Peringatan Kiamat

*DISCLAIMER/PENAFIAN*
Saya TF, semua artikel yang ada disini hanya upaya penerjemahan dari https://thetruthisfromgod.com/
Kecuali jika saya nyatakan lain.
Saya bukan pemilik situs tersebut diatas, dan pemilik situs tersebut (YS) samasekali bukanlah kenalan saya. Semua konten disana diluar tanggung jawab saya. Saya hanya orang biasa yang mengambil dari sana, menggunakan mesin penerjemah, kemudian mengoreksi hasil terjemahannya lebih lanjut. Demi Allah, Saya tidak dibayar sepeserpun atau mendapat imbalan apapun dari YS.
YS juga tidak pernah memaksa atau meminta saya untuk menerjemahkan.
Semua ini atas inisiatif saya sendiri.
Mohon maaf atas sebagian terjemahan yang masih kasar, atau keliru.
Untuk itu, Saya mohon dengan sangat kepada Anda untuk tetap meninjau sumber aslinya,
Semata-mata untuk menangkap pesan yang lebih lengkap dan lebih murni.
Jika Anda bisa mengerti apa yang tertulis disana (teks Bahasa inggris/Bahasa Prancis), tolong abaikan saja Blog saya dan baca langsung dari sana.
Pesan YS dalam bentuk video2, saya terjemahkan di channel youtube saya:

“Riset” Penerjemah – “syafaat Nabi” di hari penghakiman & Neraka abadi

16 Sep, 2020Riset penerjemah, Tulisan Penerjemah

Segala puji bagi Allah, hanya berkatNya, saya telah menyelesaikan tulisan pribadi yang saya (t/n: penerjemah) ramu dari berbagai sumber selain blog YS, dan karena itu tidak mewakili pandangan YS. Namun tentu saja saya mengupayakan sebisa saya mencari tulisan yang “paling mendekati kebenaran” “se-objektif mungkin” dan sesuai Quran dalam mengambil sumber/bahan tulisan ini.
Sama seperti YS, saya menulis ini tidak berniat untuk mencari pengikut ataupun meyakinkan/mencari pengakuan dari orang lain. Saya temukan bahwa tulisan-tulisan ini hanya memperkuat dan memberi konfirmasi atas Quran dan juga apa-apa yang YS sampaikan. Sayang sekali jika saya simpan untuk sendiri. Lebih baik saya share, semoga mendatangkan manfaat bagi orang lain. JANGAN ditelan mentah-mentah. Tiap orang harus selau berpegang dan mendasarkan diri HANYA kepada Kitab Allah, Use your own reason/discernment & Do Your Own Research, saya tidak bertanggungjawab atas implikasi tulisan dibawah ini bagi Anda. Jika Anda tidak mau baca, juga bukan kerugian bagi saya. Ingatlah, tiap diri bertanggungjawab atas pilihan dan perbuatannya masing-masing.
Jika anda “terkejut” atau heran atas keras/frontalnya saya menolak hadits, silahkan terlebih dahulu baca TUNTAS terjemahan saya atas tulisan YS ini: https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-untuk-muslim/ dan https://www.sebelumterlambat.com/usia-aisyah-konspirasi-hadits/
Kebenaran hanyalah dari Allah, mohon maaf atas kekurangan/kesalahan di tulisan di bawah ini, semua kekurangan/kesalahan itu murni dari saya. Silahkan sampaikan kritik ke email saya, dengan senang hati saya akan terus perbaiki/sempurnakan tulisan ini.
May God forgive us and guide us regarding any sign that would have been misinterpreted in this study and elsewhere. May He purify ourselves and increase our knowledge.
“Our Lord, indeed we have heard a caller calling to faith, [saying], ‘Believe in your Lord,’ and we have believed. Our Lord, so forgive us our sins and remove from us our misdeeds and make us die among the righteous.”[3:193]


Pengantar

Ajaran bahwa makhluk fana lain bisa intercede/menjadi syafaat bagi kita di hari penghakiman, adalah ajaran yang sepenuhnya bertentangan dengan ajaran Qur’an. Kristen mengatakan bahwa dengan mempercayai Yesus/Nabi Isa, mereka akan mendapat salvation/keselamatan di hari penghakiman dan memasuki Kerajaan Tuhan. Syiah percaya bahwa Ali akan menjadi syafaat untuk mereka ke surga Allah. Sunni percaya bahwa Nabi Muhammad akan menjadi syafaat untuk mereka ke surga Allah. See the similarity? Mereka saling mengutuki dan mengejek konsep syafaat satu sama lainnya, namun pada dasarnya berbagi penyimpangan yang serupa. Yang berbeda adalah tokoh pujaannya. Konsep intercession/perantaraan/syafaat intinya percaya akan adanya pertolongan dari orang lain untuk mempermudah penghakiman mereka dan me-mediasi dosa-dosa mereka. Dengan kata lain beberapa perbuatan dosa kita akan dimaafkan untuk kita, penghakiman kita akan diringankan untuk kita, berkat pertolongan/perantaraan Nabi, Ali, atau orang saleh. Namun benarkah klaim sekte-sekte tersebut tentang syafaat itu?

Menurut Qur’an tentang syafaat

Qur’an sangat jelas tentang subjek ini. Sudah diulangi dan ditekankan di Quran, bahwa SAMASEKALI TIDAK ADA mediator, perantara, pemberi syafaat ditengah-tengah Allah dan penghakimanNya pada hamba-hambaNya. Seringkali diulangi dalam berbagai macam cara pengungkapan, tersurat maupun tersirat, sehingga akan menjadi terlalu panjang untuk menunjukkan semua ayat-ayat tentang itu di artikel ini. Orang yang secara sincere/tulus/jujur membaca Quran (t/n:MEMBACA ya, bukan MELAFALKAN) tidak akan terkejut karena pesan tentang hal ini sangatlah jelas.

