Peringatan Kiamat

*DISCLAIMER/PENAFIAN*
Saya TF, semua artikel yang ada disini hanya upaya penerjemahan dari https://thetruthisfromgod.com/
Kecuali jika saya nyatakan lain.
Saya bukan pemilik situs tersebut diatas, dan pemilik situs tersebut (YS) samasekali bukanlah kenalan saya. Semua konten disana diluar tanggung jawab saya. Saya hanya orang biasa yang mengambil dari sana, menggunakan mesin penerjemah, kemudian mengoreksi hasil terjemahannya lebih lanjut. Demi Allah, Saya tidak dibayar sepeserpun atau mendapat imbalan apapun dari YS.
YS juga tidak pernah memaksa atau meminta saya untuk menerjemahkan.
Semua ini atas inisiatif saya sendiri.
Mohon maaf atas sebagian terjemahan yang masih kasar, atau keliru.
Untuk itu, Saya mohon dengan sangat kepada Anda untuk tetap meninjau sumber aslinya,
Semata-mata untuk menangkap pesan yang lebih lengkap dan lebih murni.
Jika Anda bisa mengerti apa yang tertulis disana (teks Bahasa inggris/Bahasa Prancis), tolong abaikan saja Blog saya dan baca langsung dari sana.
Pesan YS dalam bentuk video2, saya terjemahkan di channel youtube saya:

Wajah sesungguhnya dari teori Flat Earth/Bumi datar

12 Sep, 2020Bukti-bukti

Diterjemahkan dari: https://thetruthisfromgod.com/2020/09/08/le-vrai-visage-de-la-theorie-de-la-terre-plate/ (Artikel sumber terjemahan terbit pada 8 September 2020)


Pertama-tama, saya ingin berterima kasih kepada Jeffrey Burton Russel, yang telah dengan baik mendokumentasikan buku berbasis penelitiannya “Inventing The Flat Earth, Columbus and Modern Historians”, yang memungkinkan saya untuk menulis artikel ini yang saya bagikan dengan Anda. Saya sajikan ringkasan dari buku itu di artikel ini, yang saya lengkapi dengan refleksi dan penelitian saya sendiri.

Pengantar

Dengan munculnya sains modern dan teknologi2 baru, diperkirakan bahwa masalah bumi datar akan terselesaikan secara definitif, tetapi dalam beberapa dekade terakhir telah muncul kembali minat terhadap teori ini, dan hari ini ada “lobi” yang sangat kuat dalam mempromosikan Flat Earth Society secara global. Semakin banyak pencari kebenaran dan penggiat teori konspirasi yang diyakinkan oleh teori ini, tetapi apakah argumen-argumen yang mendukungnya benar-benar dapat dipertimbangkan? Dari mana asalnya? Sasaran apakah dibalik itu semua dan siapa di belakangnya?

Artikel ini bertujuan untuk secara definitif menghilangkan keraguan tentang sifat teori ini dengan argumen praktis dan dapat diverifikasi oleh semua orang, dan argumen historis yang menelusuri kembali asal dan promotor sebenarnya, yang akan memungkinkan Anda untuk melihat dengan penuh dampak sejatinya. Dan Anda akan melihat bahwa teori bumi datar bukan hanya setitik detail, tetapi sebenarnya memiliki implikasi yang jauh lebih serius bagi pandangan dunia dan bimbingan spiritual kita.

I. Bukti konkrit bahwa bumi tidak datar, tetapi bulat

Mari kita mulai dengan menyajikan sejumlah argumen physical/fisik dan empiris (yang bisa dibuktikan sendiri) yang dengan jelas dan tanpa keraguan menunjukkan bahwa bumi tidak bisa datar, tetapi memang bulat. Tidak perlu pengetahuan ilmiah tingkat lanjut atau kecerdasan yang lebih tinggi untuk memahami argumen-argumen ini atau untuk dapat memverifikasinya sendiri, tetapi cukup membutuhkan pikiran yang mampu berpikir mandiri, yang tidak dipengaruhi oleh bias-bias dari sendiri maupun dari luar, dan kebal/tahan terhadap propaganda dalam segala bentuknya. Orang yang benar-benar cerdas adalah mereka yang menunjukkan judgement/penilaian yang baik, dan yang tahu bagaimana mengembangkan keyakinan mapan mereka sendiri sesuai dengan argumen yang diajukan kepada mereka.

1. Benda secara bertahap menghilang / muncul di cakrawala

Salah satu argumen paling jitu yang membuktikan bahwa bumi itu bulat adalah kenyataan bahwa kita dapat mengamati dengan mata telanjang kemunculan dan lenyapnya benda di cakrawala tergantung pada apakah mereka mendekat atau menjauh. Pengalaman umum, misalnya, adalah dengan mengamati matahari menghilang atau muncul di ufuk laut saat terbenam/terbitnya.

Jika bumi datar, maka matahari akan semakin mengecil di ufuk hingga menjadi setitik cahaya kecil, tidak pernah “tenggelam” di balik ufuk. Namun, kita dapat melihat dengan jelas melalui foto-foto ini bahwa matahari tetap dalam ukuran yang wajar ketika mulai menghilang di balik cakrawala, yang membuktikan bahwa bumi memang memiliki kelengkungan karena bentuknya yang bulat.

Pada kenyataannya, tidak hanya matahari yang memungkinkan fenomena ini diamati dengan mata telanjang, tetapi setiap benda yang cukup besar untuk diamati dengan mata telanjang di cakrawala juga dapat diamati, seperti misalnya kapal, turbin angin,… atau perkotaan seperti cakrawala Chicago yang ditunjukkan pada foto berikut.

2. Fakta melihat dengan posisi lebih tinggi

Jika kita menempatkan diri kita di tempat yang datar (tanpa relief), seperti di laut, semakin tinggi tempat kita mengamati, semakin kita dapat mengamati objek jauh yang tidak dapat kita lihat jika kita berada ketinggian permukaan air, karena objek jauh itu tersembunyi dibalik lengkungan bumi.

Sebagai contoh, jika pengamat yang sama ini berdiri di satu lokasi yang sama, namun di posisi yang lebih tinggi, dia kemudian dapat melihat bagian dari gedung pencakar langit itu yang tidak dilihatnya saat dia mengamati dari ketinggian permukaan air, dikarenakan kurva/lengkungan bumi.

pengamat di puncak menara 100 meter ini dapat melihat tiang dan layar dari kapal B. Sementara pengamat yang sama di ketinggian hanya 10 meter, dia mesti bergerak mendekat (sampai ke kapal A) untuk dapat melihat tiang layar dari kapal B.

3. Gerhana Bulan

Berdasarkan teori flat earth/bumi datar, tidak ada penjelasan untuk gerhana bulan, karena gerhana bulan terjadi ketika bumi berada diantara matahari dan bulan, dan bulan karena itu tersembunyi dalam bayangan bumi. Namun, di teori bumi datar, skenario ini tidak pernah terjadi, dan tidak ada yang dapat menjelaskan gerhana bulan.

4. Pencahayaan bumi

Pada bumi yang bulat, separuh dari seluruh permukaannya disinari matahari pada saat yang sama, yang mana dapat dibuktikan dengan mudah melalui beragam pengamat yang berlokasi di tempat-tempat berbeda yang disinari matahari.

Sementara dengan teori bumi datar, tidak mungkin bisa separuh bumi (jika kita asumsikan bumi datar, maka seharusnya setengah dari “piringan” tersebut) disinari matahari di saat yang sama, namun hanya sekitar seperempatnya saja. Yang mana tidak sesuai dengan realita yang dapat diamati.

5. Rasi/Konstelasi yang tampak berbeda, tergantung apakah Anda berada di belahan bumi utara atau selatan

Fakta melihat bintang-bintang yang berbeda tergantung pada garis lintang Anda adalah bukti lebih lanjut bahwa bumi tidak mungkin datar. Memang, jika bumi benar-benar datar, kita kemudian akan mengamati pada satu waktu, langit yang persis sama, terlepas dari apakah kita berada di belahan bumi selatan atau utara; Namun, jelas tidak seperti itu.

