Peringatan Kiamat

*DISCLAIMER/PENAFIAN*
Saya TF, semua artikel yang ada disini hanya upaya penerjemahan dari https://thetruthisfromgod.com/
Kecuali jika saya nyatakan lain.
Saya bukan pemilik situs tersebut diatas, dan pemilik situs tersebut (YS) samasekali bukanlah kenalan saya. Semua konten disana diluar tanggung jawab saya. Saya hanya orang biasa yang mengambil dari sana, menggunakan mesin penerjemah, kemudian mengoreksi hasil terjemahannya lebih lanjut. Demi Allah, Saya tidak dibayar sepeserpun atau mendapat imbalan apapun dari YS.
YS juga tidak pernah memaksa atau meminta saya untuk menerjemahkan.
Semua ini atas inisiatif saya sendiri.
Mohon maaf atas sebagian terjemahan yang masih kasar, atau keliru.
Untuk itu, Saya mohon dengan sangat kepada Anda untuk tetap meninjau sumber aslinya,
Semata-mata untuk menangkap pesan yang lebih lengkap dan lebih murni.
Jika Anda bisa mengerti apa yang tertulis disana (teks Bahasa inggris/Bahasa Prancis), tolong abaikan saja Blog saya dan baca langsung dari sana.
Pesan YS dalam bentuk video2, saya terjemahkan di channel youtube saya:

Salam menurut Al-Qur’an

5 Oct, 2020Agama Sejati

Diterjemahkan dari: https://thetruthisfromgod.com/2019/10/04/le-salut-selon-le-coran/ (Artikel sumber terjemahan terbit pada 4 Oktober 2019)


Pengantar

Pertama-tama saya ingin menekankan bahwa dalam semua yang akan saya katakan di artikel ini, saya tidak berbicara tentang semua Muslim, Yahudi, dan Kristen secara individu. Saya sangat menyadari bahwa setiap individu berbeda-beda. Pokok-pokok kritik yang dilontarkan, adalah menyangkut doktrin-doktrin ini yang diterapkan secara tradisional.

Salam menurut Islam tradisional

Umat ​​Muslim biasanya menyapa satu sama lain dengan mengucapkan ” Assalamou Alaykoum ” (” السلام عليكم ” atau “Peace be upon You/Damai (keselamatan) untukmu“) dan sebagai balasannya menuntut agar kita menjawabnya dengan cara serupa ” Wa Alaykoum salam ”(“ و عليكم السلام ”atau“ Peace be upon You/ Damai (keselamatan) (juga) untukmu, atau dengan apa yang mereka anggap sebagai salam yang lebih baik,“Wa Alaykoum Assalam  Wa Rahmatou Allahi Wa Barakatouhou ”(“ و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته ”atau “May the Peace, the Mercy of God and His Blessing be upon you/Semoga Kedamaian, Rahmat Tuhan dan Berkat-Nya atasmu ”).

Beginilah cara Muslim menafsirkan Qur’an dalam kaitannya dengan greeting/sapaan. Dan terkadang dengan versi singkat dari sapaan ini, “Salam“. Mereka menggunakan metode ini kepada sesama mereka, tetapi mereka juga menggunakan cara yang sama ini untuk menyapa non-Muslim dan pembicara non-Arab!!!

Sebagian besar dari mereka kemudian tercengang ketika tidak dijawab, melainkan hanya dengan pandangan sekilas atau kebingungan sebagai balasan dari “Salam” mereka, dan seperti biasa, (muslim tradisional) menempatkan diri mereka sebagai korban dan menghibur diri dalam ilusi mereka bahwa tidak ada yang mencintai mereka selain dari komunitas mereka, karena fakta sederhana bahwa mereka diidentifikasi sebagai Muslim.

Kita mengenali, saat berjumpa muslim tradisional, kecenderungan malang yang sama ini (untuk menganggap diri mereka sebagai korban), umumnya ditemukan di antara orang2 Yahudi. Hal ini tidak mengherankan, mengingat bahwa kaum Muslim telah, “secara literal”, mengambil jalan delusi yang persis sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi sebelum mereka, dan ini (t/n: terus dilakukan), meskipun ada peringatan terus-menerus dari Al-qur’an tentang hal ini.

Agama telah berubah menjadi sekte

Muslim, seperti halnya Yahudi, tidak menyadari bahwa jika kategori orang tertentu, di luar komunitas mereka membenci mereka, itu bukanlah karena status mereka sebagai Muslim atau Yahudi, melainkan karena ketertutupan mereka, kurangnya refleksi pribadi dan “common sense” mereka yang mencolok, dan terutama perasaan superioritas mereka terhadap orang lain yang tidak memeluk kepercayaan yang sama. Pada kenyataannya, Muslim dan Yahudi secara general-lah yang membenci/memandang rendah orang lain, dan karena itu sepantasnya (sebagai balasannya) menerima ketidaksukaan dari orang-orang yang mereka benci jauh di lubuk hati mereka.

Muslim suka mengutip ayat berikut, untuk meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka adalah korban, dan untuk menemukan justifikasi/pembenaran yang menyanjung mereka atas segala bentuk penolakan yang mereka alami. Berikut adalah terjemahan (keliru) versi Islam dari ayat tersebut, termasuk tanda kurung:

You (Muslims) love them, while they don’t love you ; and you have faith in the whole Book. And when they meet you, they say, “We believe” and once alone, out of rage upon you, they bite their fingertips. Say, “die of your rage.” In truth, Allah knows very well the contents of hearts. S3: V119. S3: V119

Penerjemah Muslim telah mengambil kebebasan untuk menambahkan tanda kurung ini untuk mendapatkan peran yang benar; dan memberi peran yang salah hanya untuk siapapun selain mereka, dimana muslim (t/n: menganggap diri mereka sendiri) sebagai korbannya.