Lalu mengapa manusia fabricated/memalsukan konsep syafaat ini? Ini dijawab juga di Quran – karena manusia cenderung mengadakan berhala atau mengadakan sekutu disamping Allah. Dalam kasus syafaat ini, penyekutuan itu adalah dengan mengatribusikan sebagian kekuatan Allah untuk judge/menghakimi dan mengampuni, kepada makhluk fana lainnya. Mereka tidak puas dengan pesan Allah: bahwa hanya Dia yang memiliki kekuatan dan kekuasaan mutlak:

“Most of them only believe in Allah while associating partners with Him.” (Qur’an 12:106)

“And when Allah alone is mentioned, the hearts of those who do not believe in the Hereafter are filled with aversion; and when others are mentioned beside Him, they rejoice!”
(Qur’an 39:45)

Saat hari penghakiman, tidak Nabi, tidak Ali, tidak pula seorangpun makhluk yang dapat menolong, mendampingi, atau memediasi atas penghakiman seseorang. Tiap diri akan bertanggungjawab penuh atas seluruh perbuatan dan dosanya, seperti dinyatakan di ayat-ayat eksplisit ini:

“Have fear of a Day when no self will be able to compensate for another in any way. No Intercession will be accepted from it, no ransom taken from it, and they will not be wronged.” (Qur’an 2:48 as well as 2:123)

“Believers, give away some of what We have provided for you before a Day arrives on which there is no trading, no close friendship and no intercession. It is the disbelievers who are the wrongdoers.” (Qur’an 2:254)

Ayat ayat diatas dengan jelas menunjukkan bahwa tidak ada intercession/syafaat makhluk. lebih lanjut:

“Warn by it (the Qur’an) those who fear they will be gathered to their Lord, having no protector or intercessor apart from Him, so hopefully they will guard against evil.” (Qur’an 6:51)

Di ayat diatas, dijelaskan oleh Allah bahwa kita tidak punya pelindung dan pemberi syafaat selain Allah di akhirat. Begitu juga ayat dibawah ini:

“Allah is He Who created the heavens and the earth and everything between them in six days and then established Himself firmly upon the throne. You have no protector or intercessor apart from Him, So will you not pay heed?” (Qur’an 32:4)

Fakta ini bahwa samasekali tidak ada intercession/perantaraan/syafaat adalah pesan yang sering diulangi di Quran. Terkadang, kita dapat memahaminya dari ayat-ayat yang tidak menggunakan secara langsung kata “syafaat”. Meski begitu, mengarah kepada poin yang sama. Sebagai contoh: .

“The coming of the Deafening Blast will be a Day when a man will flee from his brother, his mother, his father, his wife and his children: on that Day every man among them will have concerns enough of his own.” (Qur’an 80:33-37)

“On the Day the sky is like molten brass and the mountains like tufts of coloured wool. No good friend will ask about his friend even though they can see each other. An evildoer will wish he could ransom himself from the punishment of that Day, by means of his sons, or his wife or his brother or his family who sheltered him or everyone else on earth, if that only meant that he could save himself. (Qur’an 70:8-14)

“Mankind, be mindful of your Lord, and fear a Day when a no parent can help his own child, nor can a child help his parent. Certainly, Allah’s promise is truth. Therefore, do not be deceived by this worldly life; and do not let the Deceiver delude you about Allah. (Qur’an 31:33)

“…they will be paraded before your Lord in ranks: ‘You have come to Us just as We created you at first. Yes indeed! Even though you claimed that We would not fix a time with you.’ The Book will be set in place and you will see the evildoers fearful of what is in it. They will say, ‘Alas for us! What is this Book which does not pass over any action, small or great, without recording it?’ They will find there everything they did and your Lord will not wrong anyone at all.” (Qur’an 18:48-49)

Apa yang spesial dari ayat-ayat diatas? Allah menjelaskan bahwa di hari itu (hari penghakiman) tidak ada seorangpun yang akan terzalimi. Jika seseorang bisa diampuni dosanya dengan intercession/syafaat orang lain, maka itu akan “menzalimi” orang-orang yang jujur dan striving/berusaha keras dalam menghindari dosa, bertaubat, dan berbuat baik, mengejar ampunan, keselamatan, dan derajat tinggi dimata Allah, karena usaha mereka menjadi “rugi”/berkurang nilainya, dibanding orang yang mengejar “syafaat” (t/n: basically, menurut penganut syafaat, “nyawa” mereka banyak, jika amal mereka “jeblok”, mereka masih bisa mendapat keselamatan dari pujaan-pujaan mereka).

Sedangkan Allah Maha Adil, karena itu kita PASTI BERTANGGUNGJAWAB SECARA PENUH atas setiap perbuatan dan dosa kita MASING-MASING. Tidak ada intercessor/perantara yang bisa plea/memohonkan keringanan untuk kita saat kita menghadapi penghakiman atas diri kita, kita menghadapi catatan perbuatan-perbuatan kita sendirian.

“(A man from the far side of the city said,) ‘Am I to take as gods instead of Him whose intercession, if the All-Merciful desires harm for me, will not help me at all and cannot save me?’ ” (Qur’an 36:23)

Perlu diingat bahwa ayat-ayat tersebut berlaku untuk SEMUA, TANPA TERKECUALI. Jangan kira Nabi/orang-orang tertentu mendapat hak khusus karena peran/posisi mereka. Ibrahim, yang dinyatakan oleh Allah sebagai “khalil”/kesayangan/sahabat dekatNya (4:125), tidak bisa “intercede” untuk ayahnya (9:114). Nuh tidak bisa “intercede” untuk putranya (11:46) Muhammad tidak bisa “intercede” untuk relasi/kenalannya (9:80)

Dibawah ini ayat yang paling “telak” menjawab alasan-alasan apapun. Di ayat satu ini, Allah bahkan ridicules/mengolok/”menantang” semua mereka yang mengklaim bahwa seseorang akan “intercede”/memberi syafaat untuk mereka di hari penghakiman:

“You have come to us all alone / singularly just as We created you at first, leaving behind you everything We bestowed on you. We do not see your intercessors accompanying you, those you claimed were your partners with Allah. The link between you is cut. Those you made such claims for have forsaken you.” (Qur’an 6:94)

Di ayat diatas, Allah menjelaskan bahwa kita akan menghadap Allah masing-masing/sendirian, menggunakan kata “فُرَادَى” yang berarti “singularly”.

“Penganut syafaat” terkadang berkilah, me-manipulasi ayat 6:94 dengan mengatakan bahwa ini tidak berlaku bagi muslim (t/n: penganut sekte islam), tapi siapa saja pembaca Qur’an yang tidak bias, akan dapat melihat bahwa Tuhan tidak pernah mengecualikan seorangpun dari pesan ayat 6:94 .Kata-kata diatas ditujukan pada semua yang mengklaim memiliki “intercessor”/pemberi syafaat, maka dari itu, termasuk semua muslim yang mengklaim bahwa Muhammad akan “intercede”/ men-syafaati mereka.