Konklusi

Banyak argumen-argumen lainnya yang tidak saya sertakan di artikel ini yang membuktikan bahwa bumi itu bulat dan bukan datar, seperti variasi durasi siang sepanjang tahun, pergantian musim, zona iklim bumi, ekuinoks, siang dan malam hari di kutub, fakta bahwa bintang-bintang tampak lebih awal jika posisi kita lebih ke timur… dll. Seperti yang telah Anda ketahui, tidak perlu teknologi modern mutakhir untuk melakukan semua observasi ini. Kapan saja, setiap orang dapat menguji itu semua dengan mata telanjang, yang membawa kita ke pertanyaan: “benarkah ada suatu masa dimana mayoritas manusia berpikir bahwa bumi itu datar?”
Namun, itulah yang diklaim oleh sejarah modern dengan mengatakan bahwa hingga abad pertengahan, mayoritas manusia berpikir bahwa bumi itu datar, dan hanya berkat penemuan benua amerika oleh Christopher Columbus, teori heliosentris oleh Copernicus, dan berkat perjalanan Magellan mengelilingi bumi, bahwa kepercayaan bumi bulat akhirnya diterima dunia. Namun apakah (t/n:perubahan paradigma itu) realita sejarah, atau rewriting/manipulasi sejarah modern?

II. Kebohongan sesungguhnya dari Teori Bumi Datar

Anda akan melihat bahwa pada kenyataannya, kebohongan sebenarnya dari bumi datar bukanlah tentang mempercayai bahwa bumi itu datar, melainkan percaya bahwa pernah ada masa ketika mayoritas manusia meyakini bahwa bumi itu datar. , dan saya akan menunjukkan kepada Anda bahwa era itu sebenarnya tidak pernah ada. Faktanya, mereka yang saat ini berpikir bahwa bumi itu datar sama bodoh dan biasnya dengan mereka – sebagian besar orang saat ini – yang percaya bahwa hingga Abad Pertengahan, mayoritas manusia percaya bahwa bumi itu datar. . Untuk melakukan ini, seseorang hanya perlu mempelajari tulisan-tulisan para ilmuwan dan filsuf besar yang hidup sampai Abad Pertengahan untuk menyadari bahwa konsensus umum di antara penduduk terpelajar lebih pada kepercayaan bahwa bumi itu bulat. , bahwa semua orang dan ilmuwan pada masa lampau percaya bahwa bumi itu bulat, karena sepanjang masa, termasuk hari ini, pernah dan selalu ada sebagian kecil orang yang menganut Teori Bumi Datar.

Faktanya, mayoritas ilmuwan terkenal, sepanjang Abad Pertengahan dan jauh sebelum waktu itu, memiliki kepercayaan yang sama bahwa Bumi itu bulat, seperti Aristoteles (384-322 SM), Ptolomeo (100 -168), Macrobius (370-430 ), Martianus (410),…, Roger Bacon (1220-1292), Jean Buridan (1300-1358), Nicole Oresme (1320-1382), Gilles de Rome (1247-1316),… Atau Joannes de Sacrobosco (abad ke-12 ) yang dalam “Treatise on the Sphere” mengandalkan tulisan Al-Farghani, astronom dari kekhalifahan Abassid di abad ke-9, untuk membuktikan bahwa Bumi memang bulat.

Ptolomeo
Aristotle
Martianus Capella
Treaty of the Sphere (1250)
Treaty of the Sphere (1250)
Macrobius (370-430)
Al-Farghani

Bede, menurut the Venerable (672-735), sejarawan dan ilmuwan besar dari awal Abad Pertengahan, menegaskan bahwa bumi berada di pusat kosmos bola, bumi adalah globe/bola dunia yang dapat disamakan dengan bola sempurna karena seluruh ketidakteraturan permukaannya, pegunungan dan lembahnya, terlalu insignifikan dibandingkan ukurannya yang sangat besar. Bede menetapkan bahwa bumi itu “bulat” bukan dalam arti “melingkar”, tetapi dalam arti bola. Perumpamaan yang dapat kita jumpai juga dalam Alquran, salah satu ayatnya mengatakan bahwa siang dan malam bergantian di bumi dalam bentuk bola. Pada abad ke-9, filsuf terbesar Abad Pertengahan, John Scottus Eriugena, juga teguh pada subjek ini.

He created the heavens and the earth in truth. He rolls up like a balloon / يكور night over day, and day over night , and He has made the sun and the moon subservient to each running for a fixed term. He is the Mighty One, the Great Forgiver! S39: V5

Kata  “يكور ” adalah dari akar kata yang sama dengan kata “ كرة ” yang berarti “ balon”, yang menunjukkan bahwa bumi memang benar berbentuk sphere/bola, yang menjelaskan mengapa siang dan malam berbulir seperti mengitari sebuah balon.
dalam terjemahan bahasa inggris dari buku Image du Monde/Miror of the World , William Caxton (1422-1491) menjelaskan:

“Bumi ini bulat seperti balon, langit mengelilingi bumi di semua sisinya seperti kulit/cangkang telur”

Mirror of the world

Kita temukan ayat lain dari Quran yang mengambil komparasi yang sama

And as for the earth, after that,  He gave it the structure of an egg  S79: V30

Memang, kita dapat melihat bahwa komparasi ini memang cocok dengan sempurna, mengingat bahwa telur merepresentasikan secara persis struktur bumi: kuning telur untuk inti bumi, lalu putihnya untuk lapisan-lapisan permukaan bumi, dan kulit/cangkangnya adalah atmosfer pelindung yang mengelilingi bumi.
Melalui ayat pertama yang saya kutip, Tuhan menjelaskan pada kita bentuk bumi: sphere/bola, dan melalui ayat yang kedua ini, Tuhan menjelaskan strukturnya, yaitu dalam bentuk lapisan konsentris yang menyelimuti lapisan yang lebih kecil.
Lantas dari manakah kepercayaan modern palsu itu datang, yang mengatakan bahwa hingga Abad Pertengahan, sains dan mayoritas penduduk bumi berpikir bahwa bumi itu datar, dan siapakah ilmuwan-ilmuwan Abad pertengahan pendukung teori ini? benarkah mereka perwakilan eminent/yang terpandang di masa itu? Benarkah mereka mengatakan itu, ataukah kita telah membelokkan tulisan-tulisan mereka, membuatnya mengatakan seperti itu? Studi atas tulisan-tulisan mereka cenderung mengkonfirmasi opsi terakhir ini.
Sebagai contoh, salah satu dari ensiklopedis ternama yang jadi rujukan tentang awal Abad pertengahan, Isidore of Seville (~560-636) seringkali dikutip sebagai penyokong bumi datar. Memang benar bahwa dalam Etymologiae-nya, ensiklopedia 9kg yang ditulisnya menjelang akhir hidupnya, mengandung beberapa kalimat yang membingungkan. Namun dalam Treatise on Nature , dia memberi estimasi dari circumference/keliling bumi, yang menunjukkan bahwa kepercayaan yang dia anut adalah bahwa bumi itu bulat.

Isidore of Seville

Contoh lain, Virgil of Salzburg, uskup irlandia yang tinggal di Austria pada abad ke-8 ditegur oleh gereja karena kepercayaan Antipodes-nya. Meski begitu, sejarawan dan penulis modern merancukan tentang antipodes dengan bulatnya bumi, karena itu menyimpulkan bahwa dia dikecam karena mengklaim bahwa bumi itu bulat, yang mengarah pada kesimpulan yang salah bahwa kepercayaan gereja-gereja pada saat itu adalah bahwa bumi itu datar. Namun, faktanya tidaklah seperti itu, karena di baik di zaman kuno dan di abad pertengahan, definisi dari kata “antipodes” berkaitan dengan tanah yang berlokasi di sisi berseberangan dari globe, atau dari penduduk dari suatu lokasi di bumi.
Memang benar, doktrin kristen di abad pertengahan dan sebelum-sebelumnya, berbasis pada fakta bahwa semua manusia adalah keturunan Adam dan Hawa, dengan begitu berasumsi bahwa tidak mungkin ada penghuni di sisi seberang dari globe, karena lautan terlalu besar untuk diarungi, atau karena fakta bahwa area equator/khatulistiwa terlalu panas untuk diarungi. Jadi, bagi mereka, jika ada manusia di sisi seberang dari globe, orang-orang ini bukanlah keturunan Adam dan Hawa, yang mana bertentangan dengan doktrin katolik mereka. Inilah mengapa Virgil of Salzburg dikecam dan bukan karena gereja-gereja menganggap bahwa bumi itu datar, karena pada kenyataannya, mereka tidak pernah berkepercayaan seperti itu (bumi itu datar) .
Realitanya, Kristen dan Agama-agama secara umum tidak pernah dipertentangkan dengan sains, namun sebaliknya, agama selalu memihak sains dan memandang itu dengan terbuka. Murid-murid abad pertengahan belajar geografi sebagai bidang studi yang berkaitan dengan astronomi dan geometri, dua bidang studi yang merupakan bagian dari standar abad pertengahan dari “Seven Liberal Arts” Pandangan umum saat itu dan sebelumnya tidaklah membenturkan sains dan agama seperti yang kita kira selama ini, (pertentangan itu) hanyalah proyeksi dari sejarawan dan ilmuwan di masa kita. Sebaliknya, visi umum saat itu adalah merekonsiliasikan keduanya: Agama berurusan dengan moralitas dan menawarkan pandangan spiritual dan metaforis atas dunia fisik, dan sains menawarkan pandangan analitis dan empiris atas dunia fisik, keduanya membuat aksesibel untuk refleksi manusia. Memang sains absolut adalah domain eksklusif dari Tuhan. Karena hanya Tuhanlah yang mengetahui semua rahasia dari ciptaanNya. Sedangkan ilmu sains manusia, selalu dan akan selalu sebuah pendekatan semata dan rawan kesalahan, – karena ketidaksempurnaan yang merupakan sifat manusia, – meskipun selalu bertendensi mendekati kebenaran.
Orang-orang gereja masa itu bukanlah musuh sains sebagaimana digambarkan kepada kita sekarang, sama seperti agamawan tercerahkan hari ini, bukanlah musuh sains dan teknologi. Orang-orang masa itu berpandangan bahwa bentuk kosmos dan bumi irrelevan dengan menjadi seorang kristen, yang mana lebih mengenai moral dan spiritualitas, daripada filosofi. Sebagai contoh, Jean Damascene (675-749) menganggap bahwa “geografi adalah kesia-siaan yang tidak diperlukan, tapi jika filsup dan ilmuwan dapat menunjukkan bahwa bumi itu bulat, biarlah”. Sesungguhnya, orang-orang beriman sejati akan mengatakan pada dirinya sendiri” siapakah saya mengklaim memahami penciptaan alam semesta dan semua isinya?” jadi dia menyerahkannya pada Tuhan dan berfokus pada apa yang dalam jangkauannya: apa yang menyangkut moralitas dan apa yang dapat diakses untuk eksperimen.