Tentu saja, ayat ini tidak berlaku untuk Muslim (penganut sekte) karena alasan sederhana bahwa ayat ini ditujukan kepada orang-orang beriman sejati: orang-orang yang tidak akan pernah mengklaim sebagai sektarian penganut “agama” Yahudi, Kristen, atau Muslim, melainkan sebagai orang beriman yang bebas, dengan Tuhan sebagai Pembimbing tunggal, dan Al-qur’an sebagai Otoritas tunggal. Ini sama sekali tidak terjadi pada Muslim, yang mengambil ” scholars/ulama ” palsu mereka sebagai pemandu, dan Hadits mereka untuk otoritas. Umat ​​Muslim berani mengaitkan ayat ini dengan diri mereka sendiri, meskipun mereka telah meninggalkan Al-qur’an secara massal, untuk menerapkan Hadits mereka sebagai gantinya . Kebanyakan Muslim, pada kenyataannya, bukanlah orang yang benar-benar beriman sesuai pengertian Al-Qur’an, melainkan hanya sektarian, tenggelam dalam penyekutuan/kemusyrikan dan penyembahan berhala.

And most of them only believe in God by practicing association . S12: V106  

But they split into sects, each sect rejoicing over what it had. S23: V53

Orient your whole being by dedicating religion exclusively to Allah, such is the first nature that Allah originally gave to men – no change in the creation of Allah -. This is the religion of righteousness ; But most people are not aware. Come back to Him repentant; conform to Him in awe, perform Salat and do not be among the associaters, among those who have divided their religion and become factions, each party exulting in what it has. S30: V32

Muslim saat ini begitu dibutakan oleh delusi/khayalan mereka sehingga mereka bahkan gagal bercermin, gagal untuk memahami bahwa ayat-ayat diatas benar-benar berlaku untuk mereka dalam segala hal.

Ketika Allah mengatakan kepada kita bahwa agama hanyalah urusan antara tiap orang beriman dan Dia, Muslim mengasosiasikannya dengan Nabi Muhammad, sahabat2nya, cendekiawan/ulama palsu mereka, dan Hadits palsu mereka, yang bukan berasal dari Allah ataupun Nabi Muhammad.

Ketika Allah berfirman bahwa Agama Sejati yang Benar adalah Agama yang Unik yang tidak berubah sejak penciptaan pertama manusia, Muslim mengklaim bahwa Islam palsu mereka itulah yang asli dan Agama Unik ini .Tetapi apakah mereka tidak melihat bahwa Islam, seperti halnya agama-agama sesat lainnya yaitu Kristen dan Yudaisme, tidak memenuhi definisi Agama Allah Yang TUNGGAL, tetapi hanya ada dalam bentuk faksi-faksi, masing-masing bersuka cita atas apa yang mereka miliki dan mencela yang lain. Memang, tidak ada satu Islam atau satu Kristen atau satu Yahudi, tetapi (sunni, syiah, sufi,….) OF Islams (ortodox, katolik, protestan,…) OF christianisme, (Rabbinic, Karaite, ……) OF Yudaisme, semuanya ikut dalam suatu faksi2 yang tak terhitung jumlahnya.

Muslim, dan orang-orang dari agama lain, tidakkah mereka melihat bahwa mayoritas mereka tidak lain adalah penyekutu/musyrik, karena mereka tidak bergantung pada Petunjuk EKSKLUSIF Allah seperti yang mereka ucapkan (It is YOU ONLY that we serve exclusively, and it is from YOU ONLY that we seek assistance (S1:V5), tetapi mereka mengandalkan para ahli agama, untuk menjadi pembimbing mereka dan perantara kepada Allah?

Sekarang setelah tatanan segala sesuatunya telah ditegakkan kembali, dan orang beriman yang sejati sekarang dengan jelas dibedakan dari sektarian dan penyekutu (Muslim, Kristen, atau Yahudi), ayat yang sebelumnya dikutip oleh Muslim, mengklaim memiliki peran yang benar ternyata adalah ayat yang justru mengecam mereka.

You, ( TRUE BELIEVERS WHO OBEY DIRECTLY TO THE QUR’AN … AND NOT THE MUSLIMS WHO RATHER OBEY THE HADITHS, NOR CHRISTIANS OR JEWS ) you love them ( MUSLIMS, JEWS, AND CHRISTIANS THINKING TO SHARE THE SAME FAITH ), while they don’t like you ; and you have faith in the whole Book ( WHILE MUSLIMS, CHRISTIANS, AND JEWS TAKE FROM THE BOOK ONLY WHAT THEY THINK GOES IN THEIR SENSE ) . And when they meet you, they say: “We believe” ( WHILE THEY DO NOT HAVE PURE FAITH IN ALLAH ALONE, OTHERWISE, THEY WOULD TAKE IT DIRECTLY FOR ONLY GUIDE, INSTEAD OF TAKING GUIDES OTHER THAN HIM.) and once alone, with rage against you, they bite their fingertips. Say, “die of your rage.” In truth, Allah knows very well the content of hearts ( SICKNESS, INJUSTICE, HYPOCRISY, HATE, LAZINESS). S3: V119

Muslim, Yahudi, dan Kristen mengaku sebagai orang beriman, tetapi ayat ini menjelaskan kepada orang-orang yang BENARBENAR beriman, bahwa pada kenyataannya, Muslim, Yahudi, dan Kristen bukanlah orang yang benar-benar beriman dalam pengertian Al-qur’an, tetapi sektarian, penyekutu/musyrik dan penyembah berhala, dan bahwa mereka tidak memiliki keyakinan sama sekali pada seluruh Kitab, tetapi hanya pada apa yang cocok menurut mereka.

Jelas, Al-qur’an tidak terbatas waktu dan dapat diterapkan di setiap masa. Di zaman nabi, ayat ini memang menunjuk orang-orang beriman sejati yang telah mengikuti jalan Nabi Muhammad. Mereka (t/n: muslim sejati ini) melihat banyak orang Yahudi dan Kristen di zaman mereka, lalu berpikir bahwa mereka memiliki iman yang sama kepada Tuhan seperti yang mereka lakukan. Tapi ternyata tidak seperti itu. Dengan skenario serupa, seperti itulah (t/n: hubungan orang2 beriman sejati dengan) Muslim, Kristen, dan Yahudi saat ini.