Mereka yang menganggap Messenger/Rasul mereka akan memberi syafaat untuk mereka di hari penghakiman, sungguh, pada akhirnya akan kecewa:

The messengers of our Lord have come with the truth. Do we have any intercessors to intercede for us? Or could we be sent back to do other than what we used to do?” They have indeed lost themselves and that which they used to fabricate has deserted them.(7:53)

You (Muhammad) have no say in the matter as to whether He redeems them or He punishes them, for they are transgressors.” 3:128

“It is the Day when no self possesses any power to help any other self, and all matters on that day will be decided by God alone.” 82:19

Dengan demikian, ayat-ayat yang saya kutip diatas SEMUANYA bersuara bulat mengarah pada kesimpulan bahwa di hari penghakiman kelak, TIDAK ADA SYAFAAT/PERTOLONGAN DARI MAKHLUK. SEMUA HANYA BISA TUNDUK DIHADAPAN ALLAH. Menutup semua ruang keraguan tentang intercession/perantaraan/syafaat ini.

But lets not stop here, lets think and ponder a bit more…

Bukankah hari penghakiman itu hanya milik Allah? Sebetulnya konsep syafaat dari makhluk sudah runtuh, cukup dengan alasan sederhana bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menjadi sekutu Tuhan, bahkan Nabi Muhammad sekalipun. Beliau tidak pernah dan tidak mungkin mengajarkan pemujaan pada dirinya, meminta orang untuk bergantung padanya. Karena Beliau bukan sekutu Tuhan. Beliau adalah makhluk yang akan dihakimi juga. Mempercayai bahwa siapapun, selain Tuhan/Allah itu sendiri dapat intercede/memberi syafaat untuk diri kita agar dosa2 kita diampuni atau keinginan2 kita terpenuhi, adalah sama saja dengan menyekutukan Tuhan. Ini adalah “Syirik”.

Coba perhatikan kembali pilihan kata-kata di 6:94, Ayat ini juga memiliki arti penting dalam mendefinisikan semua yang mendorong/mempercayai “intercession/syafaat dari makhluk” ini, sebagai mereka yang telah melakukan kesyirikan. Kita perhatikan kesengajaan penggunaan kata ‘syurakaa’/partner, inti dari perbuatan “Syirik”. Mereka yang percaya/mengharapkan intercession, jelas-jelas telah mengadakan partner/sekutu (shurakaa) disamping Tuhan dalam hak eksklusifNya sebagai satu-satunya yang memiliki “hak suara” di hari penghakiman.

Namun kenyataannya mayoritas muslim tradisional memuja-muja Nabi, mengharapkan syafaat darinya. Menurut hadits, “syafaat” itu bisa diraih dengan meniru-niru Nabi (t/n:baca: meniru-niru dongeng hadits dari imam2 persia), atau bahkan (absurdnya) dengan sekedar mengucap “shalawat”, mengucap “salam alaika” kepada Nabi yang sudah wafat, sekian kali setiap hari! memuja-mujinya, dengan mengharapkan dia menolong Anda. SEKARANG, SIAPAKAH PENOLONG ANDA, ALLAH ATAUKAH NABI? [1:5]). (t/n: PEOPLE, CAN’T YOU SEE IT ALREADY, THIS IS THE GREATEST BLASPHEMY! MUSYRIK!).

Shalawat untuk meraih syafaat?

Muslim tradisional lalu bertanya, jika tidak ada syafaat Nabi, mengapa kita disuruh Allah bershalawat kepada Nabi?

Allah and His angels send blessings on the Prophet: O ye that believe! Send ye blessings on him, and salute him with all respect. [33:56]

Itulah ayat yang dimaksud. Itu memang anjuran Allah, tapi samasekali tidak ada hubungannya dengan bentuk “shalawat serta salam”nya muslim tradisional, apalagi “syafaat Nabi”.
Shalat=kontak/koneksi tertinggi. Yushaluuna/bershalat (jamak). Orang beriman dianjurkan “shalat” kepada Nabi. Tentunya cara “shalat” kita kepada makhluk berbeda dengan “shalat” kepada Allah, kita semua adalah hamba/’abid Allah. (t/n: https://www.sebelumterlambat.com/shalat-sesungguhnya-versi-panjang/). Sedangkan Nabi adalah manusia seperti kita dan hamba Allah juga, karena itu “shalat”/kontak kepada Nabi, TIDAK BOLEH mengandung penyembahan/pemujaan. Dari serangkaian ayat-ayat sebelumnya [33:53-54], kita ketahui bahwa yang sedang dibahas adalah anjuran Allah tentang aturan/tatakrama bertamu ke rumah Nabi. Jadi [33:56] “shalat” kita kepada Nabi ini lebih kepada segala bentuk “kontak/interaksi/act of conduct” terbaik, yang (dampaknya) mendatangkan keberkahan dari Allah dan mendatangkan kedamaian/salam (blessing & peace). yang tentunya tidak terbatasi pada sekedar mendoakan atau mengucap salam.
Masuk akal jika Allah menyuruh orang-orang beriman kontak/berinteraksi dengan cara terbaik kepada Nabi. Dengan demikian melipatgandakan keberkahan dan karunia Allah diantara hamba-hamba Allah. Ini juga tetap selaras dengan goal/tujuan shalat: “interaksi terbaik” dengan Nabi membuat kita mengingat Allah dan mencegah kita dari perbuatan keji & mungkar. Namun Nabi sudah wafat, sudah berbeda alam dengan kita. Bagaimana mematuhi ayat tersebut untuk mendapat keberkahan, sedangkan kita tidak bisa berinteraksi dengan Nabi lagi?