Jean Damascene

Damascene adalah seorang pendukung ajaran teologi besar Ortodoks Timur, Basil dari Kaisarea, juga disebut Basil Agung, yang menjelaskan bahwa massa kosmos menekan pusat bumi dari semua sisi, dan karena itu sampai pada kesimpulan bahwa bumi mungkin berbentuk bulat.
Untuk memahami filosofi orang-orang beriman di semua masa, kita hanya perlu melihat apa yang Basil katakan pada jemaatnya: “The bible/alkitab nampaknya lebih mengarah kepada bumi datar, tapi kalian cukup berdoa pada Tuhan dan berterimakasih kepadaNya. Atas semua ciptaanNya, bagaimanapun bentuk bumi”. Realitanya, Alkitab tidak pernah adalah buku/kitab tentang sains, tapi adalah buku alegoris ketika itu menyangkut sains.
Hanya mereka dengan ego berlebih dan yang tidak dibimbing Tuhan yang diri mereka hampa hingga berharap suatu saat mengetahui semua rahasia penciptaan, sebagaimana manusia-manusia tersesat di hari ini yang mengklaim dapat mengungkap penjelasan tentang asal usul kehidupan dan materi, sedangkan kita bahkan tidak dapat menggali lebih dari 3 kilometer ke bawa permukaan bumi, karena tidak tahan akan panasnya.
Meskipun konsensus umum diantara populasi terpelajar di abad pertengahan adalah bahwa bumi itu bulat, sama seperti hari ini, masih ada orang-orang yang percaya bahwa bumi itu datar, dan memang benar mereka mempercayai itu. Tak heran karena faktanya kategori orang-orang ini membaca teks/kitab suci hanya secara literal dan tidak metaforis. Sebagai contoh, Homilies of the Creation of the World of Sévérien, Uskup Gabala (380), dia mengatakan bahwa Tuhan tidak menciptakan langit yang “melingkupi bumi” sebagaimana filsuf yunani katakan, tapi langit berbentuk seperti tenda, dan matahari tidak bersembunyi di cakrawala, tapi bergerak menjauh ke ujung utara. Keyakinan ini berakar pada gagasan bahwa bentuk alam semesta sama dengan bentuk Tabernakel Musa, tenda tempat Tabut Perjanjian.
Kesalahan lain yang membuat sejarawan modern percaya bahwa hingga Abad Pertengahan, kepercayaan yang mapan adalah bahwa bumi itu datar, berasal dari banyak peta dunia yang berasal dari masa itu yang menggambarkan bumi sebagai datar. Namun, peta dunia ini sama sekali tidak mengungkapkan (asumsi) keyakinan populer bahwa bumi itu datar, tetapi peta dunia, seperti yang ada saat ini, digunakan untuk mewakili dunia yang dikenal dalam 2 dimensi. Bukti bahwa peta-peta ini tidak memiliki signifikansi ilmiah tetapi murni simbolis, adalah kenyataan bahwa dimensi wilayah sengaja dilebih-lebihkan untuk mewakili supremasi raja ini atau itu.
Bukti lain bahwa peta-peta ini murni simbolis, dan kepercayaan yang didirikan pada Abad Pertengahan adalah bahwa bumi itu bulat, adalah fakta bahwa banyak raja Abad Pertengahan dan sebelum waktu itu digambarkan dengan bola dunia di telapak tangan mereka. untuk melambangkan kekuasaan dan otoritas mereka atas dunia. Berikut adalah contoh potret penobatan Richard II (1367-1400) di Westminster Abbey:

dalam representasi lain Yesus Kristus yang berusia hingga mencapai abad pertengahan ini dari Book of Hours , kita lihat Yesus membawa globe yang merepresntasikan bumi di tangannya, untuk menggambarkan otoritas dan pengaruhnya atas seluruh dunia.

dalam representasi sekitar tahun 1375, kita dapat melihat raja mali bernama Abu Bakar II (~ 1320) membawa globe, menyimbolkan bumi ini di tangannya, lebih dari 200 tahun sebelum penjelajahan Christopher Columbus, dan yang disebut-sebut transisi kepercayaan dari bumi datar menuju kepercayaan bahwa bumi itu bulat.

2 figur abad pertengahan yang sejarawan modern sandarkan untuk mendukung teori palsunya bahwa hingga abad pertengahan, orang-orang menganggap bumi itu datar adalah Lactantius (245-325) orang pagan afrika yang masuk kristen, dan Cosmas Indicopleustes, merchant/pedagang yunani di abad ke-6

Peta Dunia Cosmas Indicopleustes
Lactantius

Pandangan Lactantius adalah karena wahyu seharusnya mendahului/lebih utama dari setiap sistem pemikiran manusia, karena itu dia mengadopsi pendekatan literal murni atas teks-teks suci, tanpa mempertimbangkan dimensi simbolisnya, tidak seperti Saint Augustine ( 354-430) atau John Chrysostom (344-407) yang dengan benar membedakan antara fakta saintifik dan fakta relijius, yang pada kenyataannya tidak perlu direkonsiliasi. Namun catatan sejarah dengan jelas menunjukkan bahwa Lactantius samasekali tidak mewakili kepercayaan mapan di zamannya, namun sebaliknya, tulisan-tulisannya dikecam oleh gereja dan karyanya divonis sebagai penistaan setelah kematiannya, bukti bahwa gereja tidak mengendorse pandangannya dalam bentuk apapun, termasuk kepercayaannya bahwa bumi itu datar. Terlebih berlawanan dengan apa yang sejarawan dan ensiklopedia modern katakan hari ini, karya-karya Lactantius samasekali tidak memfokuskan pembelaan bumi datar, namun interpretasi literalnya atas alkitab membuatnya mengatakan bumi itu datar dari sekian banyak misinterpretasinya. dan subjek ini sebenarnya hanyalah satu titik kecil dari semua tulisan-tulisannya.
Realitanya, tidak ada kontroversi di abad pertengahan yang mempertentangkan penganut bumi datar dengan mereka yang mengatakan bumi bulat. Jadi mengatakan bahwa Lactantius adalah tokoh ternama teori bumi datar dan mengatakan bahwa pemikirannya dianut oleh kebanyakan orang di abad pertengahan adalah murni dibuat-buat oleh sejarawan modern, terbutakan oleh bias humanisme mereka dan oposisi keras mereka terhadap agama-agama, dan perasaan superioritas atas orang-orang di masa lampau.
Sedangkan untuk Cosmas Indicopleustès, meskipun dia memang percaya bahwa bumi itu datar dan bahwa bentuk alam semesta seperti tabernakel, pengaruhnya pada masyarakat abad pertengahan adalah hampir nihil, karena semua tulisannya dalam bahasa yunani dan di abad pertengahan, karya-karya yang dipelajari adalah dalam bahasa latin. Bahkan faktanya, Cosmas Indicopleustès sepenuhnya diabaikan hingga abad ke-9, ketika Patriarch Photius dari Konstantitopel menyatakan menolak pandangannya. Memang kita tidak menemukan satupun komentator di abad pertengahan mengutip karca Cosmas, yang menunjukkan bahwa dia sepenuhnya “marginal” di abad pertengahan. Karya Cosmas Indicopleustès tidak diterjemahkan ke bahasa latin hingga 1706, bukti lanjutan bahwa dia tidak berpengaruh sedikitpun pada pemikiran abad pertengahan. Jadi, sama seperti Lactantius, menjadikan Cosmas Indicopleustès representasi utama pemikiran abad pertengahan adalah kebohongan yang tidak tahu malu, yang mengilustrasikan kejahilan sejarawan modern dan bias-bias mereka yang beragam.