Sebagai konfirmasi bahwa Muslim, secara kebanyakan, saat ini memang dan benar-benar merupakan pihak dari orang-orang ber-iman palsu yang ditunjuk oleh ayat ini, lihatlah bagaimana mereka secara sistematis menerjemahkan, untuk keuntungan mereka sendiri, kata ” Muslimin / مسليمين ” dalam Al-qur’an, dengan “Muslim (t/n: penganut “agama” islam) “, curang atas arti sebenarnya dari kata-kata tersebut, dengan mengasimilasi kata ini dengan sebuah nama/identitas untuk menunjuk diri mereka, Muslim. Padahal pada kenyataannya, kata ini sama sekali bukan sebuah nama, melainkan sebuah kata sifat, sebuah qualifier, yang artinya “ mereka yang sedang dalam proses redemption (penebusan/pertaubatan)”. Kata ” Muslimin / مسليمين ” oleh karena itu tidak mungkin berlaku untuk Muslim, karena mereka sama sekali tidak “dalam proses penebusan.“ Karena mereka berada di jalan yang sama sekali berbeda, jalan dari sekte mereka yang tersesat, bukannya Jalan Allah dan Al-qur’an yang lurus. Pada kenyataannya, umat Islam, secara kebanyakan, sama sekali tidak “ dalam proses penebusan ”, melainkan “ dalam proses tersesat ”.

Bukti bahwa umat Islam hanya mengambil dari Kitab Al-quran, apa yang mereka anggap menguntungkan bagi mereka, dan mereka dengan sengaja meninggalkan apa yang condemn (t/n: menghukum/mencela) mereka, adalah dalam terjemahan mereka tentang satu-satunya ayat Al-qur’an. di mana ” Muslimin / مسليمين ” dikaitkan dengan “criminals (mujrimin/penjahat) “. Umat ​​Muslim kemudian untuk sekali, melakukan penyimpangan dari aturan penerjemahan mereka, dengan menerjemahkan kata ” Muslimin / مسليمين ” dengan “tunduk/berserah diri” alih-alih “orang Muslim“, agar tidak ada kebingungan yang mungkin terjadi, karena ayat ini dapat dianggap menyamakan umat Islam dengan penjahat, mengingat uraian berikut ini sangat mirip dengan mereka.

Should we regard submissives ( INSTEAD OF TRANSLATION BY “MUSLIMS” ACCORDING TO THEIR USUAL RULE ) as criminals ? What is wrong with your logic? Do you have another book to study? Where do you find everything you want?  Or  have you obtained from us a special authorization which runs until the Day of Resurrection, allowing you to decree whatever you want  ? S68: V35-39

Namun, ayat ini, UNTUK SEKALI, memang menunjuk kepada “Muslim“, karena yang digambarkan sebagai “penjahat” memang berkorespondensi dengan mereka dalam segala hal:

“Apakah kamu memiliki kitab/buku lain untuk dipelajari?”

Bukankah justru kaum Muslim yang mengadopsi kitab lain, Hadits , untuk dijadikan sebagai sumber hukum mereka di luar Al-qur’an?

“Di mana kamu menemukan semua yang kamu inginkan?  Atau apakah kamu telah memperoleh dari kami otorisasi khusus yang berlaku sampai Hari Kebangkitan, memungkinkan kamu untuk menetapkan apa pun yang kamu inginkan  ? ”

Bukankah Hadits yang mengizinkan Muslim untuk dapat memutuskan apa yang mereka inginkan, dan menjadikan agama mereka à la carte?

Ayat ini bergerak lebih jauh dalam menunjuk itikad buruk Muslim: “Apa yang salah dengan logikamu?”

Memang, atas logika apa umat Islam mendasarkan untuk menerjemahkan semua kata, dalam Alquran, dari kata ” mouslimine / مسليمين “, menjadi nama ” Muslim “, kecuali dalam satu ayat di mana ” Muslim / mouslimine / مسليمين ” adalah terkait dengan ” penjahat “: Haruskah kita menganggap Muslim / muslimine / مسليمين sebagai penjahat ?

Memang, satu-satunya logika mereka adalah secara sistematis menempatkan diri mereka pada peran yang benar, dan membuat Al-qur’an hanya mengatakan apa yang menegaskan jalan delusi mereka sendiri. Orang lain sebelum mereka, orang Yahudi, melakukan hal yang sama, secara sistematis menolak kritik apa pun yang mengutuk kesalahan mereka. Mereka mengira mereka pintar, seperti Muslim, dalam mencurangi atas arti kata-kata, tetapi yang mereka peroleh dari kezaliman ini adalah menerima Murka dan Kutukan Tuhan atas mereka.

Dalam modus yang sama, umat Islam secara sistematis menerjemahkan kata ” حديث / Hadits ” dengan ” perkataan / ucapan“, sementara sebagian besar ayat yang mengandung kata ini, tidak diragukan lagi mengacu pada “Hadits” yang sama yang diadopsi umat Islam pada saat itu dan seterusnya, yang menggeser/menggantikan Al-qur’an.

Here are the verses of God which We recite to you in all truth ( THE QURAN ). So in which HADITH (حديث), AFTER GOD AND HIS VERSES , will they believe?  S45: V6

Have they not meditated on the kingdom of the heavens and the earth, and everything that Allah has created, and their end may already be near? Which HADITH (حديث) will they believe in AFTER THIS ?  S7: V185 

AFTER THAT , what HADITH (حديث) will they believe in  ? S77: V50 

Akan tetapi, Allah menegaskan, melalui ayat-ayat lain yang bahkan lebih eksplisit, untuk memahamkan kepada umat Islam, bahwa mereka tidak boleh mengadopsi Hadits daripada Al-qur’an, tetapi umat Islam tidak ingin mendengar apa pun, dengan alasan apa pun.

Allah sent down the best Hadith (THE QURAN IS THE BEST HADITH), a Book whose verses are repeated, the skins of those who worship their Lord shiver, then their skins and hearts are appeased to the message of God, such is the guide of God, he guides with whom he wants, and whoever God leads astray, has no guide S39: V23 

Kita menemukan hari ini melalui yang dilaporkan oleh sejarawan non-Muslim, yang netral/non-partisan: bahwa hukum Islam saat ini, yang didasarkan 100% pada Hadits, ternyata, tidak lebih dan tidak kurang, berasal dari hukum pagan pra-Islam yang lama, Hukum Taghut, yang bagaimanapun juga telah Allah perintahkan untuk mereka tolak, (t/n:yang sudah diperintahkan ditolak) pada masa Nabi Muhammad .

