retreat saya dengan damai. Baru saja kembali, Tuhan memberi saya intuisi untuk melakukan pencarian internet sederhana “kalender pra-Islam“, yang akan terbukti menjadi benang merah yang akan membawa saya pada jawaban yang saya tunggu-tunggu. Memang, kalender Arab Kuno hanya bisa menjadi kunci misteri ini, mengingat bahwa kalender inilah yang digunakan ketika turunnya Alquran, dan karena puasa Ramadhan yang disebutkan dalam Alquran jelas merupakan sesuatu yang dikenal orang Arab Kuno, yang terlihat dari konteks dan frasa yang digunakan dalam ayat-ayat diatas (S2:V183-187)

ARAB KUNO

Sebelum Al-quran turun, orang Arab Kuno terorganisir dalam sebuah mosaik suku-suku, dan masing-masing memiliki kepercayaan dan ritusnya sendiri yang mereka warisi dari orang Yahudi, Nasrani, Zoroastrian/ Majusi, Sabiin, Hadramaut, Qatabanites, Minaean, Syria, Nabataean, Babilon, Lihyan (keturunan Ismael), Thamoudéens (Kaum Tsamud yang disebutkan dalam Alquran)…, dan di antara ritus-ritus ini, ada satu yang secara khusus diketahui semua, yaitu ritus puasa Ramadhan.

Kecuali bahwa praktik Ramadhan mereka berbeda dari satu suku ke suku lainnya, dan dipengaruhi oleh berbagai kepercayaan yang mereka warisi. Oleh karena itu, Al-quran tidaklah mengadakan ritus yang samasekali baru bagi orang Arab Kuno, tetapi hanya melakukan koreksi-koreksi atas praktik mereka saat itu.

Al-Qur’an yang telah diturunkan dalam konteks khusus ini, naturalnya tentu saja bahwa semua istilah-istilah yang digunakan di dalamnya akan meminjam kosakata yang dapat dipahami secara sempurna oleh orang Arab Kuno masa itu, dan bahwa semua praktik yang dijelaskan di dalamnya akan sepenuhnya familiar/ akrab bagi mereka, termasuk puasa Ramadhan. Memang, praktik Ramadhan sudah dilakukan oleh sebagian besar penyembah berhala2 di antara orang Arab Kuno, tetapi juga oleh mereka yang telah berpindah ke agama monoteistik seperti Sabaisme, Hanifisme, Yudaisme, dan Kristen. Sederhananya, praktik mereka bervariasi dari faksi ke faksi, dan karena itu Tuhan hanya memulihkan praktik yang benar melalui Nabi Muhammad., Sama seperti Tuhan sekarang memulihkannya melalui saya, YS, Utusan terakhirNya, 1400 tahun setelah dia hilang lagi.

KALENDER ORANG ARAB KUNO

Kalender orang Arab Kuno telah berlaku di Jazirah Arab berabad-abad sebelum kedatangan Islam, dan dipertahankan setidaknya selama 9 tahun setelah Hijra, yaitu migrasi Nabi Muhammad dari Mekah ke Yathrib, yang telah berganti nama menjadi Madinah. Itu adalah kalender lunisolar, artinya bulan-bulan kalendernya ditentukan oleh siklus bulan/lunar, tetapi (t/n: tahunnya) disinkronkan dengan musim berkat penambahan bulan interkalasi/ kabisat. Karena dua siklus yang tidak sesuai: matahari adalah 365,25 hari, sedangkan bulan berlangsung sekitar 29,5 hari, yang artinya sekitar 354 hari untuk satu tahun lunar, dengan demikian ada pergeseran sekitar 11 hari dibandingkan dengan tahun matahari , orang Arab Kuno kemudian memiliki ide untuk meminjam dari orang Yahudi penambahan bulan kabisat. Yahudi juga menggunakan kalender lunisolar, yang masih berlaku hingga hari ini, yang mereka pinjam sendiri dari Babilonia. Bagi orang Arab Kuno, tujuan utama interkalasi adalah untuk memastikan bahwa bulan haji selalu jatuh di akhir tahun, periode ideal dalam hal kondisi cuaca. Untuk ini, mereka menambahkan pada tahun-tahun tertentu bulan kabisat yang mereka sebut Nassi, dan yang oleh orang Yahudi disebut Veadar.

Awalnya, kalender Yahudi memiliki 12 bulan, permulaan setiap bulan ditandai dengan new moon/bulan baru, sedangkan penambahan bulan kabisat ketiga belas ditentukan oleh Aviv, yaitu status kematangan barley/jelai. Jika jelai tidak cukup matang di bulan Nisan, bulan ke-1 dalam kalender Ibrani (sesuai dengan periode Maret-April), maka bulan ke-13 yang disebut Veadar (Adar Kedua) dimasukkan setelah bulan ke-12 (Adar), untuk menunda kedatangan Nisan selama satu bulan tambahan. Praktik ini dikonfirmasikan kepada kita melalui kutipan dari Rabbi Gamaliel, sekitar tahun 100 M, yang menulis kepada komunitas Yahudi di Babilonia: Rabi Gamaliel, sekitar tahun 100 masehi, menulis kepada komunitas Yahudi di Babilonia: “Kami memberi tahu kamu semua bahwa domba tidak cukup empuk dan ayamnya terlalu kecil; gandum belum matang. Karena itu, kami telah memutuskan, Saya dan rekan-rekan saya di Sanhedrin, untuk menambah 30 hari ke tahun ini“:

Penambahan bulan kabisat dalam kalender Yahudi terus mengikuti aturan Aviv, dan karena itu tetap tidak teratur, hingga abad ke-4 SM, periode di mana orang Yahudi memutuskan untuk mengadopsi seperti kalender Babilonia, yang penambahan bulan kabisatnya regular/ teratur dan didasarkan pada siklus metonik 19 tahun, (nama yang mengambil filsuf Meton dari Athena yang menggambarkan sistem ini pada 433 SM dengan basis studinya pada ilmu astronomi Babilonia) Fakta bahwa setiap 19 tahun, orbit matahari dan bulan bertepatan lagi adalah fenomena yang diketahui oleh orang Babilonia. Memang, durasi 19 tahun matahari sangat dekat dengan 235 bulan lunar secara keseluruhan. Sedangkan, 19 tahun lunar adalah 228 bulan. Oleh karena itu, cukup menambahkan 7 bulan kabisat dalam setiap 19 tahun, agar kedua siklus tersebut kurang lebih sinkron. Oleh karena itu, dari abad ke-4 SM, orang Yahudi mulai melakukan penambahan bulan kabisat secara teratur mengikuti siklus metonik 19 tahun, membuat penambahan ini di tahun ke 3, 6, 8, 11, 14, 17 dan 19.

Siklus metonik 19 tahun diperlukan untuk menemukan ketepatan yang hampir sempurna antara orbit matahari dan bulan

Satu-satunya perbedaan antara kalender Yahudi dan Babilonia adalah bahwa bulan kabisat dalam kalender Yahudi selalu ditambahkan pada posisi yang sama, yaitu setelah bulan ke-12, sedangkan pada kalender Babilonia berpindah dari satu bulan ke bulan berikutnya, pada setiap tahun “embolismik” (tahun 12 bulan + 1 bulan kabisat).

Perhatikan bagaimana nama bulan dalam kalender Babilonia sangat mirip dengan bulan dalam kalender Yahudi, yang menegaskan bahwa kalender Yahudi memang diwariskan dari kalender Babilonia.

Orang Arab Kuno sangat dipengaruhi oleh orang Yahudi, yang sangat hadir dalam aristokrasi mereka. Abu Ma’chars mengatakan bahwa orang Arab Kuno menggunakan sistem interkalasi yang sama dengan orang Yahudi, tetapi sejak tahun 358 M, konflik mulai muncul antara orang Arab dengan Yahudi, yang mendorong orang Arab Kuno untuk memperkenalkan sistem interkalasi mereka sendiri. Ini diperkuat oleh fakta bahwa tahun-tahun embolismik berbeda antara bagi orang Yahudi dan bagi orang Arab Kuno. Siklus metonik menambahkan 7 bulan kabisat setiap 19 tahun masih dipertahankan oleh orang-orang Arab Kuno agar kalender lunar mereka tetap sinkron dengan musim, kecuali bahwa penambahan bulan ini tidak lagi didasarkan pada aturan yang jelas, (sebagaimana dilakukan orang Yahudi dan Babilonia) tetapi sekarang menjadi keputusan suku Banu Kinanah .. Dewan/ perwakilan-perwakilan dari suku inilah yang memutuskan sendiri, kapan bulan interkalasi/ kabisat ini disisipkan, tergantung keadaan cuaca dan situasi politik (akan dijelaskan secara rinci nanti di artikel ini). Terlepas dari praktik yang sangat “unik” ini, Abu Ma’char menceritakan bahwa penambahan bulan kabisat di antara orang Arab Kuno masih kurang lebih tetap setia pada siklus metonik 19 tahun, yang cukup untuk mempertahankan kalender mereka tetap sinkron dengan musim. Kita dapat melihat dari namanya saja bahwa bulan-bulan dalam kalender ini secara jelas selaras dengan musim.

  1. Muharram: “Kudus”, Salah satu dari 4 bulan suci Haji / Ziarah, di mana orang Arab Kuno melakukan gencatan senjata, hanya perang defensif yang diizinkan.
  2. Safar: “kosong”, Rumah-rumah orang Arab Kuno biasanya kosong, karena tradisinya bulan ini karavan dagang mereka sedang dalam perjalanan ke Suriah dan Yaman.
  3. Rabi ‘al-awwal (Rabi I): “Musim Semi, yang Pertama”
  4. Rabi ‘al-thani (Rabi II): “Musim Semi, yang Kedua”
  5. Jumada al-awwal (Jumada I): Bulan kekeringan pertama
  6. Jumada al-thani (Jumada II): Bulan kekeringan kedua
  7. Radjab: (“Bulan yang dihormati” menurut pemaknaan semitis atau “Bulan kehormatan” menurut pemahaman Arab), Salah satu dari 4 bulan suci Haji / Ziarah, di mana orang-orang Arab Kuno melakukan gencatan senjata, hanya perang defensif yang diizinkan.
  8. Sya’ban: “terpencar”, Bangsa Arab Kuno berpencar untuk mencari air, karena bulan ini bertepatan dengan akhir musim panas, dan oleh karena itu merupakan puncak kekeringan, dan air menjadi lebih langka selama periode ini.
  9. Ramadhan: (fine rain/hujan halus atau panas terik): Bulan yang berkaitan dengan akhir musim panas dan munculnya hujan halus pertama di musim gugur. Bulan berpuasa bagi Orang Arab Kuno.
  10. Syawwal: (bulan kering): Awalnya bulan ini adalah bulan berburu orang Arab Kuno. Secara etimologis, nama bulan ini mengacu pada unta yang melahirkan pada masa ini, dan karenanya menjadi lebih kurus kering karena sedang menyusui.
  11. Dhu al-Qi’da: (bulan istirahat): Salah satu dari 4 bulan suci Haji / Ziarah, di mana orang-orang Arab Kuno melakukan gencatan senjata, hanya perang defensif yang diizinkan di sana. Orang Arab Kuno umumnya tinggal di sana untuk beristirahat selama musim Haji / Ziarah
  12. Dhu al-Hijjah: (bulan haji): Salah satu dari 4 bulan suci Haji / Ziarah, di mana orang-orang Arab Kuno melakukan gencatan senjata, hanya perang defensif yang diizinkan. Bulan yang sesuai dengan puncak musim Haji / Ziarah
Orang Arab Kuno menggunakan bulan interkalasi/ kabisat untuk menjaga bulan dalam kalender mereka tetap disinkronkan dengan musim, yang memungkinkan mereka memiliki kondisi ideal untuk Haji / Ziarah mereka.

Orang Arab Kuno secara sistematis membuat Rabi ‘al-awwal dan Rabi’ al-thani, yang secara harfiah berarti “musim semi pertama” dan “musim kedua,” jatuh selama periode yang sesuai dengan musim semi, dari Maret hingga Juni. Dua bulan ini diikuti oleh 2 bulan kekeringan, Joumada al-awwal dan Joumada al-thâniyya, yang menurut namanya berarti “bulan pertama kekeringan” dan “bulan kedua kekeringan”. Adapun bulan Ramadhan, namanya secara harfiah berarti “hujan musim gugur yang cerah” atau “panas terik”, karena menandai berakhirnya musim panas dan awal musim gugur. Orang Arab Kuno selalu menempatkan bulan Ramadhan di awal musim gugur agar memiliki kondisi optimal untuk berpuasa. Memang, periode setelah ekuinoks/titik balik musim gugur adalah periode ideal untuk puasa, dan ini, untuk seluruh dunia dan tidak hanya di Jazirah Arab, karena suhu di mana-mana pertengahan, dan durasi malam dibanding durasi siangnya seimbang/ sangat dekat pada saat itu, apakah seseorang tinggal di Arab Saudi, Finlandia, atau bahkan di selatan Argentina.

Di mana-mana di dunia, selama periode bulan Ramadhan menurut Alquran, durasi siang dan malamnya hampir sama panjangnya dan suhunya sedang.

BULAN RAMADHAN MENURUT QUR’AN

Ramadhan, bulan kesembilan dari kalender Arab Kuno, dimulai kira-kira dekat setelah titik balik musim gugur, antara akhir September dan awal Oktober, yang dikonfirmasi oleh etimologi kata yang sama.

Ramadhan / رمضان berasal dari kata Ramadhou / رَمَضُ atau Ramadhyou / رمضي.

رمضي : ما كان في آخر الصيف وأوَّلِ الخريف

Ramadhyou : what is at the end of summer and at the beginning of autumn

رَمَضُ  : شِدَّةُ الحَرِّ

Ramadhou : strong heat

الرَّمَضُ  : المَطَر يأتي قُبُلَ الخريف

Al-Ramadhou : rain before autumn

https://www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/%D8%B1%D9%85%D8%B6%D9%8A/

Definisi kata “Ramadhan” di atas dikonfirmasi oleh iklim yang ditemukan di Jazirah Arab. Pasalnya, periode yang bertepatan dengan akhir September / awal Oktober, periode awal bulan Ramadhan di kalender Arab Kuno, merupakan periode yang tergantung tahunnya juga, bisa saja masih panas, sama seperti cuaca disana. Bisa menjadi sangat menyenangkan di sana karena jatuhnya hujan pertama musim gugur.

Nama ramadhan / رمضان diberikan untuk bulan kesembilan di dunia Arab jauh sebelum kedatangan Islam. Kata itu sendiri berasal dari akar kata Semit ramadhu/ رمض, yang berarti teriknya musim panas. Bagi Mr. Plessner, ini menunjukkan bahwa, dalam kalender lunisolar pra-Islam, bulan tersebut jatuh pada musim panas. Menurut The Encyclopedia of Islam, hanya dua bulan yang memisahkan Ramadhan dari bulan lainnya yang secara etimologis bisa dikaitkan dengan hawa dingin.
https://fr.wikipedia.org/wiki/Ramadan

Bulan Ramadhan disini diartikan sebagai 2 bulan lagi dari bulan yang berhubungan dengan dingin, sama seperti bulan Ramadhan Orang Arab Kuno, yang dimulai pada akhir September / awal Oktober, memang ada jarak 2 bulan sebelum bulan yang terkait dingin, yaitu bulan Desember.

Beberapa karya Islam mengatakan bahwa nama bulan dalam kalender Arab Kuno diganti namanya menyesuaikan kalender Hijriah setelah kedatangan Islam. Tetapi versi sejarah ini tidak disepakati di antara umat Islam sendiri, dan Anda bahkan akan melihat bahwa itu sebenarnya salah.

Sumber nama-nama bulan pra-Islam berasal dari Al-Mutakhab min Ghrib Kalam al-Arab oleh Hassan de Abou Al-Hassan Bin Al-Hussein Al-Houna Ad-Dousa (309 H / 921 M), lebih dikenal sebagai “Koura an-Nami”, dan Lissan al-Arab dari Ibn Mansour (711 AH / 1311 M). Al-Birouni dan Al-Mas’oudi menyatakan bahwa orang Arab Kuno menggunakan nama bulan yang sama dengan orang Muslim, meskipun mereka juga mencatat nama lain yang digunakan oleh orang Arab pra-Islam.

Pada kenyataannya, adalah mereka orang2 yang mengira bahwa nama bulan dalam kalender Arab Kuno berbeda dengan yang ada di kalender Hijriah yang pasti telah salah. Sebab, Al-qur’an memang menyebut nama bulan “Ramadhan” sementara penanggalan/kalender yang sedang berjalan pada saat turunnya Al-qur’an memang memang kalender dari Arab Kuno, bukti tak terbantahkan bahwa bulan ini sudah menyandang nama ini jauh sebelum Islam. Oleh karena itu, kalender Hijriah-lah yang mengambil kalender Arab Kuno, termasuk nama-nama bulannya, dan perbedaannya kalender Hijriah hanya menghapus bulan kabisat di sana. Yang merupakan penyimpangan total, mengingat ini berdampak bahwa bulan-bulan dalam kalender Hijriah, karena penghapusan bulan kabisat itu, bergeser/ tidak sinkron lagi dengan musim, kecuali untuk satu tahun saja setiap periode 33 tahun!

Kita lihat di kalender ini bahwa tanggal 26 Ramadhan 1419 H bertepatan dengan tanggal 14 Januari 1999, yang merupakan penyimpangan!, karena bulan Ramadhan yang sebenarnya menurut Alquran selalu terjadi di awal musim gugur.

Perhatikan kurangnya keadilan dalam puasa Ramadhan menurut kalender Hijriah: Jika seandainya kita mengambil tanggal yang sama dengan Almanak ini tetapi ditempatkan ke tahun 2020, yaitu 14 Januari 2020, durasi puasa di Paris, di Prancis , dari 07:17 sampai 17:25, yang artinya sekitar 10 jam, sedangkan di Ushuaia, Argentina, durasinya dari 3:05 sampai 22:04, yang artinya 19 jam puasa, hampir dua kali lipat durasi puasanya dibandingkan dengan Paris!

Menurut logika apa durasi puasa harus berbeda-beda drastis seperti itu tergantung dari tempat tinggal kita? Apa keadilan dari meresepkan puasa menjadi dobel (t/n: durasinya)? Jangan mencari logika atau keadilan dalam hal ini, karena memang tidak ada! Kenyataannya, bulan Ramadhan tidak pernah terjadi pada waktu ini, karena baik Allah maupun Nabi Muhammad tidak pernah menetapkan kalender lunar murni yaitu Hijriah, dan saya akan menunjukkannya tanpa terbantahkan kepada Anda di bagian selanjutnya.

Jika sekarang kita melihat seperti apa bulan Ramadhan yang sebenarnya menurut Alquran, yang adalah pada awal musim gugur, kita dapat melihat dengan jelas perbedaannya dengan kalender Hijriah. Setelah dihitung, hari ke-26 dalam bulan Ramadhan berdasarkan kalender arab kuno, berkorespondensi dengan tanggal 14 Oktober 2020 kalender masehi. Ini memberikan puasa yang berlangsung dari 06:54 sampai 19:10 untuk Paris, atau sekitar 12 jam, dan dari 04:02 sampai 20:15 untuk Ushuaia, atau sekitar 16 jam. Perbedaannya jauh lebih dapat diterima karena saya memilih kasus yang paling ekstrim, Ushuaia yang adalah salah satu kota paling selatan di dunia.

KESIMPULAN

Oleh karena itu, bulan Ramadhan yang sebenarnya menurut Alquran adalah bulan yang secara sederhana sesuai dengan definisi namanya, yang didefinisikan sebagai “fine autumn rain/hujan halus musim gugur” atau “panas menyengat”. Itu terjadi setiap tahun pada waktu yang sama, yaitu pada awal musim gugur. Ini sepenuhnya sejalan dengan apa yang diekspektasikan dari Keadilan dan Kebijaksanaan Tuhan yang sempurna. Karena, bulan Ramadhan ditempatkan demikian, sesuai dengan periode dalam setahun yang menawarkan kondisi terbaik untuk puasa, dan ini, bagi siapapun orang, dimanapun tempat tinggalnya.

Di sepanjang sejarah manusia, selalu sangat mudah untuk mendeteksi ekuinoks dan solstis secara akurat dengan menggunakan tonggak yang diposisikan secara ideal sehingga matahari terbit tepat di antara keduanya pada hari titik ekuinoks dan solstis. Hal ini memungkinkan untuk menemukan awal musim dengan tepat: musim gugur dimulai pada titik balik/ekuinoks musim gugur, musim semi pada titik balik/ekuinoks musim semi, musim panas pada solstis/titik balik matahari musim panas, dan musim dingin pada solstis/titik balik matahari musim dingin.
Di dekat ekuinoks musim gugur, lamanya hari bervariasi dari 10 jam di wilayah dekat Kutub Utara (contoh di Murmansk di Rusia) hingga sekitar 13 jam di wilayah dekat Kutub Selatan (contoh di Ushuaia di Argentina). Selama periode ini, suhu di mana-mana sedang dan puasa tidak menimbulkan kesulitan besar, atau risiko dehidrasi.

KALENDER HIJRIAH, SEBUAH PENYIMPANGAN

Asal usul kalender berasal dari Zaman Kuno, dan kalender apa pun, sesuai dengan namanya “calendar”, harus memungkinkan prediksi fenomena periodik seperti musim, sambil memungkinkan untuk mengatur pertanian, acara sosial dan agama dalam jangka waktu yang lama. . Ini memang terjadi dengan kalender Arab Kuno, serta kalender Yahudi, Romawi, Mesir,…, Babilonia, Mesopotamia, Julian, Gregorians/Masehi, tetapi hal ini samasekali tidak terjadi dengan kalender Islam Hijriah. Saat ini, tidak ada negara Muslim di dunia yang menggunakan kalender ini lagi, kecuali untuk menentukan tanggal perayaan keagamaan mereka, dan kita bertanya-tanya mengapa …

Alhasil, kalender Islam yang berdasarkan pengamatan new moon/bulan baru hanya digunakan pada masyarakat Muslim kontemporer untuk menentukan tanggal yang terkait dengan perayaan keagamaan saja. Untuk semua kebutuhan mereka yang lain, umat Islam di seluruh dunia telah menggunakan kalender matahari selama sekitar dua abad: kalender Gregorian atau kalender Persia, yang didasarkan pada kalkulasi astronomi. https://fr.wikipedia.org/wiki/Calendrier_h%C3%A9girien

Karena siklus matahari dan bulan tidak sama, tidak mungkin kalender jenis apa pun tetap sinkron dengan musim tanpa menggunakan penambahan periode kabisat secara teratur. Untuk kalender lunisolar, periode ini sesuai dengan penambahan 7 bulan lunar dalam periode 19 tahun siklus metonik. Sedangkan untuk kalender matahari, periode ini berbeda-beda menurut kalendernya, dan umumnya terdiri dari penambahan 1 hari kabisat di tahun yang disebut leap year/ “tahun kabisat”.

Ambil contoh kalender matahari Julian, atau kalender matahari Gregorian yang digunakan saat ini di seluruh dunia hari ini. Kalender Julian, diadopsi oleh Kaisar Romawi Julius Caesar pada tahun 46 SM. tetap berlaku di dunia Kristen sampai 15 Oktober 1582, ketika itu diganti dengan kalender Gregorian. Kalender Julian didasarkan pada penyelarasan bulan dengan musim, sehingga 21 Maret selalu merupakan titik balik musim semi, dan awal tahun adalah 11 hari setelah titik balik matahari musim dingin, yang berkorespondensi dengan durasi setahun tropis 365,2422 hari dengan masing-masing hari 24 jam. Untuk memastikan tetapnya hari selama setiap tahun administrasi, hari kabisat ditambahkan setiap 4 tahun, yaitu 29 Februari, dalam apa yang disebut tahun kabisat. Dengan membuat tahun-tahun tersebut dapat dibagi 4, panjang rata-rata satu tahun dalam kalender Julian menjadi 365,25 hari; atau angka yang sedikit lebih tinggi dari durasi satu tahun tropis (durasi yang diperlukan matahari untuk kembali ke konfigurasi yang sama terhadap bumi, yaitu 365,2422 hari). Perbedaan ini sesuai dengan rata-rata 11 menit setiap tahun, atau satu hari setiap 130 tahun. Terakumulasi selama beberapa abad, celah ini telah mencapai 10 hari pada tahun 1582. Akibatnya, tanggal titik balik musim semi tahun 1582 terjadi pada tanggal 11 Maret, bukan 21 Maret sebagaimana yang seharusnya terjadi.

terre

Untuk mengurangi kesalahan kalender Julian, Paus Gregorius XIII telah memutuskan bahwa sehari setelah Kamis tanggal 4 Oktober 1582 akan menjadi hari Jumat tanggal 15 Oktober 1582, dan mengambil kesempatan untuk beralih ke kalender Gregorian/ Masehi, yang masih berlaku hingga saat ini. mempertahankan tahun kabisat untuk semua tahun kelipatan 4 (2004, 2008, 2012,… dll), termasuk kelipatan tahun 400 (1600, 2000, 2400,… dll). Namun bedanya, tahun-tahun sekuler yang merupakan kelipatan 100 (tapi bukan 400 seperti 1700, 1800, 1900, 2100, 2200,… dll) bukan lagi tahun kabisat. Dengan penyesuaian ini, rata-rata lama satu tahun Gregorian menjadi 365,2425 hari, sangat dekat dengan tahun tropis (365,2422 hari). Secara spesifik, tahun Gregorian adalah sekitar 27 detik lebih lama dari tahun tropis. Perbedaan ini memberikan kemajuan tahun Gregorian dibanding tahun tropis 1 hari setiap 3223 tahun.

Pada tanggal 15 Oktober 1582, Paus Gregorius XIII memutuskan untuk beralih dari kalender Julian ke kalender Gregorian di seluruh dunia Kristen. Dunia Muslim seharusnya juga terinspirasi oleh keputusan berdasar akal sehat ini dengan mengadopsi “kalender” yang sesuai dengan namanya, yaitu sistem penanggalan yang sesuai dengan konfigurasi bintang dan musim, dan memungkinkan untuk mengatur kehidupan sipil dan keagamaan sekaligus.

Oleh karena itu kita dapat melihat, apapun jenis kalendernya, bahwa penambahan interkalasi/ periode kabisat itu penting, jika tidak kalender tidak akan lagi memenuhi fungsinya sebagai kalender, yaitu untuk memprediksi fenomena alam periodik dan peristiwa sosial secara persis, jauh sebelum2nya. Oleh karena itu, menghapus bulan kabisat adalah non-sense, penyimpangan total dan heresy/ bid’ah yang merupakan kesalahan yg sepenuhnya di pihak Muslim. Sebaliknya, orang-orang Yahudi tetap menambahkan bulan kabisat dalam kalender mereka hingga hari ini (yang memungkinkan mereka merayakan hari raya keagamaan mereka pada waktu yang tepat dalam setahun). Sedangkan umat Islam, dengan menghapuskan bulan ini, tidak lagi melaksanakan mereka pada waktu yang tepat, yang menjadi sumber dari banyak masalah bagi mereka. Memang, Ramadhan telah menjadi cobaan berat bagi sejumlah besar Muslim selama 1400 tahun hingga sekarang, dan itu menimbulkan banyak masalah kesehatan, terutama karena dehidrasi berkepanjangan ditambah dengan suhu yang ekstrim. Padahal menurut resep Tuhan yang benar, yaitu Alquran, Ramadhan seharusnya selalu jatuh pada masa paling penuh belas kasihan dalam setahun, dan ini, untuk semua penghuni bumi, dimanapun mereka berada di bumi. Tapi, konsekuensi dramatis dari pengadopsian kalender Hijriah ini tidak berhenti sampai di situ.

Sama seperti kalender hijirah menggeser bulan ramadhan, menempatkannya “memutari” semua musim, kalender tersebut juga menggeser periode haji juga. Sebagai hasilnya, sangat disayangkan atas semua kematian2 setiap tahun di kalangan umat Islam selama Haji versi Kalender Islam. Pada kenyataannya, haji yang benar menurut Alquran berlangsung di dalam periode 4 bulan dan bukan 10 hari, dan selalu terjadi pada akhir tahun, yaitu bulan-bulan ketika kondisi cuaca paling ringan di Mekkah. Jika Anda mempertimbangkan fakta bahwa haji menurut “Sunnah” jatuh selama beberapa tahun berturut-turut di tengah musim panas, dengan panas menyengat yang bisa mendekati 50°C di Mekah, dan jika Anda menambahkan fakta bahwa jutaan Muslim harus berdesakan selama 10 hari di ruang terbatas, sementara mereka sebenarnya memiliki jendela waktu 4 bulan untuk melakukannya, tidak perlu benar-benar terkejut melihat ratusan, bahkan ribuan Muslim mati setiap tahun selama Haji dalam versi Islamnya.

Wahai muslim pengikut Sunnah, sudah lihatkah, harga besar untuk tidak mengikuti hukum Allah yang benar yaitu Alquran? Ini bukan tentang memilih antara interpretasi yang ini atau itu, atau masing-masing dapat memutuskan sesuai keinginannya sendiri apa yang ingin dia ikuti. Tetapi, ini adalah pertanyaan sederhana tentang menaati resep yang adil dari Tuhan, yang hanya ada SATU DAN SATU-SATUNYA, yaitu yang telah diungkapkan dengan jelas dalam Alquran.

Alquran MENGECAM NASSI DAN BUKAN BULAN INTERKALASI!

Muslim menjustifikasi penghapusan bulan interkalasi/ kabisat, dan oleh karena itu kemudian mengadopsi kalender lunar murni, hijriah, berdasarkan 2 ayat Alquran, jadi inilah yang pertama:

The Nassi is indeed an addition to disbelief: thereby the disbelievers are led astray, for they make it lawful one year and forbid it another year in order to adjust the number of months forbidden by Allah, and make such forbidden ones lawful. The evil of their deeds is made fair-seeming pleasing to them. And Allah guides not the people who disbelieve. S9:V37

S9V37_1

“Nassi (ٱلنَّسِىٓءُ)” yang diterjemahkan oleh para pendukung Islam tradisional dengan bulan “dilupakan”, untuk menandakan bahwa bulan kabisat ke-13 adalah bulan untuk dilupakan, dalam arti “yang tidak dihitung”. Namun, asal sebenarnya dari istilah ini bukanlah bahasa Arab, melainkan Semit, Nassi sebenarnya adalah istilah Ibrani yang berarti “pangeran”, gelar yang diberikan kepada penguasa Sanhedrin, yang ditangan merekalah keputusan penambahan bulan kabisat diantara orang Yahudi. Jadi, Nassi tidak berarti bahwa ini adalah bulan yang harus dilupakan, yang sebagaimana para penerjemah Muslim dengan mudah menerjemahkannya, sampai-sampai mereka telah mengeluarkannya dari kalender mereka begitu saja, tetapi istilah ini merujuk, seperti yang ditunjukkan oleh makna Semitnya, kepada mereka kelompok yang bertanggung jawab menentukan penambahannya, yaitu adalah Bani Kinanah, jika di kalangan orang Arab Kuno. Anda akan melihat lebih jauh di bagian ini, bahwa justru di sisi inilah terdapat “tambahan kekafiran atau ketidakpercayaan” yang dikecam oleh ayat ini, yaitu tentang aturan penentuan dan penggunaan bulan kabisat ini oleh bangsa Arab Kuno daripada bulan itu sendiri.

Penerjemah Muslim menerjemahkan kata “Nassi” sebagai “bulan kabisat”, yang sepenuhnya mengubah arti dari ayat ini:

The intercalary month is indeed an addition to disbelief: thereby the disbelievers are led astray, for they make it lawful one year and forbid it another year in order to adjust the number of months forbidden by Allah, and make such forbidden ones lawful. The evil of their deeds is made fair-seeming pleasing to them. And Allah guides not the people, who disbelieve. S9:V37

Pada kenyataannya, di ayat ini sama sekali bukan “bulan kabisat” yang dikutuk sebagai “tambahan kekafiran atau ketidakpercayaan”, tetapi lebih kepada “Nassi” secara khusus. Nassi adalah bulan kabisat khusus di masyarakat Arab Kuno, dan pengaturannya dan penggunaannya sangat berbeda dari orang Yahudi terdahulu, dan orang Babilonia sebelum mereka. Memang, di saat orang Yahudi dan Babilonia menambahkan bulan kabisat mereka sesuai dengan satu aturan yang jelas dan tanpa tujuan apa pun selain dari sinkronisasi kalender mereka sebaik mungkin dengan musim, orang Arab Kuno menggunakannya untuk urusan ekonomi dan strategis. , dan di sinilah letak “peningkatan kekafiran” yang dikutuk oleh ayat ini.

“Nassi” digunakan sebagai aset militer dan ekonomi oleh suku-suku yang paling terkemuka di kalangan orang Arab Kuno, yaitu mereka yang memegang kekuatan militer dan ekonomi terbesar. Mengetahui bahwa suku-suku perkasa di antara orang-orang Arab Kuno terutama memperoleh kekayaan mereka dari penaklukan militer mereka dan perdagangan terkait Haji / Ziarah mereka, kontrol bulan2 suci oleh karena itu adalah yang paling penting bagi mereka, karena bulan suci bertepatan dengan bulan haji, dan perang dilarang di sana kecuali untuk defensif. Jadi, dengan menyatakan bulan Nassi Terkadang suci, terkadang profan/kotor, lalu kemudian menggunakannya untuk membuat ziarah bertepatan dengan periode yang paling menguntungkan dalam setahun dalam hal kondisi cuaca, yang menguntungkan bisnis mereka.