III. Tujuan tersembunyi dari kebohongan bumi datar

Lactantius dan Cosmas Indicopleustès bukanlah “orang jahat” abad pertengahan ternama yang menentang sains seperti yang sejarawan modern gambarkan untuk kita, namun cosmas telah dengan sengaja dijadikan karikatur, berperan sebagai simbol masa mereka, untuk digunakan sebagai senjata melawan Anti-Darwinist. Memang, berabad-abad setelah Abad pertengahan , tiak ada kontroversi tentang bentuk bumi, dan humanis, dan tukang propaganda filosofi pencerah, tidak sampai sejauh itu hingga menuduh gereja mendoktrinkan bahwa bumi itu datar, karena memang tidak seperti itu. Namun sejak awal 1870an, humanis mulai benar-benar mempertentangkan agama dan sains, khususnya Hume, yang menanamkan ide bahwa sains dan agama itu bertabrakan. Senada itu juga, Auguste Comte (1798-1857) mengajukan argumen bahwa manusia harus berjuang menegakkan kejayaan sains, yang dipersembahkan sebagai baik, dan siapapun yang menentang gerakan ini hari ini dianggap sebagai terbelakang, langsung tak langsung membuat agama menjadi “kejahatan” yang mencegah manusia dari perkembangannya.

Auguste Comte
Hume

Realitanya, adalah sebaliknya: sepanjang masa agama selalu mendukung sains dan melayani sebagai pelindungnya, teolog di masa lampau menganggap sains dan agama 2 visi berbeda atas dunia, dengan akar berbeda, dan mereka tidak boleh dirancukan. Sebagai contoh, kita lihat ilustrasi ini dengan kemunculan Islam dan pewahyuan Quran, yang merevolusi penuh masyarakat pra-islam Arab, mendorongnya menjadi yang terdepan dalam bidang pengetahuan sains, dan ini diakui dunia. Memang, agama adalah urusan fakta yang diwahyukan/diungkapkan, dan utamanya berfokus pada moralitas dan hubungan dengan Tuhan dan interaksi dengan masyarakat, sementara sains berurusan dengan subjek yang samasekali berbeda, yaitu studi analitis atas alam, observasi, eksperimen, dan karena itu bersifat praktikal daripada dimensi filosofis dan spiritual.
Menjadikan sains sebagai agama, seperti yang dilakukan humanis, adalah kesalahan yang tak dapat diperbaiki, karena sains hanya menyangkut elemen fisik, sementara agama utamanya mengurusi moral. Seperti itu pula, menjadikan agama sains analitis tidak dapat mungkin berhasil, dan mengarah pada “obscurantism“(t/n: yang saya pahami, adalah restriksi pengetahuan, seperti konservatisme) dan langkah mundur dalam pengetahuan, karena seringkali, fakta saintifik disajikan di kitab suci dengan pendekatan metaforis.
Kita perhatikan Quran, yang berbeda dengan wahyu-wahyu sebelumnya bahwa itu menyinggung banyaki poin-poin saintifik, namun sains yang dikandungnya tidak dimaksudkan untuk studi saintifik, karena sains Tuhan adalah sempurna, sedangkan sains manusia tidak sempurna dan rawan kesalahan, sama seperti sifat manusia itu sendiri. Realitanya, Agama dan sains bergabung sempurna, agama mendikte aturan spiritual/”ruh”-nya dan menunjukkan arah untuk dijalani untuk sains manusia, sedangkan sains memungkinkan manusia mendekati kitab suci lebih jernih melalui akal mereka sendiri, studi dan observasi. Sains sejati, tidak seperti yang diajukan humanis yang hanyalah senjata untuk mengcounter agama. Sains sejati memungkinkan manusia mengenali nikmat-nikmat dari Tuhan pada mereka, untuk mengenal Tuhan lebih baik, dan untuk meningkatkan kehidupan sehari-hari mereka dengan menerapkan apa yang Tuhan ajarkan kepada mereka melalui studi dan observasi atas ciptaan-ciptaanNya… kombinasi sempurna!
“Perang” dengan sains, dikedepankan oleh humanis sebagai senjata yang digunakan mengcounter agama dan divine revelation/wahyu ilahi, dideklarasikan oleh John W. Draper (1811-1882), yang datang dari keluarga relijius yang ayahnya adalah penceramah Methodist keliling, yang menempatkannya di sekolah Methodist sejak usia 11.

Menginjak dewasa, Draper secara gradual menjauh dari agama untuk mengadopsi sains sebagai agama baru, yang kemudian dia sebarkan pengaruhnya di New York University. Pada 1862, dia menerbitkan bukunya History of Intellectual Development in Europe dimana dia mengecam subordinasi sains terhadap agama. Meningkatnya oposisi kepausan kepada pemikiran humanis liberal mengarahkannya bergerak lebih jauh dengan mempublikasikan pada 1873, History of the Conflit between Religion and Science, menggabungkan skeptisisme era pencerahan-nya Gibbon dan positivisme Comte, dengan kepercayaan politikal liberal tentang perkembangan masyarakat. Buku satu ini sangat berpengaruh karena adalah buku tertulis pertama yang ditulis figur influental yang secara resmi menyatakan bahwa agama dan sains sedang berperang. Draper menuliskan:

“Gereja katolik dan sains samasekali tidak kompatibel: mereka tidak dapat eksis bersama; satu harus menyerah kepada yang lainnya; manusia harus membuat pilihannya. Itu tidak mungkin keduanya.”
Draper History of the Conflict, p. 363

Bukunya melayani sebagai titik awal dari keseluruhan gerakan yang akan mengikutinya, secara gradual menurunkan posisi agama, mengedepankan sains dan pemikiran liberal. Draper menawarkan penjelasan di bukunya ini tentang kapan dan dimana salah agama menurutnya, dan ini adalah kutipan pemikirannya:

“The Antagonism we thus witness between Religion and Science is the continuation of the struggle that commenced when Christianity began to attain political power. A divine revelation must necessarly be intolerant of contradiction; it must repudiate all improvement in itself, and view with disdain that arising from the progressive intellectual development of man… The history of Science is not a mere record of isolated discoveries; it is a narrative of the conflict of the two contending powers, the expansive force of the human intellect on one side, and the compression arising from traditionary faith and human interests on the other… Faith is in its nature unchangeable, stationary; Science is in its nature progressive; eventually a divergence between them, impossible to conceal, must take place. It is the duty of the educated to take a stand, for when the old mythological religion of Europe broke down under the weight of its own inconsistencies, neither the Roman emperors nor the philosophers of those times did any thing adequate for the guidance of public opinion. They left religious affairs to take their chance, and accordingly those affairs fell into the hands of ignorant and infuriated ecclesiastics, parasites, eunuchs, and slaves.”
History of the Conflict, Draper, VI-VII