Have you not seen those who claim to believe in what was sent down to you (the Qur’an) and in what was sent down before you? They want to take the law of Taghut, when they have been commanded to reject it. But the Devil wants to lead them astray very far, into the confusion. S4: V60

Then  We revealed THIS BOOK to you  in all truth, confirming the earlier books and prevailing over them.  You must judge among them according to the revelations of God , and do not follow their desires if they differ from the truth which has come to you… You must judge among them according to the revelations of God which have come down to you. Do not follow their desires, and BE CAREFUL so they do not divert you from part of what God has revealed to you …  Is this the law of the time of ignorance ( THE LAW OF TAGUT ) that they want to adopt ? WHICH LAW IS BETTER THAN THAT OF GOD  for those who say they are convinced of it (MUSLIMS CLAIM TO BELIEVE IN THE QURAN AND YET LEAVE IT FOR THE HADITHS) ? S5: V48-50

Bukankah semua ayat itu yang baru saja saya kutip cukup jelas?

Bukankah ayat-ayat ini dengan jelas mencela fakta bahwa umat Islam, (mengaku) mengikuti Nabi Muhammad dengan menaruh keyakinan mereka pada Hadits, padahal sebelumnya mereka mengikuti Al-qur’an?

Masih bisakah Muslim mengabaikan peringatan keras Tuhan dan terus menutup telinga?

Apakah Muslim tidak takut tertimpa, seperti Bani Israil, murka Allah, ataukah semua yang benar-benar penting bagi mereka adalah mengabadikan dengan cara apapun jalan delusi mereka saat ini? ?

Salam menurut Al-qur’an

Jika saya ceritakan semua itu, sementara subjek artikel ini adalah tentang anjuran Allah dalam hal greetings/sapaan, justru karena Muslim menggunakan jenis distorsi yang sama dari ayat-ayat Al-qur’an yang baru saja saya ilustrasikan kepada Anda, untuk mengasimilasi ajaran Islam palsu mereka kepada ajaran yang benar dari Allah, yang ada dalam Al-qur’an.

Memang, kita tidak perlu mencari di Qur’an bahwa Allah tidak pernah memerintahkan kepada seluruh dunia: orang yang berbicara bahasa Arab maupun orang berbicara bahasa non-Arab, untuk saling menyapa menggunakan bentuk sapaan yang khas Arab. Tapi sekali lagi, Muslim ingin menggeneralisasi praktik palsu mereka ke seluruh dunia, dan menafsirkan ayat-ayat Al-qur’an secara salah dan membuat mereka tetap berpegang pada metode/cara-cara mereka selama ini.

Untuk menjustifikasi bahwa Al-qur’an mengatur bahwa seseorang harus saling menyapa dengan mengatakan: “Salam Aleykoum” atau salah satu variannya, umat Islam selalu mengutip ayat yang sama:

And when those who believe in our verses (the Qur’an) come to you, say: “Peace be upon you (Salam aleykoum / سَلَامٌ عَلَيْكُمْ)! Your Lord has prescribed mercy to Himself. And whoever among you has done wrong through ignorance, and then repented and reformed… He is, then, Forgiving and Merciful ”. S6: V54

جاءك الذين يؤمنون بآياتنا وإذا فقل سلام عليكم  كتب على نفسه ربكم الرحمة  أنه من عمل منكم سلام عليكم كتب على نفسه ربكم الرحمة أنه من عمل منكم مصأأم منكم مصر

Pertama-tama, apakah Anda seorang Muslim atau bukan, tidak ada artinya menyapa satu sama lain dalam bahasa asing. Sebaliknya, setiap orang mestinya menggunakan bahasa negara tempat mereka berada.

Salam Aleykoum” secara harfiah berarti “ Peace be upon you ” atau “ Hail to you ”. Arti sebenarnya dari ” Salam Aleykum ” mengacu pada greeting/sapaan damai yang dapat mengambil sebanyak mungkin bentuk, tergantung pada bahasa dan adat istiadat. Dalam bahasa Prancis, ini setara dengan sekadar mengucapkan ” Bonjour (t/n:halo)“, ” Bienvenue“, “Salut“, “Bonsoir“, yang secara efektif mirip dengan kata-kata perdamaian.

Berapa banyak Muslim yang mengucapkan “Salam” mereka kepada saya untuk menyapa saya, dan kemudian menyebut saya tersesat, mengutip ayat di atas, karena saya menjawab mereka dengan “Bonjour/Halo” sederhana. Ketika Anda tinggal di Prancis dan berbicara bahasa Prancis, Anda harus mengekspresikan diri Anda dalam bahasa Prancis murni, dan bukan dalam fonetik Arab!

Penyimpangan semacam ini adalah alasan mengapa banyak orang Prancis sudah menutup diri di depan umat Islam, hampir tidak pernah menjawab mereka dengan ” Salam ” mereka. EKSPRESIKAN DIRI ANDA dalam bahasa negara Anda, dan terlebih lagi jika Anda orang asing di negara ini. Allah mengajak kita untuk menghormati kebiasaan dan adat istiadat yang berlaku di negara tempat kita berada, selama itu sesuai dengan Hukum Ilahi-Nya, Al-qur’an. Oleh karena itu, lebih baik bagi seorang Muslim yang menyapa penutur non-Arab, Muslim ataupun bukan, untuk menyapanya dengan sapaan khusus untuk bahasa negaranya, dan tidak mengucapkan kata “salam” secara fonetik sebagai sapaan, kata yang dalam bahasa Prancis sama sekali tidak berarti apa-apa, dan tidak mewakili cara menyapa yang biasa di sana.

Kedua, ayat ini sama sekali bukan tentang bagaimana kita harus saling menyapa, tetapi ayat ini adalah bagian dari keseluruhan narasi yang dimulai pada ayat-ayat sebelumnya, dan yang mengundang Nabi dan orang beriman untuk menyambut mereka yang kembali kepada Allah. bertobat, dan katakan kepada mereka bahwa Allah bersedia mengampuni mereka. Inilah konteks lengkap dari ayat ini dan Anda akan melihat bahwa ayat ini pada kenyataannya tidak mewakili perintah Allah untuk saling menyapa di antara orang-orang beriman dengan “ Salam Aleykum ”.