“The living and the dead are not the same. Allah makes anyone He wills hear, you cannot make those in their graves hear ( وَمَآ أَنتَ بِمُسْمِعٍۢ مَّن فِى ٱلْقُبُورِ).” (Qur’an 35:22)

Adalah dengan menghormati wasiat terakhirnya, yaitu berpegang teguh pada SATU SATUNYA PENINGGALAN NABI, YAITU QURAN.
Sebelum “penganut syafaat” sempat berkilah, saya sarankan Anda membaca TUNTAS artikel ini: https://www.sebelumterlambat.com/riset-penerjemah-ikutilah-quran-dan-bimbingan-allah-saja/

(t/n: di bawah ini saya mengutip hadits bukan karena percaya hadits, tapi untuk menunjukkan “busuknya” hadits. memukul para pembohong dengan sepatu mereka sendiri! Maaf, jika dibawah ini tidak saya terjemahkan & sedikit out of topic, (lebih lengkapnya silakan baca artikel yang saya kutip diatas). tapi dengan screenshot2 ini saya ingin menekankan lagi mengapa KITA HARUS MEMBUANG HADITS & SEMUA “SUMBER-SUMBER DILUAR QUR’AN” DAN MENGIKUTI AHSANAL HADITS/QURAN SAJA)



Saya ulangi, Shalat/shalawat sesungguhnya kepada Nabi yang sudah wafat, adalah dengan menghormati wasiat terakhirnya, yaitu berpegang teguh pada SATU SATUNYA PENINGGALAN NABI, YAITU QURAN. Dengan begitu kita menjalankan amanat Nabi dan PASTI mendapat “blessing”/keberkahan dari Allah. Sedangkan memuja-muja, mengagung-agungkan, berdoa kepada Nabi dan keluarganya yang sudah “rest in peace” /wafat, mengharapkan syafaat dari mereka, samasekali bukanlah blessing, akan tetapi menjadi curse/laknat, yang pasti berbalik kepada kita, karena mengkhianati Nabi dan menyekutukan Allah! (t/n: jika seandainya Nabi dapat mendengar dari alam kubur atau bahkan hidup kembali hari ini, Nabi tidak akan “damai” dengan pemujaan atasnya dan “mantra-mantra shalawat” kepadanya. Sebaliknya, beliau pasti marah besar!)

Mungkinkah Nabi meminta dirinya disebut-sebut namanya, disertakan namanya dalam doa-doa kita, dipuja-puji seperti itu hingga ke rambut-rambutnya? Quran mengatakan: TIDAK MUNGKIN (hanya dari hadits kita mendapat penggambaran image Nabi sebagai “gila hormat” seperti itu, bahkan lebih “gila” lagi dengan dongeng “keringat nabi”, “air ludah nabi” dll)

It is not possible that a man to whom is given the Book, and the ability to judge, and the prophetic task, should say to people: “Be ye my servants rather than Allah’s; on the contrary (he would say): “Be ye direct disciples of Allah in accordance with what ye have always taught from the Book and according to what ye have studied from it until now.”Nor would he instruct you to take angels and prophets for Lords and Patrons. What! Would he bid you to reject faith after ye have taken the path of remission? S3:V79-80 

(t/n: Islam adalah Tauhid absolut tiap masing-masing hamba kepada Tuhan Yang Esa. Memuja-muja/mengagung-agungkan orang, mengatribusikan sifat/kekuatan Allah kepada benda, kepada orang yang hidup ataupun yang sudah wafat, apalagi berharap pertolongan/syafaat mereka untuk penghakiman kita kelak, bukanlah tauhid, tetapi kemusyrikan yang tidak jauh berbeda dengan animisme/dinamisme (pemujaan nenek moyang)). Ingat [6:94], kita diciptakan sendirian dan kelak akan kembali pada-Nya dan dihakimi sendirian/masing-masing. Hubungan antarmanusia di dunia ini hanya sementara, hanya ujian.

Syafaat untuk semua?

Bahkan pengikut hadits melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa bukan hanya Nabi, siapapun orang mukmin punya kesempatan memberi syafaat!

Sesungguhnya, setelah orang-orang mukmin terbebas dari neraka, demi Dzat yang menggenggam jiwaku, tidak ada seorang mukmin pun dari kalian yang paling kuat permohonannya kepada Allah pada hari Kiamat, tepatnya saat diperiksa oleh-Nya, kecuali saat mereka melihat saudara-saudaranya berada di dalam neraka. Mereka mengadu, ‘Ya Tuhan kami, mereka pernah berpuasa bersama kami. Mereka pernah shalat dan berhaji bersama kami.’ Disampaikanlah kepada mereka, ‘Keluarkanlah orang yang kalian kenali.’ Maka dihalangilah tubuh mereka dari neraka,” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Bagaimana bisa muslim masih percaya “kabar burung” ini yang bertabrakan di semua poin dengan ayat-ayat Quran tentang syafaat yang saya kutip tadi? Coba singkiran dulu fanatisme Anda, dan renungkan hadits diatas dengan pikiran jernih, bukankah itu sama saja dengan NEPOTISME? bahkan lebih buruk lagi, karena hadits itu seperti melecehkan ketetapan/putusan Allah! Apakah mungkin kita bisa me”nego” Allah untuk menarik kembali keputusanNya di hari penghakiman, sementara Dia mengetahui apa yang tampak dan apa yang tersembunyi? sementara Dia tidak melupakan suatu hal apapun?

TIDAK ADA yang dapat mengubah putusan Tuhan/God’s Judgement, jadi, bagaimana “syafaat” itu akan bermanfaat bagi siapapun?

The Word cannot be changed with Me and I am not unjust towards the servants. [50:29]

Qur’an berulang kali mengatakan bahwa di hari penghakiman, harta dan anak-anak tidak akan berarti lagi.

The Day when there will not benefit [anyone] wealth or children [26:88]

Keluarga dan kerabat sekalipun tidak bisa saling menolong. Bahkan sebaliknya: sekiranya bisa, mereka akan saling mengorbankan untuk menyelamatkan diri sendiri!

They will be shown each other. The criminal will wish that he could be ransomed from the punishment of that Day by his children. And his wife and his brother. And his nearest kindred who shelter him. And whoever is on earth entirely [so] then it could save him. No! Indeed, it is the Flame [of Hell]. [S70:11-15]

TIDAK AKAN ADA NEPOTISME DI HARI PENGHAKIMAN! Bantuan dari orang/makhluk lain, jelas-jelas menyalahi keadilan. Hubungan darah, keluarga, kekerabatan, kedekatan kepada orang saleh, atau bahkan kepada Nabi sekalipun, TIDAK AKAN BISA MENJADI FAKTOR PENJAMIN SEDIKITPUN DI HARI PENGHAKIMAN. (silahkan bawakan saya bukti sebaliknya dari Qur’an, jika memang ada!) Hanya iman kita, seluruh perbuatan baik/buruk kita, dan kemurahan dari Allah saja yang menentukan.
Bahkan DI BUKU BUKU HADITS sendiri, banyak sekali riwayat yang menunjukkan bahwa: sebelum kematiannya: Nabi memanggil puterinya, Fatimah dan bibinya Safiya, dan mengatakan bahwa: aku tidak bisa menjadi intercessor/pemberi syafaatmu di hari penghakiman. Kamu akan dibalas hanya sesuai amal perbuatanmu (Masnad Syafii dan buku-buku lain).