Jelaslah bahwa titik awal untuk Draper adalah pemberontakannya sendiri terhadap Tuhan dan penolakan atas scriptures/kitab-kitab Tuhan, yang mengarahkannya hingga terbutakan oleh biasnya sendiri. Sebagai humanis yang baik yang mahir tentang kepercayaan liberal dan pencerahan, dia menganggap dia dapat membimbing dirinya sendiri, tanpa Tuhan, dan mengadopsi sains manusia yang tidak sempurna sebagai agama, dan bukan hukum ilahi yang diwahyukan. Namun dia tidak sepenuhnya salah atas kritik/penilaiannya tentang karakter tetap agama dibandingkan karakter progresif sains. Karena, hukum Tuhan adalah mutlak, dan Tuhan itu sempurna, maka dari itu Dia tidak pernah salah, dan karena itu hukumNya tetap sempurna dari awal hingga akhir. Harusnya bukan rahasia bagi orang-orang berpikiran cerdas bahwa hukum-hukum Tuhan sebenarnya tidak berubah seiring waktu, saat kita amati bahwa hal yang sama adalah benar dengan hukum-hukum fisika. Hukum Tuhan adalah sempurna sedari awal, mengapa mengubah sesuatu yang telah sempurna? sementara progresivitas sains, samasekali bukanlah keunggulan, karena sains tidak berhenti mengingkari dirinya sendiri sepanjang waktu, setiap waktu menyadari belakangan atas kenaifannya sendiri dan kesalahan-kesalahannya yang nyata, karena kekosongan dari mereka-mereka yang mengubahnya menjadi seperti agama. Kita dapat melihat ilustrasinya pada sekarang-sekarang ini, dalam waktu kurang dari 50 tahun, sains telah berulangkali memungkiri dirinya sendiri, sebagai contoh adalah teori einstein tentang relativitas atau tidak bisa dilampauinya kecepatan cahaya. Yang pada akhirnya terbukti salah (t/n: seperti dengan terbuktinya quantum entanglement dimana partikel dapat berinteraksi instan, tak peduli jaraknya, tanda-tanda kosmos yang menunjukkan bahwa einsten salah, dan semakin mungkinnya teori tentang traversable wormhole), ketika selama berdekade-dekade di masyarakat umum, termasuk komunitas saintis/ilmuwan, menganggap konsep-konsep einstein ini adalah “kebenaran saintifik” yang tidak terbantahkan.
Mereka, yang seperti draper, adalah mayoritas manusia hari ini, yang percaya/menganggap sains manusia itu infallible/mutlak, dan mengambil sains sebagai agamanya, masih belum selesai kecewa dan dikhianati oleh kepercayaan palsu mereka.
Sains harus tetap pada tempatnya, dan begitu juga agama. Tidak perlu untuk mempertentangkannya atau mengedepankan yang satu untuk menjatuhkan yang lain. Hanya mereka yang dibimbing Tuhan yang memahami dan menempatkan mereka pada posisi seharusnya. Sementara orang-orang hampa yang menolak berserah diri pada Tuhan dan mempercayai “keagungan” mereka sendiri, mereka ini pasti akan kalah, dan dunia ilusi mereka pasti akan rubuh seperti rubuhnya menara kartu, segera di akhir hidup mereka, saat Tuhan mengambil kembali nyawa mereka, dan mereka melihat malaikat dengan mata mereka sendiri, dan kelak saat mempertanggungjawabkan di hari penghakiman, perbuatan-perbuatan mereka di masa lalu.

Buku Draper, History of the Conflict between Religion and Science, menjadi volume terlaris dari Seri Ilmiah Internasional, dan telah dicetak di Amerika Serikat 50 kali dalam 50 tahun, 21 kali dalam 50 tahun di Inggris, dan telah diterjemahkan di seluruh dunia. Kaum progresif (Humanis yang mengadopsi pandangan pencerahan sains) mengikuti jejak Draper dan mengambil karyanya di buku sekolah, menjadikannya kebenaran mutlak:

Kebulatan bumi adalah doktrin yang dianut oleh banyak orang pada masa itu [Colombus]; tetapi teori tersebut tidak selaras dengan ide-ide religius pada masa itu, sehingga tidak bijaksana bagi seseorang untuk mempublikasikan secara terbuka keyakinannya pada gagasan tersebut.
P.V.N. Mayers “seorang jenderal untuk perguruan tinggi dan sekolah menengah” (Boston & LondON, 1891), halaman 513

Apa yang saya kutip diatas benar-benar salah, karena pada zaman Christopher Columbus, tidak ada kontroversi publik mengenai bulatnya bumi. Perjalanan Christopher Columbus tidak dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa bumi itu bulat, tetapi hanya untuk menemukan peluang bisnis baru bagi Kerajaan Spanyol. Memang, pada masa Christopher Columbus, Turki memblokir jalur darat lama untuk India dan Cina, sementara Portugis mencari jalur laut ke arah timur di sekitar Afrika, dan dalam proses membangun pos perdagangan yang menguntungkan. Ferdinand dan Isabella, raja dari Kekaisaran Spanyol, tidak punya pilihan selain menjelajahi rute perdagangan baru ke barat melintasi lautan ke Hindia untuk mencuri perhatian pesaing Portugis mereka. Berbeda dengan sosok palsu Christopher Columbus yang diciptakan jauh kemudian oleh para Humanis (dari abad ke-19), motivasi Christopher Columbus sama sekali tidak religius tetapi murni komersial, dan dia tidak pernah menjadi juara perjuangan Sains dan Teori Bumi Bulat menghadapi Eklesiastik “jahat” dan yang mereka sebut Teori Bumi Datar. Faktanya, satu-satunya pertarungan terkenal Christopher Columbus terletak pada upayanya untuk meyakinkan Isabella untuk mendanai ekspedisinya untuk menjelajahi rute perdagangan laut baru ke Hindia, karena rute darat diblokir oleh Turki. Christopher Columbus bukanlah ahli sains dan pahlawan yang jujur ​​secara intelektual seperti yang digambarkan oleh Sejarah Modern kepada kita hari ini, tetapi harus menghadapi banyak penolakan oleh komite yang dibentuk khusus untuk tujuan ini oleh Ratu Isabella, sehubungan dengan kelayakan ekspedisinya. Sebagai penutup, Christopher Columbus mengandalkan terutama pada pengetahuan ilmiah Pierre d’Ailly (1350-1420), seorang teolog dan filsuf, untuk menghitung jarak yang harus ditempuh untuk mencapai India melalui laut. Oleh karena itu, berkat nasihat ahli dari seorang teolog, pendukung bumi bulat, Christopher Columbus dapat meyakinkan Isabella tentang kemungkinan ekspedisinya.

Kita sangat jauh dari “fiksi modern” sosok Christopher Columbus, seorang “pahlawan” yang dibimbing oleh sains, memerangi Pengkhotbah, dan mendorong ekspedisinya dengan satu-satunya tujuan untuk menunjukkan bahwa bumi itu bulat, yang sudah diketahui oleh setiap orang terpelajar pada masanya. Selama 6 tahun, dari 1896 hingga April 1892, Columbus harus terus-menerus mengubah perhitungannya semakin kecil untuk meyakinkan komite ilmuwan dan religius yang secara khusus ditugaskan oleh Ratu Spanyol untuk menilai kelayakan usaha semacam itu. Untuk mengilustrasikan kepada Anda ketidakjujuran intelektual Christopher Columbus, dalam angka yang disajikan kepada panitia yang akhirnya diterima, Columbus memperkirakan jarak antara Canary dan Jepang sekitar 4450 km, sedangkan angka modern adalah 22.000 km, dengan kata lain, dia memperkirakan pelayarannya sekitar 20% dari jarak sebenarnya…. Christopher Columbus sejauh ini bukan satu-satunya tokoh yang karakternya diidealkan untuk melayani pertarungan sengit Humanis melawan Agama, tetapi banyak tokoh abad pertengahan lainnya, yang saya sebutkan di atas, dalam beberapa kasus dibuat karikatur jika mereka mendukung Agama, dan dalam kasus lain. kasus dipuji dan digambarkan sebagai pahlawan jika mereka menentang Agama.
Penjelasan ini menutup karakter sebenarnya dari Christopher Columbus dan tujuan sebenarnya dari ekspedisinya, yang murni komersial, sekarang mari kita lanjutkan studi tentang garis Humanis, propagandis Pencerahan, dalam serangan mereka terhadap Agama. Setelah paku pertama ditanam dengan kuat oleh Draper, menjajakan kebohongan Teori Bumi Datar yang secara keliru diasosiasikan dengan Gereja Katolik, pertentangan palsu antara Sains dan Agama di abad pertengahan, dan pernyataan palsu bahwa satu-satunya kebenaran adalah kebenaran ilmiah dan bukan kebenaran yang diwahyukan, Andrew Dickson White (1832-1918) mengambil pekerjaan propaganda Draper dan mendorongnya lebih jauh. Seperti Draper, White memberontak terhadap asuhannya, keluarganya adalah penganut Episkopal dari gereja tinggi yang mengirimnya ke sekolah berasrama yang dia benci, dan yang meningkatkan keengganannya pada agama. Ketika dia menjadi terkenal di bidang pendidikan, White menghadapi perlawanan agama yang kuat dalam mendirikan Cornell University (1868) sebagai universitas sekuler pertama yang tegas dan eksplisit di Amerika Serikat, dan menjadi presidennya pada usia 33. Sementara permusuhan Draper difokuskan pada Umat ​​Katolik, kemarahan White berbalik melawan Protestan. Memang, Protestan pada awalnya adalah sekutu oportunis Humanis untuk melawan Gereja Katolik Roma dan Kepausan, tetapi mereka akhirnya harus menyesali pilihan mereka, karena sekutu awal mereka, Humanis sekuler, akhirnya berbalik melawan mereka. Sementara itu, kebohongan tentang “Bumi Datar sebagai bagian dari kepercayaan umum selama Abad Pertengahan” telah tumbuh menjadi sosok yang sepenuhnya mengerdilkan realitas sejarah. Memang, White menampilkan Cosmas Indicopleustes sebagai representasi khas dari pemikiran umum pada masanya (awal Abad Pertengahan):