And do not reject those who, morning and evening, implore their Lord, seeking his Face. They are not accountable to you, and you are not accountable to them. By rejecting them, then, you would be among the unjust. So, do We test people one by one, to say, “Are these those whom Allah has favored among us?” Isn’t it Allah who knows best which ones are grateful? And when those who believe our verses come to you, say, “Peace be upon you! Your Lord has prescribed mercy to Himself. And whoever among you has done wrong through ignorance, and then repented and reformed… He is, then, Forgiving and Merciful ”. S6: V52-54

Salam Aleykoum” yang ada di awal kutipan, hanya mengambil cara/kebiasaan orang2 Arab, baik orang beriman maupun non-beriman, terbiasa untuk saling menyapa, DAN bukanlah objek utama dari preskripsi/anjuran ayat ini. Sebaliknya, anjuran sebenarnya yang terkandung dalam ayat ini adalah:

Dan ketika mereka yang beriman pada ayat-ayat Kami datang kepadamu, katakan, “Damai menyertai kamu!” Tuhanmu telah menetapkan (sifat) rahmat/Maha Penyayang atas diri-Nya. Dan siapapun di antara kamu yang telah melakukan keburukan karena ketidaktahuan, dan kemudian bertobat dan memperbaiki diri… Sesungguhnya Dia, Maha Pengampun dan Maha Penyayang ”.

Ayat lain yang kurang dipahami oleh umat Islam yang ingin bergerak lebih jauh dengan “ Salam Aleykoum ” mereka, kemudian dengan bangga pada diri mereka sendiri, menganjurkan jawaban “ Wa Alaykoum Assalam  Wa Rahmatou Allahi Wa Barakatouhou “.

If someone gives you a greeting, greet you in a better way; or give it back. Of course, Allah takes everything into account. S4: V86

Pertama, tidak peduli bagaimana kita menyapa satu sama lain, yang terpenting adalah salam kita itu damai dan disertai dengan kebaikan. Dan kemudian, ayat ini dengan cara apapun tidak mengatakan bahwa: perlu saling menyapa secara sistematis dengan “ Salam Aleykoum ”, dan terlebih lagi, “membalas sapaan dengan yang lebih baik” diartikan harus dengan ucapan “ Wa Alaykoum Assalam  Wa Rahmatou Allahi Wa Barakatouhou “, sapaan ini tidak ada dan tidak pernah disebutkan dimanapun dalam Al-qur’an.

Apa yang ayat ini ajak untuk kita lakukan, adalah untuk menyapa orang setidaknya sehangat kita telah disapa oleh mereka. Kemudian mengembalikan dengan sapaan yang lebih baik ini dapat terpenuhi dengan mudah, misalnya seseorang mengatakan ” Halo ” sederhana kepada Anda, dan Anda menanggapi dengan ” Halo, apa kabar? “, Atau seseorang yang hanya mengangguk untuk menyambut Anda, dan Anda membalas mengangguk kembali, dibarengi dengan senyuman hangat, atau seseorang yang mencium pipi Anda sebagai sapaan, dan Anda mencium pipi mereka kembali sambil memeluk…. dll., dll. Kita jauh dari “salamalec” yang diucapkan tanpa kesungguhan oleh kebanyakan Muslim.

Ayat lain yang digunakan Muslim untuk membenarkan, berdasarkan (misinterpretasi) Al-Qur’an, bentuk sapaan mereka, adalah ayat berikut:

Can’t you see those to whom secret conversations have been forbidden? Then, they return to what was forbidden to them, and concert together to sin, transgress and disobey the Messenger. And when they come to you, they greet you in a way that Allah has not greeted you, and say to themselves: “Why does Allah not punish us for what we say?” Hell will be enough for them, where they will burn. what a bad destination!  S58: V8

Muslim mengambil ayat ini untuk membenarkan bahwa satu-satunya bentuk salam yang diterima oleh Allah adalah “salamalec” mereka. Bagi Muslim, Allah Sendiri salut/menyapa kepada Nabi Muhammad sesuai dengan cara mereka, dan karena itu, segala bentuk greeting/sapaan lainnya, menurut mereka, bukan dari Allah. Anda melihat Muslim di seluruh dunia, dari semua asal , mengucapkanSalam Aleykoum ”, dengan dasar fonetik sederhana, meskipun mayoritas Muslim di dunia bahkan tidak berbicara bahasa Arab… Ini tidak masuk akal!

Allah tidak menyapa Nabi Muhammad  dengan cara yang sama seperti kita menyapa satu sama lain, karena interaksi mereka bukanlah pertukaran suara langsung, antara Allah dan Nabi Muhammad. Karena itu, kita tidak dapat menggunakan ayat ini untuk mengubahnya menjadi cara kita saling menyapa.

Anda harus benar-benar mempertimbangkan seluruh ayat di atas untuk memahami sepenuhnya tentang apa itu sebenarnya:

Can’t you see those to whom secret conversations have been forbidden? Then, they return to what was forbidden to them, and concert together to sin, transgress and disobey the Messenger. And when they come to you, they greet you in a way that Allah has not greeted you, and say to themselves: “Why does Allah not punish us for what we say?” Hell will be enough for them, where they will burn. what a bad destination! S58: V8

Jadi ayat ini bukan tentang sapaan seperti itu, melainkan tentang bagaimana musuh Tuhan, mereka yang mengambil bagian dalam pertemuan rahasia, menyapa  Nabi Muhammad , memberi hormat dengan julukan2, atau memberinya gelar, atau kualifikasi yang tidak pernah diberikan Allah kepadanya.

Kita tahu dari Alquran bahwa musuh Tuhan menggunakan 2 metode untuk menghalangi jalan Tuhan.