Tapi, Nassi juga merupakan aset strategis utama bagi mereka: karena jika diserang secara mendadak, mereka akan segera memasukan Nassi dengan menyatakannya suci, yang akan memaksa musuh mereka menghentikan penyerangan. Dan jika sebaliknya, mereka ingin melancarkan serangan mendadak tanpa musuh mereka siap, mereka tiba-tiba memasukkan Nassi, membuat bulan yang akan datang profan, padahal yang seharusnya suci.

Verily, the number of months with Allah is twelve months, so was it ordained by Allah on the Day when He created the heavens and the earth; of them four are Sacred. That is the right religion, so wrong not yourselves therein, and fight against the associaters collectively, as they fight against you collectively. But know that Allah is with those who are the pious. The Nassi is indeed an addition to disbelief: thereby the disbelievers are led astray, for they make it lawful one year and forbid it another year in order to adjust the number of months forbidden by Allah, and make such forbidden ones lawful. The evil of their deeds is made fair-seeming pleasing to them. And Allah guides not the people, who disbelieve. S9:V36-37

Orang Arab Kuno terutama memperoleh kekayaan mereka dari perang dan perdagangan yang terkait dengan ziarah. Karena itu, kendali atas bulan-bulan suci sangat penting bagi mereka.

Bulan2 suci Arab Kuno (dan yang tetap sama dengan Alquran) berhubungan dengan 3 bulan berturut-turut pada Dhou al-Qua’da, Dhou al-Hijjah dan Muharram, dan bulan Rajab yang terisolasi. Suku-suku paling kuat di antara orang-orang Arab Kuno menarik sebagian besar kekayaan mereka melalui penaklukan militer mereka, sehingga gencatan senjata yang diberlakukan oleh 3 bulan suci berturut-turut tampak terlalu lama bagi mereka. Dalam hal ini, mereka akan menyisipkan Nassi dengan menyatakan itu profan di tengah 3 bulan suci untuk memungkinkan diri berperang di sana, sehingga membuat profan apa yang telah disakralkan Allah.

Senada dengan itu, jika mereka merasa cuaca tidak baik untuk bulan suci yang akan datang, maka mereka akan memasukkan Nassi sebagai pengganti bulan itu dengan menyatakannya profan, agar tidak harus menunaikan haji/ziarah dalam kondisi yang kemungkinan tidak menguntungkan bagi urusan mereka, sehingga membuat profan atas apa yang telah Allah buat suci/sakral. Sebaliknya, jika kondisi cuaca bagus di akhir bulan, dan bulan yang akan datang tidak sakral, mereka menyelingi Nassi menggantikan bulan yang akan datang dengan menyatakan waktu saat ini sakral, untuk memulai Haji lebih awal, dan dan akan menodai salah satu bulan suci Allah untuk menyesuaikan jumlahnya.

Namun, fungsi bulan kabisat yang sesungguhnya bukanlah untuk mencurangi bulan suci untuk kepentingan pribadi, melainkan hanya untuk menjaga agar bulan-bulan dalam kalender tetap sinkron dengan musim. Justru penggunaan bulan kabisat yang menyimpang dan licik ini, khusus kebiasaan orang Arab Kuno, yang disebut Nassi, yang dikutuk oleh ayat ini. Nassi bukan mengacu pada bulan kabisat pada umumnya. Puncak dari semua ini adalah dengan sepenuhnya menghapuskan bulan kabisat secara total, yang menganggapnya sebagai Nassi, telah menjadi aturan selama lebih dari 1400 tahun, dengan penanggalan/kalender Hijriah. Dengan kalender ini, bulan2 suci Allah secara sistematis dinodai setiap tahun, dan karakter suci mereka tidak lagi dihormati, kecuali hanya (1 tahun) setiap 33 tahun sekali!

KALENDER SESUNGGUHNYA MENURUT QUR’AN ADALAH LUNI-SOLAR

Ayat kedua dari 2 ayat yang menjadi sandaran umat Muslim untuk membenarkan penghapusan bulan kabisat, dan oleh karena itu, adopsi kalender lunar murni Hijriah, adalah sebagai berikut:

Verily, the number of months with Allah is twelve months, so was it ordained by Allah on the Day when He created the heavens and the earth; of them four are Sacred: that is the right religion. So wrong not yourselves therein, and fight against the associaters collectively, as they fight against you collectively. But know that Allah is with those who are the pious. S9:V36

Menurut versi resmi Islam, setelah wahyu ayat ini di tahun 9 Hijriah, Nabi Muhammad sendiri menafsirkannya sebagai perintah untuk menghapuskan bulan kabisat.

Penciptaan kalender Islam

Berbeda dengan praktik Yahudi, Alquran melarang bulan kabisat.
Bulan kabisat dihapus pada akhir periode Madinah, pada akhir tahun 9 dari kalender Islam, saat proklamasi publik selama haji, dan disebutkan sekali dalam Alquran:

“Jumlah bulan adalah dua belas di hadapan Tuhan, seperti yang telah ditentukan Tuhan, sejak hari Dia menciptakan langit dan bumi. Empat bulan ini adalah suci; itu adalah agama yang benar. “

Tahun 1 kalender ini dimulai pada hari pertama Hijrah, 1 Muharram (tanggal 15 atau 16 Juli 622 M, menurut penulis teologis). Periode pertama disebut “astronomis”, yang kedua “sipil”. Kalender ini diadopsi sepuluh tahun setelah peristiwa ini.
https://fr.wikipedia.org/wiki/Calendrier_h%C3%A9girien

Jika penafsiran ini benar-benar penafsiran dari Nabi Muhammad, maka secara logis dia akan mengubah nama bulan2 Hijriah, setidaknya yang berhubungan dengan musim; baik Rabii al-awal dan Rabii al-thani (Musim semi pertama dan Musim semi kedua), Joumada-Al-Awal dan Joumada-Al-thâniyya (bulan pertama kekeringan dan bulan kedua kekeringan), dan Ramadhan (hujan musim gugur yang cerah atau panas yang menyengat). Memang, kalender Hijriah menjadikan bulan-bulan ini dapat jatuh kapan saja sepanjang tahun, membuat nama mereka tidak lagi memiliki arti dan tidak masuk akal/ non-sense. Tetapi, hal itu tampaknya tidak mengganggu semua Muslim lebih jauh selama lebih dari 1400 tahun hingga sekarang! Lebih serius lagi, itu akan menyiratkan bahwa Allah menggunakan istilah yang tidak tepat dalam Alquran ketika berbicara tentang bulan Ramadhan, yang didefinisikan sendiri seperti namanya sebagai bulan yang terjadi di awal musim gugur, karena kalender Hijriah menggesernya ke semua musim, bergantung tahunnya. Namun, kepalsuan tidak bisa menembus Firman Allah, yaitu Alquran, dan ini, baik di masa depan, maupun di masa lalu. Bagi orang-orang beriman sejati, yang paling mementingkan Al-Qur’an, dan oleh karena itu kepada firman Allah, satu bukti itu saja sudah cukup untuk secara definitif “menganulir” kalender lunar Hijriah

The false cannot penetrate it (Qur’an), neither in the future nor in the past  ; a revelation from the Wisest, Praiseworthy. S41: V42 

Faktanya, tidak ada perintah Tuhan dalam ayat-ayat tadi untuk menghapus bulan kabisat ketiga belas, sebagaimana yang diinterpretasikan kebanyakan Muslim. Ayat itu hanya memberi tahu kita tentang realitas astronomi yang mengikat seluruh umat manusia dan yang tidak dapat kita kendalikan. Realitas astronomi ini, di satu sisi, dihasilkan dari durasi satu tahun tropis, yaitu 365,2422 hari, di sisi lain, dari durasi rata-rata satu bulan lunar; yaitu 29,53 hari. Data ini berarti bahwa satu tahun tropis memiliki rata-rata 12.36827 lunasi/ siklus bulan. Oleh karena itu, (t/n: tidak ada yang perlu dihapuskan karena ) selama satu tahun tropis, tidak akan pernah ada 11 atau 13 bulan/month, tetapi selalu 12 bulan/month secara penuh (12 lunasi utuh, karena 1 bulan/month = 1 lunasi).. Oleh karena, tujuan penggunaan bulan kabisat bukanlah untuk menambah jumlah bulan dalam satu tahun dari 12 menjadi 13, tetapi hanya untuk menjamin sinkronisasi bulan-bulan lunar dengan musim, dengan mengkompensasi pergeseran yang dihasilkan akumulasi dari pecahan 2 residu yang diakibatkan pengukuran waktu yang membulatkan hari dan bulan (t/n: siklus matahari, yaitu 365 hari)

Fenomena astronomi yang disajikan di atas bersifat independen, unit yang mereka definisikan tidak sepadan: rasionya bukan bilangan bulat.

Saat ini, satu tahun matahari sama dengan 365.242201 hari; durasi rata-rata satu bulan lunar adalah 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik (29,53 hari); satu tahun matahari memiliki 12,36827 lunasi.

Menghadapi kesulitan ini, orang telah memilih untuk membiarkan kalender menjadi tidak sinkron (pilihan yang diambil kalender Hijriah) atau mengatur ulang secara empiris pada fenomena langit (kalender luni-solar dan matahari), meskipun itu berarti kehilangan kesinambungan hari. Kami mengatakan bahwa kalender lebih bersifat aritmatika atau lebih tepatnya astronomi.
https://fr.wikipedia.org/wiki/Calendrier

Satu lunasi/siklus bulan berhubungan dengan waktu yang diperlukan bulan untuk menemukan dirinya dalam posisi yang sama dalam hubungannya dengan matahari. Setahun menurut Allah terdiri dari 12 completed lunation/ 12 lunasi utuh. Inilah yang persisnya dikatakan ayat S9:V36

Kalender lunar murni yaitu Hijriah samasekali tidak mungkin anjuran yang ditetapkan oleh Tuhan, karena Tuhan dengan jelas mengatakan dalam Al-Qur’an bahwa perhitungan waktu diatur oleh matahari dan bulan:

The Cleaver of the dawn, He made the night a phase of rest; the sun and the moon to measure time. This is the disposition of the Mighty, the All-Knowing. S6:V96

It is He who made the sun a glow and the moon a light, and He has determined phases for it so that you may know the number of years and the calculation (of time). Allah has not created all this except with a purpose. He details the signs unto knowledgeable people. S10:V5

Bulan dan matahari adalah “jam dinding” alam semesta, dalam arti harfiah kata itu. Manusia tidak tahu bagaimana membuat jam abadi. Tuhan telah melakukan untuk kita melalui matahari dan bulan, yang Dia tetapkan untuk berrevolusi terus-menerus, sehingga memungkinkan kita untuk menghitung waktu dengan sangat tepat, tanpa pernah menyimpang.

And for you, He subjected the sun and the moon to a perpetual revolution. And He subjected to you the night and the day. S14:V33

Bukan tanpa alasan bahwa matahari dan bulan sering dikaitkan dengan jam, tetapi karena mereka memang begitu, seperti yang dikatakan Alquran, mereka adalah “jam” yang telah Tuhan tetapkan untuk memungkinkan kita menghitung waktu.

Sama seperti jam dengan satu jarum, tidak cocok untuk menampilkan waktu dengan benar, kalender yang hanya melibatkan matahari atau bulan saja tidak memungkinkan events/peristiwa2 dijadwalkan dengan cukup presisi. Memang, kalender lunar murni, seperti kalender Hijriah, kehilangan kaitannya dengan musim seiring tahun-tahun berlalu, sementara kalender matahari murni, seperti kalender Gregorian, didasarkan pada kalkulasi saja dan tidak pada fenomena selestial/benda-benda langit. Sementara dengan kalender yang menggabungkan matahari dan bulan pada saat yang sama, tersinkronisasi dengan musim-musim, dan juga didasarkan fenomena selestial, yang memungkinkan penanggalan peristiwa-peristiwa kosmik, sipil dan religius, menggunakan hanya satu kalender yang sama. Matahari dalam hal ini ekuivalen dengan jarum pendek dari jam, sementar bulan adalah jarum panjangnya, yang memungkinkan untuk menjadwalkan peristiwa apapun yang berkaitan kehidupan manusia dengan tingkat akurasi tinggi (t/n: deviasi selalu tidak lebih dari satu hari)

Mereka menanyakan padamu tentang new moon/bulan baru – Katakan “itu digunakan oleh manusia untuk menghitung waktu, dan juga untuk Haji. [..] S2: V189

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan [bulan baru, yang menandai awal] bulan, maka berpuasalah!. [..] S2: V185

Orbit dan kecepatan pergerakan matahari dan bulan telah ditentukan dengan sangat detil oleh Allah, sama seperti roda gigi penggerak jam yang ditempatkan dengan presisi satu sama lain, dan berputar dengan kecepatan yang diperhitungkan dengan terampil.

The sun and the moon [evolve] according to a [meticulous] calculation . S55: V5

Ayat berikutnya mengatakan bahwa matahari tidak dapat mengejar bulan. Tetapi apakah artinya itu, mengingat matahari dan bulan sama-sama memiliki orbitnya sendiri? Seolah-olah Anda memiliki 2 pelari yang masing-masing berlari di sirkuitnya sendiri, bagaimana bisa yang satu dapat mengejar yang lainnya?

Neither the sun shall catch up with the moon, nor does the night outstrip the day. They all float, each in an orbit. S36:V40

Penjelasan ayat ini menjadi terang ketika kita menarik paralel dengan 2 jarum jam: Jika jarum panjang mulai bergerak lebih cepat, jarum pendek akan bergerak lebih cepat secara proporsional, dan jika jarum pendek yang melakukannya, maka yang panjang akan mengikuti. Tak satu pun dari keduanya dapat menambah kecepatan hingga “menyusul” (kecepatan) yang lain, karena alasan sederhana bahwa pergerakan kedua jarum tersebut sebenarnya terkait. Hubungan yang sama terjadi antara matahari dan bulan.

By the sun and its brightness! And by the moon as it follows it! S91:V1-2

Ayat ini menegaskan kepada kita secara pasti bahwa bulanlah yang mengikuti matahari dan bukan sebaliknya, kita menemukan bahwa mataharilah yang menentukan musim, dan bulan harus mengikuti mereka. Memang, matahari mengatur (musim dan tahun) sementara bulan lunar harus menyesuaikan dengan siklusnya melalui bulan kabisat, sedangkan bulan tidak mengatur siklus matahari dengan cara apapun.

Oleh karena itu, cara sebenarnya untuk mengukur waktu menurut Alquran tidak dilakukan melalui kalender matahari murni Masehi, bukan juga melalui kalender lunar murni Hijriah, tetapi dilakukan seperti yang Allah ajarkan kepada kita dalam Alquran, melalui kalender Luni-solar. Tahun sesuai dengan tahun tropis, dengan kata lain pergantian musim secara lengkap, dan bulan ditentukan oleh siklus bulan dan tetap sinkron dengan musim-musim melalui bulan kabisat.

Baik matahari dan bulan diperlukan untuk menghitung waktu dengan benar, oleh karena itu kalender lunisolar merupakan kebutuhan mutlak. Tidak seperti Muslim, orang Yahudi telah mempertahankan bulan kabisat dalam kalender lunisolar mereka hingga hari ini, yang memungkinkan mereka untuk merayakan festival mereka pada waktu yang tepat dalam setahun.

Ketika Tuhan berbicara tentang bulan Ramadhan dalam Alquran, Dia tidak berbicara tentang bulan Ramadhan dari kalender lunar murni Hirjiah, atau bulan September yang setara dengan bulan Ramadhan dari kalender Masehi. Bulan Ramadhan yang sebenarnya menurut Alquran adalah bulan dalam penanggalan lunisolar yang terjadi pada akhir musim panas dan awal musim gugur, membenarkan 2 definisi yang sesuai dengan namanya: “panas terik” dan “hujan halus musim gugur”. Dengan menggabungkan siklus matahari, siklus bulan, dan penambahan bulan kabisat, kita dapat menghitung tahun dengan benar dan memecahnya menjadi bulan-bulan. Dengan menghormati siklus metonik yang diajarkan Tuhan kepada seluruh umat manusia, sangat mudah untuk menghitung tahun dan bulan dalam kalender lunisolar, cukup untuk menghitung 1 bulan untuk setiap terjadi new moon/bulan baru, dan menambahkan 7 bulan kabisat dalam periode 19 tahun . Kita menambahkan bulan kabisat segera setelah bulan di mana penundaan siklus bulan dibandingkan dengan matahari melebihi 29 hari, yang berarti menambahkannya setiap setelah 32 bulan

Berikut adalah aturan yang harus diikuti saat menentukan bulan Ramadhan dengan asumsi tahun dimulai dengan bulan kabisat.

Berikut adalah kalender luni-solar yang dihitung dari periode sebelum berlalunya kalender Hijriah hingga saat ini:

Yang berwarna hijau adalah bulan Ramadan menurut kalender lunisolar yang sesuai Qur’an, yang berwarna kuning adalah bulan2 kabisat untuk menjaga bulan-bulan tetap sinkron dengan musim.

Mengingat bahwa bulan Ramadhan sebagaimana ditentukan oleh Alquran adalah bulan yang tetap berdasarkan kalender lunisolar, dan oleh karena itu berkorespondensi dengan satu periode dalam satu tahun kalender, maka berlawanan dengan yang telah saya ceritakan di artikel pertama saya, bulan Ramadhan yang sesungguhnya datang bersamaan untuk semua penghuni bumi, baik mereka yang tinggal di belahan bumi utara maupun selatan.

MANUSKRIP QUMRAN MENGKONFIRMASI KALENDER LUNI-SOLAR

Penemuan gulungan manuskrip di dekat reruntuhan Qumran berlangsung dari tahun 1947 hingga 1956 di 11 gua yang terletak di dekatnya, 870 manuskrip telah direkonstruksi dari puluhan ribu fragmen. Sebagian besar ditulis di perkamen dan seratus di atas papirus. Tak kurang dari 15% ditulis dalam bahasa Aram, bahasa umum di negara itu sejak pendudukan Persia, tetapi sebagian besar adalah dalam bahasa Ibrani, bahasa sastra dan doktrinal yang dikatakan “suci”, bahasa Taurat asli disusun.

Gulungan Qumran atau Gulungan Laut Mati, dianggap sebagai penemuan arkeologi terbesar abad ini, karena itu adalah teks Ibrani Kuno tertua yang ditemukan sejauh ini dari Perjanjian Lama, berisi kutipan dari Kejadian di mana dikatakan dengan jelas bahwa setahun menurut Tuhan sesuai dengan tahun tropis (sekitar 365 hari) dan bukan dengan tahun lunar (354 hari). Ini menegaskan sekali lagi kepada kita bahwa kalender Hijriah tidak pernah ditentukan oleh Nabi Muhammad atau oleh Alquran, tetapi kalender yang benar menurut Allah adalah kalender luni-solar yang tahun-tahunnya mengikuti siklus matahari dan bulan-bulannya mengikuti siklus bulan/moon.

In the six hundred and first year of Noah’s life, on the seventeenth day of the second month, a Sunday, the earth was dry. That day Noah came out of the ark, just at the end of a year, after three hundred and sixty-four days, a Sunday … to the day, after a full year

Source: Dead sea scrolls, REF 4Q252 Frag. 1 Col. 2

11 Gua Qumran yang terletak di gurun West Bank

NABI MUHAMMAD TIDAK PERNAH MENETAPKAN KALENDER HIJRIAH

Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Islamologist Wissem-Eddine Ishak dan hasilnya diterbitkan pada tahun 2018 dalam sebuah karya berjudul “Book of Innocence of the Intercalary Month” (كتاب براءة النسيء), menyajikan beberapa bukti sejarah yang menunjukkan secara formal bahwa Nabi Muhammad tidak pernah menghapus interkalasi/ bulan kabisat. Salah satu bukti terkuat didasarkan pada tanggal Pertempuran Badar dan Pertempuran Yarmouk.

Perang Badar

Perang Badar , ilustrasi Siyar-I Nabi , c. 1595. Imperial Topkapi Museum di Istanbul.

Sumber2 Muslim mengklaim bahwa Pertempuran Badar dimulai sekitar 17 Ramadhan tahun ke 2 Hijriah, sekitar 7 tahun sebelum dugaan penghapusan interkalasi. Sejarawan telah memperkirakan bahwa tanggal ini sesuai dengan 13 Maret 624 M berdasarkan kalender Julian, tetapi itu bukan tanggal yang benar karena setidaknya tiga alasan:

  1. Yang pertama adalah sebelum penghapusan interkalasi, maka penanggalan Arab Kuno masih mengikuti musim, sehingga bulan Ramadhan selalu terjadi disana pada awal musim gugur, yang membawa kita pada bulan September / Oktober bukan bulan Maret.
  2. Kedua, taksiran korespondensi tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah menurut kalender Julian dibuat tanpa memperhitungkan bulan kabisat yang masih berlaku sekurang-kurangnya sampai tahun ke-9 Hijriah, yakni setidaknya selama 7 tahun setelah pertempuran Badar.
  3. Alasan ketiga adalah bahwa perkiraan ini tidak memperhitungkan penyesuaian yang terjadi tanggal 15 Oktober 1582 dari kalender Julian ke kalender Gregorian, dan rinciannya telah saya sebutkan sebelumnya dalam artikel ini.

Memperhatikan kendala di atas, dan menggunakan database yang tersedia di NASA pada siklus bulan sejak tahun 2000 SM. AD, Wissem-Eddine Ishak memperkirakan bahwa tanggal 17 Ramadhan 2 Hijriah lebih berkorespondensi dengan tanggal 16 Oktober tahun 623 M

Halaman Wikipedia dalam bahasa Inggris yang berkaitan dengan pertempuran ini mempertahankan tanggal lama 13 Maret 624, sedangkan dalam bahasa Prancis mengambil tanggal baru yang telah di-rekalkulasi yaitu 16 Oktober 623 M.

Perbedaan tanggal ini menggambarkan ketidakjelasan yang ada di sekitar “periode sebenarnya dimana kalender orang Arab Kuno dengan bulan kabisat digantikan oleh kalender Hijriah tanpa bulan kabisat”. Karena Nabi Muhammad tidak pernah benar-benar menetapkan penghapusan bulan kabisat, dan oleh karena itu, tidak pernah menetapkan kalender Hijriah, oleh karena itu para sejarawan Muslim harus mencari akal, mengklaim bahwa pergeseran diperkirakan akan terjadi di masa hidupnya pada 9 H, tetapi hanya “Diformalkan”, dalam agama Islam, pada masa pemerintahan Khalifah Umar. Istilah “made official/ diformalkan” tidak berarti apa-apa dan hanya membingungkan kita. Karena, kemungkinannya entah pergeseran/perubahan kalender ini benar-benar terjadi selama masa hidup Nabi, dan dalam hal ini, mestinya diverifikasi dengan tanggal kalender Hijriah yang sesuai dengan periode ini, yang telah kita lihat bersama bahwa: tidak seperti itu. Entah perubahan ini tidak pernah terjadi selama masa hidup Nabi, dalam hal ini, “peresmian” kalender Hijriah setelah kematiannya tidak melegitimasinya dengan cara apapun, karena ini berarti bahwa Nabi sendiri tidak pernah menetapkannya.

Dengan tanggal baru Pertempuran Badar yang dihitung ulang menurut data NASA, maka bulan Ramadhan di tahun kedua Hijriah telah dimulai sekitar 30 September 623 M, yang menegaskan kepada kita bahwa kalender Arab Kuno masih ada/berlaku, mengingat bulan Ramadhan dimulai di sana tepatnya sekitar waktu ini. Oleh karena itu, hal ini memungkinkan kita untuk mengatakan secara resmi bahwa bulan kabisat belum dihapuskan pada tanggal pertempuran Badar, yang dikatakan tahun ke-2 Setelah hijrah.

Perang Yarmuk

ilustrasi Pertempuran Yarmouk oleh ilustrator Catalan anonim (c. 1310–1325).

Pertempuran Yarmouk adalah salah satu pertempuran besar awal Islam dan menandai gelombang besar penaklukan oleh Muslim pertama. Itu dilakukan pada awal pemerintahan Khalifah ke-2, Umar melawan tentara Kekaisaran Romawi Timur, dan mengakhiri kekuasaan Bizantium di Syria. Keunikan dari pertempuran ini adalah tanggalnya dilaporkan oleh sumber-sumber Muslim dan juga sumber-sumber Bizantium (Syriac). Para sejarawan mencatat tanggal mulainya (perang tsb) 5 Rajab pada tahun 15 H, kira-kira 13 tahun setelah Pertempuran Badar dan 6 tahun setelah tanggal yang diperkirakan penghapusan bulan kabisat dari kalender. Sumber-sumber Bizantium-Siria mencatat tanggal 15 Agustus 636 M dari kalender Julian. Artinya, bulan Ramadhan pada tahun 15 H akan dimulai sekitar tanggal 9 Oktober 636 M (Jika kita mengasumsikan Rajab dan Sya’ban masing-masing 30 hari, ada sekitar 55 hari antara 5 Rajab 15 H dan 1 Ramadan 15H. Jika kita menambahkan 55 hari itu pada 15 Agustus 636, kita mendapatkan 9 Oktober 636)

Lembah Yarmouk. “5 Rajab 15 H, pertempuran besar di Yarmuk” Penulis artikel ini terdiri dari sejarawan independen yang berkomitmen pada pembaruan sejarah, dan yang tertarik pada sejumlah besar periode sejarah, dan terutama mengikuti studi mendalam tentang dunia Muslim.

Jelas terlihat bahwa hingga tahun ke-15 Hijriah, atau 6 tahun setelah adanya dugaan penghapusan interkalasi, kalender yang diikuti umat Islam selalu lunisolar, karena bulan Ramadhan masih dimulai di sana pada awal musim gugur. Jika, seperti yang diklaim oleh umat Islam, bahwa Nabi Muhammad sendiri telah menghapuskan interkalasi pada tahun ke 9 Hijriah, maka bulan Ramadhan tahun ke 15 H akan dimulai kira-kira pada awal Agustus tahun 636 dari kalender Julian. , dan bukan sekitar 9 Oktober seperti yang terbukti terjadi. Memang, 6 tahun memisahkan tahun 9 dan 15 Hegira, mengetahui bahwa kalender lunar mundur 11 hari per tahun dibandingkan dengan tahun matahari, kalender Hijriah maka dari itu mundur sekitar 66 hari dalam 6 tahun dibandingkan dengan luni-solar, kalender Arab Kuno. Jadi jika memang sudah 6 tahun sejak kalender Hijriah diberlakukan, maka tanggal 1 Ramadhan tahun 15 H tidak akan jatuh pada 9 Oktober 636, melainkan 66 hari sebelumnya, atau kira-kira pada 4 Agustus 636

Hasil ini menunjukkan tidak dapat disangkal lagi bahwa interkalasi tidak pernah dihapuskan selama masa hidup Nabi Muhammad, maka dari itu (t/n: pilihannya tinggal) di masa Khalifah ke-2, Umar, tetapi dalam kasus inipun pada tanggal yang lebih lambat dari tanggal pertempuran Yarmouk, (t/n: sehingga “menganulir” opsi ini juga. Dengan demikian, penghapusan bulan kabisat terjadi) oleh salah satu dari para khalifah yang menggantikannya. Semua bukti menunjukkan bahwa interkalasi dihapuskan pada masa pemerintahan Muawiyah, khalifah pertama dari dinasti Umayyah, mungkin agar kerajaan Islam yang masih muda memiliki kalendernya sendiri seperti yang terjadi pada kerajaan Persia dan Bizantium.

Seperti yang telah saya ilustrasikan secara rinci dalam pesan peringatan pertama saya dari Tuhan kepada umat Islam, (t/n: atau terjemahannya: https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-untuk-muslim) kebangkitan Muawiyah ke tampuk kekuasaan merupakan asal mula pergeseran Islam yang benar berdasarkan Alquran seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, menuju Islam sektarian dan sesat berdasarkan apa yang disebut Sunnah Nabi. Muawiyah adalah khalifah pertama yang mengotorisasi penggunaan hadits, yang sampai saat itu dilarang baik selama masa hidup Nabi Muhammad dan selama masa pemerintahan 4 khalifah bijaksana. Muayiwah mengesahkan hadits tidak untuk tujuan terpuji dalam menyoroti ajaran nabi, melainkan untuk menggunakannya sebagai senjata politik, memerintahkan pemalsuan massal mereka oleh pasukan pemalsu, yang paling terkenal di antaranya adalah Abu Hurairah yang terkenal. Muayiwah menggunakan hadits tidak hanya untuk menegaskan kekuatan politiknya, tetapi juga untuk menetralisir para pengkritiknya dan menempa menurut keinginannya sendiri: Islam baru, yang ia ubah menjadi agama negara untuk kerajaan Islam barunya. Allah mencela di dalam Alquran orang-orang yang, seperti orang Yahudi, memutarbalikkan makna ayat-ayat-Nya dan mengeluarkannya dari konteksnya, setelah dengan jelas mengenalinya, Muayiwah, tidak diragukan lagi adalah salah satu dari mereka. Memang, semua pilihannya tidak pernah dimotivasi oleh keinginan untuk lebih menaati Tuhan dan Nabi, tetapi dengan satu tujuan untuk melayani ambisi fir’aunnya sendiri, yaitu untuk menjadi setara dengan para kaisar Romawi.

Satu bagian artikel ini nanti dikhususkan untuk karakter ini, karena pengaruhnya telah signifikan dalam konstruksi Islam palsu berdasarkan sunnah yang kita kenal sekarang.

Umayyad Caliph Walid 1st

Dalam doa Ali Zaynn Al-Abidin yang dijuluki Assajjâd (sujud), dan cucu dari khalifah bijaksana ke-4, kita dapat membaca berikut ini dalam doa ke-45 dari Canticles of Sajjâd (الصحيفة السجدية), berjudul “by doing his farewell with the month of Ramadhan“:

O our God, We are the guardians of this month with which You have honored us, and by Your Grace You have guided us to it, while the wretches have ignored its time, and because of their misery, have proscribed its blessings (to themselves and to those who do not follow it (t/n:ramadhan) in its due time), You are the One to whom we owe to know it, and You have guided us to its good practice, and by Your grace we have fasted and observed it, but with lacks and negligence; And from much, we have accomplished so little!

اللهم إنا اهل هذا الشهر الذي شرفتنا به ، و وفقتنا بمنك له حين جهل الاشقياء وقته ، و حرموا لشقائهم فضله .أنت ولي ما اثرتنا به من معرفته ، و هديتنا له من سنته ، و قد تولينا بتوفيقك صيامه و قيامه علي تقصير ، و ادينا فيه قليلا من كثير 

Dalam doa ini, Imam Ali Zayn Al-Abidin, satu-satunya yang selamat dari anak-anak Hussein Ibn Ali setelah Pertempuran Karbala, menyalahkan orang-orang jahat yang mengabaikan tanggal sebenarnya bulan Ramadhan. Orang-orang “celaka” yang disinggung Assajjad ini, menunjuk kepada Khalifah Umayyah yang menetapkan kalender Hijriah, ketika mereka tahu betul bahwa itu tidak pernah ditentukan baik oleh Alquran maupun oleh Nabi Muhammad.

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata, “Orang-orang inilah yang telah berbohong terhadap Tuhan mereka.” Laknat Allah untuk orang2 yang zalim S11: V18

KESIMPULAN

Melalui bagian pertama ini, kita dapat melihat secara konkret semua penyimpangan yang terkait dengan penerapan kalender Hijriah, serta kezaliman serius yang ditimbulkannya. Kita juga telah melihat bahwa 2 ayat, S9:V36 dan S9:V37, yang menjadi sandaran umat Islam untuk membenarkan bagian kalender Hijriah, sama sekali tidak mengatakan bahwa bulan kabisat harus dihapuskan atau bahwa tahun menurut Allah adalah tahun kalender lunar murni. Sebaliknya, kita telah melihat bahwa pengukuran waktu menurut ketentuan Allah didasarkan pada matahari dan bulan, dengan kata lain pada kalender luni-solar, maka bulan kabisat ketiga belas mutlak diperlukan. Akhirnya, bukti resmi terakhir yang didasarkan pada tanggal-tanggal pertempuran Badr dan Yarmouk dengan sendirinya cukup untuk menutup perdebatan. Sebab, tidak dapat disangkal bahwa penanggalan Hijriah tidak pernah ditetapkan selama masa hidup Nabi sebagaimana dikatakan oleh sunnah, karena kita telah melihat jelas bahwa bulan kabisat itu ternyata masih berlaku pada awal perang Yarmouk (5 Rajab 15 H), yaitu lebih dari 4 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad.

Semua ini secara serius mempertanyakan dasar-dasar dari apa yang Muslim sebut sebagai sunnah nabi, tetapi juga mempertanyakan legitimasi peran yang selama ini ditempati oleh para doktor2 agama mereka. Bagaimana sunnah bisa begitu salah, dan bagaimana selama 1400 tahun, semua dokter Islam bisa melewatkan kesalahan besar seperti itu? Oleh karena itu, penemuan ketidaksesuaian kalender Hijriah dengan Alquran ini mirip dengan gelombang kejut yang nyata bagi seluruh dunia Muslim, yang benar-benar mempertanyakan baik keabsahan sunnah secara keseluruhan, tetapi juga posisi otoritas2 yang ditempati oleh para doktor2 agama.