Allah bertanya (lebih tepatnya mengajukan tantangan) kepada Nabi, bisakah ia menyelamatkan seseorang dari api neraka?

Then, is one who has deserved the decree of punishment [to be guided]? Then, can you (Muhammad) save one who is in the Fire? [39:19]

Sekarang lihatlah ayat berikut, dimana Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyatakan bahwa dia TIDAK TAHU apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri atau kepada siapapun!

Say: “I (Muhammad) am no bringer of new-fangled doctrine among the messengers, nor do I (Muhammad) know what will be done with me (Muhammad) or with you. I (Muhammad) follow but that which is revealed to me (Muhammad) by inspiration; I (Muhammad) am but a Warner open and clear.” [46:9]

Nabi Muhammad diperintahkan Allah untuk memperingatkan ummatnya secara spesifik: mereka tidak akan memiliki sekutu ataupun intercessor/pemberi syafaat di hari penghakiman, selain Allah.

And warn (O Muhammad) with it (Quran) those who fear being summoned before their Lord, having no ally nor intercessor apart from Him, so hopefully they may be reverent. 6:51

Jika Muhammad mengatakan (dalam hadits) bahwa dia akan memberi syafaat untuk ummatnya, maka ini menjadi pelanggaran yang jelas atas perintah Tuhan sesuai 6:51! Kita dihadapkan dengan 2 keadaan berkontradiksi:
1- Di Qur’an, Tuhan memerintahkan Muhammad untuk memberitahu kepada ummatnya, bahwa mereka tidak akan mendapati pemberi syafaat di hari penghakiman, selain dari Tuhan.
2- Di (banyak) hadits, Muhammad menyatakan bahwa ia akan memberi syafaat kepada ummatnya.
Manakah yang Anda percayai?

Konsep “syafaat” menurut hadits sebenarnya merupakan “penghinaan besar” kepada Tuhan.
Skenario yang dinyatakan dalam hadits adalah bahwa beberapa orang akan dilempar ke neraka, tapi kemudian akan dikeluarkan dari neraka (dengan syafaat Muhammad)
Seolah rahmat Tuhan saja tidak mencukupi untuk menyelamatkan orang-orang itu, sehingga “mercy”/rahmat dari Muhammad kepada ummatnyalah yang sebenarnya menyelamatkan mereka!! Orang-orang seperti itu harusnya berterimakasih pada Muhammad atas keselamatan mereka dan bukan kepada Tuhan!

Argumen tentang syafaat

Terlepas dari ayat-ayat eksplisit tadi, “penganut syafaat” masih membantah. Biasanya argumen yang dimanipulasi untuk justifikasi “syafaat” ini adalah cara ekspresi unik/gaya bahasa khusus Quran yaitu frasa “kecuali jika Allah menghendakinya”, “kecuali jika Allah berkehendak lain” atau yang serupa dengan itu. Di Qur’an, gaya bahasa seperti itu biasanya mengikuti setelah suatu statement definitif. Namun itu tidaklah me-negasi statement awalnya. Ekspresi ini hanya ada untuk emphasize/menekankan fakta bahwa Allah punya kapabilitas/punya kuasa untuk itu. Akan tetapi, putusan tentang hal itu, sudah jelas adalah yang disebutkan pertama kali. beberapa contoh Misalnya:

“[Prophet], We shall teach you [the Quran] and you will not forget — unless Allah wishes; He knows both what is open and what is hidden.” (Qur’an 87:6-7)

“kamu tidak akan lupa [Quran]” adalah verdict/keputusanNya, kemudian frasa selanjutnya “kecuali jika Allah menghendakinya” ada disana untuk menunjukkan bahwa Allah kapabel/bisa membuat Nabi lupa, seandainya Allah menghendakinya. Bukan bahwa Dia pasti akan membuat Nabi lupa. KeputusanNya adalah Nabi tidak akan lupa. “Kecuali jika Allah…” adalah untuk menunjukkan bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

“The Trumpet is blown and those in the heavens and those in the earth swoon away, unless those Allah wills. Then it is blown a second time, at once they stand upright, looking on. And the earth shines with the Pure Light of its Lord; the Book is put in place; the prophets and witnesses are brought; it is decided between them with the truth; and they are not wronged. Every self is repaid in full for what it did. He knows best what they are doing.” (Qur’an 39:68-70)

Di ayat ini, tiap makhluk di bumi dan langit hancur ketika terompet/sangkakala pertama ditiup. Dan pada tiupan kedua mereka kemudian dibangkitkan. Ekspresi “unless those Allah wills/kecuali siapa yang Allah kehendaki” diletakkan mengikuti tiupan pertama, bukan artinya pasti ada orang tertentu tidak mati/bisa lepas/bisa melarikan diri dari kehancuran pada hari itu! karena “Every soul shall taste death” (21:35) Sekali lagi kita lihat gaya bahasa Quran yang sama yang digunakan untuk menekankan kekuatan Allah dan kapabilitasNya untuk memilih apa yang Dia kehendaki, apapun itu. Frasa ini tidaklah menarik kembali statement Allah sebelumnya.

Selagi membahas frasa “Kecuali jika Allah…” ini, mari kita beralih pada topik terkait tentang kekekalan neraka..

pada [6:128]: “…Neraka adalah tempat tinggalmu, disana kamu akan tinggal selamanya, kecuali jika Allah menghendaki lain…”, “kecuali” disini bukanlah menarik kembali statement sebelumnya, (t/n: seperti kepercayaan “picik” di kalangan muslim tradisionalis bahwa mereka tidak akan kekal jika masuk neraka, hanya kafir/(yang tidak menganut agama islam versi mereka)-lah yang akan kekal di neraka, seolah mereka punya tiket “VIP” bila mereka masuk neraka) sederhananya karena, dari ayat lain seperti [2:80-81] [2:167] dan [3:24], disini secara jelas dinyatakan bahwa mereka yang berkata: “neraka tidak akan abadi bagi kami” justru adalah yang dicela oleh Allah, dan akan tinggal di neraka selamanya! dengan begitu, kita dapat yakin bahwa orang yang masuk neraka akan berada disana untuk selamanya. Konsep neraka tidak kekal hanya ada dari sumber-sumber DILUAR QURAN.