Metode pertama adalah berusaha “memasukkan nabi Muhammad ke dalam saku” (t/n:menjadikannya sekutu/kawan), dan untuk itu, mereka berusaha menyapanya dengan cara yang sangat menyanjung, dan karena itu menyapanya dengan formulasi pujian menyombongkan seperti itu: “Sumur Pengetahuan“, ” Cahaya Tuhan “, ” Tuan Besar “, “Orang Bijak “, ” Yang Mulia “… dll, yang tidak sesuai dengan kualifikasi yang diberikan oleh Allah kepada nabi Muhammad  dalam Al-qur’an. Jelas, Allah tidak mengutus Nabi untuk menempatkan dirinya sebagai tuan/penguasa atas orang-orang, tetapi hanya untuk menyampaikan pesanNya dan menjadi teladan.

It is  impossible  for someone to whom Allah has given The Book, the Faculty of Judgment and Prophecy, to go after that to say to people: “ Be my servants and not those of Allah ”, but he would  rather say :  “ Be the direct disciples of Allah in  accordance with what you have always taught from the Book, and in accordance with what you have so far studied ”.  He does not command you to take the angels and the prophets as masters.  Would he command you to reject the faith once you have entered the path of redemption? S3: V79-80

Nabi Muhammad, karena insensitive/ tidak peduli dengan sanjungan semacam ini, dan tidak mencari elevation/ posisi/ status di bumi, maka dari itu musuh-musuh Allah mengganti strategi mereka, berusaha menghancurkannya dengan segala cara, khususnya dengan mengejek dia, dan dengan merendahkan gelarnya sebagai Nabi, Utusan dan pemberi peringatan dari Tuhan.

Jadi inilah inti dari ayat ini, ini sama sekali bukan tentang: bahwa hanya ada satu cara untuk saling menyapa, cara Islam, tetapi ayat ini mengutuk cara2 yang tidak disetujui oleh Allah yang digunakan musuh Tuhan kepada Nabi Muhammad.

Ayat-ayat berikut ini merupakan bukti terakhir bahwa ketika Allah menggunakan kata ” Salam / Peace / Salut / سلام ” dalam Alquran, tidak secara tegas mengatakan kata ini secara khusus sebagai sapaan, tetapi sebaliknya. adalah arti di balik kata ini yang penting.

لَا يَسۡمَعُونَ فِيہَا لَغۡوً۬ا وَلَا تَأۡثِيمًا إِلَّا قِيلاً۬ سَلَـٰمً۬ا سَلَـٰمً۬ا S56   : V25-26

Umat ​​Muslim menerjemahkan ayat ini berdasarkan fonetik sederhana dari kata “ Salam / Peace / Salut / سلام ” tanpa mempertimbangkan arti sebenarnya di baliknya:

They will hear there (in paradise) neither futility nor blasphemy; but only the words: “Salām! Salām! ”… S56: 25-26

Untungnya, kata yang diucapkan di surga tidak terbatas pada satu kata “ Salam! Salam! “, Karena jika tidak, surga akan menjadi seperti rumah sakit jiwa bagi Muslim yang tersesat… yang akan terlihat lebih seperti neraka.

Jika Anda membaca seluruh rangkaian konteks dari surat ini di mana ayat ini muncul, maka Allah menjelaskan tempat peristirahatan dari 3 kategori manusia yang ada di akhirat: Orang-orang neraka, orang-orang penghuni surga, dan orang-orang penghuni surga “atas“. Ayat ini disebutkan untuk menggambarkan persinggahan orang-orang di surga “atas“, mereka yang disebut Allah sebagai ” yang terdepan / السابقون ” (mereka yang berada di klasifikasi puncak dari orang2 beriman menurut klasifikasi dari Allah), sebagai komparasi dengan persinggahan orang-orang neraka.

Berbeda dengan orang-orang Neraka yang semuanya akan menjadi musuh satu sama lain, dan yang akan mengutuk dan menghina satu sama lain, orang-orang Surga Atas tidak akan tercemar oleh hal-hal sepele, penghinaan, dan hujatan yang kita dengar di Neraka. , tetapi hanya akan mendengar diskusi yang damai dan mulia, sumber kedamaian.

Ayat ini tidak berarti bahwa penghuni surga menghabiskan waktunya dengan mengucapkan “ Salam! Salam! “, Ibarat burung beo, apalagi sebuah penegasan dari cara menyapa/salam Islami. Namun ayat ini secara sederhana berarti bahwa: diskusi/percakapan di surga hanyalah kedamaian baik secara verbal maupun spiritual. Oleh karena itu, kita dapat menerjemahkan ayat ini lebih akurat dengan:

They will hear there (in paradise) neither futility nor blasphemy; but only words of peace referring to other words of peace. S56: V25-26

Ayat lain ini menegaskan kepada kita bahwa penghuni surga tidak membatasi diri mereka untuk mengucapkan “ salam ” satu sama lain sebagai sapaan satu sama lain, melainkan bahwa mereka semua menyapa satu sama lain dengan cara yang damai dan baik, tidak peduli seperti apa bentuk sebenarnya dari sapaan mereka nanti.

فيها سبحانك اللهم دعواهم وتحيتهم  فيها سلام  وآخر دعواهم أن الحمد لله رب العالمين S10: V10

There, their invocation will be “Glory to You, O Allah” / ” Subhanallah “, and their greeting: “Salām”, [Peace!] And the end of their invocation: “ Praise be to Allah /” AlHamdoulilah “, Lord of the Universe”. S10: V10  

Muslim, tidak mengherankan, menerjemahkan ayat ini sesuai dengan kesalahpahaman mereka tentang Islam, berdasarkan ekspresi religius mereka yang sudah baku: seperti mantra ajaib untuk diucapkan sesuai kata itu, atau lebih tepatnya, sesuai bunyinya. Sedangkan arti sebenarnya dari ayat-ayat tersebut jauh melampaui aspek fonetiknya.