Allah meminta kita untuk tidak mengadakan sekutu atas-Nya, dengan kata lain untuk tidak mengikuti petunjuk doktor2 agama dengan harapan mereka akan membimbing kita menggantikan-Nya, melainkan untuk mengikuti petunjuk langsung-Nya. Dan di sini saya tidak hanya berbicara tentang mereka yang “mendarah daging” dalam mengambil bimbingan mereka, yang mengikuti mereka secara fisik & mengikuti setiap perkataan mereka, tetapi juga tentang semua orang yang mengikuti tulisan dan interpretasi2 mereka. Memang, mengikuti orang-perorangan sama persis dengan hanya mengikuti tulisan mereka, karena itu berarti mengambil interpretasi mereka tanpa menggunakan refleksi sendiri. Allah memerintahkan kita untuk menggunakan reason/ akal kita sendiri, bernalar secara langsung pada teks Alquran, dan mengikuti apa yang Dia membuat kita mengerti secara langsung dari Qur’an, dan tidak mengikuti saja apa yang dimengerti oleh orang lain. Allah juga meminta kita untuk tidak secara membabi buta mengikuti kepercayaan orang tua/ nenek moyang kita, apapun itu, tetapi untuk secara imperatif menyerahkan mereka dibawah critical senses kita sendiri dan pada bukti nyata, dan untuk mengkonfrontasikan sendiri mereka, dengan apa yang Tuhan katakan. yang telah diturunkan, yaitu Alquran.

When it is said to them “Follow what Allah has sent down” they say: “Nay! We shall follow what we found our fathers following.” What! Even though their fathers did not understand anything nor were they well-guided? S2:V170

PRAKTEK RAMADAN SESUNGGUHNYA

HERO_GardeningAutumn19

Kita sekarang tahu bahwa periode Ramadhan sesungguhnya berdasarkan Qur’an, yaitu awal musim gugur, artinya saat2 paling kondusif untuk berpuasa. Karena itu, mari fokus pada praktiknya menurut preskripsi Tuhan di Qur’an. Anda akan melihat bahwa praktik Islam tradisional tentang berpuasa di bulan Ramadhan, tidak benar-benar sesuai dengan apa yang sebenarnya ditentukan dalam Alquran, tetapi mengambil bentuk yang paling ekstrim, yang membawa semua hal yang kurang menguntungkan dan sulit diadaptasikan bagi kebanyakan orang. Ini karena Muslim mengandalkan Sunnah untuk menafsirkan ayat-ayat Alquran, yang sepenuhnya menyimpangkan artinya. Sementara Alquran by design: jernih seperti air, fully detailed/ terinci penuh, dan lengkap, oleh karena itu tidak memerlukan apa yang disebut sunnah untuk lebih memahami atau melengkapinya.

A Book whereof the verses are fully detailed and clearly exposed, an Arabic Quran for people who know. S41:V3

Secara umum, untuk mendekati Alquran dengan cara yang benar, tidak ada yang mesti ditambahkan atau dihapus dari apa yang terkandung di dalamnya, Anda harus sangat memperhatikan kehalusan sekecil apa pun dalam istilah, konjungsi, variasi, dan pergantian frasanya, dan akhirnya, kita harus menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada yang luput/terlupa, bahkan detail terkecil sekalipun. Apa yang secara eksplisit diekspresikan di Qur’an, ada dengan sengaja, dan apa yang tidak diungkapkan, juga seperti itu. Sesungguhnya, apa-apa yang tidak dikatakan disana adalah sama pentingnya dengan apa yang secara eksplisit dikatakan disana, dan samasekali bukan berarti bahwa Tuhan lupa (t/n: apalagi diartikan bahwa kita harus mencarinya dari sumber2 kontradiktif diluar Qur’an!) . Muslim mengatakan mereka mengikuti Sunnah Nabi karena menurut mereka, itulah rincian yang tidak disediakan Alquran, dan berurusan dengan subjek yang menurut mereka tidak dibahas dalam Alquran. Nah, di sinilah persisnya letak kesalahan mereka, karena Alquran memuat setiap sesuatu dan segalanya yang diperlukan, dan tidak ada yang dihilangkan darinya. Tapi, hanya mereka yang berada di bawah bimbingan Tuhan yang mengetahui dan meyakini ini.

Kami tidak meluputkan apa pun di dalam Kitab ini. S6: V38

Adapun bagi yang lainnya, Tuhan mendirikan tabir yang tidak bisa ditembus antara mereka dan Alquran, mencegah mereka memahaminya dengan benar. Bagi Muslim, tabir ini mengambil bentuk apa yang mereka (salah sebut) sebagai Sunnah Nabi.

Who is more unjust than the one who has been reminded of the verses of his Lord but who turns away from them, forgetting what his two hands have done? We have placed veils over their hearts, so that they do not understand (the Quran), and a deafness over their ears. Even if you call them to the right path, they will never be able to accept guidance. S18:V57

Ketika sebagian besar Muslim diundang kepada Tuhan sendiri dan hanya kepada Al-quran, kebanyakan dari mereka balik badan, berpaling dengan rasa jijik, dan tetap berpegang teguh pada sunnah pujaan mereka, dan pada berhala2 yang mereka hargai lebih dari apapun, yaitu Nabi Muhammad, sahabat2nya, dan doktor2 agama mereka.

We have put veils over their hearts, so that they do not understand (the Quran): and into their ears, deafness. And when, through the Quran, you mention Your Lord alone, they turn their backs, repulsed. S17:V46

Ini adalah sekutu-sekutu atau berhala2 Muslim, ini adalah orang-orang yang mereka dengarkan dan ikuti menggantikan Allah.

Karena, apa yang dicari oleh orang-orang yang imannya palsu di kalangan Muslim bukanlah Tuhan dan kebenaran, tetapi hanya untuk melanggengkan kepercayaan nenek moyang mereka dan untuk memperkuat hubungan diantara mereka, berusaha untuk mempertahankan diri dengan segala cara di komunitas mereka.

Dan Ibrahim berkata: ” Sesungguhnya, kamu telah mengadopsi berhala-berhala ini daripada Allah untuk mempererat ikatan diantara kamu semua dan kehidupan dunia ini , tetapi pada Hari Kebangkitan, kamu akan saling memungkiri, dan mengutuk satu sama lain, dan tempat kediamanmu adalah Api, dan kamu tidak akan memiliki penolong. “S29: V25

KAPAN BULAN RAMADAN DIMULAI?

The month of Ramadan in which was sent down the Quran as a guide for the people, also clear evidence for guidance and discernment. So whoever of you witness the month, shall fast it. And whosoever sick or journeying, for him the like number of other days. Allah intends for you ease, and intends not for you hardship; so you shall complete the count and shall magnify Allah for His having guided you, and haply you may give thanks.   S2:V185

S2V185_1

Dalam kalender lunisolar, bulan/month dimulai dengan new moon/bulan baru. Jadi “untuk menyaksikan bulan”, bagi orang Arab Kuno, adalah instruksi yang sangat jelas, yang sederhananya berarti: “mengamati atau menyaksikan bulan baru, yang menandai awal bulan/month”. Dalam kasus ayat ini, lebih tepatnya adalah pertanyaan tentang menyaksikan awal bulan Ramadhan, yang juga diketahui oleh orang Arab Kuno dengan baik, karena itu adalah bulan yang telah menjadi bagian dari kalender mereka selama berabad-abad.

Allah tidak menentukan bagaimana seseorang harus “menyaksikan bulan”, yang mengimplikasikan bahwa hal ini dapat dilakukan dengan cara apa pun: dengan mengamati bulan baru secara langsung atau dengan cara lain. Sudah dari zaman Romawi, artinya jauh sebelum Islam, orang tidak bersenang-senang mengamati bulan sendiri. Memang, pengamatannya adalah tanggung jawab pejabat negara, yang setelah mereka mengamatinya, mengumumkannya kepada seluruh penduduk pada hari Calends. Sekarang bahkan lebih mudah lagi, siapa pun dapat melihat situs web yang sesuai lokasinya sendiri untuk mendapatkan tanggal pasti, dari bertahun-tahun sebelumnya, tanggal semua bulan baru, hingga jam dan menit, berdasarkan kalkulasi astronomi yang sangat tepat yang dilakukan oleh NASA. Pada kenyataannya, tidak peduli bagaimana Anda “menyaksikan bulan ini”, yang terpenting di atas segalanya adalah keandalan informasi. Jadi, Anda dapat melakukannya dengan sangat baik cukup dengan mempercayai kesaksian seseorang yang Anda percayai yang telah mencari tahu tanggal ini untuk Anda, jika Anda kurang mengerti dengan teknologi baru atau jika Anda tidak memiliki akses langsung ke sana.

Sangat logis bahwa Tuhan tidak memaksakan kepada kita sarana khusus untuk “bersaksi tentang bulan ini”. Ini bukanlah Tuhan lupa atau kurangnya ketelitian, karena Alquran ditujukan kepada semua masyarakat dan sepanjang waktu, dan ada banyak cara berbeda untuk mengamati awal bulan menurut masing-masing, tetapi juga menurut preferensi individu. Tetapi, karena “sunnah nabi” mereka, umat Islam tetap membeku pada zaman yang berkaitan dengan nabi, menciptakan aturan2 palsu yang tidak pernah diatur oleh Allah, yang mengatur bahwa bulan baru itu perlu diamati dengan mata telanjang. Dalam hal keandalan, kita tidak bisa berbuat lebih buruk daripada dengan metode ini, sedangkan dengan teknologi yang tersedia saat ini, kita tahu tanggal pastinya berabad-abad sebelumnya.

Tidak perlu mengamati bulan baru dengan mata telanjang, mengingat semua sarana yang tersedia saat ini. Namun, karena Sunnah Nabi mereka, umat Islam tetap membeku di zaman Nabi, lebih memilih metode kuno ini meskipun akurasinya sangat kurang.

Singkatnya, puasa Ramadhan dimulai pada new moon/bulan baru sesuai dengan bulan lunisolar Ramadhan dalam kalender Arab Kuno. Anda bahkan tidak perlu menghitung ulang kalender ini sendiri, karena para ahli telah melakukannya untuk Anda dengan menghitung ulang seluruh kalender lunisolar dari waktu sebelum adopsi kalender Hijriah., dan ini berdasarkan data dari NASA, dan dengan mempertimbangkan semua koreksi kalender yang dilakukan pada berbagai waktu.

Ekstrak dari kalender yang di-rekalkulasi oleh Wissem-Eddine Ishak menggunakan database yang tersedia oleh NASA, mengandung semua siklus lunar sedari tahun 2000 Sebelum Masehi…. Yang berwarna hijau adalah bulan Ramadhan, dan yang berwarna kuning adalah bulan kabisat.

Jika Anda masih ingin menyelesaikan/ memperpanjang kalender di atas sendiri, tambahkan saja bulan kabisat setiap setelah 32 bulan lunar seperti yang ditunjukkan pada dokumen berikut.

Ketahuilah bahwa bulan/month dimulai saat fajar yang langsung mengikuti new moon/bulan baru, meskipun bulan baru itu terjadi hanya beberapa menit sebelum fajar. Misalnya, jika bulan baru terjadi di rumah Anda pada 1 Oktober jam 6:59 dan fajar pada 7:00, maka hari pertama setiap bulan dimulai langsung pada 1 Oktober jam 7:00 AM/ pagi, dan bukan fajar hari berikutnya.

Namun, mengingat perbedaan waktu antara satu wilayah di dunia dengan wilayah lain, tidak mungkin semua orang di bumi memulai bulan Ramadhan pada hari yang sama. Yang semestinya tidak menjadi masalah, karena Allah hanya memerintahkan kita untuk menjalankannya dari bulan baru Ramadhan sesuai dengan wilayah geografis kita. (t/n: Memaksakan untuk menyamakan awal Ramadhan) lebih tidak ada gunanya karena Ramadhan sejati menurut Alquran tidak dimaksudkan menjadi seperti hari libur komunitas, tetapi lebih mirip kepada tindakan individu antara seorang beriman dengan Tuhannya sebagai saksi.

JUMLAH HARI PUASA

O you who believe! fasting is prescribed to you as it was prescribed to those before you, that haply you may be pious. During a counted number of days. then whosoever among you is sick or journeying, for him the like number of other days […]. The month of Ramadan in which was sent down the Quran  as a guide for the people, also clear evidence for guidance and discernment. So whoever of you witness the month, shall fast it. And whosoever sick or journeying, for him the like number of other days. Allah intends for you ease, and intends not for you hardship; so you shall complete the account and shall magnify Allah for His having guided you, and haply you may give thanks.  S2:V183-185

S2V183-185_1

Versi Islam berdasarkan interpretasi Sunnah menyatakan bahwa puasa Ramadhan harus berlangsung selama satu bulan lunar penuh. Tetapi apakah ini benar-benar yang dikatakan ayat-ayat di atas? Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan menganalisisnya secara menyeluruh, tanpa menambahkan atau menghapus apa pun. Anda akan melihat bahwa bukan hanya tidak diperlukan sunnah untuk mendapat rincian tentang apa yang Allah tentukan kepada kita di dalam Alquran, tetapi lebih buruk lagi, apa yang disebut “Sunnah Nabi” ini sebenarnya hanya mendistori dan bertentangan dengan apa yang Quran benar-benar katakan.

Ketika kita membaca “siapapun di antara kamu yang menyaksikan bulan ini, hendaklah berpuasa“, kita dapat dengan mudah memahami bahwa kita diperintahkan berpuasa sepanjang bulan Ramadhan, atau berpuasa hanya sebagian saja. Dari sudut pandang logika murni, 2 pemahaman ini sama-sama valid satu sama lain, dan tidak satupun dari mereka benar-benar bertentangan dengan ayat tersebut. Dalam hal ini, mana yang harus dipertahankan? Jika kita melakukan apa yang kita katakan di awal dan oleh karena itu berpegang teguh pada apa yang dikatakan ayat ini tanpa menambahkan atau menghilangkan apapun darinya, maka kita tidak dapat mengesampingkan salah satu dari dua tafsir ini. jika tidak, kita akan kehilangan sebagian dari arti ayat ini. Oleh karena itu, satu-satunya solusi yang mungkin adalah mempertahankan 2 tafsir pada saat yang sama, yang berarti mengatakan bahwa ayat ini sebenarnya menawarkan kepada kita pilihan puasa sepanjang bulan Ramadhan atau hanya beberapa hari dalam bulan itu. Oleh karena itu, terserah kepada setiap orang untuk menentukan jumlah hari puasa yang ingin mereka lakukan, dan Anda akan melihat bahwa pada kenyataannya, Allah memberi kita semua detailnya, termasuk batas atas dan bawah dari jumlah hari ini.

Mari kita mulai dengan menggabungkan potongan-potongan berbeda yang telah saya tandai untuk Anda dalam ayat-ayat di atas:

  1. “Siapapun di antara kamu yang menyaksikan bulan ini, hendaknya berpuasa! ”
  2. “Selama beberapa hari yang ditentukan.“
  3. “Agar kamu melengkapi/ menyelesaikan bilangannya”

Jika kutipan di atas benar-benar berarti bahwa kita harus berpuasa di bulan Ramadhan secara penuh, maka ungkapan “for a counted number of days”/selama beberapa hari yang ditentukan” tidak mempunyai alasannya, karena kita sudah tahu bahwa kita harus berpuasa sepanjang bulan Ramadhan . Di sisi lain, jika sebulan penuh kita benar-benar harus berpuasa, maka ayat tersebut tidak akan mengatakan “so that you complete the account“/sehingga kamu menyelesaikan penghitungan”, tetapi akan menyatakan secara sederhana so that you complete the month/sehingga kamu menyelesaikan sebulan”. Faktanya, “bilangan” yang dirujuk dalam ekspresi “sehingga kamu menyelesaikan bilangannya” mengacu pada “counted number of days/ jumlah hari yang DITENTUKAN”, yang menunjukkan kepada kita bahwa ekspresi terakhir inilah yang berkorespondensi dengan jumlah hari seseorang harus berpuasa. Dengan kata lain, Tuhan mengundang kita untuk berpuasa dalam “jumlah hari tertentu” dan tidak selalu berarti sebulan penuh.

…that haply you may be pious. For a counted number of days. then whosoever among you   …S2:V183-184

Memang, bukan tanpa alasan Allah meletakkan ungkapan ini dalam kalimat yang secara eksklusif ditujukan padanya, tanpa subjek atau kata kerja yang menentukan jumlah secara jelas. Perubahan frasa khusus ini sengaja dipilih Allah agar durasi Ramadhan tidak menimbulkan kebingungan mengenai jumlah hari puasa, cukup “a counted number of days

Ungkapan “أَيَّامً۬ا مَّعۡدُودَٲتٍ۬ / AYAMIN MAADOUDAATOUN”, yang berarti “counted number of days/ jumlah hari yang ditentukan”, menunjukkan bahwa jumlah ini setidaknya 3, karena bentuk kata “أَيَّامً۬ا / AYAMIN” berlaku untuk jumlah hari yang lebih besar dari atau sama dengan 3.

Kita menemukan ekspresi yang persis sama untuk menunjukkan jumlah hari haji yang harus dilakukan:

And invoke Allah for A COUNTED NUMBER OF DAYS (أَيَّامً۬ا مَّعۡدُودَٲتٍ۬). Then whosoever hastens in two days on him is no sin, and whosoever delays, On him is no sin: this for him: who fears. So fear Allah, and know that verily unto Him shall you be gathered. S2:V203

Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa ungkapan “counted number of days” tentu menunjukkan durasi yang lebih dari atau sama dengan 3 hari, mengingat Allah telah menambahkan penyebutan khusus jika durasi ini kurang dari 3 hari: “Maka siapapun yang menyegerakan dalam 2 hari, padanya tidak ada dosa”. Namun, ungkapan “counted number of days” tidak berarti angka tertentu, namun adalah angka yang ditetapkan setiap masing2 orang, karena ekspresi “tidak ada dosa […] tidaklah meninggalkannya secara bebas (t/n: ini bukan berarti kita bisa memilih 1 atau 2 hari saja) dan juga tidak menetapkan batas atas pada periode ini.

Sehubungan dengan Ramadhan, penggabungan “Barangsiapa diantara kamu yang menyaksikan bulan, berpuasalah” dan “counted number of days” menunjukkan bahwa puasa dapat bervariasi dari 3 hari, mengingat bahwa “أَيَّامً۬ا مَّعۡدُودَٲتٍ۬” menunjuk angka yang lebih besar dari atau sama dengan 3, hingga 30 hari, sebagai durasi maksimum bulan lunar.

Meskipun injungsi “Whoever of you witness the month, shall fast it” dapat diinterpretasikan sebagai berpuasa sebulan penuh atau kurang dari sebulan penuh, tentu lebih baik berpuasa berturut-turut sebulan penuh untuk menarik manfaat terbesar dari Ramadan. Memang, jelaslah bahwa upaya yang dihasilkan selama sebulan penuh tidak sama dengan hanya 3 hari saja, misalnya. Allah membuka ruang untuk kita, dan terserah diri kita masing-masing untuk memutuskan bagi diri sendiri tergantung iman kita dan keadaan/ kesanggupan kita. Tapi setidaknya, berdasarkan preskripsi Qur’an sebenarnya, tidak ada seorangpun yang tertinggal. Bahkan bagi mereka yang memilih formula paling ringan dari Ramadan, masih menerima manfaatnya, dan menahan diri dari dosa dengan berpuasa, meski hanya beberapa hari saja.

Namun bukan karena Allah memberi kita kebebasan untuk mengatur sendiri jumlah hari puasa kita, antara 3 dan 30, lalu kita bisa seenaknya melanggar/ mengurangi komitmen awal kita, karena Allah membenci mereka yang tidak menepati janji. Allah mengundang kita untuk menetapkan sebelumnya jumlah hari yang kita rencanakan untuk berpuasa dan berusaha menaatinya (t/n: sesuai jumlah hari yang telah kita tetapkan), bahkan jika itu berarti menyerahkan hari-hari jika kita jatuh sakit atau harus bepergian, dan berpuasa di lain hari untuk “complete the account

[…] And whoever is sick or traveling, while fasting an equivalent number of days . Allah wants ease for you, He does not want hardship for you, so that you complete the count and proclaim the greatness of Allah for leading you, and so that you will be grateful! S2: V185

Di sisi lain, Allah memberi kita hak yang sempurna untuk mengubah nomor di sepanjang jalan, dalam artian jika ingin melakukan lebih dari apa yang semula kita tetapkan. Memang, kita dapat memahami bahwa beberapa mungkin takut untuk berkomitmen dalam jangka waktu yang terlalu lama, dan karena itu memilih jangka waktu yang lebih pendek untuk memastikan dapat menjaga komitmen mereka kepada Allah … lalu, pada akhirnya, menyadari bahwa mereka ternyata bisa berbuat lebih banyak. Maka akan sangat membuat frustasi bagi mereka jika mereka tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya, dan itulah mengapa Allah mengizinkan kita, bahkan mendorong kita, untuk berbuat lebih banyak jika kita mau.

[…] And if someone does more of his own free-will―it is better for him […] S2:V184

Karena, semua usaha yang kita lakukan pada akhirnya hanya untuk diri kita sendiri, dan bermanfaat bagi kita baik di kehidupan di sini maupun di akhirat.

That man can have nothing but what he strives for; S53:V39

Whoever does good works while being a believer, his striving will not be denied, and We shall record it in his favour. S21:V94

And that his striving, verily, will be presented to him (on the Day of Judgment). S53:V40

Intinya, berbeda dengan kepercayaan umum, Tuhan memberikan fleksibilitas dan aturan2 yang bisa diadaptasi. Tetapi Anda akan melihat bahwa Allah bahkan lebih berbelas kasih dan murah hati, karena semua yang baru saja saya katakan hanya berlaku untuk mereka yang memutuskan sendiri untuk berpuasa. Pada kenyataannya, Allah mengizinkan mereka yang tidak ingin berpuasa sama sekali, ketika mereka dalam kapasitas yang sempurna untuk melakukannya, untuk mengimbangi/ mengkompensasi puasa di bulan Ramadhan dengan memberi makan orang miskin/ orang membutuhkan selama beberapa hari, sebagai ransom/ tebusan.

ALTERNATIF BERPUASA

O you who believe! fasting is prescribed to you as it was prescribed to those before you, that haply you may be pious. During a counted number of days. Then whosoever among you is sick or journeying, for him the like number of other days. For those who can endure it [and choose not to], is a ransom, the feeding of one that is indigent. And if someone does more of their own accord, it is for them; but it is better for you to fast; if only you knew! S2:V183-184

s2v183-184_1

Ayat ini telah diterjemahkan secara salah oleh para penerjemah Muslim, menyebabkannya mengatakan kebalikan dari apa yang sebenarnya dikatakan, meskipun translasi langsungnya tidak membingungkan samasekali. Akibat terjemahan yang buruk ini, banyak Muslim yang terpaksa berbohong kepada orang lain dan kepada Tuhan, mengaku tidak fit/ tidak sanggup, hanya untuk melepaskan diri dari kewajiban berpuasa, padahal Allah benar-benar mengizinkan mereka untuk tidak melakukannya, dengan syarat bahwa mereka memberi makan satu atau lebih orang miskin sebagai kompensasi. Dan sebaliknya, banyak Muslim yang bisa dan tidak melakukannya, hanya karena mereka percaya bahwa keharusan meminum obat setiap hari membebaskan mereka dari puasa Ramadhan.

Kita dapat memberi makan satu atau lebih orang miskin baik dengan menyumbangkan uang kita ke lembaga amal yang sesuai, atau dengan melakukannya langsung di lapangan. Yang terbaik adalah untuk menggabungkan keduanya: melakukannya secara anonim melalui charity, karena sumbangan anonim lebih bermakna disisi Allah (karena itu hanya dilakukan untuk Allah saja, dan tidak ada orang lain yang mengetahui tindakan kita), dan juga dengan membantu secara terbuka di lapangan, karena ketika kita dihadapkan dengan kesengsaraan, kita lebih menyadari berkat Tuhan atas kita, dan fakta melakukannya di depan umum memungkinkan Anda untuk memberikan teladan yang baik kepada orang lain untuk mendorong mereka juga untuk membantu yang kurang beruntung diantara mereka, dan akhirnya memungkinkan Anda untuk memberikan sedikit dari diri Anda kepada yang paling rentan, yang membutuhkan bantuan materi dan perhatian serta dukungan psikologis.

Setiap orang dengan tingkat dasar dalam bahasa Arab akan mengkonfirmasi bahwa “وعلى ٱلذين يطيقونه فدية طعام مسكين” diterjemahkan menjadi “Dan MEREKA YANG DAPAT bertahan, mereka kemudian harus memberi kompensasi dengan memberi makan orang miskin”, dan bukan sebaliknya: “Dan untuk MEREKA YANG TIDAK DAPAT bertahan/tidak sanggup berpuasa”

Memang ”يُطِيقُونَهُ / YUTIKUNAHU” diturunkan dari kata kerja “أطاق / ATAAKA“, yang artinya: endure/ bertahan,

Endure

Selain itu, fakta harus “memberi kompensasi” (فِدۡيَةٌ۬ / FIDYATOUN) menegaskan kepada kita bahwa ayat ini berbicara dengan baik tentang “mereka yang dapat menanggungnya/ (t/n: sanggup berpuasa)” namun memilih untuk tidak melakukannya. Sungguh, mengapa Allah meminta kompensasi dari seseorang yang memang tidak mampu berpuasa, dan itu bukan salahnya? Allah hanya mensyaratkan kepada seseorang, apa yang ada dalam kapasitasnya, inilah aturan Allah yang berlaku dalam segala hal termasuk puasa Ramadhan.

And We task not any soul except according to its capacity, and with Us is a book speaking with truth, and they will not be wronged. S23:V62

Allah tasks not a soul except according to its capacity, […] S2:V286

Urutan kalimat dalam ayat ini dengan jelas menegaskan kepada kita bahwa mereka yang ditunjuk memang mereka yang bisa berpuasa DAN memilih untuk tidak.

[…] Dan bagi mereka yang dapat menanggungnya [dan memilih untuk tidak], maka tebuslah, dengan memberi makan orang miskin. […] Tapi lebih baik kamu berpuasa; Jika saja kamu mengetahui! S2: V184

Sungguh, Tuhan tidak akan menekankan dengan mengatakan: “tetapi lebih baik bagimu berpuasa”, bagi orang-orang yang toh tidak memiliki kapasitas untuk melakukannya, yang tidak punya pilihan lain. Jika memang begitu (t/n: yang tidak bisa berpuasa samasekali dianjurkan berpuasa), itu menjadi tidak masuk akal!

Terjemahan yang buruk dari para penerjemah Muslim ini menjadi lebih mustahil karena puasa yang sejati seperti yang ditentukan oleh Alquran, pada kenyataannya dapat diakses oleh semua, dan pada kenyataannya tidak ada seorang pun di dunia “yang tidak dapat endure/menanggungnya.“. Saya akan menunjukkan ini secara rinci nanti di artikel ini, karena ada banyak cara untuk berpuasa, tidak hanya seperti yang dipikirkan Muslim. Jadi, jika Alquran tidak membahas kasus orang-orang yang tidak bisa berpuasa, itu sangat sederhana karena tidak ada seorang pun (t/n: yang tidak bisa berpuasa). Yang membawa kita pada pemahaman lain yang mungkin dari ungkapan ini yang telah kita terjemahkan di bagian sebelumnya sebagai “menyaksikan [ bulan baru yang menandai awal] bulan”:

[…] So whoever witness the month, shall fast it […] S2:V185

“Siapapun di antara kamu yang menyaksikan bulan” juga dapat diartikan sebagai “siapapun di antara kamu yang hidup dan sadar dalam bulan ini, hendaknya dia berpuasa”. Ini juga berfungsi sebagai terjemahan yang mengatakan, bahwa memang, siapa pun yang hidup dan sadar, dalam arti: “siapapun yang tidak koma”, selama bulan Ramadhan, sebenarnya bisa berpuasa. Banyak Muslim dengan diabetes atau sedang dalam pengobatan tidak melakukan puasa Ramadhan karena menurut interpretasi mereka dari Sunnah, puasa harus menjadi abstain dari minuman dan makanan sepanjang hari, titik. Padahal pada kenyataannya, Allah menawarkan kepada kita kemungkinan untuk mengatur intensitas puasa kita dan memvariasikan bentuknya, yang memungkinkan setiap orang untuk berpuasa, apapun kondisi fisiknya. Kita mengakui keadilan Allah, karena semua ritus dari Allah, baik Shalat, Ramadhan, atau Haji, dapat diakses oleh semua orang, dan tidak ada yang dikecualikan, dan bahkan bagi sebagian kecil mereka yang berada dalam situasi rapuh, dan oleh karena itu lebih membutuhkannya daripada yang lain.

Meskipun Tuhan mengampuni dan memberikan rahmat-Nya bahkan kepada mereka yang menolak berpuasa, menawarkan mereka kemungkinan kompensasi/tebusan dengan memberi makan satu atau lebih orang miskin, Tuhan tetap menganjurkan agar kita melakukannya (puasa) atas kehendak bebas kita sendiri, karena puasa mengandung manfaat yang sangat besar untuk kita. Memang, praktik self-denial yang terwakili dengan puasa sejati menurut Alquran ini, sama saja dengan menyangkal/menolak sebagian dari kezaliman kita sendiri, ekses, kesia-siaan, sifat2 kebinatangan, untuk menyambut penyembuhan Tuhan dalam diri kita. Oleh karena itu, puasa adalah obat terbaik bagi kita, dan merupakan hadiah nyata yang Allah berikan kepada kita dan bukan beban/paksaan, itulah mengapa Allah seperti mendesak kita.

Then whosoever among you is sick or journeying, for him the like number of other days. For those who can endure it [and choose not to] is a ransom, the feeding of one that is indigent. And if someone does more of their own accord, it is for them; but it is better for you to fast. If only you knew! S2:V184

Memberi makan satu atau beberapa orang miskin

Adapun memberi makan orang miskin, Allah berfirman itu sebagai kompensasi untuk tidak berpuasa. Oleh karena itu, bantuan ini harus proporsional dengan jumlah hari di mana seseorang akan berpuasa jika memilih pilihan ini. Mengingat bahwa pada hari-hari puasa, kita (rata-rata) hanya menghilangkan satu waktu makan, yaitu pada siang hari, untuk mengkompensasinya sama dengan membayar 1 kali/ satu porsi meal/ makan (dan bukan 2) kepada orang miskin per hari-hari yang seharusnya kita puasa. Ketahuilah bahwa apa yang disebut “miskin”, tidak hanya menyangkut mereka yang miskin di tingkat materi, tetapi semua mereka yang membutuhkan secara umum, termasuk mereka yang berada dalam situasi tekanan sosial, dan yang jarang mengalami kesempatan untuk makan makanan enak yang dibuat dengan cinta, atau mereka yang terisolasi, dan sangat membutuhkan untuk berbagi makanan dengan orang lain.

Mengenai detail meal/ makanan itu, Allah meminta kita untuk memberikan apa yang sesuai dengan rata-rata makanan yang dapat diterima menurut kriteria kita sendiri.

O you who believe! Spend of the good things which you have earned, and of that which We have produced from the earth for you, and do not aim at that which is bad to spend from it, (though) you would not accept it save if you close your eyes and tolerate therein. And know that Allah is Rich, and Worthy of all praise. S2:V267

Untuk menerapkan kompensasi ini, Anda memiliki pilihan untuk mengirimkan makanan ini dengan tangan/ langsung kepada orang miskin pilihan Anda, atau membayar dengan harga yang setara melalui lembaga amal. Jika, misalnya, harga rata-rata makan yang kita anggap dapat diterima oleh kita adalah 15 euro, maka kita harus membayar jumlah ini sebanyak hari-hari kita seharusnya berpuasa, misalnya 10 x 15 = 150 euro jika kita hendak berpuasa selama 10 hari. Seperti, saya jelaskan di atas, Anda juga memiliki kemungkinan untuk membantu dengan memberi orang ke orang, atau melalui organisasi amal, yang terbaik tentu untuk menggabungkan keduanya. Bagi mereka yang memiliki sarana terbatas, membantu orang miskin juga dapat berarti memberikan diri sendiri, diri sendiri dengan berpartisipasi dalam bakti sosial, atau menjadi relawan dalam organisasi amal, atau dengan mengunjungi orang-orang yang dalam kesusahan, atau dengan mengundang mereka ke rumah Anda… dll.

Secara umum, Allah mendorong kita untuk bermurah hati, karena jiwa kita pada dasarnya pelit. Sekarang, orang yang pelit itu sebenarnya pelit hanya terhadap dirinya sendiri, karena Allah itu Maha Kaya, dan tidak membutuhkan kita, sementara kita adalah orang miskin, dan kita membutuhkan Dia.

Say: “if it were you who owned the treasures of the mercy of my Lord, you would surely refrain for fear of expending; and man is indeed very greedy! S17:V100

Behold! you are those who are called to expend in the way of Allah, then there are of you some who are greedy. And whosoever is greedy is greedy only towards himself. And Allah is the Rich, and ye are the poors. And if you turn away, He will substitute for you another people, and then they will not be the likes of you. S47:V38

Inilah sebabnya mengapa Allah mengundang kita untuk membantu lebih dari satu orang jika itu sesuai kemampuan kita, karena itu membantu kita melawan keserakahan kita sendiri terhadap diri kita sendiri, dan juga karena Allah akan melipatgandakan semua pertolongan kita ratusan kali lipat, baik di kehidupan ini maupun di akhirat.