“They say, ‘The Fire will only touch us for a number of days.’ Say, ‘Have you made a contract with Allah – then Allah will not break His contract – or are you rather saying about Allah what you do not know?’ No indeed! Those who accumulate bad actions and are surrounded by their mistakes, are the Companions of the Fire, remaining in it timelessly, forever.” (Qur’an 2:80-81)

“…they say, ‘The Fire will only touch us for a limited number of days.’ The lies they have invented have led them astray in their own religion.” (Qur’an 3:24)

“…And those who followed would say: “If only We had one more chance, We would disown them, as they have disowned us.” Thus will Allah show their deeds as anguish for them. They will not come out of the Fire.” (Qur’an 2:167)

Seandainya kita asumsikan frasa “kecuali jika Allah menghendaki lain” di [6:128] me-negasi statement bahwa neraka itu kekal, bukankah malah menjadi kontradiktif dengan 3 ayat diatas dan ayat-ayat lain yang menyatakan bahwa neraka itu kekal? Bukankah kita meyakini bahwa Quran kitab yang tidak mengandung kontradiksi sekecil apapun?

Karena itu juga Nabi TIDAK MUNGKIN mengatakan neraka tidak kekal, karena akan bertentangan dengan Quran.

“…If [the Prophet] had said anything against Us, We would certainly have seized his right hand and cut off his artery, and none of you could have defended him.” (Qur’an 69:43-47)

Mengabaikan ayat diatas, dan mengutamakan teks alternatif (hadits, tafsir dll) adalah dosa serius:

“These are Allah’s verses we are reciting to you to show the truth. In which narration (hadith / حَدِيث) after Allah and His verses do they believe in?” (Qur’an 45:6)

Oleh karena itu, sekali lagi, frasa “Kecuali jika Allah…” bukanlah negasi dari statement sebelumnya. Gaya bahasa yang serupa juga digunakan di [11:108], tentang penghuni surga. Mari kita analisa:

And as for those who were [destined to be] prosperous, they will be in Paradise, abiding therein as long as the heavens and the earth endure, except what your Lord should will – a bestowal uninterrupted. [11:108]

“Mereka kekal di dalamnya” “Kecuali jika Tuhanmu menghendaki lain” Apakah itu artinya Allah menarik kembali statement sebelumnya? (dalam artian mereka tidak terjamin kekal di surga?) tentu tidak, karena disebutkan juga “karunia yang tidak ada putus-putusnya”. Nyatanya “Kecuali” tersebut kali ini tidak dianggap pengecualian oleh semua sekte islam. Karena semua orang pasti berontak jika dikatakan pada mereka bahwa surga (mungkin) tidak kekal. “Lucu”nya ketika terkait neraka, mereka mencari argumen-argumen DARI LUAR QURAN, apapun yang mendukung pendapat bahwa neraka tidak akan kekal bagi mereka. Dimana kejujuran intelektual mereka? Bahkan jika kita sejenak menganggap “kecuali” itu memang berarti ada yang tidak kekal di neraka, itu samasekali tidak menolong mereka, karena yang dibicarakan di [6:128] tidaklah membicarakan tentang “muslim/mukmin”, tetapi orang-orang zalim yang allied/bersekutu dengan jin!

And [mention, O Muhammad], the Day when He will gather them together [and say], “O company of jinn, you have [misled] many of mankind.” And their allies among mankind will say, “Our Lord, some of us made use of others, and we have [now] reached our term, which you appointed for us.” He will say, “The Fire is your residence, wherein you will abide eternally, except for what Allah wills. Indeed, your Lord is Wise and Knowing.” [6:128]

Perlu diingat disini bahwa “Muslim” (t/n:muslim menurut kriteria Quran, bukan muslim sektarian) tidak akan memasuki neraka. Ketika seseorang itu “muslim”, yaitu orang beriman yang menunjukkan kualitas iman dan perbuatan yang cukup untuk dikategorikan sebagai “muslim” menurut Quran, dia hanya akan masuk surga. Hanya mereka yang disbeliever/kafir yang memasuki neraka. Karena itu, adalah statement paradoks jika seseorang bertanya “Jika muslim masuk neraka…”. Karena “muslim” tidak akan memasuki neraka. Berdasarkan Quran, tidak ada konsep dimana “muslim” jahat sedemikianrupa hingga layak atas neraka. Seseorang “penjahat” (t/n:penjahat di mata Tuhan. Termasuk yang “syirik” karena mengharapkan syafaat dari makhluk) mengklaim sebagai “muslim”, tidak bertaubat hingga matinya, tidak mungkin “muslim”. Orang seperti itu mengekspektasi surga tapi dia akan masuk neraka, dan dia akan menghabiskan waktu selamanya disana. Di Qur’an, orang seperti itu adalah disbeliever/kafir, lebih spesifiknya munafik.
Sedangkan keburukan dan kesalahan hamba-hamba Allah yang tulus dan taat (muslim sejati) akan diubah menjadi kebaikan, dan mereka akan memasuki taman surga.

“Except for the ones who repented, believed and done righteous actions, Allah will change their wrong-doings into good. Allah has been Forgiving, Merciful.” (Qur’an 25:70)

Dengan pengetahuan tentang Quran ini, maka kita bisa mengerti ayat-ayat yang telah diklaim sebagai justifikasi “syafaat”. Sangat penting untuk diingat oleh kita semua bahwa tidak mungkin ada kontradiksi di Quran. Kita telah melihat dengan jelas banyaknya ayat-ayat yang menyatakan bahwa tidak ada intercession/perantaraan/syafaat makhluk di akhirat – maka dari itu semua ayat-ayat lain yang berkaitan mesti konsisten dengan pesan ini.

Kita dapat mengerti ayat-ayat ini:

Who is he who could intercede with Him, except with His permission? 2:255

di 2:255 Tuhan meng-“adress” kepada “mereka yang tidak bisa memberi syafaat” (t/n: semua makhluk). kecuali jika Dia memberi permisi/izin. Ini dengan cepat diinterpretasikan oleh mullah/ulama bahwa menurut mereka Tuhan akan memberi permisi/izinNya kepada Muhammad untuk memberi syafaat. Apakah kata-kata di ayat ini memang artinya Tuhan akan memberi permisi kepada siapapun untuk memberi syafaat? ataukah kata-kata ini sederhananya mengatakan bahwa: intercession/syafaat, (dan juga SEGALA hal lainnya) TIDAK AKAN TERJADI tanpa izin dari Tuhan?