Rumus agama

Memang, ucapan umat Islam terus-menerus diselingi dengan formula yang sudah baku, seperti yang dikutip beberapa orang dalam ayat ini: ” Subhanallah “, ” Astaghfirullah “, ” AlHamdoulilah “, ” Mashaallah “, yang akhirnya kehilangan maknanya, dan diucapkan tanpa keyakinan/kesungguhan. Sementara Tuhan tidak pernah memerintahkan kita untuk menggunakan kata-kata semacam ini sesuai bunyinya, melainkan untuk mengungkapkannya dengan kata-kata kita sendiri dalam kerangka yang dibenarkan, DAN TERUTAMA JANGAN SEMBARANGAN MENYEBUT NAMA TUHAN . Ingat perintah ke-3 dari 10 Commandment : YOU SHALL NOT TAKE THE NAME OF THE LORD THY GOD IN VAIN, (t/n: sedikit deskripsi dari internet: orang beriman harus memuliakan nama Tuhan. Jika kita diperintahkan untuk mencintai Tuhan sepenuh hati, jiwa, dan pikiran, maka sudah seharusnya kita menghormati/memperlakukan nama Tuhan dengan “respect” tertinggi.) jika Anda benar-benar memiliki rasa takut kepada Allah di dalam diri Anda, jangan gunakan “rumus agama” seperti itu lagi dan lagi.

Misalnya “ AlHamdoulilah ” yang berarti “ Praise be to Allah ” dapat diungkapkan dengan hanya memuji Allah dengan kata-kata yang wajar, seperti mengatakan “ Allah Maha Pengasih ”, atau “ Allah sungguh baik ”,… dll, dan tidak mengatakan ini sebagai “formula” untuk situasi apa pun, dengan cara yang serampangan dan sistematis, untuk menjadi hiasan perkataan Anda seperti yang dilakukan Muslim, tetapi hanya diucapkan jika itu benar-benar cocok/pantas. Contoh lain untuk mengilustrasikan poin saya, misalkan Anda menerima berkah/ rezeki secara tidak terduga, maka daripada hanya mengucapkan “ Alhamdulilah / Segala puji bagi Allah ”, yang tentu saja sangat bagus, Anda bisa mengungkapkan pujian ini dengan bahasa alami seperti: “Allah Engkau Maha Pemurah, Maha Pemberi, Yang Maha Agung, Yang Maha Kaya… Terima kasih “. Tidaklah perlu untuk selalu mengucapkan kata-kata ini dengan suara keras, hingga terdengar oleh orang lain. Mengucapkannya di dalam hati mungkin lebih bernilai di sisi Allah.

Melihat umat Islam mengucapkan kata-kata yang sudah jadi ini, seperti rumus-rumus ajaib, dan tanpa banyak kesungguhan, kadang-kadang bahkan secara otomatis dan tanpa berpikir, seolah-olah umat Islam tidak memiliki apa-apa selain “bungkus” dari agama, dan benar-benar kehilangan isinya.

Ini terjemahan mereka, menurut mereka, surga akan terlihat seperti kumpulan Muslim yang melemparkan sesama mereka sendiri formula yang biasa kita kenal, yang sering mereka ucapkan tanpa niatan atau kesungguhan …

There, their invocation will be ” Subhanakallahumma “, and their greeting: ” Salām “, [Peace!] And the end of their invocation: ” Alhamdulillahirabbil Alamiin “. S10: V10 

Terjemahan sebenarnya dari ayat ini, DALAM BAHASA YANG NATURAL, berbunyi ini:

(In Paradise) their invocation will be to the Glory of Allah, and their greeting will be only peaceful, and the end of their invocation will be to the Praise of Allah, Lord of the Worlds. S10: V10

Memuliakan Allah tidak hanya sekedar mengatakan “SubhanAllah“, tetapi dapat mengambil segala bentuk glorifikasi yang tak terbatas. Demikian pula, menyapa/memberi salam damai tidak hanya sebatas mengucapkan “salam”, tetapi bisa diungkapkan dengan kata-kata, gerak tubuh, tingkah laku, intonasi suara… dll dll, sebanyak mungkin cara yang pantas, dan seperti itu pula seharusnya untuk semua formula religius generik lainnya.

Kesimpulan

Dalam hal salam, anjuran Tuhan adalah menyapa satu sama lain dengan cara yang damai, baik, dan dengan kesungguhan, apa pun itu. Tentu saja bahwa sapaan ini mesti diucapkan dalam bahasa yang digunakan di negara tempat kita berada , dan tidak terbatas pada bunyi fonetik yang dihasilkan oleh kata “salam”, seperti yang lazim di kalangan umat Islam di seluruh dunia, tanpa peduli apakah mereka berbicara bahasa Arab atau tidak.

Hal ini jelas tidak melarang Anda untuk menyapa satu sama lain menggunakan “salam” dan atau salah satu variannya jika Anda berbicara bahasa Arab, atau  di negara negara berbahasa Arab , negara di mana jenis sapaan ini merupakan kebiasaan, dan tidak tidak secara eksklusif disediakan untuk Muslim, tetapi untuk semua orang, Muslim dan non-Muslim.

Satu-satunya anjuran Tuhan lainnya dalam hal ini, dan yang mengalir secara alami bagi semua orang yang terpelajar, adalah menjawab sapaan orang dengan cara yang lebih baik, atau minimal seperti yang mereka tawarkan kepada kita. Oleh karena itu, yang dianjurkan Qur’an ini bukanlah tentang mengabaikan “salamalec” yang dilakukan sepanjang waktu oleh Muslim, tetapi lebih kepada: selalu membalas dengan membuat gestur lebih banyak, upaya lebih banyak, frasa yang lebih sopan/hangat, untuk menghormati orang yang menyapa kita, setidaknya setara dengan penghormatan orang itu pada kita.

Adapun cara mengekspresikan diri kita secara umum, Tuhan tidak meminta kita untuk membatasi kosakata kita dengan “rumus agama” yang sudah jadi, melainkan untuk menerjemahkan anjuran Qur’an ini menjadi ekspresi/kata-kata kita sendiri, dan menggunakannya dengan bijak, dan dengan kesungguhan… jika tidak seperti itu, “rumus agama” ini kehilangan semua nilainya, dan menjadi: tidak lebih dari sekedar elemen bahasa.

Hukum Allah itu sederhana dan penuh common sense, dan tersedia untuk semua orang di seluruh dunia, baik yang beriman maupun yang tidak beriman, sedangkan hukum Iblis yang sewenang-wenang hanya berfungsi untuk mencetak/mengkotakkan kita dan menaburkan perpecahan di antara manusia.