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui S2:V261

Tapi, membantu mereka yang membutuhkan selama bulan Ramadhan tidak hanya untuk mereka yang memilih untuk tidak berpuasa. Karena, Tuhan merekomendasikan, secara umum, untuk berbuat lebih banyak, dan ini atas kemauan kita sendiri. Oleh karena itu, Tuhan mengundang kita untuk membantu satu atau lebih orang “miskin” disamping berpuasa, mengetahui bahwa apa pun yang kita upayakan, kita memajukannya hanya untuk diri kita sendiri, dan kita akan menemukannya dalam kehidupan ini dan di kehidupan kemudian, kehidupan kekal dengan Allah.

[…] And if someone does more of their own accord, it is for them ; […] S2: V184

Jadi, dengan anjuran ini, setiap orang adalah pemenang: dengan berpuasa kita memperbaiki diri, dan dengan memberi makan (dalam bentuk makanan atau pemberian sendiri, atau keduanya) satu atau lebih orang yang membutuhkan, kita juga berbuat baik kepada orang lain. Hal ini memungkinkan orang yang paling rentan untuk makan lebih baik selama bulan Ramadhan, dan untuk menemukan dukungan moral dan psikologis … semoga mereka bersyukur kepada Tuhan dan akhirnya keluar dari masalah mereka sekali dan untuk selamanya.

[…] Allah wants ease for you, He does not want hardship for you , so that you complete the account and proclaim the greatness of Allah for having guided you, and so that you will be grateful! S2: V185

Ungkapan yang Tuhan gunakan: “Allah menginginkan kemudahan bagimu, Dia tidak ingin kesulitan bagimu,” menunjukkan betapa Allah ingin membuat segalanya mudah bagi kita. Dengan mengatakan hal yang sama dua kali, tetapi dengan cara berbeda, Allah menunjukkan kepada kita bahwa melalui puasa Ramadhan, tujuannya bukan untuk memaksakan apa pun kepada kita atau menyusahkan kita, seperti yang sering terjadi dalam kasus Ramadhan Islam yang dihasilkan dari apa yang disebut “Sunnah Nabi”. Sebaliknya, tujuan Ramadhan sejati adalah untuk memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk mendapatkan manfaat dan kesembuhan dari-Nya dengan cara termudah yang paling mungkin bagi setiap individu. Masing-masing dengan demikian bebas untuk memutuskan upaya yang siap dia lakukan sesuai dengan keadaan dan ekspektasi/harapannya sendiri, dan selama kita tulus, Tuhan tidak akan menyangkal apapun upaya kita dan akan memberikan manfaatnya kepada semua sesuai dengan apa yang telah disepakati.

Whoever does good works while being a believer, his effort will not be denied , and We make it [to his credit]. S21: V94

KEBODOHAN DARI APA YANG DISEBUT “SUNNAH NABI”

[…]. And for those who can endure it (and not for those who cannot endure it) they must then compensate by feeding a poor one . […]   S2: V184

Seperti yang baru saja kita lihat, sangat tidak terbayangkan bahwa seseorang dapat menerjemahkan sebuah ayat sejelas ini dengan kebalikannya. Jika Anda mengambil semua terjemahan yang tersedia di dunia, dalam semua bahasa yang memungkinkan, Anda tidak akan menemukan terjemahan yang benar. Namun ayat ini ditulis dalam bahasa Arab dasar dan memaknainya tidak membingungkan. Jika ini memang menunjukkan satu hal bagi kita, itu adalah bahwa alasan dari terjemahan yang buruk ini tidak mungkin bersifat linguistik, tetapi hanya karena memiliki interpretasi yang buruk sebagai asal-usulnya. Faktanya, umat Islam di seluruh dunia, betapapun mereka ahli, memiliki konsensus untuk tidak mencoba memahami sendiri apa yang tertulis hitam diatas putih dalam Alquran, tetapi untuk mencari ke “Sunnah Nabi” untuk menemukan tafsir yang tepat . Dan karena kesalahan tafsir sunnah inilah para penerjemah Muslim di seluruh dunia menerjemahkan ayat ini dengan kebalikannya. Namun, Allah mengundang kita untuk reason/ menggunakan akal dan merenungkan secara langsung apa yang Dia turunkan, yaitu mengkaji, dan ini dengan menggunakan kecerdasan dan nalar kita sendiri.

We sent it down, a Quran in Arabic [language], so that you may reason . S12: V2

[Here is] a blessed Book that We have sent down to you, so that they may ponder over its verses, and that men of understanding may remember! S38:V29

Allah meminta kita untuk mengikuti hanya apa yang telah diturunkan-Nya, yaitu Alquran, dan tidak mengikuti apa yang tidak diturunkan-Nya, yaitu Sunnah.

Buku-buku ini bukanlah apa yang Allah turunkan untuk kita, jadi bukan buku-buku ini yang harus Anda ikuti.

Follow what has been sent down unto you from your Lord, and follow not any ally besides Him. Little do you remember! S7: V3

And here is a blessed Book (the Quran) that We sent down, so follow it and be pious, in order to receive mercy S6: V155 

[…] And those who do not judge by that which Allah has sent down, such are the unjust ones. S5:V45

Inilah yang diturunkan Allah, dan yang Dia perintahkan untuk kita ikuti secara eksklusif. Mereka yang membutuhkan sunnah untuk memahami Alquran, melewatkan makna sebenarnya dari ayat-ayat Alquran tersebut.

Jadi marilah ke jalan Allah dan jalan Nabi Muhammad, yang persis seperti itu saya mengundang Anda, saya Utusan Tuhan yang terakhir, YS. Tuhan telah menginstruksikan saya untuk membuat ayat-ayat-Nya jelas bagi Anda, seperti yang telah saya lakukan secara eksplisit di seluruh artikel ini, untuk Anda pikirkan.

And when we say to them: “Come to what Allah has sent down and to the Messenger”, you see the hypocrites straying from you. S4: V61

(We sent the messengers) with obvious proofs and holy books. And towards you, We have sent down the Qur’an, so that you clearly explain to people what has been sent down for them and so that they think . S16: V44

Saya tidak mengadakan cara baru, cara saya sendiri yang berbeda dari cara Nabi Muhammad. Namun sebaliknya, saya menegakkan kembali Sunnah Nabi yang sejati, yaitu Sunnah Allah, yaitu Hukum Alquran yang benar. Karena, Hukum Allah tidak pernah berubah, dan itu adalah Hukum yang sama yang Allah tetapkan untuk Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa/Yesus, Muhammad … dan ini adalah Hukum yang sama yang Allah tetapkan untuk saya, Utusan terakhirNya, YS, dan yang saya bagikan dengan Anda.

This is the Sunnah of Allah applied to past generations. And you will never find any change in the Sunnah of Allah . S48: V23

Dulunya ayat berikut berlaku untuk orang-orang di masa Muhammad, yang tercemar oleh semua aturan palsu yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Saat ini, ayat yang sama sekarang sepenuhnya berlaku untuk Muslim, Yahudi, dan Kristen, karena mereka juga mengikuti aturan yang diciptakan nenek moyang mereka, daripada yang diturunkan Tuhan. Tuhan memerintahkan kita untuk mengikuti akal/ reason kita dan bukan keinginan/ passion kita. Tapi, orang-orang dari “agama” saat ini mengikuti hasrat mereka kepada Nabi, leluhur, komunitas, tradisi, alih-alih mengikuti reason mereka, menyadari penyimpangan dari “agama” mereka, dan mengambil jalan Tuhan Saja dan Kitab SuciNya saja, satu-satunya jalan keselamatan yang mungkin.

Judge then among them according to what Allah has revealed. Do not follow their passions, and be careful that they do not attempt to distance you from part of what Allah has revealed to you . And then, if they refuse (the revealed judgment) know that Allah wants to afflict them [here below] for some of their sins. Many people, of course, are wicked. S5: V49

Dulunya, ayat berikut berlaku untuk orang Yahudi dan Kristen, yang meskipun mereka memiliki Taurat dan Injil bersama mereka, mereka tidak mengikutinya melainkan mengikuti aturan palsu yang ditemukan oleh nenek moyang mereka, seperti Talmud, yang disajikan sebagai tradisi kerabian dari ajaran lisan tentang Musa, atau aturan2 palsu lainnya yang ditemukan oleh Gereja Katolik Roma. Tapi, ayat ini berlaku hari ini sepenuhnya untuk Muslim, selain untuk Yahudi dan Kristen, karena mereka berada dalam situasi yang persis sama: Muslim memiliki Alquran 100% utuh di tangan mereka, namun mereka tidak mengikutinya, melainkan mengikuti tradisi nenek moyang mereka, yang disebut sunnah Nabi, yang hanya berdusta tentang Allah, Alquran, dan Nabi mereka yang luhur, Muhammad

Say: ” O People of the Book (including Muslims), you stand by nothing until you conform to the Torah and the Gospel and what has been sent down to you from your Lord (Quran) . ” And surely what has been sent down to you from your Lord will increase many of them to rebellion and denial and unbelief . So do not worry about people who deny. S5: V68 

Seperti yang bisa Anda lihat secara konkrit sejak awal artikel ini, pendekatan yang dilakukan oleh kaum Muslimin, tidak hanya mengarahkan mereka untuk mendistorsi dan mengkebiri makna ayat-ayat Alquran, tetapi bahkan lebih buruk lagi, membuat mereka mengatakan kebalikan dari apa yang sebenarnya dikatakan Qur’an. Siapa lagi selain Iblis yang menginginkan kebalikan dari apa yang Tuhan tetapkan? Ini harus menjadi indikator serius bagi Anda untuk menebak siapa sebenarnya di balik apa yang disebut “sunnah nabi” .. Tuhan telah berjanji melindungi Alquran dari perubahan apa pun, Iblis tidak dapat mengubahnya seperti yang telah dia lakukan dengan Taurat dan Injil, yang hanya sebagian kecilnya yang tersisa bagi kita hari ini dalam apa yang kita sebut Perjanjian Lama dan Baru. Iblis kemudian tidak punya pilihan selain mendirikan lapisan yang menyimpangkan di sekitar Alquran, dan tidak ada yang lebih baik daripada menghubungkan itu dengan Nabi Muhammad untuk memberikan penghargaan maksimum. Namun, “sunnah” ini sama sekali tidak mungkin datang dari nabi Muhammad, karena nabi tidak bisa dan tidak mungkin mengatakan kebalikan dari apa yang dikatakan Alquran.

Apa yang telah saya ilustrasikan kepada Anda secara konkret pada banyak kesempatan melalui artikel ini, dan yang belum selesai saya ilustrasikan kepada Anda. Memang, “kesalahan” sunnah tidak hanya pada detail2 kecil saja, tetapi tepat pada rukun agama, seperti Ramadhan, Haji, Salat, Zakat, pengakuan iman, kalender menurut Allah … dll. Saat ini, mayoritas luas umat Islam mengetahui Alquran hanya melalui prisma sunnah nabi, yang pada kenyataannya dan lebih tepatnya, berbicara sunnah Iblis. Dan untuk non-Muslim, mereka berbagi citra palsu yang sama tentang Allah dan Alquran yang diberikan Muslim kepada mereka. Oleh karena itu, Iblis berhasil dengan sempurna dalam kudeta, yang mendirikan penghalang yang tidak dapat diatasi antara semua orang dan Alquran, sehingga mencegah mereka untuk mengakses Allah dan firmanNya, satu-satunya jalan keselamatan.

MUAWIYAH, BAPAK SESUNGGUHNYA DARI “SUNNAH NABI”

Bukan tanpa alasan bahwa sepanjang misinya, Nabi Muhammad secara resmi telah melarang baik penulisan, distribusi, dan penggunaan hadits, dan bahwa 4 khalifah yang menggantikan setelahnya melakukan hal yang sama. Hanya pada masa pemerintahan Muawiyah-lah, yang keislamannya pada saat itu menimbulkan banyak keraguan, hadits-hadits yang difabrikasi dari nol mulai berlimpah. Sama seperti Paulus dari Tarsus sebelum dia, Muawiyah beranjak dari status musuh terburuk Rasul menjadi salah satu perwakilan terbesarnya, hanya dengan menyebarkan kebohongan-kebohongan besar tentang Rasul. Dan sama seperti Paulus dari Tarsus ketika dia mempromosikan bahwa Yesus adalah Tuhan itu sendiri atau anak Tuhan, Muawiyah terbukti sebagai storyteller ulung ketika itu tentang mengadakan kebohongan atas Nabi Muhammad.

Muʿawiya  I er  (Muawiya) or ʾAbū ʿAbd Ar-Raḥmān Muʿāwiya ibn ʾAbī Sufyān (in Arabic:  أبو عبد الرحمن معاوية بن أبي سفيان ), born in 602 in Mecca and died in 680 in Mecca, Calif . He is the son of ʾAbū Sufyān ibn Ḥarb, one of the fiercest opponents of the prophet of Islam, Muhammad, who then became one of his companions after his conversion.
https://fr.wikipedia.org/wiki/Mu%CA%BFawiya_Ier

Although considered to be lacking in the justice and piety of the Rashidun (well-guided caliphs), Muawiya was also the first caliph whose name appeared on coins, inscriptions, or documents of the nascent Islamic empire.

Muawiya and his father Abu Sufyan had opposed Muhammad, their distant Qurayshite kinsman, until the latter captured Mecca in 630, after which Muawiyah became one of Muhammad’s scribes.
Source: https://en.wikipedia.org/wiki/Muawiyah_I

Memang, Muawiyah adalah putra Abu Sufyan ibn Ḥarb, pemimpin suku paling kuat di antara orang Arab Kuno, Quraisy. Abu Sufyan ibn Ḥarb dianggap sebagai salah satu musuh Nabi Muhammad yang paling sengit bersama dengan Abu Jahal, dan Muawiyah secara alami mengikuti jejak ayahnya.

Abu Sufyan ibn Harb ( أَبُو سُفيَان بن حَرب ) is one of the most prominent leaders of the Quraychite tribe. A distant cousin of Muhammad, he was for a long time one of his most bitter opponents with Abu Jahl . Then, he embraced Islam during the conquest of Mecca in 630 and died in 652. He is the grandson of Umayya and the father of the first Umayyad caliph, Mu`âwîya.
https://fr.wikipedia.org/wiki/Abu_Sufyan_ibn_Harb

Tak perlu diberitahukan kepada Anda tentang pergolakan yang terjadi ketika Muhammad menghancurkan sistem kesukuan orang Arab Kuno, sepenuhnya mendistribusikan kembali keadilan berkat ajaran Alquran. Muawiyah, yang telah lama dijanjikan untuk menggantikan ayahnya sebagai kepala suku paling kuat di Arab Kuno, Quraisy, tiba-tiba melihat impiannya untuk suksesi hancur, dan oleh karena itu tidak mengherankan bahwa dia masuk Islam setelah Nabi secara definitif memperoleh supremasi atas orang-orang kafir (630 M setelah pembebasan Mekkah), yang pada waktu itu Muawiyah adalah salah satu wakilnya yang paling menonjol. Ambisinya hampir tidak dapat disembunyikan, dan sekali lagi tidak mengherankan jika Muawiyah melakukan segala cara untuk mendapatkan jabatan gubernur Damaskus, dari mana dia bisa diam-diam mengatur kudeta untuk secara paksa memulihkan kekuasaan sentral. Muawiyah kemudian adalah orang yang menciptakan perselisihan besar pertama dalam komunitas Muslim muda, dengan menolak untuk bersumpah setia kepada Ali, penerus Utsman, meskipun Ali memiliki suara bulat dalam komunitas orang2 beriman.

Muʿawiya, who converted to Islam with his family during the conquest of Mecca in 630 , became the Prophet’s scribe and fought alongside the Muslims. Under ʿUṯmān ibn ʿAffān, Muʿawiya was appointed governor of Syria. He then refuses to swear allegiance to Ali ibn Abi Talib, successor of ʿUṯmān, triggering the First Fitna (the first great discordance) . After the battle of Siffin (657), Ali accepts an arbitration between them.
https://fr.wikipedia.org/wiki/Mu%CA%BFawiya_Ier

He was appointed by Caliph Abu Bakr (r. 632–634) the commander of the vanguard of his brother Yazid ibn Abi Sufyan’s army during the conquest of Syria and he moved up the ranks until becoming governor of Syria during the reign of Caliph Uthman. (r. 644–656)
Source: https://en.wikipedia.org/wiki/Muawiyah_I

Muawiyah kemudian terus menenun jaringnya tanpa henti sampai mendapatkan kesetiaan dari majelis pemimpin2 Arab yang secara diam-diam dibayar olehnya, untuk memberikan lebih banyak pujian atas klaimnya untuk menjadi khalifah. Pada tahun yang sama, dia memerintahkan pembunuhan saingan besarnya Ali Ibn Abi Thalib oleh Khawarij, melalui apa yang sekarang kita bisa sebut sebagai pembunuhan false flag. Memang, untuk menyembunyikan keterlibatannya dalam pembunuhan Ali Ibn Abi Thalib, dia akan meminta Khawarij untuk melakukan upaya pembunuhan palsu terhadapnya, sebuah upaya yang tentu saja gagal, karena dia “secara ajaib” dia selamat. Tapi masih jauh dari mendapatkan kebulatan suara di antara umat Islam, yang tidak bisa dibodohi oleh penipuannya, Muawiyah akhirnya mengambil alih kekuasaan hampir dengan paksa, maju di depan pasukan besar di Koufa (yang sebelumnya didirikan Ali sebagai ibukotanya) untuk memaksa penduduknya memilih dia sebagai khalifah mereka daripada Al-Ḥasan ibn Ali, anak Ali… yang juga akhirnya dia bunuh, dan terlebih lagi, dengan cara yang sangat kotor! Dia kemudian memproklamasikan dirinya sebagai khalifah dan mendirikan Kekhalifahan Umayyah, dengan Damaskus sebagai ibukotanya (dan bukan Madinah, kota nabi), Damaskus bekas markasnya tempat dia melancarkan perebutan kembali kekuasaannya setelah mendapatkan jabatan gubernur Damaskus.

Foundation of the Umayyad Caliphate

From the year 660, Muʿawiya obtains the allegiance (bayʿa) of an assembly of Arab leaders in Jerusalem. In 661, the Kharidjites assassinate ʿAlī. Muʿawiya should have been murdered while he was praying as well, but he was only injured . Following this abortive attempt, he had the first maqsura built, so that he could pray in safety.. In the same year, Muʿawiya, at the head of a large force, marches on Koufa (which ʿAlī had previously erected as the capital) and convinces its inhabitants to choose him as their caliph instead of Al-Ḥasan ibn Ali, son of īAlī .

Hassan not having military forces, he decides to enter into a treaty with Mu’awiya, which did not respect the conditions issued.

Muʿawiya no longer had any obstacle in front of him and was proclaimed caliph in 661, thus founding the Umayyad Caliphate, with Damascus as its capital.

According to Tabari, shortly after his abdication, Al-Hasan died of poisoning by one of his wives (Asmâ) under the directives of Muʿawiya who promised him in exchange to marry her to his son Yazīd . However, this account is subject to controversy among some Sunni ulama.
https://fr.wikipedia.org/wiki/Mu%CA%BFawiya_Ier

Dengan menjadi kepala yang akan menjadi dinasti Umayyah, Muawiya segera mengunci kekuasaan dengan menempatkan semua anggota keluarganya pada posisi2 kunci, dan menekan pemberontakan dengan darah. Dia kemudian memulai serangkaian serangan militer, sedangkan sebelumnya, semua perang yang dilakukan oleh Muslim hanya bersifat defensif.

Allah melarang perang agresi apapun, dan hanya mengizinkan perang untuk membela diri. Muawiya adalah khalifah pertama yang melakukan perang agresi di sejumlah besar wilayah, secara terbuka melanggar larangan Alquran.

Muawiyah akhirnya mewujudkan mimpinya, dengan menciptakan kerajaan Islamnya sendiri yang diilhami oleh Kekaisaran Romawi yang secara terbuka ia ambil sebagai model. Dia akan tercatat dalam sejarah sebagai orang yang menciptakan perselisihan besar pertama dalam Islam, menjadi asal mula perpecahan yang tidak dapat didamaikan hingga hari ini antara Sunni dan Syiah. Muawiyah juga mengembangkan sekitar dirinya kultus kepribadian sejati, yang secara strategis diperluas ke pribadi Nabi Muhammad, dengan satu-satunya tujuan untuk memberi lebih banyak arti penting dan posisi pada hadits. Karena, sampai sebelum masa pemerintahan Muawiyah, hadits masih sepenuhnya dilarang dan penggunaannya tidak lebih dari marjinal, dan Muawiyah-lah yang tidak hanya membuatnya populer, tetapi juga mensponsori produksi sejumlah besar hadits, terutama melalui Abu Huraira. Ini, untuk menggunakannya untuk kepentingannya sendiri dan mengkonsolidasikan kekuatan politiknya, dan untuk membentuk dari awal, dan menurut aspirasinya sendiri, state religion/ agama negara baru, seperti kekaisaran-kekaisaran lain.

The Umayyad Caliphate being vast, Muawiya I relies on his allies, notably Ziyad ibn Abi Sufyan, his “adoptive brother”, appointed governor of Iraq and who puts down the rebellion of Ḥugr ibn Adiyy in Koufa. The rest of Muawiya’s reign was marked by political stability and rapid territorial expansion, with the conquest of Crete, as well as part of North Africa, where the city of Kairouan was founded, and Central Asia (Kabul, Bukhara, Samarkand). Chios and Smyrna are conquered in 672, and a base is established in Cyzique. In 674, his son Yazid besieged Constantinople, during the reign of Constantine IV, but was countered by the use of Greek fire. The caliph, who saw the whole of his fleet reduced to ashes, agreed to return the Mediterranean islands, and also to pay an annual tribute to Constantinople.

Muawiya greatly embellished the city of Damascus, wanting it to be like Rome. He also developed a court capable of competing with the Byzantine court, and extended the borders of the Caliphate, going so far as to besiege Constantinople. He is also credited by many Sunnis with saving the Muslim world from the dissensions which followed First Fitna, unlike the Shiites who accused him of being the main instigator of the civil war, of weakening and dividing Muslims, of sinking the blood of the Prophet’s family, even of developing a cult of personality.

Author’s note: The Sunnis are the ones who followed the false Sunnah of the Prophet forged by the Umayyad caliphs, and who completely ignored the recommdndations of the prophet Muhammad and the 4 Well-Guided Caliphs. They have supported the Caliphate and their inventions as they were more interested in terrestrial gains than in earning the Hereafter.

However, many Sunni ulama/scholars blamed him for having instituted a sunnah, a tradition, which would consist in cursing Ali from the top of the minbars (chairs) in order to establish the legitimacy of his power and that of the Banu Umayya to the detriment of the family of the Prophet, the Banu Hashim.

Source: https://fr.wikipedia.org/wiki/Mu%CA%BFawiya_Ier

Attack of the Islamic Caliphate on Cyprus

Sebelum Muawiyah, semua khalifah dipilih melalui musyawarah kolektif, setara dengan demokrasi saat ini. Dan hanya Muawiyahlah, setelah dia menjadi khalifah, yang menghapus praktik adil ini untuk menegakkan prinsip suksesi kekuasaan turun-temurun. Umat Muslim tidak akan pernah memaafkannya karena telah mengangkat putranya Yazid di atas takhta untuk menggantikannya.

He substituted for the system of election, which had prevailed until then during the appointment of a new caliph, the principle of hereditary transmission . This is one of the main reproaches addressed to him in the Muslim tradition  : having substituted for the caliphate a system close to royalty (“mulk” in Arabic), although neither he nor his successors have ever used the title of ” malik ”(king). Towards the end of his life, in 679, he carefully prepared the thing and made his son Yazid take an oath of allegiance, after having carried out consultations, where his power of persuasion worked wonders.

However, the thing ended up causing unrest, both under Yazid’s caliphate and after his death.
https://fr.wikipedia.org/wiki/Mu%CA%BFawiya_Ier

Tanyakan pada diri Anda sendiri bagaimana karakter hina seperti Muawiyah dapat digambarkan dalam hadits yang begitu memujanya, dan ditampilkan sebagai “kesayangan” nabi Muhammad. Jawaban atas pertanyaan ini adalah bahwa Muawiyah adalah bapak hadits yang sebenarnya, yang saat ini secara keliru disebut Sunnah Nabi. Oleh karena itu, tidak akan mengejutkan Anda untuk melihat semua kontradiksi nyata dari apa yang disebut Sunnah Nabi dengan Alquran, karena Iblis hanya memanfaatkan penjahat besar ini yaitu Muawiyah, dan pemalsu kebohongan terbesar yaitu Abu Huraira, untuk menetapkan hadits sebagai alat esensial untuk penafsiran Alquran.

Inilah beberapa hadits yang digunakan untuk glorifikasi Muawiyah dan sukunya, Quraish, yang “katanya” diucapkan oleh Nabi Muhammad. Saya serahkan kepada Anda untuk menilai sendiri.

« For this rank [the rank of caliph], the Qurayshs overcome all people: their muslims overcome all other muslims and their pagans overcome all other pagans » Al Bukhari, op.cit., Vol.2, p.414

« Take this arrow (to indicate to him that he considers him as his successor and to predict him paradise) until you join me to paradise » Ibid., p.254

« Allah has put his trust in 3 persons in order to protect his revelation: me (the prophet), the angel Gabriel and Muawiya » Mahmud Abu Rayyah, Adwa’a Ala As-Sunna Al-Muhammadiah, p.188

«Praise to Allah how He has made you gorgeous. Thanks to your parents for having feed you well. By Allah, I’ve never seen such a beauty except the beauty of Muawiya’s face when he came to the tribune of the prophet » Mahmud Abu Rayyah, Abu Huraira cheikh Al Madirah, p.255

Muawiyah ada dibalik rekayasa banyak hadits2 untuk mendukung klaim & kekuatan politisnya, seperti yang satu ini:

« There will be seditions! The one who will stay seated will be better than the one who will stand up! The one who will stand up will be better than the one who will march! The one who will march will be better than the one who will run! The one who will take part to it will be destroyed for sure! Whoever will find refuge must imperatively go there in order to be protected ». Al Boukhari, op.cit., Vol.4, p.361

Kekhalifahan Umayyah adalah kekhalifahan yang bisa dikatakan berada di atas hukum ketuhanan, karena mereka membuatnya sesuai dengan aspirasi mereka sendiri.

Allah ingin hari ini memulihkan, melalui Utusan terakhirNya yaitu saya, seluruh kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi setelah Nabi Muhammad. Allah ingin membersihkan Nabi Muhammad dari semua kebohongan Sunnah yang merampas namanya, yang dikaitkan dengannya, dan untuk menegakkan kembali hukum Alquran yang sebenarnya yang telah digantikan selama lebih dari 1400 tahun oleh hadits. Allah ingin menunjuk siapa pelaku sesungguhnya, yaitu yang pertama Muawiyah dan kaki tangannya Abu Huraira, bapak sesungguhnya dari apa yang disebut Sunnah Nabi. Jelas, semua pengkhianat termasuk Paulus dari Tarsus, Muawiyah, dan Abu Hurairah, dengan suara bulat berbasis di Damaskus, dari mana mereka mendirikan plot mereka melawan Kebenaran Allah dan Utusan-Nya yang adalah Muhammad dan Isa/Yesus. Dari Damaskus-lah 2 kebohongan keji yang ditempa terhadap Yesus dan Muhammad ini dimulai, dan yang selamanya menodai agama Kristen dan Islam yang asli untuk membuatnya menjadi sekte Iblis seperti sekarang ini. Dan dari Damaskus-lah Tuhan sekarang akan mengakhiri lebih dari 2 milenium kebohongan dan membalas para pengkhianat untuk selamanya. Memang, selama hampir satu dekade sekarang, Damaskus telah bergejolak, dan Tuhan telah memfokuskan semua perhatian pada kota ini, karena dari kota inilah konflik dunia akan dimulai yang akan menyegel nasib semua pengkhianat, sektarian, penyekutu, dan penyembah berhala. Dimana kebohongan dimulai, dimana itu akan berakhir, dimana pengkhianat dilahirkan, dimana mereka akan dikuburkan.

RITUS RAMADAN YANG BENAR

Mengenai ritus Ramadhan itu sendiri, Anda akan melihat, sekali lagi dan tidak mengherankan, bahwa versi Islam berdasarkan sunnah mendistorsi apa yang sebenarnya Alquran katakan dan mengaburkan sebagian darinya, membuat praktiknya lebih sulit sekaligus kurang bermanfaat. Pertama, inilah terjemahan yang disepakati Islam:

It is made lawful for you to have sexual relations with your wives on the night of As-Saum (the fasts).They are your garments. And you are their garments. Allah knows that you had clandestine sexual relations, so He forgave you and pardoned you. So now have sexual relations with them and seek that which Allah has ordained for you (offspring), and eat and drink until the white thread of dawn appears to you distinct from the black thread, then complete your Saum (fast) until the night. And do not have sexual relations with them (your wives) while you are in I’tikâf (i.e. confining oneself in a mosque for prayers and invocations leaving the worldly activities) in the mosques. These are the limits (set) by Allah, so approach them not. Thus does Allah make clear His verses to mankind that haply they may fear Him. S2:V187

S2V187_2

KAPAN MEMULAI DAN BERBUKA PUASA?

eat and drink until the white thread of dawn stands out for you from the black thread of night. Then complete the fast until night S2: V187

Orang akan berpikir bahwa ayat ini cukup sederhana sehingga untuk sekali ini para penerjemah Muslim tidak mungkin salah dalam menerjemahkannya. Tapi, poin yang tepat ini akan menggambarkan kepada Anda secara konkret bagaimana Sunnah membangun tabir yang tidak bisa ditembus antara Muslim dan Alquran, yang mencegah mereka untuk memahami Alquran sepenuhnya, bahkan dalam hal-hal yang paling jelas dan sederhana. Menurut Sunnah, puasa dimulai saat Subuh, yaitu saat fajar, dan berakhir pada Maghrib, yaitu saat matahari terbenam. Hanya saja… di manakah Anda melihat bahwa ayat ini berbicara tentang MAGHRIB / مَغۡرِبُ?

“[…] Then complete your fast UNTIL THE NIGHT (AL-LAYLI/ٱلَّيۡلِ) […] S2:V187

Resep yang benar dari Alquran berbicara tentang menjalankan puasa sampai TIBANYA MALAM, dan BUKAN SAMPAI MAGHRIB. Namun, malam tidak dimulai begitu saja disaat matahari terbenam, tetapi ada fase peralihan yang disebut “twilight/senja” yang mendahului malam hari. Tampaknya lebih masuk akal untuk menjalankan puasa sampai malam, karena puasa dimulai saat fajar. Sama logisnya untuk menjalankan puasa sampai matahari terbenam, hanya jika Alquran telah memerintahkan untuk memulainya saat matahari terbit, namun itu tidak terjadi. Ada logika yang jelas dalam hal ini, tetapi mereka yang mengikuti Sunnah telah mengesampingkan logika sedari waktu yang lama. Saya tidak berhenti mengilustrasikan hal ini kepada Anda secara konkret sejak awal artikel ini, dengan harapan hal ini dapat menjadi pemicu nyata di seluruh dunia Muslim, dan bahwa Muslim yang tulus akhirnya kembali pada agama yang eksklusif hanya berdasar Alquran dan kepada Allah, mengikuti doktrin teladan Ibrahim, yang sebenarnya adalah cara yang benar yang diajarkan oleh Nabi Muhammad.

twilight-photography-time

Menurut para ahli ilmiah di bidangnya, ada 3 fase senja dan 3 fase fajar yang disebut “sipil”, “bahari”, dan “astronomis”.

dawn

Di awal fajar bahari kita menemukan istilah yang tepat digunakan dalam Alquran: “sampai benang putih fajar menonjol dari benang hitam malam”, yaitu saat sinar cahaya pertama terlihat di cakrawala .

Astronomical dawn begins when the sun is 18 degrees below the horizon in the morning. It is “first light”. Astronomical twilight follows instantly until the sun is 12 degrees below the horizon. At this point a very small portion of the sun’s rays illuminate the sky and the fainter stars begin to disappear. Astronomical dawn is often indistinguishable from night, especially in areas with light pollution. Astronomical dawn marks the beginning of astronomical twilight, which lasts until nautical dawn.

Nautical twilight begins when there is enough illumination for sailors to distinguish the horizon at sea but the sky is too dark to perform outdoor activities. Formally, nautical twilight begins when the Sun is 12 degrees below the horizon in the morning; the first rays of dawn can then be distinguished. The sky becomes light enough to clearly distinguish it from land and water. Nautical dawn marks the start of nautical twilight, which lasts until civil dawn.
Source: https://en.wikipedia.org/wiki/Dawn#Astronomical_dawn

Secara simetris, di akhir dari senja bahari-lah ketika sinar cahaya terakhir terlihat di cakrawala:

Before nautical dawn and after nautical dusk, sailors cannot navigate via the horizon at sea as they cannot clearly see the horizon. At nautical dawn and nautical dusk, the human eye finds it difficult, if not impossible, to discern traces of illumination near the sunset or sunrise point of the horizon (first light after nautical dawn but before civil dawn and nightfall after civil dusk but before nautical dusk).

Sailors can take reliable star sightings of well-known stars, during the stage of nautical twilight when they can distinguish a visible horizon for reference (i.e. after astronomic dawn or before astronomic dusk). Under good atmospheric conditions with the absence of other illumination, during nautical twilight, the human eye may distinguish general outlines of ground objects but cannot participate in detailed outdoor operations.
Source: https://en.wikipedia.org/wiki/Twilight#Nautical_dawn_and_dusk

stages-of-twilight

Untuk menentukan awal dan akhir puasa, Anda hanya perlu pergi ke situs cuaca yang sesuai dan Anda akan mendapatkannya langsung dari badan cuaca nasional Anda.