Jawaban yang benar tentu saja selalu jawaban yang Qur’ani, yang konsisten dan tidak berkontradiksi dengan pesan-pesan Qur’an. Kita telah diberitahu/dinyatakan hingga tidak ragu lagi, melalui BANYAK ayat-ayat lain, bahwa TIDAK ADA intercession di hari penghakiman (2:48, 2:123, 2:254, 6:51, 6:70, 7:53, 26:100, 30:13, 32:4, 36:23, 39:44, 40:18, 74:48).

None will possess intercession, except for he who has taken a pledge with the Almighty.” (Qur’an 19:87)

“Verdict”nya adalah “None will possess intercession” – jadi tidak ada syafaat dari makhluk. “Except for he who has taken a pledge with the Almighty” bukan artinya pasti ada Nabi/orang yang mengadakan perjanjian dengan Allah untuk intercede/memberi syafaat. Itu menunjukkan bahwa pledge/perjanjian dari Allah diperlukan agar itu terjadi. Ini adalah untuk mendemonstrasikan kekuatan Allah, tidak berarti bahwa intercession/perantaraan dari makhluk pasti akan terjadi.
Pemahaman yang sama berlaku di ayat ini:

Intercession will not work with Him, except by those to whom He gives permission.’ They will be asked, after the terror is lifted from their hearts [on the Day of Judgement], ‘What did your Lord speak?’ and they will answer, ‘The Truth. He is the Most High, the Most Great.’ ” (Qur’an 34:23)

“Intercession will not work with Him” adalah pesan inti dari ayat ini – tapi kata2 yang mengikutinya tidak berarti bahwa siapapun akan mendapat permisi/izin memberi syafaat dari Allah, tetapi bahwa permisi/izin itu diperlukan. (t/n: sama seperti ayat 2:255 diatas) Gaya bahasa Qur’ani yang unik ini sekali lagi adalah untuk mendemonstrasikan Kekuatan dan ke-MahaKuasaan Allah.

Note: ada sebagian yang (masih) menyangkal dengan mengatakan: Tuhan tidak akan menggunakan kata: “except with His permission” di 21:28 jika Dia tidak akan memberi siapapun permisi untuk intercede, jadi menurut mereka, kata-kata ini mengindikasikan bahwa Tuhan, akan memberi permisi/izin kepada Muhammad untuk memberi syafaat kepada muslim (t/n:penganut sekte islam)! Mereka juga mengutip ayat ini:

He knows what is [presently] before them and what will be after them, and they cannot intercede except on behalf of one whom He approves. And they, from fear of Him, are apprehensive.. (21:28) juga (53:26)

Disini frasa yang digunakan memang berbeda, disini: “kecuali (intercede itu) untuk mereka yang diridhaiNya” Namun tetap saja argumen mereka runtuh. Pertama, kita ingat kembali ayat 39:19:

Then, is one who has deserved the decree of punishment [to be guided]? Then, can you (Muhammad) save one who is in the Fire? [39:19]

bagi mereka yang ditakdirkan/layak masuk neraka, tidak ada seorang makhluk manapun yang dapat menolong mereka. “Pujaan” mereka (Nabi Muhammad) sekalipun “ditantang” Allah: “Bisakah kamu menyelamatkan seseorang yang di neraka?” Jadi, argumen mereka itu sudah dimentahkan dengan ayat ini.
Kedua, berkenaan (21:28) dan (53:26), tolong dibaca secara keseluruhan, jangan dipotong-potong. “mereka tidak punya otoritas untuk intercede, kecuali (intercede itu) bagi “those whom He is pleased with”/mereka yang diridhai Allah.” Sekarang, penghuni neraka mana yang “diridhai Allah?”. Sementara neraka disediakan hanya untuk disbeliever/kafir (3:131). Dan lagi, orang2 yang diridhai Allah, tidak akan memerlukan intercession dari siapapun orang lain, karena berdasarkan (39:53) dan (25:70), orang beriman sejati yang diridhai Allah akan diampuni dosanya/keburukannya diubah menjadi kebaikan. Mereka telah mendapat “syafaat dari Allah”.
Ketiga, katakanlah seandainya (t/n: untuk analisa saja.) “intercession” Nabi diizinkan oleh Allah, sehingga Nabi meng-intercede bagi orang-orang yang diridhai Allah. Tapi sekali lagi, seseorang yang diridhai/”approved” oleh Allah, adalah orang-orang beriman sejati yang sudah layak mendapat surga, ((5:119),(98:8), dan BANYAK ayat lainnya), terlepas dari apakah messenger/Rasul mereka intercede ataupun tidak. Karena itu, intercession dari Rasul itu, jikapun seandainya terjadi, tidak akan mengubah keputusan Allah/tidak akan memberi manfaat apapun. Yang juga mengkonfirmasi/ menguatkan ayat berikut:

On that Day, intercession will benefit no one, except the one who has been permitted by the Almighty and whose utterance is accepted by Him. 20:109

seperti 21:28, kata-kata di 20:109 memberitahu kita bahwa mereka “target” intercession itu (jika terjadi) sebenarnya adalah mereka2 yang telah diampuni, diridhai, di”approve” oleh Tuhan. Dan “benefit” ini tentunya hasil dari rahmat Tuhan, dan bukan karena intercession manusia. Ini mengkonfirmasi, bahwa jikapun intercession itu terjadi, tetap tidak mengubah putusan Tuhan, dan sejatinya, tidak menjadi “benefit”/manfaat bagi siapa saja yang telah diampuni/diridhai Tuhan. Intercession disini, jikapun terjadi, tidak lebih dari sekedar kata-kata baik/persaksian atas orang beriman lainnya yang sebenarnya telah redeemed/diampuni/diridhai Allah. Yang juga (lagi) mengkonfirmasi/menguatkan ayat berikut:

Those whom they call on besides Him possess no power of intercession except those who testify to the truth, and they know. 43:86

Menjadi jelas bahwa syafaat itu, jikapun memang terjadi, bentuknya akan menjadi sebuah “testimoni kebenaran” semata, bukan sebuah “pembelaan”. tidak akan berbeda dengan peran “saksi”/syahid yang akan bersaksi di hari penghakiman. Dan jelas bukanlah “syafaat” seperti seperti yang diyakini sekte2.
Kesalahpahaman mengenai ayat-ayat berikut karena itu terselesaikan: 2:255, 10:3, 20:109, 19:85-87, 21:25-29, 34:23, 43:86, 53:26.