Selama Abad Pertengahan, “beberapa orang terkemuka di gereja mengabdikan diri untuk mendukung [Cosmas] dengan teks-teks baru dan mengembangkan jaringan baru dari penalaran teologis”.
History of The Warfare, White

Seperti yang telah kita bahas di atas, tulisan-tulisan Cosmas adalah dalam bahasa Yunani dan belum diterjemahkan ke dalam bahasa Latin hingga abad ke-18, namun bahasa yang digunakan untuk studi pada Abad Pertengahan adalah bahasa Latin, yang membuktikan bahwa pengaruh Cosmas terhadap pemikiran abad pertengahan adalah nol. White juga menggambarkan Lactantius sebagai ciri khas dari “mayoritas besar bapa Gereja awal,” sementara kita telah melihat bahwa karya Lactantius dikutuk oleh Gereja dan dinyatakan sebagai heretic/bidah. Namun, para pengikut Pencerahan tidak peduli dengan kebenaran, dan dibutakan oleh bias mereka sendiri, tidak repot-repot memverifikasi sumber yang mereka andalkan, mengambil informasi apa pun yang “nampaknya” menegaskan keyakinan mereka sebagai kata kebenaran. White menampilkan Christopher Columbus sebagai seorang navigator pemberani “berperang” melawan para teolog yang bodoh:

Perang Colombus sangat dikenal dunia; bagaimana Uskup Ceuta memperlakukannya dengan buruk di Portugal; bagaimana bermacam-macam orang bijak di Spanyol menghadapkannya dengan kutipan-kutipan yang biasa dari Mazmur, dari St. Paul, dan dari St. Augustine; bagaimana, bahkan setelah dia berjaya, dan setelah pelayarannya sangat memperkuat teori kebulatan bumi… Gereja dengan otoritas tertingginya benar-benar stuck dan bertahan dalam kesesatan… Pada tahun 1519, ilmu pengetahuan memperoleh kemenangan yang menghancurkan. Magellan melakukan pelayarannya yang terkenal… Namun, ini pun tidak mengakhiri perang. Banyak orang yang sengaja menentang doktrin itu selama dua ratus tahun lebih lama.
History of The Warfare, White, Halaman 108-109

Namun, kita telah menyaksikan bahwa Columbus sendiri terutama mengandalkan pengetahuan geografis seorang teolog, Pierre D’Ailly, untuk meyakinkan komite ahli yang ditugaskan oleh Ratu Isabelle tentang kelayakan ekspedisinya, oleh karena itu dia sama sekali tidak berperang dengan kaum agama. Kisah ini sebenarnya adalah karikatur realitas yang menipu, naskah fiktif yang ditempa sedari awal yang menelusuri asal mula kepercayaan pada bumi bulat melalui episode-episode fiksi yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan fakta: Penjelajahan oleh Columbus pada 1492 , Heliosentrisme Copernicus pada tahun 1513, dan perjalanan Magellan keliling dunia pada tahun 1519… Namun, semua episode ini sama sekali tidak bertujuan untuk membuktikan bahwa bumi itu bulat, yang sudah diketahui oleh umum dan orang terpelajar selama abad pertengahan, tetapi hanya disajikan untuk memperluas pengetahuan tentang dunia yang diketahui, dan sama sekali bukan bagian dari konflik antara Sains dan Agama. Adapun Heliosentrisme Copernicus, fakta bahwa planet-planet berputar dalam orbit mengelilingi Matahari daripada mengelilingi Bumi tidak ada hubungannya dengan bentuk bumi.
Akhirnya, tokoh pamungkas yang telah dengan pasti “membawa pulang” kebohongan Bumi Datar ini, yang telah didirikan dengan terampil dan sabar selama berabad-abad, dan yang sekarang menjadi bagian dari pengajaran akademis dan bukan lagi “kebenaran” yang terbuka untuk didiskusikan: Washington Irving (1783-1859), dengan novelnya, A History of the Life and Voyages of Christopher Columbus (1828), yang sama sekali bukan buku sejarah seperti yang disajikan, melainkan sebuah buku fiksi yang menampilkan Columbus sebagai pahlawan yang dihadapkan dengan para pendeta bodoh dari “Council of Salamanca”.

Washington Irving

Sebuah “babak baru” telah diraih, Irving bahkan tidak lagi peduli dengan realitas sejarah, tetapi telah puas menemukan sumber-sumbernya di sejumlah sumber terbitan yang ia temukan di perpustakaan Madrid milik Obadiah Rich, seorang teman yang merupakan kolektor buku. Jauh dari karya sejarawan sejati, Irving puas untuk mereproduksi kutipan dari berbagai buku yang mengonfirmasi pandangannya sendiri, bahkan tanpa repot-repot memeriksa sumber-sumbernya, menambahkan kepada mereka penemuannya sendiri, karena ia telah dikenal karena bakatnya sebagai seorang novelis. Mengenai kisahnya tentang Columbus, “magnum opus” dari karya2nya, Irving dengan mudah mengakui bahwa sebagian besar mengandalkan koleksi Navarrete (1765 – 1844) yang berkaitan dengan pelayaran Columbus, bahkan tanpa memverifikasi sumbernya:

[…] Di mana pun saya menemukan dokumen yang diterbitkan olehnya, saya yakin akan kebenarannya, dan tidak menyusahkan diri untuk memeriksa aslinya.
Life And Voyages, Irving

Navarrete

Secara literal “menjarah” karya Navarrete, Irving mempublikasikan pada tahun 1824, buku 500 halaman, Tales of a Traveler (hanya dalam 21 bulan!), yang memenangkan pujian dan penjualan yang banyak.

“Irving, jelas tidak punya waktu atau pengetahuan atau pelatihan untuk melakukan penelitian semacam itu … Klaim terakhirnya pasti didasarkan pada pengubahan kisah Colombus menjadi sebuah karya seni” di mana Christopher berperan sebagai pahlawan dalam novel romantis, atau Odiseus modern yang epik atau Faust yang membuat taruhan besar melawan takdir, atau Adam Amerika yang mistis, Manusia Pertama di Dunia Baru.
Washington Irving: Moderation Displayed, Wagenknecht, halaman 184

Jeffrey Rubin-Dorky mengamati tentang buku Irving tentang Columbus:

Buku itu sama sekali bukan ‘kehidupan’, juga tidak memenuhi syarat sebagai ‘sejarah’. Meskipun dia harusnya bisa melakukannya seandainya dia menginginkannya, karena dia memiliki akses ke manuskrip yang telah dikumpulkan Navarrete selama beberapa dekade, Irving tidak menambahkan sesuatu yang baru pada “standarnya”, pemikiran-pemikiran yang seringkali bertentangan, catatan tentang kehidupan dan pelayaran yang mendahului pemiliknya … kualifikasi Buku irving tentang Colombus, lebih tepatnya, adalah karya imajinasi … dia menghiasi, mempertinggi, membentuk, dan mewarnai peristiwa dan insiden sumber aslinya … Kadang-kadang, Irving lebih terlihat sebagai penulis fiksi daripada sejarawan.
Rubin-Dorsky, Adrift in the old world, halaman 221-222

Semua penulis yang berurusan dengan kebohongan Bumi Datar ini didasarkan pada karya Irving, termasuk Jean-Antoine Letronne (1787-1848), yang dianggap sebagai orang suci sekuler dan yang pengaruhnya di antara para sarjana bahkan lebih dalam daripada Washington Irving. Memang, Letronne akhirnya menetapkan kebohongan bumi datar dan semua implikasinya bagi Agama, sebagai hal sepele akademis. Sejarah Modern pada akhirnya akan mempertahankan Irving dan Letronne sebagai pendiri kebohongan bumi datar, dan pekerjaan mereka hari ini disajikan sebagai kebenaran sejarah.