Sinar cahaya pertama dan terakhir yang terlihat masing-masing muncul di awal dan di akhir fase fajar dan senja bahari/nautikal, yang pada tanggal ini 7:03 untuk memulai puasa dan 8:09 untuk menghentikannya.
Untuk tanggal yang sama, sunnah menganjurkan untuk memulai puasa pada pukul 6:55 dan berbuka pada pukul 19:08, yang masih berbeda 10 menit untuk pagi dan 1 jam untuk malam. Ingatlah bahwa fajar dan senja mencapai durasi minimumnya di sekitar periode ekuinoks, dan maksimum di sekitar solstis/ titik balik matahari, perbedaan ini akan jauh lebih jelas jika kita membuat perbandingan saat puasa menurut sunnah terjadi sebulan lebih jauh dari ekuinoks

Pada kenyataannya, tidak perlu untuk mengetahui waktu eksak fajar dan senja bahari, yang hanya merupakan istilah ilmiah yang menandai awal dan akhir malam yang terlihat. Karena, tatanan ilahi hanya mengatur kita untuk berpuasa dari saat “benang putih fajar membedakan dirinya dari benang hitam malam”, sampai malam, atau “sampai sinar cahaya terakhir yang terlihat di cakrawala.” Ayat tersebut dengan jelas menyatakan “stands out, for you“, yang berarti observasi sederhana oleh kita dengan mata telanjang sebenarnya sudah cukup. Jadi Anda hanya perlu melirik ke luar jendela, dan begitu Anda melihat sedikit cahaya di langit yang gelap, itu berarti Anda dapat memulai puasa, dan sebaliknya, segera setelah Anda hampir tidak melihat terang lagi, di langit yang gelap, itu berarti Anda sudah bisa berbuka. Jangan khawatir, Tuhan tidak akan membebani/ menyalahkan Anda karena Anda salah/keliru beberapa menit, yang penting upaya kita tulus/ tidak berniat mencurangi. Semuanya tergantung setiap orang untuk melakukannya dalam jiwa dan hati nurani mereka. Ingat, praktik Ramadhan yang sebenarnya menurut Alquran terutama didasarkan pada keikhlasan dan pengabdian sukarela. Perhatikan bahwa jika Tuhan memerintahkan kita untuk berbuka puasa saat matahari terbenam seperti yang diklaim dalam Sunnah, maka tidak mungkin untuk mendeteksi momen ini persis dengan mata telanjang. (t/n: kategori “ketika matahari terbenam” akan sangat subjektif, dan dipengaruhi posisi/ ketinggian tempat kita. Sedangkan “malam”/saat langit gelap lebih konkrit bagi semua orang) Namun, tatanan ilahi seharusnya dapat dengan mudah dilaksanakan kapan pun, apa pun cara yang kita miliki.

RECOLLECTION DAN RETRET SPIRITUAL

[…] Eat and drink until the white thread of dawn appears to you distinct from the black thread, then complete your Saum (fast) until the night. And do not be in their presence while you are on a ritual retreat in mosques. These are the limits (set) by Allah, so approach them not. Thus does Allah make clear His verses to mankind that haply they may fear Him. S2:V187

S2V187_4

Penerjemah Muslim menerjemahkan kutipan yang telah saya tebalkan dengan:

“Tapi jangan berduaan bersama mereka saat Anda melakukan retret ritual di mesjid2”

Tapi, terjemahan ini sebenarnya tidak masuk akal bagi umat Islam. Buktinya, hal itu sama sekali tidak diterapkan, karena puasa menurut Islam sunnah, intinya pantang makan dan minum dari subuh sampai matahari terbenam, dan oleh karena itu tidak termasuk “retret ritual di masjid”. Bahkan jika kita ingin menganggap bahwa Shalat Tarawih (inovasi lain dari Sunnah) yang menerapkan “ritual retret di masjid”, tetap tidak berpegang pada ayat tersebut. Sebab, shalat tarawih berlangsung pada malam puasa, sedangkan “ritual retret di masjid” ditetapkan untuk kita pada siang hari, yaitu berbarengan dengan puasa. Jika, kita mengesampingkan Shalat Tarawih sebagai penjelasan yang mungkin untuk ayat ini, maka kita benar-benar tidak melihat bagaimana Muslim menerapkan resep ini. Memang, di luar waktu shalat, sangat sedikit umat Islam yang berkumpul di masjid pada siang hari, baik selama Ramadhan atau di luar periode ini.

Selain itu, jika terjemahan ini benar, lalu mengapa ayat ini memerintahkan, terutama selama bulan Ramadhan, untuk tidak bergaul dengan perempuan di masjid, padahal larangan ini sudah berlaku setiap saat menurut aturan “Sunnah”?

Itu tidak masuk akal! Tapi, ini menggambarkan, dengan cukup terang-terangan, fakta bahwa kebanyakan Muslim puas hanya dengan mengikuti saja pada Sunnah, terlepas dari apa yang sebenarnya Alquran tetapkan, karena terjemahan seperti itu bahkan tidak mengejutkan mereka, juga tidak mendorong mereka untuk bertanya-tanya. Bagi mereka, sunnah sudah bertanggung jawab menjelaskan seluruh Alquran untuk mereka, jadi tidak perlu mencari penjelasan sendiri.

Namun Anda akan melihat bahwa ayat ini tidak menimbulkan masalah pemahaman bagi siapa pun yang menguasai tingkat dasar dalam bahasa Arab, dan cara pemaknaannya juga tidak membingungkan.

“[…] But do not be in their presence while you are on a ritual retreat in the mosques. […]” S2:V187

toubachirouna

Karena mesjid bukan tempat perempuan dan laki-laki berdua-duaan, secara logis dapat disimpulkan bahwa kata “ٱلۡمَسَـٰجِدِ / AL-MASSAAJID“, yang umumnya diterjemahkan sebagai “mosques/mesjid”, tidak dapat diterjemahkan demikian dalam ayat ini.

Kata “ٱلۡمَسَـٰجِدِ” berasal dari kata “سجد / SAJADA”, yang secara etimologis berarti “mendengarkan sambil mengangguk” atau “bersujud”, tergantung konteksnya, yang sesuai dengan sikap alami orang beriman ketika ia mendekati Tuhan. Saat menghadirkan Tuhan, memperhatikan berkat-Nya, dan membaca Firman Ilahi-Nya, setiap orang beriman sejati hanya dapat mengangguk atau bersujud untuk lebih mendukung persetujuannya. Sikap ini juga dilestarikan di antara orang-orang Yahudi, yang seperti biasa, paling leterjik & tanpa ruh/spirit, dengan mengangguk-anggukkan kepala secara sistematis dan secara mekanis, ketika mereka membaca Taurat atau ketika mereka berdoa kepada Tuhan.

Orthodox Jews nodding their heads (“ sajada / سجد “) in approval, while reading Torah and praying to God in front of the wailing wall

Menerjemahkan kata “ٱلۡمَسَـٰجِدِ” sebagai “mesjid”-nya islam karena itu hanya akan menjadi penyalahgunaan bahasa, mengingat bahwa masajid di ayat ini adalah tempat yang secara umum digunakan untuk berdoa kepada Tuhan dan memohon kepada-Nya, dan oleh karena itu, tempat di mana orang-orang “mengangguk” sebagai tanda persetujuan.

By the way, mesjid sayangnya menjadi lebih seperti tempat2 di mana Nabi Muhammad dan sahabatnya dimuliakan daripada Allah, dan di mana hadits dibacakan untuk merusak Alquran, yang seharusnya menjadi sinyal peringatan bagi semua orang beriman tulus di antara Muslim. Sekarang menjadi keharusan bagi semua orang beriman sejati untuk tidak berdiri di masjid lagi, dan ini sama sekali bukan kesalahan di pihak mereka. Dan ini juga berlaku untuk gereja, sinagog, dan tempat ibadah lainnya. Orang beriman sejati tidak ada hubungannya dengan sektarian, penyembah berhala, dan penyekutu, yaitu orang-orang dari “agama” (menyebut mereka “sekte” akan lebih tepat) pada umumnya, dan karena itu harus benar-benar memisahkan diri dari mereka. Mereka tidak boleh mengklaim sebagai orang Yahudi, Muslim, atau Kristen, melainkan sebagai orang yang benar-benar bebas, mengabdikan seluruh Agama mereka kepada Allah, dan mengikuti jalan teladan Ibrahim.

Say: “O you who deny! I don’t worship what you worship. And you’ll never worship what I worship. And I will never worship what you used to worship. And you’ll never worship what I worship. You have your religion, and I have my religion”. S109

Oleh karena itu kita tidak dapat menerjemahkan kata “ٱلۡمَسَـٰجِد di sini dengan “mesjid”, tetapi terjemahan yang benar lebihsesuai dengan arti etimologis dari kata ini, yaitu secara umum adalah “tempat mendengarkan dengan taat”, “tempat bersujud” atau “tempat mengangguk”. Makna ini akan dikonfirmasi oleh kita dengan kata lain dari ayat ini, “عَـٰكِفُونَ / AAKIFUNA”, yang juga diterjemahkan dengan buruk oleh penerjemah Muslim, meskipun itu digunakan berkali-kali dalam Alquran dan artinya jelas.

When he said to his father and his people: “What are these statues with which you recollect?” S21:V52

S21V52

They said: “We worship idols with whom we remain recollected” S26:V71

S26V71

They said: “We will not cease to recollect to him (the golden calf), until Moses returns to us” S20:V91

S20V91

Dengan terjemahan yang benar dari kata ”ٱلۡمَسَـٰجِدِ” dan ”عَـٰكِفُونَ“, ayat ini memiliki arti yang lengkap:

[…] But do not be in their presence while you are prostrate in your places of recollection (or spiritual retreat) […] S2:V187

Satu kesalahan mengarah ke kesalahan lainnya, penerjemah Muslim yang menerjemahkan kata “ٱلۡمَسَـَجِدِ” dengan “mesjid”, tidak dapat secara logis menerjemahkan kata “عَـَكِفُونَ” dengan “dalam retret spiritual”, karena mesjid pada umumnya tidak digunakan untuk ini. Untuk mencoba menempelkan potongan-potongan itu, oleh karena itu mereka menerjemahkan kata “عَـٰكِفُونَ” dengan “dalam ritual retret”, yang tersirat “dalam shalat“, untuk sekaligus mendekati arti sebenarnya dari kata “عَـٰكِفُونَ“, dengan tetap berpegang pada fungsi biasa mesjid, yaitu untuk melakukan shalat.

Alasan lain yang menyebabkan para penerjemah Muslim mengabaikan arti sebenarnya dari ayat ini adalah sekali lagi, “Sunnah suci Nabi mereka”. Memang, menurut praktik berdasarkan “Sunnah”, Ramadhan tidak memasukkan perintah komponen retret spiritual atau meditasi/recollection apa pun yang harus dilakukan bersamaan dengan puasa. Ini jelas menunjukkan kepada kita bahwa Muslim mengartikan Quran melalui sunnah, dan bukan sebaliknya seperti yang mereka percayai. Sungguh, mereka akan dengan senang hati mengatakan bahwa Alquranlah yang memungkinkan mereka memilah yang benar dari yang salah dalam hadits, meskipun pemahaman mereka tentang Alquran tidaklah netral, tetapi sepenuhnya berorientasi pada tafsir sunnah., yang dengan sendirinya didasarkan secara eksklusif pada hadits… itu adalah ular yang menggigit ekornya sendiri! Namun, satu-satunya sumber dalam hal Aturan Keagamaan haruslah Alquran, dan bukan seperti yang dipikirkan Muslim, Alquran digabungkan dengan hadits, dan satu-satunya kriteria/discernment harus Alquran saja, dan tidak ada buku lain.

The month of Ramadan in which the Quran was taken down as a guide for people, and clear evidence of good guidance and discernment S2: V185

Let the Blessing of Him be exalted who sent down the Book of Discernment upon His servant, that he may be a warner to the universe. S25: V1

PUASA, SHALAT, RECOLLECTION, KONTEMPLASI, RETREAT

Sahara Desert

[…] Eat and drink until the white thread of dawn appears to you distinct from the black thread, then complete the fast until the night. But do not be in their presence while you are prostrate in your places of recollection (or spiritual retreat). […] S2:V187

Terjemahan yang benar dari ayat ini memungkinkan kita untuk menemukan komponen puasa yang selama ini dilupakan oleh umat Islam, yaitu retret spiritual atau recollection/(t/n: perenungan?) kepada Tuhan. Memang, ritus Ramadhan lengkap menurut Alquran menggabungkan pada waktu yang sama, puasa, sholat, meditasi, kontemplasi, recollection, dan retret, semua pada suatu waktu, yang berarti puasa tubuh dan jiwa. Alquran menegaskan praktik lengkap ini kepada kita dengan mengingatkan kita bahwa ini jugalah yang telah ditentukan bagi mereka yang mendahului kita:

O you who believed! Fasting is prescribed to you as it was prescribed to those before you, that haply you may be pious S2:V183

Kita masih menemukan cara puasa ini di antara orang Yahudi dan Kristen, yang tidak seperti Muslim, menjalankan bentuk puasa yang jauh lebih fleksibel dan bervariasi, dengan tambahan komponen doa, meditasi, dan retret, yang tidak ditemukan pada Muslim. Dengan ritus Ramadhan yang benar menurut Alquran, oleh karena itu kita menemukan praktik yang sama persis dengan “yang mendahului kita”, yaitu orang Yahudi dan Kristen, dengan detail tambahan yang telah hilang di antara mereka, seperti misalnya yang durasi dan periode puasa yang benar

Aturan Allah tidak dapat diubah, jadi tidak mengherankan kita bahwa Dia telah menetapkan praktik yang sama ini yang menggabungkan pada saat yang sama puasa, doa/ shalat, meditasi, dan retret, kepada semua Utusan-Nya di masa lalu: dari Muhammad, hingga Yesus dan Musa, dan banyak lainnya … dan itu benar-benar sama hingga kembali ke Adam.

Praktik ini tidak hanya diperuntukkan bagi Utusan Tuhan, tetapi juga dipatuhi oleh semua orang beriman. Dalam bab pertama Nehemia kita menemukan pria ini berdoa dan berpuasa mendengar tembok kotanya yang hancur. Sebagai hasil dari doa dan puasanya, Tuhan mempengaruhi hati raja tempat Nehemia bekerja. Raja mengirimnya ke Yerusalem untuk mengawasi rekonstruksi tembok. Pria ini juga mendapatkan jawaban Tuhan melalui puasa.

Nehemiah

Chapter 1 and 2

Words of Nehemiah, son of Hacalia. In the month of Kisleu, the twentieth year, as I was in Susa, in the capital,
Hanani, one of my brothers, and some men came from Judah. I asked them about the escaped Jews who had remained from captivity, and about Jerusalem. They answered me: Those who are left of the captivity are there in the province, at the height of misfortune and reproach; the walls of Jerusalem are in ruins, and her gates are consumed with fire . When I heard these things, I sat down, I cried, and I was several days in desolation. I fasted and I prayed before the God of heaven and I said, O Lord God of heaven, great and dreadful God, you who keep your covenant, and have mercy on those who love you and keep your commandments. Let your ear be attentive and your eyes open: listen to the prayer that your servant is addressing to you now, day and night, for your servants the children of Israel, confessing the sins of the children of Israel, our sins against you; for I and my father’s house have sinned. We have offended you, and we have not kept the commandments and the laws and the ordinances which you gave to Moses your servant. Remember this word which you commanded Moses your servant to speak. When you sin, I will scatter you among the peoples;but if you come back to me, and keep my commandments and do them , then when you are exiled to the end of heaven, from there I will gather you and bring you back to the place that I have chosen to make my name reside there . They are your servants and your people, whom you have redeemed by your great power and by your strong hand. Ah! Lord, let your ear be attentive to the prayer of your servant, and to the prayer of your servants who want to fear your name! Give success to your servant today, and grant him favor in the presence of this man! I was then the king’s cupbearer.In the month of Nisan, the twentieth year of king Artaxerxes, as the wine was before him, I took the wine and offered it to the king. I had never seemed sad in his presence. The king said to me: Why is your face so bad? You are not, however, ill; it can only be a heartbreak. I was seized with great fear, and I answered the king, May the king live forever! How can I not look bad when the city where the sepulchres of my fathers are destroyed is destroyed and its gates are consumed by fire? And the king said to me, What are you asking? I prayed to the God of heaven, and said to the king, If the king thinks it good, and if your servant pleases him, send me to Judah, to the city of the graves of my fathers, that I may rebuild it.. The king, beside whom the queen was seated, said to me then: How long will your journey take, and when will you be back? It pleased the king to let me go , and I fixed him a time. Then I said to the king: If the king sees fit, give me letters for the rulers across the river, that they may let me pass and enter Judah, and a letter for Asaph, keep king’s forester, so that he could provide me with timber for the citadel gates near the house, for the city wall, and for the house I will occupy. The king gave me these letters, for the good hand of my God was on me.I went to the governors on the other side of the river, and gave them the letters from the king, who had sent me with captains of the army and by horsemen. When Sanballat the Horonite and Tobijah the Ammonite servant heard of it, they were very displeased that a man came to seek the good of the children of Israel. I arrived in Jerusalem, and I spent three days there. After that, I got up during the night with a few men, without telling anyone what my God had put in my heart to do for Jerusalem. There was no other beast of burden with me but my own mount. I went out by night by the valley gate, and I walked against the source of the dragon and towards the gate of the dung, considering the ruined walls of Jerusalem and reflecting on its gates consumed by fire.I passed by the gate of the spring and the king’s pond, and there was no place through which the beast that was under me could pass. I went up by night by the torrent, and I still considered the wall. Then I returned by the valley gate, and so was back. The magistrates did not know where I had been or what I was doing. Until then, I had said nothing to the Jews, or to the priests, or to the nobles, or to the magistrates, or to any of those who were engaged in business. I said to them: You see the unhappy state in which we are! Jerusalem is destroyed, and its gates are consumed with fire!and so I was back. The magistrates did not know where I had been or what I was doing. Until then, I had said nothing to the Jews, or to the priests, or to the nobles, or to the magistrates, or to any of those who were engaged in business. I said to them: You see the unhappy state in which we are! Jerusalem is destroyed, and its gates are consumed with fire!and so I was back. The magistrates did not know where I had been or what I was doing. Until then, I had said nothing to the Jews, or to the priests, or to the nobles, or to the magistrates, or to any of those who were engaged in business. I said to them: You see the unhappy state in which we are! Jerusalem is destroyed, and its gates are consumed with fire! Come, let us rebuild the wall of Jerusalem, and we will no longer be in shame. And I told them how the good hand of my God had been upon me, and what the king had spoken to me. They said, Let us rise up and build! And they fortified themselves in this good resolution.

Bahkan sebelum Tuhan memilihnya sebagai Nabi, Muhammad juga biasa berpuasa sambil bermeditasi tentang Tuhan yang terisolasi dari orang-orang, dan dia mempertahankan praktik ini sepanjang hidupnya.

He developed the habit of retreating, like the Christian ascetics, in the Hira cave on the Mountain of Light, around Mecca. Sometimes he stays there for a whole month.
Source: The life of Muhammad before Islam

[…] Aïsha, the wife of the prophet, reported that
the prophet carried out a retreat (Itikaf / إعتكاف) during the last 10 days of Ramadan, this until God took back his soul, and his wives kept this practice. after him .
Sahih Bukhari, Book of Itikaf

IMPLEMENTASI RETREAT & RECOLLECTION

Sekarang kita akan melihat terdiri dari apa saja recollection dan retret Qur’ani ini, dan bagaimana hal ini secara konkret dapat terbentuk untuk Anda. Ayat berikut meringkas resep Tuhan tentang subjek ini, dan seperti yang dapat saya tunjukkan sejauh ini, semuanya dikatakan dalam Alquran dan sama sekali tidak ada yang terlewat.

[…] But do not be in their presence while you are prostrate in your places of recollection (or spiritual retreat) […] S2:V187

Resep ini sangat sederhana, tetapi hanya karena sederhana bukan berarti itu tidak lengkap. Semakin sederhana resepnya, semakin banyak resep itu sengaja terbuka, dan menyisakan ruang untuk inisiatif pribadi. Tuhan tidak memaksakan bentuk yang harus diambil oleh perenungan dan retret spiritual, maupun durasinya, atau tempatnya, dan membiarkan kita sepenuhnya bebas untuk mengatur diri kita sendiri sesuai dengan cara dan preferensi kita sendiri. Satu-satunya hal yang Tuhan perintahkan secara eksplisit kepada kita adalah tidak berada di sekitar wanita/pasangan kita saat kita dalam retret kita. Dengan kata lain, wanita kita tidak secara fisik berada di dekat kita di tempat meditasi kita.

Adapun pilihan bentuk, durasi, dan tempat, terserah masing-masing untuk memutuskan sesuai dengan kemungkinannya, dan menurut caranya sendiri melakukan yang dia rasa paling nyaman untuk recollection dan berkomunikasi dengan Tuhan. Memang, Alquran tidak ditujukan secara eksklusif kepada muslim, tetapi untuk seluruh dunia. Oleh karena itu, resep ilahi harus terbuka secara alami untuk semua orang, agar dapat secara sempurna disesuaikan dengan masing-masing, terlepas dari budayanya, kebiasaannya, kemampuannya, dan kondisi-kondisinya.

Sekarang saya akan menjelaskan beberapa cara untuk menerapkan praktik ini, tetapi jumlah caranya sebenarnya ada sebanyak jumlah orang yang benar-benar beriman. Yang terbaik adalah itu datang dari diri Anda sendiri, karena masing-masing memiliki hubungan sendiri dengan Tuhan, dan karena itu caranya sendiri dalam berkomunikasi dengan-Nya. Misalnya, retreat Anda mungkin saja dalam bentuk membaca Alquran dan kitab-kitab Tuhan lainnya (meskipun versi yang ada saat ini tidak sempurna, namun bacaannya tetap bermanfaat, asalkan dipersenjatai dengan Alquran untuk membedakan yang benar dari hal-hal yang palsu), berdoa dengan suara keras atau di dalam diri Anda sendiri, salat atau sembahyang ritual, saat2 hening untuk lebih memahami jawaban yang diilhamkan Tuhan dalam diri kita, dan fase kontemplasi atas diri kita, atas alam semesta & nikmat-nikmat Tuhan pada kita. Praktik ini juga dapat dilakukan di rumah, terisolasi di dalam ruangan, atau dalam bentuk retret di tempat yang dirancang khusus untuk keperluan tersebut, agar tidak tergoda untuk melakukan hal lain. Itu juga dapat dilakukan di tengah alam jika Anda memiliki kesempatan,… dan ada banyak cara lainnya.

Yang terpenting di atas segalanya adalah mampu menyendiri dalam waktu yang cukup lama, dalam suatu suasana yang kondusif untuk konsentrasi dan refleksi, dan, idealnya, yang memungkinkan Anda untuk dapat merenungkan ciptaan Tuhan secara langsung.

Keuntungan memilih tempat yang secara khusus disediakan untuk tujuan ini memungkinkan untuk merantai beberapa hari retret berturut-turut, untuk membuat jeda yang nyata dan untuk memberi diri Anda waktu untuk memutuskan hubungan dari dunia terestrial, dan membersihkan diri dari pikiran2 buruk parasit yang sadar tidak sadar terus-menerus menghinggapi kita. Untuk keadaan pikiran yang tepat, masa retreat Anda mungkin hanya berlangsung di akhir pekan jika Anda sulit membebaskan diri, meskipun jangka waktu yang lebih lama akan lebih ideal bagi mereka yang mampu. Jika Anda mengadakan retret berhari-hari, Anda tidak perlu merenung sepanjang hari, sepanjang retret Anda. Saya bahkan akan mengatakan bahwa itu tidak bermanfaat, karena tidak ada dari kita yang memiliki kapasitas untuk tetap bermeditasi sepanjang hari. Idealnya adalah memberikan beberapa sesi singkat, tidak lebih dari satu atau dua jam, untuk menjaga tingkat fokus dan semangat Anda kepada Tuhan, sambil bergantian dengan aktivitas lain, seperti membaca Alquran, berjalan-jalan di alam untuk merenungkan penciptaan Tuhan, (berjalan sangat kondusif untuk refleksi), atau untuk mendiskusikan tentang Tuhan jika Anda ada teman, dll. Anda juga dapat mengatur retret Anda dengan sangat baik dengan sesama orang beriman, untuk memotivasi satu sama lain dan memungkinkan Anda untuk beristirahat, begitu banyak kesempatan untuk bertukar pemikiran tentang Tuhan dan ajaran-Nya, tetapi juga untuk membagikan apa yang Tuhan inspirasikan kepada Anda saat retret. Itu juga memungkinkan untuk tidak sendirian di malam hari, karena untuk sebagian dari kita mungkin sulit bagi untuk sendirian selama beberapa hari berturut-turut. Di sisi lain, berhati-hatilah untuk tidak membicarakan hal-hal duniawi di antara Anda, baik pada siang atau malam hari, agar tidak merusak upaya Anda, dan tidak mencemari pikiran Anda dengan pikiran yang sia-sia atau tidak murni.

Apa yang bisa lebih baik daripada berada di tengah alam, jauh dari manusia, dengan latar belakang ciptaan Tuhan, untuk merenungkan Tuhan. Saya sangat menyarankan Anda untuk mengatur beberapa hari selama puasa Ramadhan Anda untuk melakukan retret di tengah alam, manfaatnya dijamin.

Di luar masa retreat Anda, dan bagi mereka yang tidak mampu, Anda dapat dengan mudah mengatur selama hari puasa Anda, sesuai dengan ketersediaan dan pengaturan Anda, sesi kecil di rumah, terisolasi di kamar, untuk mengumpulkan diri Anda, mendekatkan diri pada Tuhan. Sekalipun Anda bekerja dan memiliki anak, selalu memungkinkan untuk meluangkan sedikit waktu dalam sehari mendedikasikan diri untuk Tuhan. Namun, Tuhan tidak memaksakan lebih dari pada kapasitas kita. Oleh karena itu, tidak ada dari apa yang saya sebutkan yang wajib, tetapi semuanya idealnya datang dari diri Anda sendiri.

Perenungan, retret, dan sholat hanyalah salah satu komponen dari ritus Ramadhan, komponen penting lainnya tetap berpuasa, yaitu pembatasan kenikmatan kita dalam segala bentuk yang memungkinkan. Bergantung pada kondisi dan kebiasaan Anda, Anda dapat menggabungkan puasa, doa, dan meditasi, sesuai dengan proporsi Anda sendiri dan memvariasikan bentuk dan intensitas, dan ini, dari satu hari ke hari lainnya. Ini semua tentang menjadi setulus mungkin dan melakukan yang terbaik. Tuhan tidak meminta kita untuk strict tanpa interupsi selama sebulan berturut-turut, karena tidak ada yang bisa melakukannya. Oleh karena itu tidak ada yang menghalangi Anda untuk melakukan hal-hal duniawi saat menjalankan puasa, seperti bekerja, berolahraga, berbelanja, bertemu teman, bermain video game, menonton televisi, membaca koran, dll.

Terserah setiap orang untuk memberikan apa yang mereka bisa sesuai dengan kemampuan mereka pada saat itu, tujuannya adalah untuk menandai kesempatan tersebut dibandingkan dengan sisa tahun ini, dan untuk membuat upaya ekstra pada diri mereka sendiri, untuk meningkatkan/ memperbaiki pribadi, menyucikan diri dari dosa sebanyak mungkin, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

PUASA

Selain sholat, meditasi, dan retret, bagian penting lain dari ritus Ramadhan tentunya adalah puasa. Tapi, apakah puasa hanya terdiri, seperti yang didefinisikan oleh Muslim, dari abstain makanan dan minuman?

Kenyataannya, bentuk puasa yang paling ekstrim, disaat yang sama adalah bentuk yang paling tidak cocok untuk sebagian besar orang, adalah yang direkomendasikan oleh sunnah, dan saya bahkan tidak berbicara tentang risiko nyata yang dapat diwakili oleh hal ini bagi kesehatan kita. Mungkin, saat Anda berada di puncak kehidupan, tidak makan dan minum dari fajar hingga matahari terbenam mungkin tampak aman. Tetapi, meskipun masih muda dan dalam keadaan sehat, ketika Anda tinggal di wilayah tertentu di dunia di mana suhu ekstrim dan durasi puasa bisa sekitar 20 jam, dan terutama bagi mereka yang memiliki pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik, atau yang membuat mereka terpapar matahari, bahayanya memang nyata. Karena, semua dokter di dunia akan memberi tahu Anda bahwa dehidrasi yang berkepanjangan, ditambah dengan suhu yang ekstrim, adalah racun kuat bagi kesehatan manusia, berapa pun usia dan bagaimanapun kondisi fisiknya.

Dalam keadaan apapun, apakah Allah akan meresepkan ritus yang secara khusus lebih menguntungkan mereka yang muda dan dalam keadaan sehat? Logika apa dan keadilan apa yang menjadi dasar atas ini? Apakah Allah telah menetapkan puasa untuk membahayakan kesehatan kita? Ataukah untuk menyehatkan kita? Karena, kita terus terang saja, bahkan bagi mereka yang bisa menahannya, dan yang telah melakukannya selama puluhan tahun, dan yang telah saya ikuti selama lebih dari 30 tahun sekarang, Ramadhan dalam versi Islam tetap sangat sulit, terutama ketika terjadi di tengah musim panas dan durasi puasa sekitar 20 jam sehari! Percayalah, saya berbicara sebagai seorang yang telah menjalaninya sendiri selama bertahun-tahun. Dengan durasi dan kondisi yang demikian ekstrim, Ramadhan menurut sunnah menjadi siksaan yang nyata bagi tubuh dan pikiran, karena hanya menyisakan beberapa jam untuk tidur dan makan, dan memaksa kita untuk menebus hari kita dengan makan dan minum yang banyak dalam satu waktu singkat, yang kemudian menghalangi Anda untuk tidur nyenyak, meskipun Anda harus bangun sangat pagi lagi untuk mendapatkan kekuatan untuk hari puasa berikutnya. Penyiksaan seperti itu jelas tidak pernah diwajibkan oleh Allah, tetapi saya dapat memastikannya seyakin-yakinnya: Memang Iblis sendirilah yang berada di balik Ramadhan versi Islam. Dan, tujuannya bukanlah untuk mendatangkan manfaat bagi kita atau untuk mempermudah kita, melainkan untuk membuatnya sesulit mungkin bagi kita, sementara menyebabkan kerugian sebanyak mungkin dengan hasil/manfaat yang minimum.

[…] Allah wants ease for you, He does not want difficulty for you […] S2: V185

Bagaimana mungkin Allah bersikeras mengatakan bahwa Dia menginginkan kemudahan bagi kita dan bahwa Dia tidak ingin kesulitan bagi kita, sementara memaksakan kepada kita satu bentuk puasa yang tidak manusiawi seperti yang direkomendasikan oleh Sunnah? Apakah Allah mengolok-olok kita? Tentu saja tidak! Allah sama sekali tidak bersalah atas semua ini! Tapi, justru Iblis yang mengolok-olok umat Islam melalui apa yang disebut Sunnah Nabi, yang hanya membuat hidup lebih sulit bagi mereka. Sedangkan Allah menurunkan Alquran, adalah untuk memudahkan kita.

We did not send the Quran down on you to put you in difficulty . S20: V2

Muslim! 2 pilihan tersedia untuk Anda sekarang: Allah dan Alquran saja, atau sekutu-sekutu Anda dan Sunnah, sangat mudah atau sangat sulit, percaya dan bersyukur, atau menyangkal dan meringkuk sendiri, hasil akhir yang baik atau hasil akhir yang buruk , Pengampunan dan penyembuhan Tuhan, atau murka dan hukuman Tuhan.

He who gives and demonstrates piety, and who recognizes the great blessing (of God), We will facilitate for him the way to the easiest way, and as for the one who was greedy and dispensed (from the remembrance of God), and who has denied the great blessing (of God), we will facilitate for him the way to the most difficult way. S92:V5-10

Karena itu kita mengerti bahwa Allah tidak pernah menetapkan puasa seperti itu kepada kita seperti yang dilakukan oleh Muslim. Tapi kemudian, apa yang Allah benar-benar tentukan untuk kita?

[…] Eat and drink until you distinguish the white thread of dawn from the black thread of night, then complete the fast until night . […] S2: V187

Sulit untuk menyederhanakan resep yang sangat sederhana ini, namun Anda akan melihat bahwa itu mengatakan lebih dari yang terlihat. Resep ini memberitahu kita bahwa kita dapat makan dan minum sesuka kita, dan ini, sampai kita membedakan benang putih fajar dari benang hitam malam, dan sejak saat itu, selesaikan puasa sampai malam… BUKAN tidak makan dan tidak minum sama sekali sampai malam! itu adalah 2 hal yang sangat berbeda! Memang, “puasa” samasekali tidak identik dengan “deprivasi total dari makan dan minum” saja. Karena puasa bisa memiliki banyak bentuk dan dilakukan dalam berbagai tingkatan.

To fast

  1. To eat few, to eat less, or even to not eat at all, either voluntarly, or by an imposed abstinence or by lack of food.
  2. To refrain or to be deprived of certain enjoyments, etc.
  3. To refrain from food or from certain foods, by devotion, or by mortification.