Pada akhirnya, penting untuk diingat bahwa semua deskripsi ini tentang “syafaat di hari penghakiman” (baik analisis dari Qur’an saja ataupun konsep “syafaat” sekte yang berdasarkan hadits), adalah murni alegoris. Benar-benar mustahil bagi pikiran manusia untuk memahami makna sesungguhnya dari deskripsi metafisik “syafaat” ini, karena berada dalam kategori “al-ghaib” atau sektor realita yang benar-benar diluar jangkauan persepsi dan imajinasi manusia. Seseorang bisa saja mencoba menjangkaunya secara intuisi sebagai sebuah gambaran mental, namun (gambaran itu) tidak pernah bisa dianggap sebagai realitas fisik. Karena itu, cukup meng-imani berdasarkan konsep/deskripsi2 sebatas yang diberikan oleh Qur’an saja. (t/n: dengan ini, kita dapat cermati juga, mengapa konsep syafaat dari hadits = 100% SESAT DAN HARUS KITA TOLAK: Karena hadits bergerak terlalu jauh di “ranah gaib” ini, sampai-sampai mengabarkan secara detail skenario-skenario & “dialog”/kata-kata Allah di hari penghakiman kelak, yang tidak disebutkan di Qur’an! Sedangkan Nabi sendiri MENYANGKAL bahwa dia mengetahui hal ghaib! (6:50),(7:188))

Cara meraih syafaat satu-satunya: syafaat dari Allah

Saya harap kita berpendapat sama: bahwa tidak ada syafaat makhluk, syafaat satu-satunya adalah syafaat Allah. Jadi sekarang pertanyaannya adalah: bagaimana supaya Allah memberi syafaatNya kepada kita?
Jawabannya tentu dengan mengikuti jawaban dari Quran, dan tidak dari buku-buku lain

He that doeth good shall have ten times as much to his credit: he that doeth evil shall only be recompensed according to his evil: no wrong shall be done unto (any of) them. [6:160]

“Except for the ones who repented, believed and done righteous actions, Allah will change their wrong-doings into good. Allah has been Forgiving, Merciful.” (Qur’an 25:70)

Banyak ayat-ayat lain dengan pesan serupa.
Hanya ketika seseorang BELAJAR QUR’AN, maka dia akan melihat dan ditunjukkan bagaimana Allah akan menolongnya. Jangan percaya stories/dongeng-dongeng hadits.
Kebenaran hanya ditemukan di Kitab Allah.

The Truth (comes) from Allah alone; so be not of those who doubt. [3:60]

Konklusi

Setan telah sukses menyesatkan milyaran kristen dengan menjual pada mereka konsep “salvation” yang mendoktrinkan bahwa Yesus/Isa adalah “saviour”/penyelamat mereka. Bagi muslim, setan menjual doktrin fiksi “syafaat”, membuat mereka percaya bahwa mereka dapat keluar dari neraka melalui “syafaat Muhammad, penyelamat mereka”, yang pada kenyataannya adalah dua sisi dari satu koin penyesatan yang sama. Pemberhalaan manusia disamping Tuhan!
Orang beriman sejati yang mengikuti Qur’an mengetahui bahwa Tuhan/Allah sajalah yang memiliki semua otoritas, dan mereka tidak membutuhkan siapapun selain Tuhan, Yang Esa, Yang Maha Merajai, dan Penyelamat SATU-SATUNYA.
Mengharapkan syafaat dari selain Allah, atau sekedar punya anggapan bahwa Nabi atau siapapun makhluk bisa memberi syafaat di hari penghakiman kelak, tidak memiliki dasar sedikitpun di Qur’an. (Namun hanya dari “talmud”nya islam tradisional, yaitu hadits-hadits imam persia) Bahkan adalah dosa terbesar yang tidak terampuni (syirik). Nabi dan kita semua hanyalah manusia yang tidak mempunyai kekuatan/kuasa apapun atas ketetapan Allah, apalagi “mencampuri” putusan Allah di hari penghakiman.
Kita semua karena itu harus terus mempersiapkan diri sendiri, di dunia yang singkat ini, dengan pandangan bahwa kita akan menghadapi perbuatan-perbuatan kita dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan, SENDIRIAN. Kita harus berusaha untuk menyenangkan Allah SAJA, berusaha kembali kepadaNya dengan hati yang bersih(26:88-89, 93, 99-101), artinya tidak mengharapkan pertolongan/syafaat dari makhluk lain, siapapun itu – karena (syafaat dari mereka) itu memang tidak akan ada.

sumber: http://www.quranicpath.com/misconceptions/intercession.html
https://factszz.wordpress.com/2017/09/07/copy-of-some-comments-of-team-factszz-under-some-youtube-videos/
https://factszz.wordpress.com/2014/08/06/true-history-of-hadiths-and-sunna-a-must-reading-for-all-muslims-and-non-muslims-who-are-interested-in-theology/
http://www.quranicpath.com/misconceptions/hell_forever.html
http://www.quran-islam.org/main_topics/new_information/intercession_(P1258).html



Link artikel hasil terjemahan saya yang saya rekomendasikan untuk DIBACA TUNTAS:
“Ultimate Warning” atau peringatan “Pamungkas” dari Allah sebelum kehancuran dunia (7 bagian): https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-1/
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-2/
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-3/
Sosok Dajjal/Antikristus/Mesiasnya Yahudi, yang akan membawa perang dunia 3 dan New World Order:
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-4/
Akhir zaman sesuai surat Yasin: kedatangan Isa/Yesus palsu, sosok juruselamat sebagai penyesatan pamungkas dari setan, yang kelak akan disembah oleh seluruh manusia:
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-5/
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-6/
Tanda-tanda kuat akan mulainya periode kiamat di 2020:
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-7/
YS, utusan pemberi peringatan untuk akhir zaman:
https://www.sebelumterlambat.com/saya-utusan-tuhan-2018/
Peringatan dari Allah untuk muslim agar meninggalkan islam tradisional yang SESAT dan kembali kepada Allah & Quran saja:
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-untuk-muslim/
Usia Aisyah yang sebenarnya:48. Bagaimana hadits telah menipu Anda:
https://www.sebelumterlambat.com/usia-aisyah-konspirasi-hadits/
Praktik shalat yang sebenarnya menurut Quran:
https://www.sebelumterlambat.com/shalat-sesungguhnya-versi-panjang/
Tanya-jawab dengan YS, Utusan Akhir zaman (5 bagian):
https://www.sebelumterlambat.com/ys-qa-bagian-1/