Jean-Antoine Letronne

Konklusi

Kronologi sebenarnya dari fakta tentang pengetahuan geografis adalah dari abad ke-4 SM. (dan tentu saja jauh sebelumnya, tetapi tidak ada tulisan tentang subjek ini sebelum waktu ini … atau sangat sedikit), hampir semua filsuf Yunani mempertahankan pendapat tentang bulatnya bumi, orang Romawi kemudian mengadopsi pandangan bentuk bumi dari Yunani, dan para Bapa Kristen dan penulis abad pertengahan awal, dengan sedikit pengecualian, setuju akan itu. Namun, memang benar bahwa selama Abad Pertengahan, teolog Kristen menunjukkan sedikit kecenderungan untuk membantah bulatnya bumi. Memang, pada awal Abad Pertengahan, minat pada ilmu alam terbatas, meskipun geografi dan astronomi merupakan bagian dari kurikulum “liberal arts” yang mendominasi pendidikan awal abad pertengahan dan tetap menjadi inti kurikulum universitas sepanjang Abad Pertengahan. Bentuk bumi tidak banyak dibahas, karena minat-minat saat itu cenderung terfokus pada masalah teologis. Di kalangan yang tidak terpelajar, berbagai gagasan samar tampaknya sudah biasa, tetapi di antara yang terpelajar selalu ada konsensus bahwa bumi itu bulat. Dengan perkembangan perdagangan di abad ke-15, pola pikir bergeser untuk merangkul pengetahuan praktis geografi demi menjelajahi pasar-pasar baru serta untuk tujuan lama untuk membuat lebih banyak orang yang masuk Kristen. Pendapat kaum terpelajar abad pertengahan hampir sepakat bahwa bumi itu bulat, dan dengan cara apapun, pelayaran Columbus tidaklah bertujuan mendemonstrasikan fakta tersebut. Ide bahwa “Columbus menunjukkan bahwa bumi itu bulat” adalah murni penemuan modern. Tapi, itu membuka jalan bagi kaum Humanis, dan Protestan pada tahap awal, untuk menciptakan kebohongan bumi datar. Kontroversi bumi datar tetap bukanlah “suatu topik” sampai abad ke-19, dan Gereja hanya bereaksi sedikit terhadap subjek ini, karena tidak ada kontroversi sama sekali mengenai bentuk bumi. Hanya ketika kebohongan bumi datar sedang mapan pada awal abad ke-20, upaya bersama pertama dilakukan untuk membantahnya. Pada awalnya, upaya tersebut sebagian besar datang dari penulis Katolik yang ingin melestarikan agama mereka dari tuduhan telah membela bumi datar, atau dari para ahli abad pertengahan yang memiliki kepentingan untuk menyelamatkan periode yang mereka pilih dari label merendahkan “Dark Ages/Abad Kegelapan”. Apa yang bisa diajarkan oleh Kesalahan Bumi Datar kepada kita tentang pengetahuan manusia dan pandangan dunia kita sendiri?
Pertama, sejarawan, ilmuwan, cendekiawan, dan penulis lain sering secara sadar atau tidak sengaja mengulang dan menyebarkan kesalahan fakta atau kesalahan iterpretasi. Tidak ada orang yang dapat secara otomatis dipercaya atau dipercaya tanpa memeriksa metodologi dan sumber. Kedua, sarjana dan ilmuwan sering kali lebih diarahkan oleh bias mereka sendiri daripada oleh bukti. Ketiga, sejarawan, yang menurut sifat keahlian mereka seharusnya memahami bahwa setiap pandangan dunia adalah konstruksi manusia dan bahwa paradigma pengetahuan itu selalu dan pasti berubah, termasuk pandangan dunia religius, realis ilmiah, dan pandangan dunia positivis, dan terkadang mereka lupa bahwa tidak ada sistem istimewa yang digunakan untuk menilai kebenaran sistem lain. Oleh karena itu, artikel ini tidak menuduh penulis yang menyebarkan Bumi Datar bahwa mereka telah dengan sengaja berbohong untuk mencapai tujuan mereka, namun tidak heran jika banyak dari mereka telah membutakan diri mereka sendiri karena penolakan keras mereka terhadap Wahyu Ilahi.

Para pendukung doktrin pencerahan telah secara literal menulis Sejarah Modern kita, yang menggambarkan periode sebelum Abad Pertengahan sebagai Zaman Keemasan, berbeda dengan Abad Pertengahan yang mereka beri label sebagai “Dark Age”, abad perantara, yang menjadi asal istilah “Abad Pertengahan” , Antara 2 zaman keemasan: masa filsuf Yunani dan dewa-dewa Pagan dan zaman Renaisans dan Pencerahan, suatu periode yang berlanjut hingga hari ini. Yang disebut Zaman Keemasan ini telah mempromosikan dewa-dewa pagan dan menempatkan Manusia di pusat segalanya, mengubah Manusia menjadi Tuhannya sendiri, bertentangan dengan kepercayaan pada Tuhan yang Unik dan Mahakuasa di pusat segalanya. Agama saat ini telah tenggelam di tengah banyak kepercayaan pagan yang didirikan sebagai model bagi semua Umat Manusia, seperti yang dapat kita lihat dalam dokumenter 3 musim Netflix, apa yang disebut “Religion”, The Story of God. Pembawa acara dan sutradara film dokumenter Netflix ini, Morgan Freeman, tidak merahasiakan simpatinya terhadap kepercayaan pagan Timur di Tibet, dan penghinaan serta ketidakpercayaannya pada Agama-agama Kitab.

Yang disebut-sebut Zaman Keemasan dan para filsuf Yunani dan Romawi ini telah diidealkan oleh kaum Humanis, karena realitanya justru sebaliknya.
Sesungguhnya, Wahyu Ilahi berfungsi untuk mendidik manusia dan untuk menjauhkan mereka dari belenggu manusia lain untuk membebaskan mereka; untuk membawa mereka bersama-sama di bawah otoritas Satu Tuhan Yang Sejati; daripada di bawah jajaran dewa-dewa palsu, yang sebenarnya adalah setan-setan; dan untuk membimbing mereka menuju keadilan, kebenaran, dan pengetahuan sejati, daripada tradisi yang selalu berubah, praktik barbar, dan ajaran palsu.
Masalah sebenarnya dengan para Humanis atau Luciferian ini adalah bahwa mereka tidak menerima otoritas Tuhan atau siapa pun, mereka tidak lebih dari sekedar pemberontak, dan mereka tidak menginginkan kebenaran, tetapi hanya untuk memaksakan “kebenaran bias palsu mereka sendiri” ke seluruh dunia, bahkan jika itu berarti berbohong dan memanipulasi seluruh umat manusia selama berabad-abad … dan melalui pengulangan dan operasi propaganda massal, mereka telah berhasil meyakinkan kebanyakan orang, setidaknya mereka yang tidak berada di bawah bimbingan Tuhan.
Melalui Kebohongan Bumi Datar, penentangan yang ditemukan dari Agama terhadap Heliosentrisme (bukan hanya para Bapak Gereja yang tidak percaya pada Heliosentrisme sebelum penemuan Copernicus, tetapi seluruh masyarakat abad pertengahan, termasuk komunitas ilmiah sekuler … dan omong-omong Copernicus adalah seorang Kristen), dan kebohongan Evolusi atau Darwinisme. Luciferian yang masih memimpin dunia saat ini, berhasil menempa dari awal agama alternatif yang mereka sebut Sains, yang terus runtuh dengan sendirinya, tetapi terus diberi makan dengan kebohongan baru agar tetap bertahan. Agama Tuhan ada dalam image Tuhan: sempurna dan tidak berubah, sedangkan agama Luciferians, Ilmu manusia, ada dalam gambaran mereka: tidak sempurna dan menyangkal dirinya sendiri secara permanen.

Faktanya, para Humanis Luciferian ini melakukan pekerjaan propaganda yang persis sama terhadap Sains seperti yang mereka lakukan dengan kisah Bumi Datar: mereka menciptakan catatan fiktif dari sejarah sains, memberikan penghargaan atas berbagai penemuan ilmiah hanya pada kecerdasan manusia, dan menggunakan kebohongan ini yang mencakup penggambaran Agama sebagai musuh kecerdasan dan perkembangan manusia. Padahal kebenarannya adalah bahwa SEMUA penemuan ilmiah sejak awal mula umat manusia bukan karena kecerdasan manusia, tetapi hanya karena kebaikan dan Rahmat Tuhan atas kita, yang membawakan kita penemuan ini secara harfiah: disajikan diatas piring.
Memang, Manusia tidak benar-benar invent/menemukan apa pun, tetapi harus puas dengan menyalin Ciptaan Tuhan, dan Tuhanlah yang memanifestasikan fenomena alam yang memadai pada saat yang tepat dan kepada orang yang tepat, yang memegang pengetahuan yang diperlukan untuk dapat menginterpretasikan fenomena ini dan mengolahnya menjadi ilmu yang berguna bagi seluruh umat manusia. Tuhan selalu berjalan dengan cara ini, baik dalam bidang agama atau ilmu sains: Tuhan memberi penghargaan kepada mereka yang telah melakukan upaya penelitian yang diperlukan di bidang tertentu, dan yang telah jujur ​​secara intelektual, dengan menyediakan mereka batu bata yang mereka kurang, sehingga penelitian mereka bermanfaat dan dapat mengarahkan mereka pada penemuan-penemuan yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia.