Kata “puasa” tentu bisa berarti “pantang makan dan minum”, tetapi ini jauh dari arti satu-satunya. Seperti yang telah Anda lihat di seluruh artikel ini, Sunnah Iblis (sekarang kita dapat menyebutnya demikian, untuk mulai membersihkan nama Nabi Muhammad dari kengerian yang diasosiasikannya) secara sistematis mengambil dan memaksakan makna yang paling menghukum, paling berat, sambil mengesampingkan semua kemungkinan makna lainnya.

Apa yang sebenarnya Alquran katakan kepada kita adalah untuk “berpuasa”, yang bukan selalu berarti “abstain dari makan dan minum”. Seperti yang diindikasikan oleh daftar definisi ini, puasa dapat mengambil bentuk yang tak terhitung banyaknya, karena kata tersebut bisa mengambil makna “membatasi makan dan minum”, “berpantang hanya dari makanan tertentu”, atau “tidak menikmati kesenangan tertentu secara umum,” Makan dan minum juga bukan satu-satunya kesenangan yang dinikmati seseorang, tetapi ada kesenangan lain yang tak terhitung jumlahnya, banyak di antaranya tidak ada hubungannya dengan makanan. Namun, saya akan mengilustrasikan poin ini secara mendetail nanti di bagian ini.

Bahkan, tidak perlu mencari definisi kata “puasa” dalam kamus seperti yang baru saja kita lakukan. Alquran memiliki kamusnya tersendiri. Dalam Qur’an sendiri, kita juga menemukan definisi yang sama.

Alquran membedakan antara kata “صِّيَامَ / SIYAM” dan “صَوۡم / SAOUM”. 2 kata ini, meskipun sangat dekat, tidak memiliki arti yang sama. Kata “صِّيَامَ / SIYAM” berarti “Puasa” secara umum, yaitu “puasa-puasa”, dalam semua bentuk/ variannya, sedangkan kata “صَوۡم / SAOUM” secara khusus berarti “SATU puasa”, artinya sedang membahas hanya satu dari varian2 puasa.

Tetapi ayat S2: V187 mengatakan: “أتموا ٱلصيام إلى ٱليل”, artinya “selesaikan puasa (dalam segala variannya) sampai malam”, itulah sebabnya ayat ini tidak memberikan lebih banyak detil tentang sifat puasa yang harus dilakukan, karena ini adalah puasa dalam bentuk umumnya.

Sedangkan pada ayat berikut, kata “صَوۡم / SAOUM” yang digunakan kali ini, oleh karena itu “hanya satu jenis puasa”, yang menjelaskan mengapa ayat tersebut mendetailkan jenis puasa itu.

Eat and drink, then, and let your eye rejoice! If you see anyone among humans, say “Certainly, I have dedicated a صَوۡم / fast / SAOUM to the Almighty: so I will not speak to any human being today .” S19: V26

Tuhan memerintahkan Maria untuk berpuasa, sambil mengatakan padanya: “makan dan minumlah”. Ini menegaskan kepada kita bahwa menurut Allah, tidak ada satu saja bentuk puasa yang terdiri dari pantang sama sekali dari minum dan makan, seperti yang dikatakan sunnah, tetapi ada banyak yang lain. Dalam kasus khusus ayat ini, puasa yang ditugaskan kepada Maria terdiri dari tidak berbicara kepada laki-laki. Kita juga melihat bahwa puasa jenis ini, khusus untuk berbicara, tidak sepenuhnya kaku seperti sunnah, tetapi fleksibel, karena Maria masih memiliki hak untuk berbicara kepada orang-orang ketika mereka berbicara dengannya, hanya untuk memberi tahu mereka bahwa dia telah mengambil sumpah diam, sebagai bagian dari puasa yang didedikasikan untuk Tuhan. Senada, jika jenis puasa yang Anda pilih antara lain tidak makan sama sekali, Tuhan jelas mengijinkan Anda untuk mencicipi masakan Anda saat Anda memasaknya supaya Anda bisa mengukur/supaya masakannya tidak gagal. Ini tidak membatalkan puasa Anda dengan cara apapun, jika Anda bertindak dengan tulus/jujur dan tidak menyalahgunakannya.

Tapi, ini bukan satu-satunya terjemahan buruk dari penerjemah Muslim dalam ayat ini:

It is made lawful for you to have sexual relations with your wives on the night of As-Saum (the fasts).They are your garments. And you are their garments. Allah knows that you had clandestine sexual relations, so He forgave you and pardoned you. So now have sexual relations with them and seek that which Allah has ordained for you (offspring), and eat and drink until the white thread of dawn appears to you distinct from the black thread, and then observe the fast until the night. […] S2:V187

S2V187_6

Penerjemah Muslim menerjemahkan “ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآٮِٕكُمۡ / AL-RAFATHU ILA NISSAAIKUM” dengan “hubungan seksual dengan wanita Anda”, sekali lagi membatasi terjemahan mereka pada pengertian yang paling ekstrim dan sempit dari ungkapan ini. Karena, istilah “ٱلرَّفَثُ / AL-RAFATU” memiliki arti yang jauh lebih luas, dan umumnya mencakup semua tindakan intim khusus untuk hubungan diantara pasangan: Mulai dari belaian, pelukan, gerakan lembut, bujuk rayu, … hingga tindakan seksual. Oleh karena itu, kata ini akan diterjemahkan lebih tepat sebagai “menggoda”. Namun, Anda akan melihat bahwa kesalahan mereka tidak berhenti di situ:

It is made lawful for you to have sexual relations with your wives on the night of As-Saum (the fasts).They are your garments. And you are their garments. Allah knows that you had clandestine sexual relations, so He turned to you and forgave you. So now have sexual relations with them and seek that which Allah has ordained for you (offspring), and eat and drink until the white thread of dawn appears to you distinct from the black thread […] S2:V187

“أَنَّڪُمۡ كُنتُمۡ تَخۡتَانُونَ أَنفُسَڪُمۡ / ANAKUM KUNTUM TAKHTAANUNA ANFUSSAKUM” sebenarnya jika kita terjemahkan kata demi kata berarti “bahwa kamu mengkhianati diri sendiri”. Tetapi, para penerjemah Muslim malah memilih untuk menerjemahkan kalimat ini dengan “bahwa kamu memiliki hubungan seksual rahasia dengan istrimu” agar tetap dalam logika terjemahan yang sama.

Terjemahan yang benar dari kalimat “أَنَّڪُمۡ كُنتُمۡ تَخۡتَانُونَ أَنفُسَڪُمۡ” dengan “bahwa kamu mengkhianati dirimu sendiri” menegaskan kepada kita bahwa arti yang telah kita berikan pada kata “ٱلرَّفَثُ / AL-RAFATU” memang benar. Sesungguhnya, apa yang sebenarnya dimaksud dalam ayat ini tidak terbatas pada tindakan seksual itu sendiri, tetapi meluas ke semua jenis godaan yang ditemukan dalam pasangan. Mengingat hubungan istimewa yang Tuhan tempatkan di antara pasangan hidup, kita memahami bahwa suatu hal sulit bagi mereka untuk berpantang, siang atau malam, dari tindakan kelembutan apa pun di antara mereka. Allah tahu bahwa orang-orang beriman “mengkhianati diri mereka sendiri” menggoda istri mereka di sana-sini, sehingga mereka tidak menjaga resep-Nya dengan benar, dan Dia berkata dalam ayat itu bahwa Dia “mengampuni” mereka. Ini menunjukkan bahwa orang-orang beriman itu bersalah, dan larangan menggoda/ main mata dengan istri mereka ini memang dari Allah, dan bukan aturan pagan palsu. Tetapi, Allah berfirman bahwa Dia “mengampuni” mereka, ini menunjukkan bahwa Dia sekarang membolehkan mereka untuk dapat mengambil keuntungan penuh dari istri/ pasangan mereka di malam puasa, bertentangan dengan praktik yang telah dilakukan generasi-generasi sebelumnya. Inilah translasi/terjemahan yang benar atas ayat tersebut:

It is made lawful for you to flirt with your wives on the night of the fast. They are your garments. And you are their garments. Allah knows you betrayed yourselves so He forgave you and pardoned you. Henceforth, cohabit with them and fully enjoy what Allah has written in your favor […] S2:V187

S2V187_9

Namun, selain larangan semua jenis godaan pada istri/pasangan mereka pada malam puasa, ada larangan lain yang berlaku di kalangan orang Arab Kuno, yaitu abstain dari makan dan minum, siang maupun malam hari, dan ini selama beberapa hari berturut-turut. Inilah sebabnya mengapa ayat tersebut mengatakan: “Mulai sekarang… makan dan minumlah sampai kamu membedakan benang putih fajar dari benang hitam malam,” yang dengan jelas menunjukkan bahwa praktik ini memang terjadi di antara orang Arab Kuno. (t/n: dan Qur’an mengkoreksinya)

It is made lawful for you to flirt with your wives on the night of the fast. They are your garments. And you are their garments. Allah knows you betrayed yourselves so He forgave you and pardoned you. HENCEFORTH, cohabit with them and fully enjoy what Allah has written in your favor, and EAT AND DRINK (AS YOU WISH) until the white thread of dawn appears to you distinct from the black thread […] S2:V187

Tentu saja, larangan ketat makan dan minum pada siang-dan-malam puasa jelas tidak pernah dan tidak mungkin ditentukan oleh Allah, karena celaan yang secara khusus disinggung dibagian ayat ini hanya menyangkut fakta bahwa mereka boleh menggoda istri mereka pada malam puasa (Tuhan tidak melarang itu). Kemudian jika ayat tersebut secara eksplisit mengizinkan orang-orang beriman untuk makan dan minum dengan bebas pada malam puasa, ini sama sekali tidak memerintahkan kepada mereka, (sebagaimana yang dipahami oleh para penerjemah Muslim), bahwa seseorang harus pantang makan dan minum pada siang hari, tetapi itu hanya untuk dengan jelas mencabut aturan larangan-larangan yang diwarisi dari tradisi pagan Arab Kuno.

It is made lawful for you to flirt with your wives on the night of the fast. They are your garments. And you are their garments. Allah knows you betrayed yourselves so He forgave you and pardoned you. Henceforth, cohabit with them and fully enjoy what Allah has written in your favor, and eat and drink until the white thread of dawn appears to you distinct from the black thread,, then complete the fast until the night. But do not be in their presence while you are prostrate in your places of recollection (or spiritual retreat). These are the limits set by Allah, so approach them not. Thus does Allah make clear His verses to mankind that haply they may attain piety S2: V187

Pergantian frasa tertentu yang digunakan dalam ayat ini , adalah sebab mengapa para penerjemah Muslim menafsirkan kata “puasa” hanya sebagai deprivasi total makanan dan minuman. Memang, jika berpikiran sempit, kita bisa sampai pada: bahwa segala sesuatu yang diizinkan pada malam hingga sebelum fajar tidak diizinkan setelahnya. Namun, ini bukanlah bagaimana kita harus memahami ayat ini, karena tujuan Tuhan jelas bukan untuk membuat lebih banyak kebingungan, tetapi sebaliknya, untuk mengklarifikasi/ memperjelas hal-hal sebanyak mungkin. Kita harus memperhatikan konteks dari wahyu ayat ini: Allah tidaklah menetapkan ritus baru puasa di bulan Ramadhan, tetapi hanya mengkoreksi dan menyesuaikan amalan yang sudah ada yang sudah dikenal oleh orang-orang Arab Kuno (t/n: kepada ritus sejati dari Allah untuk semua manusia). Oleh karena itu tidak ada kaitan logis yang dapat dibangun antara 2 resep yang telah saya tebalkan dan tidak, seperti yang salah disimpulkan oleh para penerjemah Muslim. Pada kenyataannya, Allah cukup menyesuaikan praktik saat itu di kalangan orang Arab Kuno: yang ditebalkan untuk siang hari, dan sisanya untuk malam.

Ketika ayat-ayat ini diturunkan, orang Arab Kuno melarang semua godaan dengan istri mereka, siang ataupun malam, sepanjang bulan Ramadhan. Mengenai malam, Allah secara eksplisit mencabut larangan ini. Di sisi lain, sehubungan dengan siang hari, Allah telah mempertahankan larangan ini, bahkan menambahkan batasan tambahan:

It is made lawful for you to flirt with your wives on the night of the fast. They are your garments. And you are their garments. Allah knows you betrayed yourselves so He forgave you and pardoned you. Henceforth, cohabit with them and fully enjoy what Allah has written in your favor, and eat and drink until the white thread of dawn appears to you distinct from the black thread, then complete the fast until the night. But do not be in their presence while you are prostrate in your places of recollection (or spiritual retreat). These are the limits set by Allah, so approach them not. Thus does Allah make clear His verses to mankind that haply they may achieve piety. S2:V187

Preskripsi ini sangat logis, mengingat tidak mungkin bagi kita untuk sepenuhnya mengabaikan pasangan kita ketika mereka berada di dekat kita, jadi Tuhan memerintahkan kita untuk tidak berada di dekat mereka selama retret kita mendekatkan diri pada Tuhan, karena risiko mengganggu retret & komunikasi kita dengan-Nya.

Mengenai larangan orang Arab kuno untuk makan dan minum, siang dan malam, dan ini, kadang-kadang selama beberapa hari berturut-turut, pada kenyataannya hal ini tidak pernah ditentukan oleh Allah. Inilah mengapa Allah secara eksplisit mengizinkan orang-orang beriman untuk makan dan minum dengan bebas pada malam puasa. Akhirnya, tentang siang hari, Allah hanya mengatur agar kita menjalankan puasa, tanpa mengatakan bahwa kita harus pantang makan dan minum secara total. Sebab, seperti yang saya tunjukkan sebelumnya, puasa bisa diterapkan dalam berbagai tingkatan dan dalam bentuk-bentuk lain selain deprivasi makan dan minum sepenuhnya

CONTOH-CONTOH BENTUK PUASA YANG DIMUNGKINKAN

Seperti yang telah kita lihat di atas, puasa menurut Alquran dapat mengambil segala bentuk restriksi/ pembatasan. Ini umumnya terdiri dari bentuk self-denial/ penyangkalan diri, penebusan dosa, tindakan penyesalan, pembatasan kenikmatan, yang dapat diterapkan dalam berbagai cara, masing-masing sesuai dengan preferensi, disposisi, dan kemampuan mereka sendiri. Tetapi, agar puasa mendatangkan manfaat sebanyak mungkin, itu harus menjadi “jeda yang cukup”, sehingga puasa membutuhkan upaya riil dari pihak kita.

Kriteria kesulitan dari “upaya” tersebut jangan hanya difokuskan pada aspek fisik saja, tetapi juga, diatas segalanya: pada aspek mental, karena tujuan puasa tidak pernah untuk mengganggu kesehatan fisik kita. Jadi jika bentuk puasa yang Anda pilih tidak membutuhkan usaha yang cukup dari Anda, maka itu berarti Anda harus memperkuatnya dengan meningkatkan intensitasnya atau memvariasikan bentuknya, agar lebih menguntungkan bagi Anda. Saya menantang umat Islam untuk melakukan puasa yang terdiri dari makan makanan sederhana, siang juga malam, dan membiarkan diri Anda hanya 1 atau 2 kali makan enak per minggu. Puasa seperti itu jauh lebih sulit untuk dijalankan, karena menghilangkan kenikmatan makan yang enak beberapa hari berturut-turut, sedangkan puasa menurut “Sunnah”, berubah menjadi semacam hari raya setiap malamnya, dan karenanya jauh lebih mudah secara mental.

Berikut beberapa contoh cara berpuasa yang juga bisa Anda gabungkan pada saat yang sama:

  • Puasa makanan dan minuman yang tidak terpisahkan seperti yang dilakukan Muslim. Ini adalah bentuk yang paling ekstrim, jadi ini bukan yang paling cocok untuk kebanyakan orang. Karena fakta tidak minum air sama sekali dapat “mencederai” sisa puasa Anda, seperti mencegah Anda tetap fokus, atau melelahkan Anda secara ekstrem, atau membuat Anda mengantuk …, dan saya belum berbicara tentang masalah kesehatan yang diakibatkan oleh puasa ekstrim ini, terutama pada ginjal.
  • puasa parsial: minum dan tidak makan sama sekali, minum tetapi kurangi jumlah makanan, minum tetapi konsumsi hanya hidangan sederhana, artinya misalnya tanpa rasa, tanpa saus, tanpa garam, tanpa merica, tanpa bumbu, tanpa gula, tidak ada daging, …, atau menghilangkan kesenangan kecil untuk diri Anda sendiri: tidak ada makanan penutup, jus, soda, permen, kue kering, teh, kopi, dll.
  • puasa bicara: tidak berbicara sama sekali sepanjang hari, berbicara lebih sedikit atau hanya jika perlu saja, memaksa diri untuk tidak bercakap-cakap hal-hal sepele atau berbicara tentang hal-hal duniawi, puasa dari bersumpah atau menggunakan bahasa yang buruk, puasa dari bergunjing, dll.
  • Ini juga dapat berupa pembatasan lain dari kesenangan kita: seperti misalnya, untuk seorang perokok, untuk mengurangi merokok, untuk orang yang minum (alkohol) secara teratur, untuk minum lebih sedikit (Tuhan memberikan karunia berpuasa kepada semua orang tanpa kecuali, Tuhan tidak menutup pintu bagi siapa saja kecuali mereka sendiri yang menutup diri), bagi mereka yang memiliki ekses, bisa abstain dari itu atau mengurangi itu, seperti mereka yang terlalu banyak menonton TV, atau yang hang out/ keluar terlalu banyak, atau yang melakukan terlalu banyak olahraga, atau yang terlalu banyak menghabiskan waktu dengan orang-orang, atau yang bekerja terlalu banyak, atau yang mengkonsumsi terlalu banyak, atau yang suka berbelanja terlalu banyak, dll.

[…] And eat and drink until the white thread of dawn appears to you distinct from the black thread, then complete the fast until the night. […] S2:V187

Ayat-ayat yang berkaitan dengan puasa masih mengisyaratkan, tanpa memaksakan apapun kepada kita, bahwa puasa yang paling tepat adalah puasa makanan.

Ini tidak berarti bahwa puasa jenis lain harus dihindari, tetapi lebih baik melakukan puasa makanan sebagai puasa utama, sambil disertai bentuk-bentuk puasa lainnya yang telah saya berikan beberapa contohnya. Memang puasa makanan memiliki banyak kelebihan: membutuhkan tenaga fisik dan mental yang nyata, bermanfaat untuk kesehatan kita bila diaplikasikan dengan porsi yang tepat sesuai masing-masing, tidak se-ekstrim dari puasa umat Islam, dan bisa dilakukan dalam segala keadaan. Sedangkan puasa bentuk lain, meski sangat dianjurkan, lebih terbatas dari segi manfaat dan medan tindakannya lebih sempit. Inilah sebabnya jika saya harus menyarankan Anda kepada satu bentuk puasa, lakukanlah puasa dari makanan (bila Anda merasakan itu lebih merugikan pada diri Anda daripada membawa Anda kembali/mendekatkan diri pada Tuhan, maka lebih baik untuk pembatasan makan saja), dan kemudian menambahkan bentuk-bentuk puasa lainnya.

Secara pribadi, puasa saya terdiri dari benar-benar abstain dari makanan, tetapi saya membiarkan diri saya minum air dari waktu ke waktu. Saya bisa membandingkannya dengan puasa Islam yang telah saya lakukan selama beberapa dekade, dan perubahan ini hanya membawa kebaikan bagi saya tanpa ada dampak buruk apapun. Sebab, fakta minum sedikit air saat puasa makanan, tidaklah mengurangi rasa lapar dengan cara apapun, dan upaya yang diberikan pada level fisik dan mental tetaplah sama. Di sisi lain, minum air mencegah saya dari sakit kepala, atau kantuk, yang di masa lalu menyulitkan saya dari evoke/menghadirkan Tuhan atau bermeditasi pada Alquran.

Sebelum memulai bulan Ramadhan, seseorang harus berkomitmen pada bentuk puasa yang akan ia jalani, dan kemudian mematuhinya sebaik mungkin. Sebab, komitmen kepada Allah itu sesuatu yang berat/serius bagi yang benar-benar mengetahuinya. Oleh karena itu, lebih baik mengurangi/membatasi komitmen dan menjaga komitmen Anda, daripada sebaliknya (t/n: berkomitmen ini itu) dan tidak mematuhinya.

O you who believe! Faithfully fulfill your commitments […] S5: V1

[…] And fulfill your commitment to Allah . This is what He commands you. […] S6: V52

those who fulfill their commitment to Allah and do not violate the Covenant . S13: V20

And fulfill the commitment, because we will be asked about the commitments . S17: V34

and whoever fulfills his covenant to Allah, He will soon bring him an enormous reward . S48: V10

and who keep the deposits entrusted to them, and respect their commitments scrupulously ; S70: V32

Misalnya, kita hanya berkomitmen untuk minum dan tidak makan sama sekali, yang tidak menghalangi kita untuk kemudian memutuskan pada hari-hari tertentu untuk menambahkan bentuk puasa lainnya, seperti misalnya menjaga keheningan sebaik mungkin. Memang, berdiam membuat kita lebih rendah hati di hadapan Tuhan, dan melindungi kita dari dosa-dosa yang keluar dari mulut kita. Itu juga memungkinkan kita untuk mencapai tingkat fokus yang diperlukan untuk dapat menghadirkan Tuhan dengan cara yang lebih bermartabat, dan untuk lebih baik mendengar jawaban yang Dia berikan kepada kita dalam bentuk inspirasi. Semakin Anda membatasi diri untuk diri sendiri dan untuk Tuhan melalui berbagai bentuk puasa, dan semakin rendah hati Anda di hadapan Tuhan dan menyenangkan Tuhan, itu akan semakin mendekatkan Anda kepada-Nya dan mendatangkan efek positif bagi Anda.

Dengan preskripsi yang benar dari Alquran, puasa menjadi dapat diakses oleh semua orang, termasuk mereka yang dalam kondisi kesehatan yang buruk, atau yang masih sangat muda atau sudah sangat tua, atau yang tidak memiliki kemauan keras. Terserah setiap orang untuk memberikan apa yang mereka bisa, mengetahui bahwa apa yang kita lakukan, kita lakukan hanya untuk diri kita sendiri. Jadi semakin banyak kita memberi, semakin banyak hasil yang bisa kita harapkan dari Tuhan… (pada kenyataannya, pasti akan lebih banyak dari yang kita berikan.)

Surely! Allah wrongs not even of the weight of an atom. And if there is any good (done), He doubles it, and gives from Him a great reward. S4:V40

[…] And whoever earns a good righteous deed, We shall give him an increase of good in respect thereof. Verily, Allah is Forgiving, Appreciative. S42:V23

And that in truth, man only obtains [the fruit] of his efforts. S53:V39

Puasa yang benar menurut Al-Qur’an menghasilkan hasil yang konkrit dan terasa dengan segera, dan membawa kita lebih dekat kepada Tuhan dengan cara yang luar biasa. Berbeda dengan Ramadhan Sunnah, yang lebih kepada perayaan komunitas, puasa sejati lebih merupakan tindakan soliter, spontan, tulus, dan pendekatan individual, komitmen yang kita ambil dengan Tuhan secara langsung untuk diutamakan, menciptakan jeda sejauh mungkin dari dunia terestrial dan dari semua orang. Ramadhan menurut Alquran adalah hadiah yang diberikan Tuhan kepada kita, dan bukan beban seperti halnya dengan Ramadhan Sunnah. Ini adalah tindakan yang berjalan ke dua arah: kita melakukan upaya pada diri kita sendiri dan kita menerima untuk menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan dengan mengungkapkan semua kerentanan kita kepadanya, dan sebagai gantinya, Tuhan menerima upaya kita dan bekerja di dalam kita untuk membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Jika Tuhan bersikeras agar kita menjalankan ritus ini, itu bukanlah pengorbanan yang Dia minta agar kita lakukan untuk-Nya, (t/n: karena Dia tidak memerlukan suatu apapun) tetapi karena itu adalah manfaat yang kita lakukan untuk diri kita sendiri, dengan berusaha melampaui diri kita sendiri, untuk mendekatkan diri kepada-Nya, untuk menerima kesembuhan, jawaban atas pertanyaan kita, dan approval/keridhaan dari-Nya.

O you who believe! Fasting is prescribed to you as it was prescribed to those before you, that haply you may be pious. During a counted number of days. Then whosoever among you is sick or journeying, for him the like number of other days. For those who can endure it [and choose not to], is a ransom, the feeding of one that is indigent. And if someone does more of their own accord, it is for them; but it is better for you to fast. If only you knew! S2:V183-184

Apa yang kita lakukan, di atas segalanya adalah untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk menyenangkan Tuhan, jadi kita tidak boleh memaksakan pada diri kita sendiri apa yang di luar kemampuan kita, dan kemudian menyalahkan Tuhan untuk itu. Atau tidak melakukannya dengan cara yang baik, atau tidak dengan kerangka berpikir yang benar. Lebih baik sumbangan yang tulus dan murni, betapapun sederhananya, daripada sumbangan yang lebih besar, tetapi yang tercemar oleh perilaku buruk. Umat Muslim menjalankan puasa yang ekstrim, yang bagi kebanyakan dari mereka melebihi apa yang mereka ingin lakukan sendiri jika mereka sadar bahwa mereka punya pilihan yang lebih luas, dan kemudian melakukan semua jenis ekses juga selama puasa itu sendiri, seperti di malam puasa, dan juga selepas dari bulan puasa. Satu ekses selalu menimbulkan ekses lain.

Puasa sejati lebih seperti ini, (jika mungkin) di siang dan malamnya
Bagi umat Islam, pada malam Ramadhan, berubah menjadi seperti ini. Apa gunanya deprivasi diri Anda sepenuhnya di siang hari, jika itu untuk melakukan yang berlawanan bahkan lebih di malam hari? Apakah puasa terdiri dari menghabiskan hari untuk menyiapkan makan malam, atau memikirkannya sepanjang hari bagi mereka yang mengkonsumsinya tanpa mengambil bagian dalam persiapannya? Apakah ini benar-benar semangat Ramadhan? Pesta kuliner atau penebusan dosa? Pesta pora atau penyesalan/pembatasan? Perayaan komunitas atau upaya pendekatan soliter kepada Tuhan?

KESIMPULAN

Berikut ini rangkumannya, preskripsi dari Tuhan yang benar tentang puasa di bulan Ramadhan, dengan terjemahan yang benar:

O you who believe! Fasting is prescribed to you as it was prescribed to those before you, that haply they may achieve piety. During a counted number of days. then whosoever among you is sick or journeying, for him the like number of other days For those who can endure it [and choose not to], is a ransom, the feeding of one that is indigent. And if someone does more of their own accord, it is for them; but it is better for you to fast. If only you knew! The month of Ramadan in which was sent down the Quran  as a guide for the people, also clear evidence for guidance and discernment. So whoever of you witness the month, shall fast it. And whosoever sick or journeying, for him the like number of other days. Allah intends for you ease, and intends not for you hardship; so you shall complete the account and shall magnify Allah for His having guided you, and haply you may give thanks. When My servants ask you concerning Me, I am indeed close (to them); I respond to the prayer of every suppliant when he calls on Me; So let them respond to me Me and believe in Me, so that they may be led aright. It is made lawful for you to flirt with your wives on the night of the fast. They are your garments. And you are their garments. Allah knows you betrayed yourselves so He forgave you and pardoned you. Henceforth, cohabit with them and fully enjoy what Allah has written in your favor, and eat and drink until the white thread of dawn appears to you distinct from the black thread, then complete the fast until the night. But do not be in their presence while you are prostrate in your places of recollection (or spiritual retreat). These are the limits set by Allah, so approach them not. Thus does Allah make clear His verses to mankind, that haply they may achieve piety. S2:V183-187

Ringkasnya, puasa Ramadhan berlangsung setiap tahun di periode yang sama, yakni di awal musim gugur. Itu berlangsung sesuai komitmen kita, bisa dari 3 hari hingga 1 bulan, mengetahui bahwa Tuhan merekomendasikan satu bulan penuh untuk menuai manfaat penuh darinya. Meskipun Tuhan sangat mendesak agar kita berpuasa, namun Tuhan mengijinkan mereka yang menolak untuk tidak berpuasa, dengan syarat mereka mengkompensasinya dengan memberi makan orang2 yang membutuhkan. Tuhan juga menetapkan kepada mereka yang telah memilih untuk berpuasa, untuk menambah dengan membantu mereka yang membutuhkan, bantuan materi dan bantuan non-materi. Berkenaan dengan puasa itu sendiri, itu datang dalam 2 komponen utama: yang pertama adalah fisik dan mental, dan terdiri dari puasa atau pembatasan kenikmatan. Tuhan menganjurkan agar kita melakukan puasa makanan total, untuk mendapatkan manfaat sebanyak mungkin tanpa merugikan diri kita sendiri, dan di atas itu, untuk membatasi ekses2 kita dan membatasi kesenangan sehari-hari kita yang lain. Komponen kedua adalah spiritual, dan datang dalam doa, mengingat Tuhan, salat, retret, rekoleksi, dan kontemplasi, dan bertujuan untuk berterima kasih kepada Tuhan atas semua karunia-Nya, invoke/ memanggil/menghadirkan Dia dan merenungkan Firman-Nya sebanyak mungkin. Allah mengizinkan kita, pada malam puasa, untuk menjalani kehidupan yang sepenuhnya normal, termasuk dalam kehidupan berpasangan kita, dan tidak memaksakan batasan tertentu pada kita yang khusus sepanjang malam hari bulan Ramadhan. Tentang siang hari, Tuhan memerintahkan kita untuk menjalankan puasa kita, dan melarang kita untuk menggoda pasangan kita, dan menambahkan larangan berada di dekat mereka saat kita recollecting/ mengingat diri kita kepada-Nya.

TUJUAN RAMADAN

Jika Allah telah menetapkan puasa untuk seluruh umat manusia, itu karena praktik ini mengandung manfaat yang tak ternilai, untuk semua orang, dan setiap saat. Tuhan menetapkan puasa untuk semua utusan-Nya, termasuk yang paling suci di antara mereka, Isa/ Yesus, dan untuk orang-orang yang paling berdosa di antara para hamba-Nya. Ini menunjukkan bahwa kita semua perlu berpuasa, tidak peduli seberapa murni kita, dan tidak ada yang dapat mengklaim dapat murni tanpanya. Ini juga menunjukkan bahwa Tuhan tidak mengecualikan siapa pun dari pemberian/hadiah nyata yang Dia berikan kepada kita ini, dan kita telah melihat dalam artikel ini bahwa siapa pun, yang hidup dan sadar, pada kenyataannya sangat mampu melakukannya.

Puasa memungkinkan kita untuk menguduskan tubuh kita, untuk mengungkapkan ketundukan kita kepada Tuhan, untuk menyucikan diri kita sendiri, untuk menebus sebagian dari dosa-dosa kita, dan untuk menyangkal sebagian dari ego kita melalui pembatasan kesenangan kita. Ini adalah cara untuk menghapus sebagian “Aku” dari diri kita, membiarkan sedikit dari Tuhan bersinar melalui kita, yang memiliki efek menghasilkan pada kita penyembuhan tubuh, jiwa, dan semangat, dan untuk mengarahkan seluruh keberadaan kita kepada Tuhan. Ini juga merupakan cara bagi kita untuk menempatkan diri kita pada posisi rentan dan mempercayakan nasib kita di tangan Tuhan. Ini adalah tindakan berserah sepenuhnya kepada Tuhan untuk membiarkan Dia bekerja dengan bebas di dalam kita, untuk membentuk kita sesuai kehendak-Nya. Ini juga merupakan ajakan untuk mengendalikan diri dan memungkinkan kita untuk mengendalikan keinginan-keinginan kita.

Puasa memungkinkan kita, antara lain, mengalami rasa lapar dan haus, yang membuat kita menyadari kondisi orang miskin, yang menderita kondisi itu sepanjang tahun. Itulah mengapa Tuhan sangat mendorong kita untuk memberi makan sebanyak mungkin orang miskin selama periode Ramadhan, berupaya lebih banyak dibandingkan sisa tahun itu. Ini untuk membuat kita menyadari keberuntungan luar biasa kita, tidak berada dalam situasi mereka, dan membuat kita ingin terus membantu mereka secara permanen. Kita tidak boleh melupakan orang miskin, karena sementara mereka dilupakan, mereka terus mengalami cobaan berat, siang dan malam. Tidak ada yang lebih buruk dari terus hidup dengan tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa, sedangkan di saat yang sama, banyak orang yang menderita kelaparan dan kehausan setiap harinya, dan yang dilanda segala macam musibah lainnya. Tentu saja, tidak ada yang bisa memikul semua kesengsaraan dunia di pundaknya sendiri, tetapi paling tidak adalah kita memberikan kontribusi pribadi dengan membantu yang paling kurang beruntung dengan cara yang berkelanjutan dan dengan frekuensi yang teratur, karena memang itulah yang kita inginkan orang lain untuk melakukannya pada kita, jika kita berada di posisi mereka.