Kita memiliki bukti hari ini, bahwa ucapan “salam” yang sederhana ini saja bisa menjadi sumber konflik dan kebencian, sedangkan jika umat Islam benar-benar mengikuti petunjuk Tuhan dalam urusan ini, mereka tidak perlu menjalani segala jenis ketidaknyamanan dan masalah2 yang mereka derita setiap hari karena perkara ini.

Sayangnya bagi umat Islam, delusi mereka tidak terbatas pada bagaimana mereka menyapa orang dan menyapa satu sama lain, tetapi menyangkut semua aspek agama lainnya. Karena itu, adalah up to them/terserah mereka sendiri untuk menarik kesimpulan yang diperlukan, dan untuk mengumpulkan preskripsi Tuhan yang benar, preskripsi Alquran.

Saya tidak mengatakan bahwa semua Muslim, Yahudi, Kristen adalah setara, itu tergantung pada kemurnian iman mereka, keadilan tindakan mereka, dan kemampuan mereka untuk menggunakan reason/akal dan mempertanyakan diri mereka sendiri.

Rekomendasi

Jika jalan Kebenaran dan Keselamatanlah yang benar-benar menarik minat Anda, dan bukan mengabadikan keyakinan Anda sendiri dengan cara apa pun, saya mengundang Anda untuk melanjutkan membaca dan memperhatikan/mencatat, jika Anda belum melakukannya, dari daftar artikel ini yang dikirimkan Allah kepada Anda: (t/n: sengaja saya tidak pasang link, karena artikel2 dibawah mengarah ke artikel2 berbahasa prancis, jika memang ingin membaca, silahkan langsung buka di situsnya YS)

Peringatan Allah untuk Muslim, atau transisi dari Agama Murni Allah ke Islam pagan dan sektarian saat ini

Shalat yang sebenarnya menurut Alquran

Ramadhan yang sebenarnya menurut Alquran

Zakat yang sebenarnya menurut Alquran

Kode berpakaian yang sebenarnya menurut Alquran

Bukti bahwa saya adalah utusan Tuhan (versi panjang)

Bukti bahwa saya adalah utusan Tuhan (versi pendek)

Ketahuilah bahwa saya tidak mengejar siapa pun, saya tidak punya apa-apa untuk dijual, saya tidak meminta Anda untuk percaya kepada saya, Allah lebih dari cukup bagi saya sebagai saksi. Saya tidak mempromosikan diri saya sendiri, tetapi hanya mempromosikan Jalan Tuhan dan Kebenaran. Peranan yang telah Allah tetapkan kepada saya hanyalah dengan setia menyampaikan pesan pengingat dan peringatan-Nya, jadi saya tidak bertanggung jawab atas pilihan/perbuatan siapa pun. Dialah Allah yang membimbing siapa yang Dia kehendaki di antara para hamba-Nya. Ketahuilah bahwa untuk meningkatkan peluang Anda mendapatkan Rahmat Allah, Anda harus berusaha untuk bersikap seadil mungkin, dan menjadikan kebenaran sebagai satu-satunya kompas Anda, bahkan jika ini bertentangan dengan kepercayaan Anda saat ini, dan mengadopsi Allah sebagai satu-satunya Pembimbing, karena jika Anda ingin “bermain di dua sisi”, yaitu dengan Allah, sambil pada saat yang sama tetap mengambil “pembimbing2” Anda lainnya, itu tidak akan berhasil untuk Anda.



Link artikel hasil terjemahan saya yang saya rekomendasikan untuk DIBACA TUNTAS:
“Ultimate Warning” atau peringatan “Pamungkas” dari Allah sebelum kehancuran dunia (7 bagian): https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-1/
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-2/
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-3/
Sosok Dajjal/Antikristus/Mesiasnya Yahudi, yang akan membawa perang dunia 3 dan New World Order:
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-4/
Akhir zaman sesuai surat Yasin: kedatangan Isa/Yesus palsu, sosok juruselamat sebagai penyesatan pamungkas dari setan, yang kelak akan disembah oleh seluruh manusia:
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-5/
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-6/
Tanda-tanda kuat akan mulainya periode kiamat di 2020:
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-7/
YS, utusan pemberi peringatan untuk akhir zaman:
https://www.sebelumterlambat.com/saya-utusan-tuhan-2018/
Peringatan dari Allah untuk muslim agar meninggalkan islam tradisional yang SESAT dan kembali kepada Allah & Quran saja:
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-untuk-muslim/
Usia Aisyah yang sebenarnya:48. Bagaimana hadits telah menipu Anda:
https://www.sebelumterlambat.com/usia-aisyah-konspirasi-hadits/
Praktik shalat yang sebenarnya menurut Quran:
https://www.sebelumterlambat.com/shalat-sesungguhnya-versi-panjang/
Tanya-jawab dengan YS, Utusan Akhir zaman (5 bagian):
https://www.sebelumterlambat.com/ys-qa-bagian-1/
https://www.sebelumterlambat.com/ys-qa-bagian-2/
https://www.sebelumterlambat.com/ys-qa-bagian-3/
https://www.sebelumterlambat.com/ys-qa-bagian-4/
https://www.sebelumterlambat.com/ys-qa-bagian-5/
Iblis/Setan, dan keberadaan setan berwujud manusia:
https://www.sebelumterlambat.com/setan-manusia-menyusup-diantara-kita/
“Syafaat Nabi” dan Neraka Abadi:
https://www.sebelumterlambat.com/riset-penerjemah-syafaat-nabi-di-hari-penghakiman-neraka-abadi/
Ikutilah Qur’an dan bimbingan Allah SAJA:
https://www.sebelumterlambat.com/riset-penerjemah-ikutilah-quran-dan-bimbingan-allah-saja/


P.S.: Mengenai isi pesan, silahkan tanya langsung secara baik-baik ke thetruthisfromgod.com, karena saya hanya menerjemahkan, dan tidak ambil bagian sedikitpun atas isi pesan. Translator note (t/n:) adalah merupakan tambahan/penjelas dari saya pribadi (penerjemah) dan bukan bagian dari pesan asli. boleh diabaikan saja. Kritik/saran mengenai hasil penerjemahan, silahkan ajukan email ke: peringatan@posteo.net