Semua ilmuwan besar, religius atau sekuler, setuju dengan mengatakan bahwa penemuan mereka terutama karena “by chance/kesempatan/kebetulan”, “kebetulan” yang sebenarnya telah dimanifestasikan oleh Tuhan Sendiri. Memang, “kebetulan” tidak ada, tetapi semuanya telah ditentukan oleh Tuhan jauh sebelum hal itu terjadi. Ada sains nyata yang diajarkan Tuhan kepada kita dan yang berguna bagi manusia, yang secara konkret diterjemahkan ke dalam semua teknologi dan pengetahuan kompleks yang kita nikmati hari ini, dan yang membuat hidup kita jauh lebih mudah. Sains sejati ini adalah sekutu Agama dan bukti konkret tentang keberadaan dan kebaikan Tuhan. Sebaliknya, ada ilmu palsu yang dibuat dari kebohongan kaum Humanis Luciferian, yang tidak lebih dari ilmu palsu Iblis tuan mereka, yang hanya menyesatkan mereka yang mempercayainya dan menjauhkan mereka dari Tuhan dan kebenaran, tanpa membawa keuntungan sedikit pun bagi mereka. Ilmu palsu ini (Evolusi, asal mula kehidupan, masa depan alam semesta dan umat manusia, ilmu yang bermaksud untuk menjelaskan jiwa manusia …) bukanlah ilmu yang nyata, tetapi kebohongan belaka yang bertujuan untuk mengubah sains menjadi agama baru yang sepenuhnya bertentangan dengan Agama Tuhan, yang berpura-pura menjelaskan jiwa manusia, asal mula kehidupan dan masa depannya,… sedangkan Agama dengan jelas telah menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Kesalahan sebenarnya dari Bumi Datar sebenarnya bukanlah percaya pada bumi datar, melainkan percaya bahwa manusia secara mayoritas pernah percaya bahwa bumi itu datar, yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Luciferian, atau Humanis, atau pendukung doktrin Pencerahan, atau Freemason, atau pemberontak atau pengkhianat kepada Tuhan, nama-nama ini sebenarnya menunjuk pada kategori orang yang sama, mereka telah menggunakan kebohongan bumi datar dan evolusi untuk menghilangkan Agama, dan mereka berhasil melakukannya itu cukup baik, setidaknya dengan orang-orang yang berpikiran sederhana yang menolak untuk mengikuti Petunjuk Tuhan.
Saat ini, musuh-musuh besar Tuhan ini sekarang menggunakan strategi yang sama, menggunakan kekuatan politik, akademis, budaya, media, teknologi, dan keuangan mereka, untuk sekali lagi menghidupkan dan mempromosikan Kebohongan Bumi Datar dalam komunitas pencari kebenaran, sehingga mereka tidak pernah mencapai kebenaran. Dengan menciptakan hoax flat earth, tujuan mereka bukanlah untuk meyakinkan seluruh umat manusia akan kebohongan ini, tetapi untuk menempatkan semua teori konspirasi pada tingkat yang sama dengan hoax ini, untuk mendiskualifikasi mereka semua sekaligus.

Faktanya, mereka yang membiarkan diri mereka dimanipulasi untuk percaya bahwa Agama pernah mendukung Teori Bumi Datar, adalah orang yang sama yang membiarkan diri mereka dimanipulasi oleh propaganda arus utama yang disebarkan oleh elit dunia/luciferians. Saya mengumumkan kepada orang-orang ini: Semua keyakinan salah Anda suatu hari akan runtuh seperti menara kartu, dan pilihan serta prasangka buruk Anda pasti akan membawa Anda ke kejatuhan Anda sendiri. Adapun mereka yang tetap setia kepada Tuhan dan Wahyu-Nya, dan yang berada di bawah bimbingan langsung Tuhan, mereka akan diselamatkan oleh Tuhan dan pada akhirnya akan menang, dan kepercayaan mereka yang teguh hanya pada Wahyu Tuhan tidak akan pernah mengecewakan mereka.

Anda memiliki ilustrasi tentang propaganda kuat dari elit dunia luciferians melalui “dokumenter” Netflix tentang orang-orang penganut kepercayaan Bumi Datar. Kita dapat melihat dalam dokumenter ini, dengan gaya hidup mereka, bahwa para pemimpin gerakan ini didanai oleh elit luciferian dengan satu atau lain cara (ini bisa melalui Youtube atau melalui sumbangan okultisme, atau cara lain), dan bahwa mereka telah dipilih secara khusus karena kebodohan mereka yang mencolok.
Film dokumenter Netflix ini sengaja berusaha untuk mengejek teori ini dan pendukungnya, dan mereka memang konyol, tetapi tujuan mereka yang sebenarnya, seperti yang telah saya jelaskan kepada Anda, adalah untuk memasukkan semua teori konspirasi, termasuk teori Konspirasi Dunia Luciferian, (t/n:keberadaan secret society yang menguasai dunia, keberadaan reptilian/setan berwujud manusia, manipulasi peristiwa-peristiwa global, fakta bahwa kita tidak pernah mencapai bulan, dll) ke dalam pot yang sama. Sehingga mereka dapat mendiskredit dan membatalkan semuanya sekaligus. Namun, Konspirasi Dunia Luciferian ini benar-benar nyata dan terungkap dengan jelas dalam Al-Qur’an. Banyak pencari kebenaran jatuh ke dalam perangkap ini karena pendekatan mereka bias: kebanyakan dari mereka tidak benar-benar mencari kebenaran, melainkan untuk meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka sudah memiliki kebenaran, jadi orang-orang yang tidak jujur ​​ini sepenuhnya layak untuk ditipu dan disesatkan oleh orang-orang Lucifer ini. Sementara, pencari kebenaran sejati sangat menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki kebenaran mutlak, tetapi untuk semakin dekat dengan kebenaran, seseorang harus bersandar hanya kepada Tuhan dan harus selalu siap untuk mempertanyakan keyakinan mapan yang dia pegang selama ini.


Link artikel hasil terjemahan saya yang saya rekomendasikan untuk DIBACA TUNTAS:
PERANG DUNIA 3 DIHADAPAN KITA: PEMBALASAN TUHAN AKAN SEGERA DATANG:
https://www.sebelumterlambat.com/ini-perang-dunia-3/
“Ultimate Warning” atau peringatan “Pamungkas” dari Allah sebelum kehancuran dunia (7 bagian): https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-1/
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-2/
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-3/
Sosok Dajjal/Antikristus/Mesiasnya Yahudi, yang akan membawa perang dunia 3 dan New World Order:
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-4/
Akhir zaman sesuai surat Yasin: kedatangan Isa/Yesus palsu, sosok juruselamat sebagai penyesatan pamungkas dari setan, yang kelak akan disembah oleh seluruh manusia:
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-5/
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-6/
Tanda-tanda kuat akan mulainya periode kiamat di 2020:
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-utama-kiamat-7/
YS, utusan pemberi peringatan untuk akhir zaman:
https://www.sebelumterlambat.com/saya-utusan-tuhan-2018/
Peringatan dari Allah untuk muslim agar meninggalkan islam tradisional yang SESAT dan kembali kepada Allah & Quran saja:
https://www.sebelumterlambat.com/peringatan-untuk-muslim/
Usia Aisyah yang sebenarnya:48. Bagaimana hadits telah menipu Anda:
https://www.sebelumterlambat.com/usia-aisyah-konspirasi-hadits/
Praktik shalat yang sebenarnya menurut Quran:
https://www.sebelumterlambat.com/shalat-sesungguhnya-versi-panjang/
Tanya-jawab dengan YS, Utusan Akhir zaman:
https://www.sebelumterlambat.com/ys-qa-bagian-1/


P.S.: Mengenai isi pesan, silahkan tanya langsung secara baik-baik ke thetruthisfromgod.com, karena saya hanya menerjemahkan, dan tidak ambil bagian sedikitpun atas isi pesan. Translator note (t/n:) adalah merupakan tambahan/penjelas dari saya pribadi (penerjemah) dan bukan bagian dari pesan asli. boleh diabaikan saja. Kritik/saran mengenai hasil penerjemahan, silahkan ajukan email ke: peringatan@posteo.net