Tapi, puasa bukan hanya puasa badan, tapi juga puasa hati yang berfungsi mendekatkan jiwa kita kepada Tuhan. Oleh karena itu, ini harus menjadi kesempatan bagi kita untuk memperbaiki kesalahan2 dan kualitas kita, melakukan sedikit upaya ekstra untuk mengakhiri kesalahan kita yang bisa berupa egoisme, kemunafikan, fitnah, kecemburuan, tidak tahu berterima kasih, kemalasan, ketidaktahuan, penyimpangan, berbohong , ketidakjujuran, kekerasan, pemberontakan, tirani, kemarahan, pengkhianatan, kebencian, dendam, penghinaan, ketidakpedulian, … dan untuk mengembangkan lebih banyak lagi kualitas kebaikan, kebajikan, kesabaran, ketekunan, keadilan, solidaritas, persaudaraan, kesetiaan, kebenaran, pengampunan, keadilan, kemurahan hati, berbagi, keterbukaan, mempertanyakan, pengendalian diri… dan secara umum menjadi manusia yang lebih baik di mata Tuhan

MENDAPAT KETAKWAAN

Allah menunjukkan kepada kita bahwa salah satu tujuan utama menjalankan puasa Ramadhan adalah untuk mendapatkan ketakwaan. Memang, bukan tanpa alasan Allah memulai resep ritus Ramadhan dengan “semoga kamu mencapai ketakwaan” dan mengakhirinya dengan “semoga mereka mencapai ketakwaan”, tetapi karena Ramadhan adalah cara terbaik untuk mencapai tujuan ini. Allah memberi tahu kita bahwa cara terbaik untuk mendekati Ramadhan dan mendapatkan manfaat terbesar darinya adalah melakukannya dengan sasaran untuk mendapatkan ketakwaan. Ketakwaan adalah kualitas pertama yang Allah junjung tinggi dalam diri manusia. Karena, kualitas inilah yang paling baik mengukur kita dalam hubungan dengan Allah, ketakwaan ini juga mengungkapkan seberapa kita takut dan menghormati-Nya.

Neither their flesh nor their blood will reach Allah, but what reaches Him from you is piety […] S22: V37

Oleh karena itu, tidak ada provisi/bekal yang lebih baik dari kesalehan/ ketakwaan: lebih baik dari kualitas lainnya, lebih baik dari barang duniawi manapun.

The Hajj takes place in well-known months.  So whosoever intends to perform Hajj, then no flirt, no perversion, no quarrel during the Hajj. And whatever good you do, (be sure) Allah knows its. And take a provision (with you) for the journey, but the best provision is piety. So fear Me, O men of understanding! S2:V197

Dia yang Tuhan inginkan bimbingan untuknya, dan yang Dia inginkan kebaikan terbesar, Dia memberi mereka ketakwaan.

While as for those who accept guidance, He increases their guidance, and inspires them their piety. S47:V17

Allah mendefinisikan ketakwaan sebagai kebalikan dari amoralitas.

And by the soul and the One who harmoniously shaped it; and then inspired him with his immorality, as well as his piety ! S91: V7-8

Tapi amoralitas mengarah pada dosa. Oleh karena itu, tidak ada perisai yang lebih baik dari dosa selain kebalikan dari amoralitas, yaitu ketakwaan.

O Children of Adam! verily We have sent down unto you a garment covering your nakedness and as an adornment. But, the best garment is that of piety. That is of the Allah’s signs, that haply they may be admonished? S7:V26

Verily those who fear God when an suggestion from the Devil touches them, remember  [Allah], and come to his senses. S7:V201

Sungguh, hanya ketakwaan yang bisa membuat kita menolak godaan terkuat. Karena ketakwaan mendorong kita untuk menempatkan Tuhan di atas diri kita sendiri, dan oleh karena itu lebih memilih kesenangan-Nya daripada kesenangan kita. Ketakwaan adalah apa yang memungkinkan kita untuk melampaui diri kita sendiri sebagai manusia yang tidak sempurna dan berdosa, dalam arti bahwa apa yang tidak kita lakukan untuk diri kita sendiri, paling tidak kita lakukan untuk Tuhan.

You will only achieve (true) piety if you give generously of what you cherish . All that you do generously, Allah knows it well. S3: V92

Pada kenyataannya, orang yang bertindak dengan ketakwaan akhirnya menjadi pemenang besar, dan pada akhirnya menyenangkan Tuhan, tetapi juga mendapat kepuasan pribadi yang lebih besar. Memang Tuhan tidak meminta kita untuk mengorbankan kepuasan kita sendiri untuk-Nya, tetapi sebaliknya, Tuhan menjanjikan kepuasan yang lebih besar jika kita memuaskan/menyenangkan-Nya terlebih dahulu.

[…] The good end is reserved for piety. S20: V132

IBRAHIM, CONTOH/MODEL UNTUK SEMUA ORANG BERIMAN

Bukan tanpa alasan bahwa orang-orang yang telah menunjukkan ketakwaan di masa lalu justru adalah orang-orang yang dipilih Tuhan dari seluruh dunia untuk menjadikan mereka Utusan-utusanNya sendiri, dan di antara mereka adalah orang tertentu, Ibrahim, satu-satunya manusia di bumi yang diangkat sebagai khalil/ kesayangan/ sahabat Allah.

Karena ketakwaannya yang luar biasa, Ibrahim lebih memilih untuk dibakar daripada mengkhianati Tuhan. Dan itu bukan hanya angan-angan di pihaknya, karena Ibrahim benar-benar akan dibakar, tetapi Tuhan secara ajaib menyelamatkannya dengan memerintahkan api itu menjadi dingin untuknya.

They said, “Burn him. Support your divinities if you intend to take action”. We said: “O fire, be coolness and safety for Abraham”. S21:V68-69

Ibrahim setuju untuk memberikan anak sulungnya sebagai korban untuk Tuhan, meskipun dia hanya memilikinya di usia yang sangat tua dan bahwa dia menghargainya lebih dari apapun. Bayangkan signifikansi tindakan seperti itu: di sini Anda memiliki seorang pria tua yang sangat ingin memiliki anak suatu hari, dan lihatlah, Allah akhirnya secara ajaib memberinya seorang putra. Meskipun dia tidak lebih dari seorang pria tua yang istrinya mandul. Lalu anak yang penyayang dan berbudi luhur ini, Ibrahim mencintainya lebih dari apapun, tetapi Allah memintanya untuk memberikannya kepada-Nya sebagai korban. Dan melawan segala rintangan, Ibrahim menurut, sambil tetap setia sepenuhnya dan bersyukur kepada Tuhan, yang kemudian Tuhan menyelamatkan putranya dan mengiriminya kurban dari-Nya sebagai hadiah.

Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar. Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya, ini adalah ujian yang nyata. Dan Kami tebus dia dengan sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian: ”Selamat sejahtera bagi Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. S37: V101-110

Ini adalah kisah yang membuat air mata menetes bagi setiap orang beriman yang tulus, begitu menyentuh dan mengagumkan perilaku Ibrahim. Sungguh, tidak ada yang lebih indah dan lebih mengharukan daripada melihat seseorang yang, apapun yang terjadi, menaati Tuhan, dengan penuh keyakinan, rasa syukur, dan kerendahan hati, dan yang tetap setia kepada-Nya dalam segala keadaan. Tuhan mengizinkan kita untuk mengalami perasaan ini untuk diri kita sendiri melalui anak-anak kita sendiri. Sungguh, tidak ada yang lebih indah daripada seorang anak kecil yang berperilaku seperti ini bersama kita.

Jika Ibrahim hidup hari ini, kebanyakan orang akan menganggapnya bodoh dan mencapnya sebagai utusan Iblis daripada utusan Tuhan, sambil melemparkan pada wajahnya: “Tuhan macam apa yang akan meminta seseorang untuk mengorbankan putranya sendiri? , apalagi anak satu-satunya? Orang macam apa yang akan berpikir bahwa Tuhan dapat memerintahkan hal seperti itu? “Tidak masalah apakah itu Tuhan yang memberikan mimpi/penglihatan ini kepada Ibrahim, atau apakah itu dari Iblis dan Tuhan membuat Ibrahim mempercayainya, bagaimanapun juga, Tuhan melakukan apa yang Dia inginkan dan tidak memiliki pertanggungjawaban untuk memberikan kembali kepada siapa pun. Tuhan memberi dan mengambil, sementara kita sendiri tidak memiliki apa-apa, bahkan diri kita sendiri. Tuhan dalam hak-Nya untuk menuntut dari kita apapun yang Dia inginkan, dan sikap terbaik untuk mengikuti itu adalah dari Ibrahim, terdiri dari dengan setia menaati Tuhan, sambil menunjukkan kepercayaan kita kepada-Nya tidak peduli apa yang Dia putuskan untuk kita. Kita menyadari pada akhirnya bahwa jika Tuhan membuat Ibrahim menjalani ujian unik ini yang tampaknya tidak dapat disanggupi di mata siapa pun, itu karena Dia menyediakannya untuk takdir yang sama uniknya di antara manusia. Ini memang sikap yang akan diberi imbalan tanpa batas oleh Tuhan, memberikan Ibrahim status luar biasa sebagai Sahabat Tuhan, menunjukkan kepadanya seluruh kerajaanNya baik di surga maupun di bumi, menghadapkannya dengan raja-raja, dan membuatnya mendominasi mereka, giving him the winning repartee over all other reparte, Tuhan membangkitkan yang mati atas permintaan sederhana dari pihaknya, mengajarinya semua ritus-Nya dan menjadikannya teladan kebenaran, menjadikannya sebagai model untuk diikuti bagi semua umat manusia, menarik dari keturunannya, semua Utusan dan Nabi berikutnya, memberinya kehormatan untuk membangun RumahNya sendiri di bumi, Ka’bah, dan menjadikan tempat kediamannya sebagai tempat perlindungan dan titik pertemuan bagi semua orang beriman di dunia sampai akhir zaman. Terpujilah Ibrahim, dan orang-orang yang lurus di antara keturunannya!

Jika saya mengatakan semua ini kepada Anda, itu karena kualitas utama Ibrahim adalah persisnya kesalehan/ketakwaan. Ibrahim membuktikannya berkali-kali dengan memberikan Tuhan apa yang paling dia hargai, sambil tetap setia dan bersyukur kepada-Nya dalam segala keadaan. Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa siapa pun yang tahu bagaimana bertindak dengan takwa, bisa melampaui semua batas dan mendekat kepada-Nya tanpa batas. Jadi, jika tujuan Anda saat mendekati puasa Ramadhan di atas segalanya adalah untuk menanggapi panggilan Tuhan dan memberikan kepuasan kepada-Nya sebaik mungkin, tanpa kepentingan egois diri sendiri, melakukannya dengan upaya terbaik, tanpa mengeluh, tanpa ragu-ragu. Maka Tuhan akan memberi Anda persediaan/bekal terbaik, yaitu kesalehan/ ketakwaan.

MENDAPAT PENYEMBUHAN

Man-Praying-Doxa-Aug-2017

Meskipun tujuan utama kita adalah untuk menyenangkan Tuhan, namun tidak menghalangi kita untuk selalu mengharapkan Rahmat-Nya, berupa kesembuhan hati dan konfirmasi/peneguhan dari-Nya, sehingga memungkinkan kita untuk memperoleh jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan kita yang akan memungkinkan kita untuk maju dalam perjalanan kita menuju Dia.

[…] Allah wants ease for you, He does not want hardship for you, so that you complete the count and proclaim the greatness of Allah for having guided you, and so that you will be grateful! And when My servants ask you about Me .. then I am very close: I answer the call of the one who prays to Me when he prays to Me. That they respond to My call, and that they believe in Me, so that they are well guided S2: V185-186

Kita semua dipenuhi dengan kezaliman, dan hati kita tetap bertahan dalam dosa, bahkan setelah Tuhan membuka mata kita dan menempatkan kita di jalan yang benar, yang membuat dosa-dosa kita semakin terlihat besar dan tidak dapat ditoleransi oleh kita. Oleh karena itu, hanya ada Allah untuk memutus lingkaran setan ini, dan dengan demikian mengakhiri rasa sakit yang tak tertahankan ini yang disebabkan oleh persistensi hati kita yang mengerikan untuk lebih memilih pemenuhan kehendak kita sendiri daripada Tuhan. Hanya Allah yang akan menyempurnakan nikmatNya bagi kita, memberi kita kedamaian jiwa, dengan membuat kita menolak kejahatan tanpa usaha sedikit pun, dan bahwa kita menemukan kelegaan dan kesenangan yang luar biasa dalam melakukan hal-hal yang baik, tanpa ada rasa malu sedikit pun di dalam diri kita untuk mentaati Dia. Penyembuhan Sejati adalah ketika ego kita tidak lagi memiliki alasan untuk ada, dan kita hanya seperti bayangan diri kita sendiri di hadapan Tuhan.

Just as our shadow is flush with the ground, just as we have to lay our whole being, flat before Allah

MUKJIZAT DARI ILHAM INI

Kita semua memiliki pertanyaan kita sendiri yang hanya Allah yang dapat menjawabnya, dan Ramadhan adalah kesempatan yang tepat untuk mendapatkannya. Saya sendiri menjadi saksi kebenaran janji Allah: seperti yang saya katakan di awal artikel ini, saya berdoa kepada Tuhan di awal Ramadhan 2020 ini, mencurahkan segenap iman dan segenap hati saya ke dalamnya, dan tanggapan-Nya menghasilkan artikel ini yang sepenuhnya adalah berkat inspirasi Tuhan dalam diri saya, kata per kata. Artikel ini lebih merupakan keajaiban/ mukjizat bahwa Tuhan membuat saya menulisnya sepanjang Ramadan. Memang, saya memulai puasa pada 2 Oktober, karena kepercayaan lama saya adalah bahwa Ramadhan dimulai pada bulan purnama setelah titik balik musim gugur, dan Tuhan membuat saya mengakhiri pesan yang sangat luar biasa ini, pada 1 November, atau tepat 1 bulan setelah hari memulai puasa. Saya tidak merencanakan/menghitung hari-hari, atas artikel ini, tetapi itu menunjukkan kepada kita bahwa segala sesuatu ada di tangan Tuhan, dan bahwa Kehendak-Nya diselesaikan secara detail dan tepat hingga hitungan detik. Sepanjang bulan ajaib ini, Tuhan membuat saya menjalani ritual Ramadhan dari semua sudut yang telah saya definisikan untuk Anda di artikel ini:

  • Saya berdoa kepada Tuhan dan dia secara ajaib dan segera, menjawab saya seperti yang dinyatakan dalam ayat ini:

And when My servants ask you about Me .. then I am very close: I answer the call of the one who prays to Me when he prays to Me. That they answer My call, and that they believe in Me, so that they are well guided S2: V186

  • Saya memulai bulan puasa saya dengan seminggu retret spiritual di alam bebas, berdo’a, mengingat, dan kontemplasi tentang ciptaan Tuhan.
  • Tuhan mengizinkan saya untuk ditemani oleh orang-orang yang benar-benar beriman, yang memungkinkan kami untuk mempertahankan tingkat iman kami, dan untuk berbagi di antara kami apa yang diilhami Tuhan dalam diri kami saat kami menjalaninya.
  • Setelah seminggu, saya pulang, dan Tuhan membuat saya mulai menulis ilham unik ini, dan Dia mengilhami saya sepanjang bulan untuk segala sesuatu dalam artikel ini, kata-kata, detail paling kecil, dan perubahan haluan, dan apa-apa yang saya sendiri abaikan sebelum Tuhan mengilhami saya.
  • Tuhan pertama-tama membuat saya berpuasa tanpa makan dan tanpa minum, kemudian Tuhan mengilhami saya untuk minum tetapi tidak makan, yang memungkinkan saya mendapatkan lebih banyak manfaat dari puasa saya, dan saya berterima kasih atas berkahNya kepada kami.
  • Tuhan membuat saya berpuasa dalam bentuk puasa ucapan, dan kesia-siaan.
  • Tuhan membuat saya membantu orang miskin, secara rahasia, dalam bentuk donasi untuk amal, dan secara terbuka, dengan menawarkan makanan langsung kepada mereka, dan dengan memberikan diri saya sendiri, yaitu mengundang orang-orang yang mengalami kesulitan sosial ke rumah saya, dan dengan mengunjungi mereka yang membutuhkan. , dan membantu orang lain melalui telepon dan internet.
  • Tuhan membuat saya harus melakukan trip/ perjalanan tak terduga, dan Dia mengizinkan saya untuk mendapatkan keuntungan dari berkah-Nya dengan mengizinkan saya untuk menyela puasa saya, dan mengimbanginya dengan berpuasa jumlah hari yang setara, setelah akhir bulan itu.
  • Tuhan memberi saya semua jawaban yang saya ekspektasi dan yang tidak saya ekspektasi, dan memberi saya berkah2 yang tidak saya sangka-sangak, dan penyembuhan jiwa saya, membuat saya menjadi pria yang lebih baik dari diri saya sebelum awal bulan ini.

Oleh karena itu saya bersaksi melalui diri saya sendiri bahwa apa yang Tuhan janjikan kepada kita dalam Alquran hanyalah kebenaran murni. Apa yang Tuhan nyatakan kepada saya, dan yang saya bagikan dengan Anda dalam artikel ini, adalah Rahmat Tak Terbatas dan Keajaiban Luar Biasa, Kebenaran Unik yang Tuhan ungkapkan kepada kita sekarang, setelah tetap rahasia selama lebih dari 1400 tahun. Tuhan telah menyelesaikan berkah-Nya pada kita, melalui saya, Utusan terakhirNya, YS, dan pada semua orang beriman yang tulus yang telah mengikuti instruksi2 saya, sebuah penyembuhan yang luar biasa, dan dengan memberi kita semua jawaban atas doa-doa kita, yaitu dengan menunjukkan kepada kita, (sama seperti kepada Ibrahim), jalan-Nya yang Sejati dan ritus sejati-Nya, dan untuk mengkonfirmasi bimbinganNya pada kita. Karena, Tuhan tidak hanya mengajari saya apa itu Ramadhan, tetapi juga apa praktik haji dan salat yang benar, yang telah Dia tunjukkan sebelumnya kepada saya dan saya bagikan selama ini, mengkonfirmasi lebih lanjut dan menegaskan kepada saya lebih banyak lagi, dengan bukti-bukti baru dan detail lebih banyak. Pertama kali dalam 1400 tahun kita dapat berpuasa Ramdan di periode yang tepat dan sesuai dengan praktik sejatinya seperti yang dipreskripsikan Tuhan, dan kita akhirnya dapat menuai manfaat maksimalnya dari pemberian Tuhan ini.

MENDAPAT JAWABAN DARI TUHAN

Kita semua dalam kegelapan, hanya Tuhan yang dapat mendatangkan cahaya pada kita

Dari apa yang kita pelajari tadi, Allah menetapkan syarat untuk mendapatkan jawaban dariNya: “Bahwa mereka menjawab panggilan-Ku, dan bahwa mereka percaya kepada-Ku.” S2:V186. Faktanya, sebelum mengharapkan sesuatu apapun dari Tuhan, kita masih perlu merespon diri kita sendiri dan mempersiapkan diri dengan baik untuk pertemuan kita dengan Dia. Puasa Ramadhan tidak dimulai pada hari pertama bulan Ramadhan, tetapi Anda hendaknya mempersiapkannya jauh-jauh hari sebelumnya, dengan menyucikan diri, dengan menghadirkan Tuhan sebanyak mungkin, dengan melawan dosa-dosa, dan dengan memperbanyak perbuatan baik, untuk mendekatinya dengan kondisi terbaik. Sebab, orang yang datang di bulan Ramadhan tanpa persiapan sebelumnya adalah seperti orang yang muncul di hadapan Allah dengan pakaian kotor. Tidak ada gunanya mengharapkan ampunan Allah jika mendekati Ramadhan secara sembarangan, dengan diri penuh dosa, tanpa mempertimbangkan/konsiderasi atas Tuhan. Orang yang berhak mengharapkan kesembuhan dan jawaban dari Tuhan, adalah orang yang mempersiapkan pertemuannya dengan Tuhan dengan cara terbaik, dan yang mendekati bulan Ramadhan dengan semangat ketakwaan, ketaatan dan perbaikan diri. Jadi penuhi bagian Anda dari kontrak terlebih dahulu, dan yakinlah Tuhan akan memenuhi bagian-Nya, dan kemudian Anda akan mendapatkan kepuasan.

Sayangnya, semakin banyak Muslim sekarang melakukan seperti orang Yahudi, yang menggunakan puasa Yom Kippur sebagai ritual penebusan dosa masa depan dan masa lalu mereka. Banyak Muslim saat ini percaya bahwa karena mereka tidak minum dan makan selama bulan Ramadhan setiap tahun, ini memberi mereka hak di luar ramadan untuk melakukan dosa dan terlepas dari hukuman, sambil overconfident bahwa mereka akan diampuni. Ramadhan seharusnya tidak menjadi lisensi bagi Anda untuk memungkinkan Anda melakukan lebih banyak dosa, ketika tujuan sebenarnya adalah untuk membuat kita melakukan lebih sedikit.

Yom Kippur adalah puasa dan ritual yang rumit di mana seekor kambing yang sarat dengan dosa Israel dikirim ke padang gurun. Berdasarkan kisah ini, orang-orang Yahudi yakin bahwa puasa Yom Kippur memungkinkan mereka untuk menebus semua dosa setahun masa lalu dan setahun masa depan mereka pada tahun ini, sehingga memberikan diri mereka hak untuk berbuat dosa tanpa syarat.

Perumpamaan tentang Sapi

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa Al-Baqara / sapi betina adalah surah pertama dalam Alquran, dan bukan surah yang lain? Mengetahui bahwa kita tidak dapat mengatakan bahwa Fatiha adalah sebuah surah secara tegas, karena berbeda dari yang lain, dianggap sebagai doa pengantar kepada Allah.

Dan, mengapa “Al-Baqara / sapi betina” mengapa judul/ nama khusus ini, dan bukan nama lain?

Anda akan menjawab saya bahwa berkaitan dengan episode tentang sapi, dimana Tuhan meminta orang-orang Musa untuk berkorban, dan ceritanya persis diceritakan dalam surah ini. Tapi mengapa Allah memilih episode khusus ini untuk dijadikan judul surah pertama?

Seperti yang telah saya tunjukkan pada Anda sepanjang artikel ini, Allah tidak pernah melakukan apa pun dengan acak, dan Anda dapat membayangkan bahwa jika Allah telah memutuskan untuk menempatkan Sura Al-Baqara / Sapi di bagian awal Alquran, itu karena pesan yang dikandungnya adalah sesuatu yang secara khusus ingin Dia kemukakan, dan karena itu judulnya secara logis sesuai dengan apa yang Allah ingin kemukakan lebih jauh. Untuk mengetahui pesan apa yang ingin Tuhan kemukakan ini, cukup dengan merenungkan pelajaran yang dapat dipetik dari episode pengorbanan sapi Musa, dan berikut ceritanya:

Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Allah memerintahkan agar kamu mengorbankan seekor sapi betina .” Mereka berkata: ” Apakah kamu hendak menjadikan kami tertawaan/bahan ejekan? “Dia berkata:” Aku berlindung kepada Allah dari menjadi orang jahil (bodoh)! “(67) Mereka berkata: ” Mohonkanlah mewakili kami pada Tuhanmu untuk menjelaskan kepada kami (sapi) apakah itu ! dia (Musa) berkata: “Dia mengatakan: sapi muda seharusnya tidak terlalu tua atau terlalu muda tetapi dari usia menengah; sekarang lakukan apa yang diperintahkan kepadamu!. (68) Mereka berkata: ” Mohonkanlah mewakili kami pada Tuhanmu, agar jelas bagi kami warnanya. “dia berkata:” Dia mengatakan: seekor sapi berwarna kuning tua, kaya warna dan menyenangkan bagi yang memandangnya! ”(69) Mereka berkata, “ Mohonkanlah mewakili kami pada Tuhanmu, untuk membuat kami jelas seperti apa sapi itu bagi kami dibanding semua sapi semacam itu; kami benar-benar mengharapkan bimbingan jika Allah menghendaki. ”(70) dia berkata: “Dia mengatakan seekor sapi muda tidak dilatih untuk membajak tanah atau menyirami ladang; tanpa cacat, tidak ada belangnya. “Mereka berkata:” Sekarang barulah engkau telah menerangkan kami” Lalu mereka mempersembahkannya sebagai korban dan mereka hampir-hampir tidak melakukannya. S2: V67-71

Apa yang terutama kita ingat dari episode ini adalah bahwa Tuhan meminta Bani Israil untuk mengorbankan seekor sapi tanpa mensyaratkan apa-apa lagi. Reaksi pertama mereka bukanlah untuk segera melakukannya, melainkan untuk meragukan Tuhan dan Musa, yang telah membukakan laut di hadapan mereka lalu menyelamatkan mereka dari Firaun dan pasukannya. Mereka benar-benar ignorant/ jahil, sehingga jawaban Musa: May Allah keep me from being one of the ignorant”, mereka benar-benar menganggap bahwa Musa mengolok-olok mereka: “Apakah kamu mengolok-olok kami?”, Musa yang mereka tahu persis bahwa dia adalah Nabi Allah. Akan tetapi, bahkan setelah diyakinkan bahwa memang itulah yang diperintahkan Tuhan kepada mereka dan bukan kehendak sederhana Musa, mereka tidak puas dengan perintah awal, yang bagaimanapun juga sangat sederhana untuk dipahami dan dijalankan. Tetapi, mereka mengajukan pertanyaan demi pertanyaan, seolah-olah Tuhan tidak tahu apa yang Dia perintahkan kepada mereka. Pada akhirnya, mereka mengorbankan itu hanya karena mereka hanya memiliki satu sapi tersisa yang memenuhi semua kriteria Tuhan. Dan jika ini tidak terjadi, dan jika misalnya mereka memiliki 2 ekor sapi yang tersisa yang sesuai dengan deskripsi Tuhan, mereka pasti tidak akan melakukannya sesuai dengan apa yang dikatakan ayat ini: « Then they slaughtered it though they were near to not doing it ».

Siapa pun yang benar-benar beriman kepada Tuhan, dan yang bercita-cita hanya untuk menyenangkan-Nya dan menaati-Nya dengan cara terbaik, akan sangat puas dengan perintah awal Tuhan: “Allah memerintahkan Anda untuk melakukannya. Korbankan seekor sapi”, tanpa meminta lebih detail. Tapi, tepatnya, Bani Israil memiliki iman yang kecil dan tidak dihuni oleh keinginan untuk menyenangkan Tuhan, dan menyeret kaki mereka pada setiap perintah dari Tuhan, maka banyaklah pertanyaan2 mereka. Sungguh, tidak ada hamba Allah sejati yang akan memiliki keberanian untuk mempermasalhkan perintah dari Tuhan, begitu perintah telah diberikan kepadanya. Bayangkan seorang Raja Agung atau Penguasa yang memberikan perintah kepada salah satu hambanya, tidak ada hamba manapun yang berani mempertanyakan perintah tuannya untuk detail-detail, bahkan dalam hal itu dapat dibenarkan. Berpikir bahwa tatanan Tuhan pada sedari awal tidak jelas adalah seperti berpikir bahwa Tuhan tidak tahu bagaimana mengekspresikan diriNya dengan benar, atau bahwa Dia bermain-main dengan kita ketika Dia tahu betul bahwa perintah-Nya tidak rancu… namun, Tuhan selalu sangat jelas, dan dalam kasus khusus ini, setiap orang beriman sejati secara alami akan memilih sapi yang menurutnya paling layak untuk dikorbankan kepada Tuhan, dengan kata lain, yang dia anggap sebagai yang terbaik dari kawanannya. Tuhan menegaskan kepada kita bahwa ini memang sikap yang benar untuk dimiliki, dan tanggapan yang benar atas perintah-Nya, mengingat bahwa kriteria yang Dia berikan kepada Anak-anak Israel pada akhirnya membimbing mereka ke sapi terbaik mereka: Tidak terlalu muda, yaitu bukan seekor sapi yang belum belum mencapai puncak pertumbuhannya, tidak terlalu tua, dan oleh karena itu bukan seekor sapi yang menua, berwarna kuning cerah, menyenangkan untuk dilihat, oleh karena itu seekor sapi yang cerah, yang terlihat cantik dan tidak ada cacat apa pun, yang tidak menderita penyakit apapun, tidak pernah dipekerjakan di ladang, oleh karena itu seekor sapi benar-benar bebas dan dalam kesehatan yang sangat baik… yang sesuai dengan sapi terbaik yang dapat dikorbankan untuk Allah. Apakah Bani Israil membutuhkan didikte Tuhan untuk memberikan mereka semua rincian-rincian ini untuk membuat pilihan yang benar secara langsung untuk diri mereka sendiri? Tentu saja tidak jika mereka adalah orang beriman sejati!

Pelajaran yang bisa dipetik dari semua ini adalah bahwa ketika Tuhan memberi perintah, Tuhan tahu persis apa yang Dia katakan dan bagaimana Dia mengatakannya. Sebagai Tuhan, tatanan-Nya tidak mengalami kesalahan, ketidaktepatan, kekeliruan, atau kurangnya kejelasan, tetapi diekspresikan dengan sempurna, dan ini sedari awal. Perintah Tuhan tidak mengekspektasi bantahan apapun, tetapi untuk dilakukan dengan segera dan dengan cara terbaik. Seperti yang telah saya tunjukkan kepada Anda di sepanjang artikel ini, resep/anjuran-anjuran Allah, secara desain: sederhana, terbuka, fleksibel dan permisif, dan menyisakan banyak ruang untuk inisiatif pribadi. Sementara semakin kita menginginkan rincian atas preskripsi/ anjuran Tuhan, semakin membatasi dan menyulitkan itu, dan membuat ruang lingkup kita semakin sedikit.

Pelajaran nomor 1 yang ingin Tuhan berikan kepada para penerima Alquran, yaitu kepada umat Islam sejak awal, jangan mereproduksi sikap seperti ini yang baru saja saya jelaskan kepada Anda, dan Tuhan bersikeras akan hal ini. Jika masih belum cukup jelas:

Akankah kamu mempertanyakan Utusanmu sebagaimana Musa dipertanyakan di masa lalu? Tetapi siapa pun yang berubah dari Iman menjadi tidak percaya/kafir, telah tersesat tanpa keraguan dari jalan yang lurus. S2: V108

Namun, alih-alih belajar dari masa lalu dan mengindahkan peringatan berat dari Tuhan ini, umat Islam justru melakukan yang sebaliknya, menolak untuk puas dengan Firman Allah saja, yaitu Al-Qur’an, untuk mencari kedalam “Sunnah” untuk detail yang mereka anggap luput dari kitab suci. Ini hanya menghasilkan: menjauhkan mereka dari kebenaran, membuat hidup mereka lebih rumit, dan mendatangkan murka Allah. Seperti yang saya telah ilustrasikan kepada Anda secara konkrit di artikel ini, Alquran menginginkan kemudahan, kesederhanaan, jalan lurus, sedangkan sunnah hanya membawa kebalikannya, yaitu kesulitan, kerumitan, dan kebengkokan.

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus untuk hamba-Nya, Kitab(Al-Quran), dan tidak menjadikannya bengkok sedikitpun! S18.V1

Al Quran dalam Bahasa Arab, di dalamnya tidak ada kebengkokan, agar mereka bertakwa. S39: V28

Apakah menurut Anda Allah tidak mampu, dengan sebuah kitab yang lebih dari 600 halaman, untuk mengekspresikan diriNya sedemikian rupa sehingga dapat dipahami dengan jelas oleh setiap orang beriman yang tulus, tanpa meluputkan apapun, tanpa mengabaikan semua detail yang diperlukan?

And the Word of your Lord has been completed in all truth and equity. No one can change His words. He is the Hearing, the Omniscient. S6: V115 

We have, in this Quran, cited for people all kinds of examples… May they remember! S39: V27 

And certainly, We have displayed for the people, in this Quran, all kinds of examples. But most people insist on denying it. S17: V89 

Namun, inilah persisnya yang dipikirkan umat Islam, menghadirkan sunnah sebagai alat penting untuk memahami “apa yang Allah tidak tahu bagaimana mengungkapkannya dengan benar dalam Alquran!”, dan untuk “memberikan rincian yang gagal ditambahkan Allah!”. Apa yang tidak dipahami umat Islam adalah bahwa bukan Al-quran yang tidak jelas, melainkan mereka yang gagal memahaminya. Karena dia yang mengambil sekutu selain Allah dan mengikuti apa yang tidak diturunkan Allah, tidak dapat mendekati Alquran, dan Tuhan mendirikan tabir yang tidak bisa ditembus antara dia dan Alquran.

Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sungguh, Kami telah menjadikan hati mereka tertutup, sehingga mereka tidak mengerti (Qur’an) dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka. Kendatipun engkau menyeru mereka kepada huda/(bimbingan/petunjuk Allah), niscaya mereka tidak akan terbimbing untuk selama-lamanya. S18: V57

Dan di antara mereka ada yang datang untuk mendengarkanmu, sedang Kami telah menutupi hati mereka, yang mencegah mereka dari memahami (Qur’an) Dan kalaupun mereka melihat segala bukti, mereka tidak akan mempercayainya. Dan ketika mereka datang untuk berbantah denganmu, orang-orang kafir itu berkata, “Ini (Al-Qur’an) tidak lain hanyalah dongengan orang-orang terdahulu S6: V25

Muslim! Apakah Anda tidak belajar dari orang Israel? Bukankah Firman Allah memberi tahu Anda bahwa AlquranNya sangat jelas, sangat rinci, dan tidak ada yang diluputkannya, cukup bagi Anda? Apakah perintah yang jelas dari Nabi Muhammad sendiri sepanjang hidupnya untuk melarang penulisan tentang dia selain Alquran, yaitu hadits-hadits, apakah itu tidak cukup bagi Anda? Perintah yang jelas dari 4 khalifah bijaksana untuk tetap melarang hadits2 ini, apakah itu tidak cukup bagi Anda? Munculnya hadits hanya di bawah pemerintahan Muawiyah, musuh terburuk Tuhan dan Nabi Muhammad, tidakkah itu membuat Anda waspada? Apakah bukti-bukti konkret yang saya bawa kepada Anda dalam artikel ini, yang menunjukkan absurditas Sunnah dan fakta bahwa hal itu bertentangan dengan Al-quran, apakah itu tidak cukup bagi Anda?

Jika Bani Israil berubah dari orang-orang pilihan Tuhan, menjadi orang-orang yang dikutuk oleh Tuhan, itu karena mereka persisten di jalan salah mereka dan penyangkalan, menolak setiap peringatan Tuhan dan mengabaikan semua tanda-tanda-Nya. Dan Tuhan dengan keras memperingatkan Anda para Muslim, karena Anda telah mengambil jalan yang persis sama dan mereproduksi perilaku yang sama. Memang, bukan tanpa alasan bahwa surat pertama Alquran, oleh karena itu, yang berisi pesan terpenting, berfokus terutama pada sejarah Bani Israel., Tetapi jelas untuk memperingatkan khususnya pada umat Islam untuk tidak mereproduksi jalan mereka, dengan risiko menderita akhir tragis yang sama dengan mereka. Tetapi sayangnya, Muslim tidak mengindahkan banyak peringatan dari Tuhan. Bahkan sebaliknya, perkembangan mereka mengikuti poin demi poin dari orang-orang Yahudi. Saya serahkan pada Anda untuk menggambar paralel untuk diri Anda sendiri, begitu jelas kemiripannya:

  • Orang Yahudi mengadopsi tradisi lisan Musa berdasarkan rantai transmisi dari para rabi mereka, yaitu Talmud, daripada mengikuti apa yang diturunkan Tuhan kepada mereka, yaitu Taurat. Kemudian ketika Tuhan mengirim mereka seorang utusan untuk memanggil mereka untuk berbenah, mereka berpura-pura mengabaikan apa yang ditentukan untuk mereka, dan melanjutkan jalan yang salah seolah-olah tidak ada yang terjadi. (S2:V101)
  • Orang-orang Yahudi mengubah sendiri hukum Taurat, mereka bermain-main dengan interpretasi dan mengambil ayat-ayat di luar konteks, ketika mereka tahu betul apa yang sebenarnya ditentukan oleh Taurat. (S5:V41, S2:V75, S4:V46, S5:V13)
  • Orang-orang Yahudi menganggap para rabi dan doktor2 agama mereka sebagai rekan/sekutu yang terpisah dari Tuhan, berpikir bahwa mereka akan membimbing mereka di jalan Tuhan, sedangkan Tuhan telah memerintahkan mereka untuk menjadikan Dia sebagai Satu-Satunya Penuntun. (S9:V31)
  • Orang Yahudi mengklaim supremasi atas agama lain, mengklaim sebagai satu-satunya agama yang benar, sementara mereka sendiri tidak mengikuti petunjuk Tuhan. (S2:V89)
  • Orang-orang Yahudi mengklaim bahwa Tempat Tinggal Tertinggi disediakan khusus untuk mereka, dan bahwa semua orang non-Yahudi akan binasa di neraka, ketika merekalah yang pertama takut mati karena banyaknya dosa mereka. (S2:V94-95)
  • Orang Yahudi mencintai kehidupan duniawi lebih dari apapun dan melanggar Hukum Ilahi dengan impunitas, sementara mengklaim bahwa mereka akan pergi ke Surga, dan bahwa jika mereka pergi ke Neraka, itu hanya untuk waktu yang terbatas/sementara. (S2:V80)
  • Orang-orang Yahudi bertahan dalam cara-cara jahat mereka, dan ini tidak peduli apa tanda atau peringatan yang Tuhan kirimkan kepada mereka, dan semakin banyak tanda yang Tuhan kirimkan kepada mereka, semakin keras kepala mereka. (S2:V88)
Dimanakah di Qur’an bahwa berjanggut atau mengenakan outfit/pakaian khusus menjadikan Anda orang yang lebih baik di sisi Allah?

Pada dasarnya orang Yahudi dan Muslim sangat mirip di hari ini, bahkan penampilan fisik, pakaian, dan karakter mereka juga mirip satu sama lain: Yahudi dan Muslim berjanggut dan dibedakan dari yang lain dengan pakaian agama mereka, sementara, ini tidak terjadi dengan Orang2 Kristen dan orang beriman sejati. Kaum Yahudi dan Muslim dicirikan oleh komunitarianisme mereka yang memburuk, keterikatan buta mereka pada kepercayaan nenek moyang mereka, dan penolakan mereka terhadap kritik sekecil apapun, yang tidak terjadi pada orang Kristen dan orang beriman sejati. Saya tidak mengatakan, dengan cara apapun, bahwa orang Kristen dibimbing dengan baik, karena banyak dari mereka sebenarnya hanya penyembah berhala, penyembah Yesus Kristus .. Tapi, jelas, jalan orang Kristen berbeda dari jalan orang Yahudi dan Muslim, dan itu terlihat di praktik keagamaan, perilaku, dan cara hidup mereka juga.

Saat ini, selain dari orang-orang beriman sejati yang mengikuti model Ibrahim, mereka yang paling dekat dengan jalan yang benar bukanlah orang Yahudi atau Muslim, melainkan orang Kristen.

You will certainly not find more bitter enemies of the believers, than the Jews [we can add today the Muslims] and the associators. And you will certainly find that those who are most willing to love believers are those who say: “We are Christians” . This is because there are priests and monks among them, and they are not proud. S5:V82

PERINGATAN BAGI MUSLIM, YAHUDI, DAN KRISTEN

Bukan tanpa alasan bahwa Al-Baqara / Sapi adalah surah pertama sekaligus yang terpanjang, tetapi karena Tuhan ingin menjadikannya versi miniatur Alquran dengan sendirinya. Tuhan telah merinci secara lengkap dalam sekitar lima puluh halaman: semua yang harus diketahui orang beriman tentang Agama-Nya yang Tidak Berubah: Shalat, Zakat, Puasa Ramadhan, Haji, pengakuan iman, perilaku baik orang beriman, aturan hidup dalam komunitas, aturan hidup sebagai pasangan, aturan untuk transaksi, dan model yang harus diikuti: seperti Ibrahim yang tidak menyekutukan Allah, tetapi mengabdikan seluruh agama secara eksklusif kepada Allah.

Abraham was a reference, obedient to Allah and exclusively devoted to Him, and he was not among the associaters. S16:V120

Afterwards We revealed to you: “Follow the doctrine of Abraham who was devoted exclusively to Allah and was not among the associaters”. S16:V123

Memang, bukan tanpa alasan bahwa setiap kali Ibrahim disebutkan dalam Alquran, diikuti dengan “dia bukan seorang musyrikin”, tetapi “dia secara eksklusif mengabdi kepada Allah”. Tetapi ini adalah untuk membedakannya dengan jelas dari orang-orang Yahudi, Kristen, dan Muslim, yang semuanya mengaku sebagai mengikuti dirinya, sementara kebanyakan dari mereka justru adalah musyrik, dan sama sekali tidak mendedikasikan agama secara eksklusif kepada Tuhan.

Abraham was neither a Jew nor a Christian [nor a Muslim] . He was exclusively dedicated to Allah and completely surrendered to Him. And he was not one of the Associators. S3: V67

Memang, kebanyakan orang Kristen, Yahudi, dan Muslim, menyembah Tuhan hanya dengan mengadakan sekutu disisi-Nya, yaitu doktor2 agama yang menjadi pembimbing mereka, dan dengan mengikuti aturan-aturan lain, alih-alih mengikuti hanya apa yang sebenarnya diturunkan Allah saja melalui kitab-kitabNya

Dan kebanyakan dari mereka tidak percaya kepada Allah kecuali dengan mempersekutukanNya. S12: V106

Orang Yahudi, Muslim, dan Kristen berpikir bahwa jalan yang benar adalah sesuai dengan agama mereka, sedangkan jalan yang benar adalah sesuai dengan yang dilakukan Ibrahim, yang tidak seperti mereka, dia bukanlah anggota kultus/ sekte, bukan seorang penyekutu/ musyrik, bukan penyembah berhala.

They said, ” Be Jews or Christians [or Muslims], then you will be on the right track .” – Say: ” No, but we follow the doctrine of Abraham the very model of righteousness and which was not among the Associates “. S2: V135

Satu-satunya agama yang benar, agama murni dari Tuhan, cukup sederhana: untuk mengabdikan diri Anda secara eksklusif kepada Allah dan menyerahkan seluruh keberadaan Anda kepada-Nya, dan hanya mengikuti apa yang telah Dia turunkan. Inilah agama Ibrahim yang benar, agama Musa, Isa/Yesus, Muhammad, dan yang saya, Utusan terakhir Tuhan, YS, persisnya tunjukkan untuk Anda.

Who is better in religion than he who surrenders his whole being to Allah, while conforming to the revealed Law and following the religion of Abraham, exclusively consecrated to God? And Allah had taken Abraham as a special friend. S4: V125

Tetapi, sebaliknya, orang-orang “beragama” (orang2 sekte) menjadikan Agama sebagai subjek perpecahan, sedangkan Agama Sejati Tuhan adalah SATU Agama, unik dan tidak berubah.

Dia (Allah) telah menetapkan bagimu agama yang sama yang Dia tetapkan untuk Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang Kami tetapkan untuk Ibrahim, Musa dan Isa. katakan: “ Terapkan agama, dan jangan terpecah karena itu “. Sangat besar/ berat bagi para musyrikin itu, (tentang) apa yang kamu seru. Allah memilih untuk diri-Nya sendiri siapa yang Dia kehendaki, dan menuntun kepada-Nya sendiri, yang berbalik kepada-Nya dalam pertaubatan dan kepatuhan. S42: V13

Hasilnya adalah bahwa kebanyakan Muslim, Yahudi, dan Kristen, hanyalah anggota kultus dan penyekutu/ musyrik, dan telah terpecah menjadi sekte2 yang tak terhitung jumlahnya, masing-masing percaya bahwa mereka memegang kebenaran dengan memusuhi/menghinakan yang lainnya.

Kembalilah padaNya dalam pertaubatan; takutlah padaNya, dirikanlah Shalat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. (Mereka) orang-orang yang memecah belah agama mereka dan menjadi sekte-sekte. Setiap/masing-masing merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka S30: V31-32

Selama Anda mengaku sebagai anggota Muslim, Yahudi, dan Kristen, Anda tidak akan pernah menjadi orang beriman sejati, karena guidance/bimbingan yang benar, tidak datang dari sekte Anda yang Anda sebut “agama”, tetapi datang secara eksklusif dari Allah.

Neither Jews, nor Christians, [nor Muslims] will ever be satisfied with you, until you follow their religion. Say: “THE [TRUE, ONLY] Guidance is the Guidance of Allah” . But if you follow their passions after what you have received in knowledge, you will have neither protector nor helper against Allah. S2:V120

Orang beriman sejati tidak mengaku berafiliasi dengan Musa, Isa/Yesus, atau Muhammad, tetapi hanya mengaku sebagai hamba Allah, sambil menganggap semua utusanNya sederajat.

Katakanlah, “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami berserah diri kepada-Nya.” S2: V136

Bukanlah sekutu2 Anda yang dapat membimbing Anda (doktor2 agama, imam, ulama, pendeta, rabbi, paus, biksu… dan daftar titel2 buatan mereka sendiri tidak ada ujungnya)

Jika bukan kepada Dia (saja), kamu telah memberikan ketaatan kepada orang-orang yang dihiasi dengan nama/titel palsu yang diciptakan oleh kamu dan ayah-ayahmu, yang mana Allah tidak menurunkan suatu otoritas apapun: Keputusan itu bukan milik siapapun kecuali Allah: Dia telah memerintahkan bahwa kamu tidak memberikan ketaatan untuk siapa pun kecuali Dia (Allah) : itu adalah agama yang benar, tetapi kebanyakan manusia tidak tahu S12 V:40

Pembimbing sejati hanyalah Allah, dan Allah saja.

Whoever Allah guides, he is the righteous guided. And whoever He leaves to stray, there they are the losers . S7: V178

He whom Allah guides, he is the rightly guided and those whom He leaves astray … you will never find any allies for them except Him […] S17: V97

 He whom Allah guides, he is the rightly guided. And whoever He leaves astray, then you will not find for him any ally to put him on the right path. […] S18: V17

Doktrin satu-satunya yang benar adalah ajaran Ibrahim, yang Tuhan telah jadikan model/ contoh untuk semua manusia. Tuhan mengajarkan Ibrahim jalan yang sebenarnya secara langsung, dan mengajarinya ritusNya yang sejati, dan mengirim Utusan-utusan dari keturunannya untuk mengembalikan jalan terpujinya kapanpun itu telah hilang.

And when Abraham and Ishmael raised the foundations of the House: “O our Lord, accept this from us! For you are the Hearing, the Omniscient. Lord! Make us subject to You, and of our descendants a community subject to You. And show us our rites and agree to repent. For you are certainly the Welcoming to repentance, the Merciful. Lord! Send one of them as a messenger among them, to recite Thy verses to them, to teach them the Book and the Wisdom, and to purify them. Because you are certainly the Mighty, the Wise! S2: V127-129

PERTAMA, Tuhan mengadakan perjanjian dengan Yahudi, mengutus Musa untuk mengajari mereka Taurat, yang adalah doktrin terpuji yang sama dari Ibrahim, Nuh, dan Adam. Tetapi, Yahudi melanggar perjanjian itu, dan mengikuti rabbi mereka daripada Tuhan, dan tradisi kerabian mereka berdasarkan ajaran oral Musa, yaitu Talmud, daripada Taurat.

And [remember] when We gave Moses the Book and the Discernment for you to be guided. S2:V53

[…] Say: “Who then sent down the Book that Moses brought?  a light and guidance to man: You make it into differente sheets for show, while ye conceal much of its contents. therein were yau taugh what you knew not, neither you nor your ancestors. Say: “Allah (sent it down)”: then leave them to plunge in vain discourse and trifling. S6:V91

Moreover, We gave Moses the Book, completing (Our favour) to those who would do right,and as a detailed statement of everything, a guide and a mercy. Perhaps they would believe in their meeting with their Lord. S6:V154

And We had given Moses the Book which We had made a guide for the Children of Israel: “Do not rely on anyone besides Me.” S17:V2

We have already brought to Moses and Aaron the Book of Discernment (the Torah) as well as a light and a reminder for the pious people, who fear their Lord although they do not see Him, and who are of the Hour fearful. S21:V48-49

And We wrote for him in the tablets an exhortation concerning all things, and a detailed statement of all things. “So Hold unto these with firmness, and enjoin your people to take the better therein. Soon, I will show you the home of the perverts. S7:V145

KEDUA, Tuhan mengutus Isa/Yesus untuk mengadakan perjanjian baru dengan kristen, dan mengajari mereka injil, doktrin terpuji yang sama dari Ibrahim, Musa, Nuh, dan Adam. Tapi kristen juga telah melanggar perjanjian itu dan mengikuti pendeta-pendeta mereka daripada Tuhan, dan mengikuti hukum-hukum palsu yang dibuat-buat oleh gereja katolik roma, alih-alih mengikuti hukum injil.

[…] And (Allah) will teach him (Jesus) Scripture and wisdom, the Torah and the Gospel, and He will be a messenger to the children of Israel S3:V47-48

And in their footsteps, We sent Jesus, son of Mary, to confirm what was in the Torah that had come before him. And We gave him the Gospel, in which was guidance and light and confirmation of the Torah before him,that had come before it, a guidance and an admonition for the pious. S5:V46

KETIGA, Tuhan mengutus Muhammad, untuk menawarkan perjanjian terakhir, kali ini kepada muslim, dan untuk mengajari mereka Qur’an, yang adalah doktrin terpuji yang sama dari Ibrahim, Musa, Isa, Nuh, dan Adam. Tapi, seperti Yahudi dan Kristen sebelum mereka, Muslim tidak menjaga perjanjian mereka. Mereka mengikuti cendekiawan2 agama mereka daripada Tuhan, dan hukum2 palsu Sunnah berdasarkan ajaran oral dari Muhammad, yaitu hadits, alih-alih mengikuti hukum Qur’an saja.

Similarly, We have sent among you a messenger of your own, reciting to you Our verses and purifying you, and teaching you Scripture and Wisdom, and teaching you that which you used not to know. S2:V151

Blessed is He Who sent down the Book of Discernment upon His servant, so that he may be a warner to all worlds. S25:V1

KEEMPAT, Tuhan telah mengutus sebagai bantuan terakhir, Utusan terakhirNya, YS yang disebutkan di surah 36, saya sendiri, untuk memulihkan untuk terakhir kalinya, doktrin terpuji yang sama yang diajarkan Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, Nuh, dan Adam. Juga untuk mengirimkan peringatan keras dariNya, mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa hukumanNya, hukuman kiamat sekarang sudah sangat dekat, dalam artian itu akan terjadi di masa hidup generasi saat ini!

YS, by the Quran which decrees, truly, you are one of the Messengers, on a Straight Path, according to the order descended by the Mighty, the All-Merciful. In order that you may warn a people whose forefathers were not warned, so they are heedless. Indeed the Conjecture of punishment has proved true against most of them, so they will not believe. Verily! We have put on their necks iron collars reaching to the chins, in such a way that they cannot turn their heads, and We have put a barrier before them, and a barrier behind them, and then we covered them up so that they cannot see. It is the same to them whether you warn them or you warn them not, they will not believe. You can only warn him who follows the Reminder, and fears the All-Mighty without seeing Him. Bear you to such one the glad tidings of forgiveness, and a generous reward. S36:V1-11

Tuhan memberi saya pemahaman yang benar tentang Alquran, seperti yang dia berikan kepada Nabi Muhammad, untuk memulihkan jalan teladan Ibrahim, yang sesuai dengan ajaran sejati Nabi Muhammad, dan yang tidak ada hubungannya dengan “sunnah” yang mencatut namanya. Alquran adalah kitab abadi yang berlaku saat ini dengan cara yang sama seperti yang diterapkan pada zaman Nabi Muhammad. Banyak ayat yang ditujukan baik kepada Nabi Muhammad, dan kepada saya sendiri, Utusan terakhirNya, seperti itu juga yang ditujukan kepada orang-orang Muhammad, dan untuk generasi sekarang. Muslim, Yahudi, dan Kristen, ayat-ayat berikut ini ditujukan sepenuhnya kepada Anda, bacalah dan karena itu kenali diri Anda:

Mereka orang-orang yang zalim, mengikuti hasrat/keinginan mereka, tanpa pengetahuan; maka siapakah yang dapat membimbing dia yang Allah biarkan tersesat? Dan tidak ada seorang penolong pun bagi mereka. Maka arahkan/orientasikanlah dirimu sepenuhnya kepada agama yang hanif (agama monotheis murni), (Itulah) nature/fitrah awal yang Allah berikan kepada manusia; Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus; Namun kebanyakan manusia tidak mengetahui. Kembalilah padaNya dalam pertaubatan; takutlah padaNya, dirikanlah Shalat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. (Mereka) orang-orang yang memecah belah agama mereka dan menjadi sekte-sekte. Setiap/masing-masing merasa bangga dengan golongan mereka. S30: V29-32

Demikian juga, ayat-ayat ini ditujukan kepada saya, dan Anda, Muslim, Yahudi, dan Kristen, yang Tuhan telah perintahkan untuk saya peringatkan dengan Alquran sebagai otoritas:

O Messengers! Eat of what’s lawful and good, and do righteous deeds. Verily! I am Well-Acquainted with what you do. This is your community, one single community, and I am your Lord. So fear Me. But they have broken their religion among them into cults, each cult rejoicing in what is with it. So leave them in their delusion for a time. Do they think that what We give them, in wealth and children, is because they are doing well? No! but We only hasten unto them with good things in this worldly life so that they will have no share in the Hereafter, but they do not realize it. Verily! those who live in awe for fear of their Lord; And those who believe in the verses of their Lord, who associate nothing and no one with their Lord, And those who give that which they give with their hearts full of fear, because they are sure to return to their Lord.  It is these who hasten in the good deeds who are the first to perform them. And We task not any person except according to his capacity. And with Us is a Book that speaks the truth, and they will not be wronged. But their hearts remain in the dark about this [the Quran], and they have other (evil) deeds which they are doin. Until, when We seize those of them who lead a luxurious life with punishment, behold! they make humble invocation with a loud voice. Invoke not loudly this day! Certainly, you shall not be helped by Us. Indeed, my verses used to be recited to you,  but you used to turn back on your heels with pride, talking evil about it by nightHave they not pondered over the Word? or has there come to them what had not come to their fathers of old? ) Or is it that they did not recognize their Messenger so they deny him? Or say they: “There is madness in him?” On the contrary, it is the truth that he brought them, but most of them scorn the truth. And if the truth were in accordance with their desires, the heavens and the earth, and whosoever is therein would have been corrupted! No, We have brought them their reminder, but they turn away from their reminder. Or is it that you ask them for some wages? But the recompense of your Lord is better. And certainly, you call them to the Straight Path. However, those who do not believe in the hereafter are indeed deviating far astray from the Path. S23:V51-74

Tuhan telah membimbing saya menuju jalan yang lurus, yaitu Agama yang Benar, mengikuti doktrin teladan Ibrahim, dan kepada ajaran inilah saya mengundang Anda semua, dan saya telah membawakan Anda bukti melalui pesan luar biasa ini yang Allah telah mengilhami saya sepenuhnya hingga detail terakhir.

Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku telah membimbingku ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang hanif (agama eksklusif, hanya milik Allah). Dan dia (Ibrahim) bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” S6 V161

Anda tidak dapat mengatakan bahwa bukti yang saya berikan kepada Anda ini tidak cukup, Anda tidak dapat lagi menyembunyikan wajah Anda jika Anda mengklaim sebagai orang yang benar-benar beriman.

Tidak ada paksaan dalam agama! Sesungguhnya, Jalan yang Benar telah dibedakan dari jalan yang salah. […] S2: V256

MERAYAKAN ALLAH DAN QURAN

The month of Ramadan in which was sent down the Quran  as a guide for the people, also clear evidence for guidance and discernment. […] S2:V185

Akhirnya, Ramadhan juga merupakan kesempatan untuk merayakan berkah Allah atas kita, dan berterima kasih kepada-Nya karena telah mengirimkan Alquran yang sempurna ini, yang tanpanya kita akan benar-benar dalam kegelapan. Memang, Alquran diturunkan di full moon/bulan purnama di bulan Ramadhan, menandai klimaks bulan ini baik secara literal/harfiah maupun kiasan. Itulah mengapa bulan Ramadhan harus menjadi kesempatan bagi kita untuk merayakan Alquran, dan ini berarti menghabiskan lebih banyak waktu daripada biasanya untuk membaca dan merenungkannya. Dengan demikian, kita dapat berharap bahwa Allah akan memberi kita pemahaman yang lebih baik tentangnya, yang akan memungkinkan kita untuk lebih dekat dengan kebenaran dan keteladanan.

Tidak ada gunanya merenungkan Alquran jika pada akhirnya kita tidak mengikuti apa pun yang Allah membuat kita pahami secara langsung, tetapi selalu terus mengikuti tafsiran sunnah. Dalam hal ini, Anda jujur saja pada diri sendiri bahwa Anda tidak belajar Qur’an dan hanya mempelajari kitab-kitab sunnah.

Tapi, bagaimana merayakan Alquran tanpa merayakan Allah, yang menurunkannya kepada Utusan mulianya, Muhammad, atas rahmat murni Allah, dan yang secara ajaib melindunginya dari perubahan apa pun, sehingga mencapai kita hari ini di tangan kita 100% utuh, terlepas dari semua serangan yang tidak berhenti atas Qur’an sejak 1400 tahun? Sungguh, Alquran dan Allah tidak dapat dipisahkan bagi orang yang beriman dan di bawah bimbingan yang baik. Sebab, Allah mengizinkan kita untuk lebih mengenal Alquran, dan Alquran membuat kita untuk lebih mengenal Allah. Mementingkan Al-Qur’an berarti mementingkan Allah, dan dengan mementingkan Allah, kita menghargai Al-Qur’an. Tidak ada yang lebih baik untuk menunjukkan bahwa kita mementingkan Alquran, dan karena itu kepada Allah, daripada merenungkannya dengan perhatian terbesar, dan secara konkret menerapkan dalam kehidupan kita sendiri, apa yang Allah membuat kita memahaminya dari itu.

Seperti itulah mereka orang-orang yang mengatakan kebenaran, mereka orang-orang beriman yang tulus! Adapun bagi mereka yang menganggap para doktor2 agama sebagai pengganti Allah, sebagai pembimbing, dan yang merendahkan Alquran ke peringkat bacaan sekunder belaka, dan memberikan peran utama kepada hadits, dan yang puas menyenandungkan Qur’an dengan suara mereka yang menyedihkan (tajwid), sambil berani mengklaim mengikuti Allah, Nabi Muhammad, dan Al Qur’an: ini adalah para pembohong, dan mereka ini hanya sektarian, musyrik, dan penyembah berhala, dan mereka ini akan menerima murka Allah dan pembalasan-Nya.

Sunnah Umat ​​Islam menjadikan mereka bangga berlomba-lomba pembacaan Alquran selama bulan Ramadhan saja, tetapi apa gunanya bagi mereka jika pada akhirnya mereka tidak mengikuti Alquran, melainkan Sunnah, dan mereka mengambil bimbingan dari sekutu2 mereka, alih-alih Allah saja?

Dan Rasul (Muhammad) akan berkata: “Ya Tuhanku! Sesungguhnya, ummatku meninggalkan Quran iniS25:V30

Muslim pengikut sunnah selalu berusaha dengan sistematis untuk mengabaikan ayat ini yang sangat eksplisit, percaya bahwa ayat itu tidak berlaku untuk mereka. Tetapi jika itu tidak berlaku untuk mereka, lalu siapa lagi selain mereka, yang dimaksudkan ayat ini?

KESIMPULAN

Sepanjang artikel ini, saya telah menunjukkan kepada Anda bukti pendukung apa sebenarnya puasa Ramadhan sesuai Al-Qur’an. Anda telah dapat melihat secara rinci bagaimana versi Quran itu sempurna dan sesuai dengan Keadilan dan Rahmat Tuhan, dan bagaimana sunnah itu bertentangan dengan Quran dalam segala hal, dan hanya kezaliman, nonsense, dan penyimpangan.

Ramadhan menurut Alquran terjadi setiap tahun pada periode yang sama sepanjang tahun bagi semua penghuni bumi, periode paling ringan dalam hal suhu dan durasi, dan terlebih lagi, adil bagi semua penghuni bumi. Sementara Ramadhan menurut Sunnah berubah-ubah sesuai dengan siklus sesat 33 tahun, yang bisa terjadi di musim panas sepenuhnya atau di musim dingin sepenuhnya, bisa juga sekitar 20 jam (dobel) atau berlangsung hanya 1 atau 2 jam (terlalu singkat) tergantung lokasi kita.

Adapun pelaksanaan ritus ini, di mana Alquran merekomendasikan kesukarelaan dan inisiatif pribadi, memungkinkan setiap orang untuk menyesuaikan bentuk, durasi, dan isinya, Sunnah memberlakukan kepada setiap orang 1 bulan berturut-turut, di bawah satu bentuk puasa, bentuk paling ekstrim yang tidak diadaptasikan untuk semua orang. Hasilnya adalah sejumlah besar Muslim tidak dapat melaksanakannya dalam bentuk ekstrim ini, dan lebih banyak lagi yang hanya melakukannya dalam penampilan saja.

Sedangkan jika umat Islam mengikuti preskripsi yang benar dari Alquran, semua orang ini akan menemukan jalan mereka di sana, baik mereka yang selama ini ingin melakukannya dan tidak bisa karena sesuatu, dan mereka yang selama ini tidak mau melakukannya dan dipaksa melakukannya. Alih-alih memaksa ratusan juta orang untuk berpuasa secara ekstrim, tanpa memberi manfaat kepada mereka dengan cara apa pun, bukankah lebih baik sebanyak orang-orang ini memberi makan orang miskin sebagai kompensasi, dan mendatangkan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Belum lagi dengan bentuk baru ini, Ramadan kemungkinan akan meyakinkan lebih banyak orang, di antara mereka-mereka yang ragu/menolak melakukannya. Adapun filosofi amalan ini, dengan memadukan puasa dalam apapun bentuknya, retret dan shalatnya, Ramadhan menurut Alquran ini memungkinkan kita untuk melakukan perbaikan nyata pada diri kita sendiri, sekaligus merayakan Tuhan, dengan mengabdikan diri sepenuhnya kepada-Nya, menerima penyembuhan dariNya. Sementara Ramadhan di Sunnah, tidak membuat sebagian besar Muslim menjadi lebih baik, juga tidak membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan kecuali sedikit/ sebentar saja, karena bagi kebanyakan mereka, Ramadan lebih seperti diet, pesta kuliner, dan perayaan komunitas, yang mereka klaim bahwa praktik itu mencuci mereka dari semua dosa mereka.

Tentunya, Allah memberi kita banyak kebebasan dan memfasilitasi jalan menuju jalan termudah. Tapi, Allah juga menunjukkan kepada kita dengan jelas batas-batasnya dan dengan tegas memperingatkan mereka yang tergoda untuk melanggarnya. Sekarang setelah Anda tahu jalan Tuhan yang benar, yaitu Alquran saja dan hanya Allah, dan tahu persis apa aturan-Nya yang sebenarnya tentang ritus Ramadhan. Karena itu Anda harus memikul tanggung jawab Anda, karena Tuhan akan meminta pertanggungjawaban Anda atas apa yang Anda ketahui. Tentu saja, jalan yang telah Tuhan gariskan bagi kita jauh lebih mudah, namun di sisi lain adalah bahwa siapa pun yang melanggarnya/ melampaui batas terlepas dari bimbingan Tuhan dan segalanya, hanya akan menjadi lebih tercela.

It is made lawful for you to flirt with your wives on the night of the fast. They are your garments. And you are their garments. Allah knows you betrayed yourselves so He forgave you and pardoned you. Henceforth, cohabit with them and fully enjoy what Allah has written in your favor, and eat and drink until the white thread of dawn appears to you distinct from the black thread, then complete the fast until the night. But do not be in their presence while you are prostrate in your places of recollection (or spiritual retreat). These are the limits set by Allah, so approach them not. Thus does Allah make clear His verses to mankind, that haply they may achieve piety! S2:V187

Tuhan sekarang telah memulihkan kalender yang sebenarnya dan praktik sejati dari Ramadan, sebagaimana yang dipreskripsikan kepada semua generasi-generasi sebelum kita. Kebenaran Tuhan telah datang. Meski lebih dari 1400 tahun kebohongan merajalela, kepalsuan telah lenyap seketika, jseolah-olah tidak pernah ada, sama seperti kegelapan seketika lenyap di hadapan cahaya.

And say: “Truth has come, and falsehood has vanished”, indeed, falsehood is destined to vanish. S17:V81

Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, Dia memilih dan memberkahi satu bulan diantara bulan-bulan lainnya dalam setahun, dan bulan ini yaitu Ramadhan, dimana Dia telah menurunkan Qur’an dan mengadakan banyak mukjizat-mukjizat di semua zaman. Karena itu adalah untuk alasan yang baik bahwa Allah menjadikan saya menulis pesan ini persisnya di bulan Ramadan, dan Dia telah memilih persisnya ritus Ramadan sebagai kriteria utama untuk mengekspos semua orang-orang ber-iman palsu. Memang, tidak ada orang beriman sejati di dunia ini yang dapat membaca pesan ini tanpa mengenali di dalamnya pertanda tak diragukan dari Allah dan kebenaranNya.

Saya, YS, Utusan Tuhan yang terakhir, mengumumkan kepada Anda, Muslim, Kristen, dan Yahudi, bahwa pesan ini adalah satu yang akan secara permanen menyegel nasib Anda dan akan membuka Anda kepada hukuman neraka abadi. Untuk mereka yang persisten dalam menyangkal kebenaran Tuhan dan tetap dalam sekte/kultus mereka, Allah mengumumkan kepada Anda melalui saya, bahwa saat kehancuran Anda sekarang telah datang!



(t/n: Berikut saya menemukan video di Youtube (bhs inggris), yang relevan & memperkuat atas tulisan YS ini. Video ini membahas nama bulan2 islam, kalender lunisolar, & nasi yang argumennya didukung surah al-kahfi:

When religion stops being about researching the Truth and becomes a mere set of customs (or habits) that we inherit from our forefathers, that’s when it becomes vulnerable to corruption. Mistakes and misunderstandings are made by some of our ancestors, but they go unnoticed because we never dare to question or challenge them.
Over time, as these mistakes and misunderstandings pile up, the religion changes from the pure system that God revealed to His messengers to one of many corrupted versions of it.
The Quran emphasizes the importance of independent/critical thinking (6:116, 17:36, 33:67). It also discourages us from blindly accepting whatever beliefs we inherited (5:104, 7:28)

Many believe that the Islamic Calendar is lunar. But how could it be when most of its months are named after seasonal events? Thankfully, the Quran contains a few hidden miracles hinting to the true Islamic Calendar. (38:29)

“It is impossible for a man to learn what he thinks he already knows” – Epictetus


P.S.: Mengenai isi pesan, silahkan tanya langsung secara baik-baik ke thetruthisfromgod.com, karena saya hanya menerjemahkan, dan tidak ambil bagian sedikitpun atas isi pesan. Translator note (t/n:) adalah merupakan tambahan/penjelas dari saya pribadi (penerjemah) dan bukan bagian dari pesan asli. boleh diabaikan saja. Kritik/saran mengenai hasil penerjemahan, silahkan ajukan email ke: peringatan@posteo.net

Share the Truth:

Post Navigation ;